Friday, November 09, 2012

Korsel Tawarkan Kerja Sama Pembuatan Tank



IFV Marder 1A3 dibeli pemerintah dari Jerman, diberitakan disertai alih teknologi. (Foto: Berita HanKam)

9 November 2012, Jakarta: Produsen tank asal Korea Selatan, Doosan menawari Indonesia untuk bekerjasama membuat tank ukuran sedang untuk TNI AD.

"Baru penawaran saja dari pihak Korea, di pertemuan ini kami kasih rambu-rambunya dulu jika ingin melakukan kerjasama," kata Kasubdit Pendayagunaan Industri Direktorat Teknologi dan Industri Pertahanan Kementerian Pertahanan RI, Kolonel Gita Amperiawan pada Indodefence, Jumat.

Menurut dia, kerjasama dengan negara tetangga sangat penting dilakukan agar Indonesia bisa belajar teknologi pertahanan yang lebih baik. Transfer ilmu menjadi salah satu sarat utama yang harus diberikan pihak penawar.

"Mulai dari transfer ilmu tentang mesin-mesin, teknologi senjatanya itu penting," kata Gita "Semua itu nantinya agar Indonesia bisa mandiri, untuk kemajuan industri kita juga."

Dia mengunkapkan, sampai saat ini bukan hanya Korea yang sudah mengajak bekerjasama membuat tank ukuran sedang karena Turki sudah lebih dulu mengajukan proposal.

"Untuk medium tank tawaran Turki bahkan sudah dikaji kearah yang lebih teknis," kata Gita.

Sumber: ANTARA News

TNI AU KEMBANGKAN SMART BOMB




 Divisi Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (Dislitbang AU), pamerkan berbagai macam produk hasil penelitiannya di Indo Defence Expo and Forum 2012. Salah satu produk andalannya adalah smart bomb.

Seperti namanya, smart bomb merupakan bom pintar karena telah dilengkapi peralatan sensor elektronik berupa guidance kit. Guidance kit yang terletak di bagian ujung belakang bom ini dilengkapi GPS yang siap dioperasikan oleh pilot.

Menurut petugas jaga stand Dislitbang AU, Mashuri, sirip bom yang berwarna orange ini dapat berubah posisi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan baterai.

"Pilot akan mengendalikan dengan langsung menentukan berapa koordinat sasaran. Sehingga tingkat akurasi jatuhnya bom lebih tepat," terangnya dalam pameran yang digelar di JIE, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (8/11/2012).

Bom yang memiliki panjang lebih dari 1 meter ini adalah buatan Jerman dan telah digunakan pada pesawat NATO dan Hawk. Namun sayangnya belum pernah dilakukan uji coba di Indonesia.

"Kami baru melakukan penelitian. Memang tahun ini sasarannya prototype dulu," ucap Mashuri.

Walau mengusung kata 'smart' yang berarti pintar, produk ini juga masih memiliki keterbatasan yakni belum mampu digunakan untuk sasaran yang bergerak. Sebab kendalinya disetting sebelum bom diluncurkan. Sehingga ketika koordinat sasaran berubah, bom ini belum mampu mendeteksi pergerakannya.

Menurut Mashuri, smart bomb akan diuji coba tahun depan. Selanjutnya akan dibuka tender untuk produksi bom baru ini.




Sumber : Detik

PRESIDEN KORSEL : INDONESIA MITRA PENTING KORSEL




Pada masa mendatang produk bersama Indonesia - Korea Selatan di bidang pertahanan akan berkelas dunia
 
Hubungan kerja sama antara Indonesia dan Korea Selatan yang terus meningkat di berbagai bidang merupakan wujud pemahaman kedua negara atas posisi penting masing-masing, kata Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak.

"Pada 2008 dan 2011 kedua negara menghadapi krisis moneter bekerja sama mengatasi krisis, kini kedua negara menikmati perkembangan demokrasi dan juga mencapai perkembangan kerja sama ekonomi," katanya dalam upacara pemberian tanda jasa Bintang RI Adipurna dari pemerintah Indonesia di Nusa Dua, Bali, Kamis sore.

