Monday, October 14, 2013

Apakah Pesawat-Pesawat Pembom AS Siap Digunakan?


B-2 Spirit

Washington : B-2 Spirit dianggap sebagai pesawat pembom siluman yang paling mampu menghindari sistem pertahanan musuh yang paling modern saat ini. Tidak ada masalah disitu, yang menjadi masalah adalah perihal pemotongan anggaran pertahanan.

Dari 20 unit B-2 Spirit yang ada, hanya 16 unit yang beroperasi, itupun hanya pada waktu-waktu tertentu mengikuti jadwal perawatan. Bahkan informasi terbaru menyebutkan bahwa kini hanya ada 6 unit B-2 yang siap dioperasikan AS. Selain itu dari jumlah tersebut, sebagian besar B-2 terus menerus digunakan untuk latihan tempur, sehingga jumlah B-2 yang siap tempur semakin sedikit.

B-2 Spirit diklaim sebagai pembom siluman yang paling mutakhir di planet ini. AS sudah menggunakannya sejak 90-an dalam misi konvensional dan misi strategis, antara lain pemboman di Afghanistan, Irak, Libya, sementara terus berkontribusi untuk misi pencegahan serangan nuklir terhadap AS. Dengan kombinasi low-visibility, long-range, high-altitude capability, dan advanced weapons systems, B-2 menjadi aset berharga AS guna memerangi ancaman keamanan. Namun faktanya kini B-2 tidak lagi menerima dukungan yang dibutuhkan agar terus bisa melakukan misi-misinya.

Selain B-2, Angkatan Udara AS memiliki dua pembom jenis lain, yaitu B-52 Stratofortress dan B-1B Lancer. Namun tentu saja kedua jenis pesawat itu tidak memiliki kemampuan layaknya B-2 siluman. Dengan hadirnya sistem-sistem pertahanan udara canggih di militer negara lain, otomatis kini hanya B-2 yang menjadi satu-satunya pembom yang mampu untuk menghindari sistem-sistem pertahanan udara tersebut. Benar ternyata, karena banyaknya ancaman seperti ini kini B-1B AS kini tidak lagi digunakan untuk misi nuklir strategis, tugas ini kini diemban B-2.

Tidak hanya B-2 yang saat ini memiliki masalah perawatan, namun kini sudah menyebar ke seluruh armada pembom. Terakhir kali militer AS memperoleh B-52 adalah pada 60-an, hanya sekitar 60 tahun sejak Wright bersaudara pertama kali menerbangkan pesawat. B-52 kini sepanjang tahun terus menerus membutuhkan pemeliharan komprehensif, termasuk senjata dan upgrade sistem, pesawat ini tidak lagi memiliki durasi terbang yang lama di udara.

Sementara itu, armada B-1B juga tidak lagi muda yaitu 25 tahun. Menurut Congressional Research Service, sistem pada B-1 kebanyakan adalah komponen asli dan berkurangnya sumber manufaktur dan materi telah menyebabkan dampak besar pada ketersediaan, kemudahan dan kemurahan perawatannya.

Sedangkan jawaban Angkatan Udara untuk kekhawatiran minimnya armada pembom ini adalah Long Range Strike Bomber (LRS-B). Pembom yang dibuat dan dirancang berdasarkan B-2, pesawat ini dapat diluncurkan dari kapal induk dan mampu melakukan misi tanpa awak dan jangkauannya diklaim lebih jauh dari pesawat pembom AS yang ada saat ini. -Baca juga tentang AS Butuh Pembom Baru-

Tentu saja LRS-B belum ada, karena pesawat ini masih dalam tahap awal pengembangan. Angkatan Udara AS mengatakan bahwa mereka memang belum memerlukan armada LRS-B hingga 2020, dan tahun 2020 adalah target bagi LRS-B untuk opersional. Namun pemotongan anggaran saat ini tampaknya akan membuat sulit untuk merealisasikan LRS-B pada 2020. Diketahui, dampak pemotongan anggaran ini telah menyebabkan Angkatan Udara AS mengandangkan sepertiga dari total armadanya, dan dana yang diterima lebih diprioritaskan untuk pemeliharaan armada yang sudah ada, mengesampingkan penggunaan dana untuk misi dan program pengembangan persenjataan. Alhasil dampaknya akan membuat program LRS-B semakin tidak jelas.

AS meyakini bahwa keamanannya sangat tergantung pada armada pembom yang kuat, karena pembom bisa melakukan misi pencegahan nuklir ataupun melakukan serangan terhadap teroris. Namun armada ini -sekali lagi- terancam oleh pemotongan anggaran, pemotongan anggaran yang fantastis ini sangat mempengaruhi kesiapan militer AS secara keseluruhan.

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...