Presiden Lee mengatakan Indonesia merupakan mitra penting Korea Selatan dengan penduduk mencapai 253 juta jiwa, Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang dengan pesat.

Ia mengatakan hubungan kerja sama antara kedua negara demikian erat, termasuk komitmen pemerintah Korea Selatan saat terjadi krisis ekonomi pada 2008 dan 2011 yang meminta pengusaha Korea Selatan tidak melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja asal Indonesia.

"Kalau saya berbicara hubungan kedua negara bukan hanya kerja sama antara dua negara namun ini adalah kerja sama dari hati ke hati," katanya.

Presiden Korea Selatan ke-17 itu mengatakan di masa mendatang hubungan kerja sama antara kedua negara akan semakin erat dan menguntungkan kedua negara.

Sementara itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono optimistis nilai perdagangan Indonesia dan Korea Selatan dapat mencapai 100 miliar dolar AS pada 2020, berdasarkan sejumlah kerja sama yang saat ini sudah disepekati maupun tengah dirintis oleh kedua negara.

"Di bidang ekonomi nilai perdagangan kedua arah meningkat dari 11 miliar dolar AS pada 2007 menjadi 30 miliar dolar AS pada 2011. Saya berkeyakinan target 50 miliar dolar AS pada 2015 dan 100 miliar dolar AS pada 2020 akan tercapai," kata Presiden Yudhoyono.

Kepala Negara mengatakan di bawah kepemimpinan Presiden Lee, terdapat 25 kesepakatan kerja sama antara kedua negara di berbagai bidang antara lain di bidang ekonomi, pendidikan, riset dan teknologi serta industri pertahanan.

Sementara itu, Presiden Lee Myung-bak mengatakan saat ini salah satu kerja sama penting antara kedua negara adalah kerja sama di bidang industri pertahanan. Ia berkeyakinan pada masa mendatang produk yang dihasilkan dari kerja sama kedua negara dalam produk pertahanan akan menjadi salah satu produk kelas dunia.

"Saya berkeyakinan di masa mendatang produk yang akan kita hasilkan merupakan produk kelas dunia," ujarnya.

Sebelum acara penyerahan penghargaan, kedua pemimpin negara melakukan pertemuan bilateral dan menyaksikan penandatangan kerja sama kedua negara di bidang pengembangan kendaraan ramah lingkungan.

Kerja sama tersebut ditandatangani oleh Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dan Menteri Ilmu Pengetahuan dan ekonomi Korea Selatan Huk Suk-ung.

Usai menerima kunjungan kepala negara Korea Selatan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima kunjungan PM Thailand Yingluck Sinawatra dan melakukan pembicaraan bilateral sekitar 30 menit.




Sumber : Antara

INDUSTRI PERTAHANAN NASIONAL HARUS SAMBUT PELUANG




Industri-industri strategis nasional diharapkan turut mendukung perkembangan industri pertahanan. Sebab industri pertahanan merupakan bidang yang sangat potensial dengan omzet pasar yang sangat besar. Harapan itu disampaikan Wakil Presiden Boediono saat membuka Indo Defence, Indo Aerospace and Indo Marine 2012 Expo and Forum di Jakarta kemarin.

Mengutip data belanja militer (military expenditure) 2011 berdasarkan riset Stockholm International Peace Research Institute, dia menjelaskan bahwa pengeluaran untuk militer dunia per tahun pada 2011,dengan harga konstan 2010, mencapai sekitar USD1.738 miliar atau 10 kali lipat dari APBN Indonesia. Adapun di sisi lain belanja Indonesia di bidang pertahanan baru mencapai 0,7% produk domestik bruto (PDB).

Hal ini masih kalah jauh jika dibandingkan dengan negara-negara yang memiliki militer kuat seperti Amerika Serikat (4,7%) dan Cina, bahkan Arab Saudi mencapai 10% PDB negaranya. Artinya memang masih ada peluang bagi kita untuk mengembangkan lagi produksi industri pertahanan dalam negeri, baik untuk segi pertimbangan ekonomi maupun pertimbangan keamanan,”sebut dia.

Guru besar Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu menyarankan industri pertahanan dalam negeri belajar dari negara- negara yang sukses mengembangkan industri pertahanan. Dia pun menggariskan, banyak negara yang sudah sukses mengembangkan industri pertahanan karena mereka tidak melepaskan industri itu tumbuh sendiri.“Industri pertahanan itu tidak bisa tumbuh sendiri di dalam suatu negara. Umumnya tumbuh bersamaan dengan industri lain di dalam negeri. Sebab industri pertahanan ini butuh supporting dari industri lain,”terang Wapres.

Dalam sambutannya,Wapres juga mengapresiasi Indo Defence ini.Menurutdia,event dua tahunan ini penting karena bisa memberikan inspirasi bagi pelaku industri pertahanan.Ajang ini juga memberi peluang untuk promosi produk pertahanan Indonesia di pasar dunia.“Ini juga bisa menjadikan public education kepada masyarakat soal pertahanan nasional,”tuturnya.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan optimismenya bahwa industri pertahanan Indonesia akan berkembang. Dia menuturkan, lahirnya UU Industri Pertahanan dapat membawa dampak strategis dan fundamental untuk membangkitkan kembali industri pertahanan. “UU ini juga akan menguatkan industri pertahanan itu sendiri untuk mandiri dan memproduksi produk alutsista (alat utama sistem senjata) secara berkesinambungan,” ujarnya sembari menyebut bahwa ini akan membuat lapangan kerja terbuka lebar dan perekonomian Indonesia akan bergerak.

Sebelumnya,Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq menjelaskan, dalam dua tahun sejak diberlakukannya UU tentang Industri Pertahanan, industri pertahanan dalam negeri akan berkembang pesat. Indo Defence, Indo Aerospace and Indo Marine 2012 Expo and Forum ini digelar mulai 7 November hingga 10 November 2012 di Jakarta Internasional Expo Kemayoran. Dibandingkan tahun sebelumnya, event kali ini lebih besar karena diikuti 50 negara,termasuk Amerika Serikat yang kali pertama berpartisipasi, dengan total perusahaan sekitar 600 buah.

Sesuai dengan tema yang diusung tahun ini, “Empowering Indonesia’s Industry for Defence Modernization”, Indonesia mematok tahun 2012 sebagai tahun kebangkitan industri pertahanan nasional seiring dengan terbitnya UU Industri Pertahanan Nasional.





Sumber : Sindo

JERMAN BOLEHKAN INDONESIA UPGRADE LEOPARD PAKAI KONTEN LOKAL




Tank Leopard RI menjadi salah satu daya tarik pengunjung dalam pameran Indo Defence 2012 Expo & Forum di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, 7-10 November 2012. Satu buah kendaraan tempur jenis Main Battle Tank buatan Jerman ini pun terpampang di pelataran JIExpo bersama kendaraan TNI tempur lainnya.

Pantauan VIVAnews, sejumlah pengunjung mengabadikan lewat kameranya, tank yang baru saja didatangkan ini. Dari sales promotion girls, mahasiswa, sampai anggota TNI antusias berpose di depan tank yang memiliki bobot 62 ton tersebut.

Tank berkecepatan maksimal 72 km/jam ini bisa membawa empat kru di dalamnya. Tank ini juga cocok berjalan di berbagai medan, baik aspal maupun tanah.

Tank kelas berat ini dilengkapi dengan persenjataan, seperti 1 x Rheinmetall 120 mm L55 smoothbore gun, 1 x coaxial 7.62 mm machine gun, dan 1 x 7.62 mm anti-aircraft machine gun.

Berdasarkan literatur pertahanan, Tank Leopard Revolution ini memiliki laras lebih pendek sekitar 1,3 meter dari Tank Leopard jenis terbaru 2A6. Namun, laras tersebut dapat dimodifikasi hingga menyerupai Tank Leopard 2A6.

Upgrade konten lokal
Kedatangan Tank Leopard RI ini tentu menambah kekuatan militer TNI, khususnya Angkatan Darat. Karenanya, Pemerintah Indonesia, melalui PT Pindad Persero akan segera mengupgradenya dengan konten-konten lokal.

Hal itu dipastikan setelah Kementerian Pertahanan RI menandatangani nota kesepakatan atau memorandum of understanding (MoU) dengan perusahaan Jerman yang memproduksi Tank Leopard Revolution ini, yakni Rheinmetall Landsysteme. Kemenhan dalam penandatanganan ini diwakilkan oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemenhan, Mayor Jenderal Ediwan Prabowo, sedangkan Rheinmetall diwakili oleh Managing Director, Harald Westermann.

Penandatanganan MoU dilakukan di sela-sela pameran Indo Defence hari kedua ini berlangsung. "Ini sebagai komitmen kita untuk melakukan alih teknologi bagi setiap alutsista yang dibeli dari luar negeri," kata Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro usai menyaksikan penandatanganan kesepakatan bersama.

MoU antara Kemenhan dan Rheinmetall ini untuk menyepakati pembelian Tank Leopard, Tank Marder 1A3, dan sejumlah tank pendukung lainnya. Khusus Tank Leopard, pembelian tank kelas berat itu dikarenakan Indonesia masih berkutat pada Light Tank atau tank kelas ringan.

"Selama ini kita belum punya tank berat dan tank medium. Kita baru punya tank ringan," kata Purnomo.

Kesepakatan itu juga tak hanya soal pembelian, tetapi juga kerja sama untuk pemeliharaan Tank Leopard. Pemeliharaan itu pun dipercayakan ke PT Pindad, Bengkel Pusat TNI AD, dan Balitbang TNI AD.

Menurut Ediwan Prabowo, dengan adanya kesepakatan ini, PT Pindad akan mendapatkan workshop tentang pemeliharaan dan perbaikan Tank Leopard. Tak hanya itu, Rheinmetall juga memberi kesempatan PT Pindad untuk mengupgrade Tank Leopard dengan konten-konten lokal. Di antaranya plat baja, sepatu atau rantai roda Tank.

"Pihak Rheinmetall juga akan mempercayakan PT Pindad untuk improvisasi menggunakan konten lokal. Tentu sifatnya masih yang ringan-ringan. Ke depan semoga PT Pindad juga bisa membuat laras meriam Leopard," ujar dia.

Ediwan berharap, kontrak kerja sama dengan Rheinmetall bisa diselesaikan pada November 2012 ini. Hal itu bertujuan agar pada 2014 mendatang, semua Tank Leopard yang dipesan sudah ada di Indonesia.

Meski demikian, Ediwan tidak berbicara mengenai berapa jumlah persis Tank Leopard yang dipesan. Ia beralasan, Kemenhan dan Rheinmetall masih dalam tahap negosiasi.

"Yang jelas, TNI Angkatan Darat sebagai pengguna membutuhkan dua batalyon tank berat," katanya.

Selain dengan Rheinmetall, pada kesempatan ini Kemenhan juga menandatangani MoU dengan Avirbrus Industria Aerospacial Brazil. Kesepakatan dengan Avibrus ini terkait pembelian Multi Launcher Rocket System atau peluncur roket multilaras. Roket ini juga akan digunakan oleh TNI Angkatan Darat.

Seperti diketahui, Kemenhan menganggarkan US$280 juta untuk pembelian tank kelas berat dengan pengadaannya dilakukan bertahap dari 2012, 2013, hingga s

BERETTA ARX-160 CALON SENJATA SATUAN KHUSUS INDONESIA




Dalam IDAM 2012, boleh dibilang untuk senjata ringan tidak ada hal yang benar-benar baru. Yang paling getol membawa berbagai jenis senapan serbu dan pistol hanyalah Rosoboronexport dari Rusia, Modiar dari Azerbaijan, dan Cekoslovakia. Modelnya juga tak jauh-jauh dari keluarga besar AK, jadi rasanya hambar seperti salah satu kawan kami, Didik Sudharmaji yang dengan berbagai alasan tidak jadi ikut dengan regu ARC untuk mengunjungi IDAM di detik-detik terakhir.

Namun saat berkeliling dalam rangka mencari berbagai brosur dan leaflet untuk bahan koleksi, pandangan mata kami yang memang suka jelalatan memandangi spg-spg, yang dalam pameran kali ini masih banyak didominasi oleh pria dan wanita berkebangsaan asing. Mata kami tertumbuk pada salah satu stan yang dibuka oleh agen. 

Sepasang senapan berbahan polimer merk Beretta berdiri diatas stand. Yang berwarna hitam menggunakan magasen STANAG milik M16, sementara yang berwarna FDE (Flat Dark Earth) menggunakan magasen M16. Senjata apakah gerangan? ARC termasuk jarang melihatnya.

Beruntung, sales berkebangsaan Italia yang berdiri di dekat stand dengan ramah mencoba menjelaskan, dan menjadi antusias ketika ARC menyebutkan bahwa rombongan datang dari ARC, situs independen penggila hal-hal berbau pertahanan dan alutsista. 

Belum lagi wajah salesnya yang khas mediteran, membuat sekjend ARC, Dicky, tak lepas-lepas memandangnya.

Penulis sekilas sudah mengetahui, kalau senjata yang satu ini namanya ARX-160, bagian dari rencana Italia untuk mengembangkan prajurit masa depannya dengan nama Soldato Futuro. Senapan serbu tersebut dibuat oleh Beretta, pabrik senjata tertua di tataran Eropa dan mungkin dunia. Senapan berbahan polimer? Penulis awalnya skeptis. Senapan polimer tidak hanya dibuat oleh Beretta saja. Ada Magpul Masada yang dibuat rajanya polimer alutsista, MagPul Company.

 

Namun saat melihat penjelasan sang sales representative yang bersemangat, kami jadi tertarik juga. Dan tidak percuma. ARX160 bolehlah disebut sebagai senapan inovatif. Desainnya sama sekali tidak menggunakan pin, dan banyak menggunakan latch alias tuas. Untuk membuka, menggeser, dan menukar versi cukup dengan sentuhan pada tuas, tanpa pin sama sekali. 

Satu pin diperlukan hanya ketika memasang pelontar granat 40mm. Desainnya sangat ergonomik dan betul-betul memikirkan kebutuhan misi dari si operator. 

Larasnya bisa diganti-ganti dengan mudah. Mau karabin? Ada laras 16”. Mau pertempuran jarak dekat? 

Dengan satu tombol laras bisa lepas dan diganti dengan laras 12”. Keren! Receivernya juga bisa dipertukarkan, antara 7,62mm dan 5,56mm. Bolt 7,62mm (katanya) bisa masuk ke carrier 5,56mm, walaupun dalam presentasi terjadi technical glitch karena perbedaan versi. Si hitam adalah varian A1, sementara si FDE adalah A2.



Kata yang menjual, ARX-160 sudah dipinang salah satu kesatuan khusus Indonesia, dan sedang dalam pertengahan ujicoba mendalam. Hmmmm.... Vivere Pericoloso alias tahun ngeri-ngeri sedap kalau kata kami….




Sumber : ARC

KAPAL SELAM 'MUTAN' PESANAN TNI AL




Informasi mengenai seperti apa bentuk kapal selam Indonesia yang dibeli dari Korea Selatan, Chang Bo Go (CBG) akhirnya mulai terlihat, walau masih berbentuk mock up.

DSME selaku pemenang kontrak pengadaan tiga kapal selam membawa replika kapal selam CBG U209-1400 yang merupakan pengembangan kapal selam CBG sebelumnya U209-1200 hasil lisensi perusahaan Jerman, HDW.

Menurut Assistant Engineer Naval & Special Ship Design Team/Submarine Machinery Design Group, Seung-Hoon Kim, kapal selam CBG baru ini akan lebih bagus kemampuannya dibanding dengan CBG varian sebelumnya yang dimiliki Korea Selatan.

"Varian terbaru ini memiliki Combat Management System (CMS) yang lebih bagus dari varian sebelumnya, sehingga lebih bagus secara keseluruhan, " jelas Kim kepada itoday, Kamis (8/11).

Menurut rumor yang beredar, CMS yang digunakan kapal selam CBG pesanan Indonesia ini menggunakan CMS yang sama dengan CMS kapal selam U214 milik Jerman. Jika rumor itu benar, maka CBG pesanan Indonesia akan menjadi kapal selam yang menakutkan di kawasan ASEAN.

Selain memiliki CMS baru, kapal selam ini juga memiliki kemampuan menembakan senjata rudal dari bawah air, seperti Sub Harpoon buatan Amerika Serikat dan C-Star buatan Korea Selatan.

Rencananya, pembelian kapal selam dari negeri ginseng ini akan melibatkan PT.PAL, dimana BUMN Strategis ini rencananya akan kevagian jatah untuk membuat satu kapal selam pesanan TNI AL, sebagai bagian dari kerjasama transfer of technology (TOT).




Sumber : Itoday

KEMHAN BERHARAP DENGAN ANGGARAN YANG ADA LEOPARD DAPA 2 BATALYON




Kementerian Pertahanan (Kemhan) masih belum menentukan jumlah pasti Main Battle Tank (MBT) Leopard yang dibeli dari perusahaan Jerman Rheinmetall.

Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan Mayjen Ediwan Prabowo mengatakan kepastian jumlah unit MBT Leopard atau Leopard 2 masih dinegosiasikan.

"Untuk jumlah masih dalam tahap negosiasi, jadi kami belum bisa memberikan angka pasti," kata Ediwan usai menandatangani nota kesepahaman dengan Direktur Rheinmetall Harald Westernman di Jakarta, Kamis.

Namun, Kemhan berharap jumlah unit tank Leopard 2 dapat sesuai dengan anggaran dan kebutuhan TNI AD, yaitu sebanyak dua batalyon.

Keberadaan tank tempur MBT Leopard, atau biasa disebut Leopard 2, memang dinanti-nantikan di Indonesia karena kemampuannya yang memiliki efek penangkal untuk pasukan tempur.

Pembelian Leopard 2 oleh Pemerintah Indonesia sempat menimbulkan pro dan kontra karena Pemerintah Federal Jerman dikabarkan belum memberikan ijin ekspor untuk kendaraan tempur baja tersebut.

Selain penandatanganan nota kesepahaman pengadaan tank Leopard 2, juga ditandatangani nota serupa terkait alih teknologi (transfer of technology).

Rencananya, alih teknologi terkait pengadaan tank Leopard 2 tersebut akan diberikan kepada PT Pindad, Bengkel Pusat Peralatan (Bengpuspal) Direktorat Peralatan Angkatan Darat (Ditpalad), serta Bengkel Pusat Perhubungan (Bengpushub) Direktorat Perhubungan Angkatan Darat (Dithubd).

Edwin prabowo mengatakan, setelah penandatanganan nota kesepahaman tersebut kedatangan tank Leopard 2 dapat segera terealisasikan.

Sementara itu, dua tank Leopard 2 sudah dipamerkan dalam pameran internasional Indo Defence. 





Sumber : Antara

PT DI – AIRBUS MILITARY TANDATANGANI KERJASAMA LUNCURKAN NC212 VERSI UPGRADE




Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (DI) Budi Santoso dan Airbus Militaryyang diwakili Senior VP Komersil, Strategi dan Hubungan Industri untuk Kawasan Asia Ignacio Alonso, Kamis (8/11) menandatangani Kesepakatan Kerjasama (MoU) untuk meluncurkan NC 212-400 versi upgradesebagai langkah lebih lanjut dalam perjanjian jangka panjang, di JIExpo Kemayoran Jakarta. Pesawat tersebut selanjutnya akan dinamai NC212 dan akan ditawarkan kepada pelanggan sipil serta militer.
 
Penandatanganan kesepakatan kerjasama yang merupakan rangkaian dari kegiatan pameran Indo Defence Expo and Forum 2012, disaksikan Sekjen Kemhan Marsdya TNI Eris Herryanto, S.Ip., M.A., Dirtekind Ditjen Pohan Kemhan Brigjen TNI Sukimin serta pejabat dari Kedutaan Spanyol. 

Kesepakatan kerjasama dalam pengembangan, manufacturing, komersialisasi dan dukungan pelanggan ini untuk memenangkan kompetisi memenuhi kebutuhan pasar di segmen pesawat kecil, baik untuk sipil, militer dan kargo, pada dekade berikut. Potensi pasar pada segmen ini diperkirakan akan mencapai sekitar 400-450 pesawat dalam 10 tahun kedepan. Final Assembly Line di fasilitasi PT. DI di Bandung. Kesepakatan ini selangkah lebih maju dalam tahapan hubungan kerjasama antara dua mitra lama

NC212 upgrade ini akan dilengkapi dengan avionik dijital dan sistem autopilot terkini. Pesawat upgrade ini memiliki interior sipil terbaru yang mampu membawa sampai dengan 28 penumpang dibandingkan dengan versi saat ini yang hanya dapat membawa 25 penumpang yang dapat meningkatkan efisiensi biaya. Semua pesawat upgrade tersebut akan menempatkan NC212 ini pada posisi tawar yang sangat kompetitif di segmen pasar pesawat kecil dan medium dan akan disertifikasi oleh EASA dan FAA sesuai dengan FAR 25.

PT. DI - Airbus Kembangkan Varian Baru C-212-400

 
Hari ini, bertempat di Ajang Indodefence 2012, PT.DI dan Airbus sepakat mengembangkan tipe baru C-212-400. Kesepakatan kerjasama ini ditanda tangani langsung oleh Dirut PT.DI, Budi Santoso dengan Senior VP Airbus Military Asia, Igancio Alonso.


Varian terbaru Aviocar ini nantinya akan mampu mengangkut penumpang sebanyak penumpang, yaitu sebanyak 28 orang. Pada versi standarnya C-212-400 hanya mampu membawa maksimal 25 orang saja. Selain itu, pada varian terbaru ini C-212-400 akan mengadopsi full digital glass cockpit. Dengan demikian, pekerjaan pilot akan semakin dimudahkan. Hanya saja belum tahu pasti modifikasi lanjutan yang akan dilakukan. Seperti apakah Ramp Door tetap dipertahankan atau tidak, serta jenis mesin yang akan dipasang.

Sumber dari PT.DI menjelaskan, keberadaan C-212-400 sendiri tidak akan bersaing langsung dengan N-219 yang saat ini masih dirancang PT.DI. Pasalnya, N-219 berada di FAR kelas Commuter, sementara C-212-400 ada di kelas Transport. Selain itu harga N-219 diprediksi lebih murah, karena lebih kecil dan segmentasinya diutamakan untuk dalam negeri.

Sebelumnya, pada februari 2012, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah ditunjuk oleh Airbus Military sebagai produsen tunggal pesawat C212-400 satu-satunya di dunia. Keseluruhan peralatan yang diperlukan untuk memproduksi C-212-400 telah dipindahkan dari Spanyol ke Bandung, Jawa Barat. PT.DI sendiri telah memproduksi sekitar seratusan C-212 versi 100 maupun 200. Pesawat ini dipakai secara luas oleh TNI-AU maupun TNI-AL, serta beberapa maskapai sipil di Nusantara.


 
 
 
 
Sumber : DMC 

INDONESIA BRAZIL TANDATANGANI MOU TOT MLRS ASTROS




 Di hari kedua penyelenggaraan Indo Defence 2012, Kamis (8/11) di Stand Pameran Kementerian Pertahanan RI dilaksanakan penandatanganan MoU kerjasama Transfer of Technology (ToT) dengan Pemerintah Brasil dan Pemerintah Jerman.
 
MoU pertama yang ditandatangani yakni ToT dalam rangka pengadaan MultiLauncher Rokcet System atau sistem peluncur roket jarak jauh dengan perusahaan Avibras Industria Aeroespacial Brazil. Technologi tersebut nantinya akan diberikan kepada pihak LAPAN, PT. Pindad, PT DI dan Bengpuspal TNI AD. Penandatanganan dilakukan oleh Kabaranahan Kemhan RI Mayjen TNI Ediwan Prabowo, S.IP dengan President Avibras Industria Aeroespacial Brasil Sami Josef Hassuani. MoU kerjasama ini merupakan implmentasi didalam proses Transfer Technologi dalam pembelian dari produk roket.

Sementara itu penandatanganan dengan pemerintah Jerman khususnya Rheinmetall AG Jerman terdapat dua bentuk, pertama, dalam hal pengadaan Medium Battle Tank untuk ukuran 30 ton dan Main Battle Tank (MBT) Leopard ukuran 60 ton serta tank pendukungnya. Kedua adalah MoU pelaksanaan ToT yang akan diberikan kepada PT. Pindad, Bengpuspal Ditpalad dan Bengpushub Dithubad.

Penandatanganan MoU yang dilakukan dengan Jerman tersebut merupakan langkah awal untuk hubungan yang lebih lama khususnya pengadaan Tank jenis MBT Leopard. Pemerintah Indonesia menginginkan jumlah MBT Leopard sekitar 2 Batalion Satuan, setingkat Leopard untuk Kavaleri TNI Angkatan Darat.

Penandatanganan MoU ini dilakukan oleh Kabaranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, S.IP dengan Direktur Rheinmetall AG Jerman, Herald Westernman.




Sumber : DMC

PENGADAAN TANK LEOPARD RESMI DI TANDATANGANI PEMERINTAH




Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI dan perusahaan Jerman Rheinmetall Defence akhirnya menandatangani nota kesepahaman terkait pengadaan Main Battle Tank (MBT) Leopard di Jakarta, Kamis (8/11/2012).

Penandatanganan tersebut dilakukan di sela-sela acara pameran alat utama sistem pertahanan (alutsista) Indo Defence 2012 di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta Utara.

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo dan Direktur Rheinmetall Landsyteme Harald Westernman, dengan disaksikan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

“Penandatanganan tersebut untuk memperkuat sistem pertahanan dan industri pertahanan Tanah Air,” kata Purnomo.

Keberadaan tank tempur MBT Leopard, atau biasa disebut Leopard 2, memang dinanti-nantikan di Indonesia karena kemampuannya yang memiliki efek penangkal untuk pasukan tempur.
Pembelian Leopard 2 oleh Pemerintah Indonesia sempat menimbulkan pro dan kontra karena Pemerintah Federal Jerman dikabarkan belum memberikan izin ekspor untuk kendaraan tempur baja tersebut.

Selain penandatanganan nota kesepahaman pengadaan tank Leopard 2, juga ditandatangani nota serupa terkait alih teknologi (transfer of technology).

Rencananya, alih teknologi terkait pengadaan tank Leopard 2 tersebut akan diberikan kepada PT Pindad, Bengkel Pusat Peralatan (Bengpuspal) Direktorat Peralatan Angkatan Darat (Ditpalad), serta Bengkel Pusat Perhubungan (Bengpushub) Direktorat Perhubungan Angkatan Darat (Dithubd).

Edwin Prabowo mengatakan, setelah penandatanganan nota kesepahaman tersebut kedatangan tank Leopard 2 dapat segera terealisasikan.
Sementara itu, dua tank Leopard 2 sudah dipamerkan dalam pameran internasional Indo Defence.





Sumber : Solopos

INDRA RADAR SYSTEMS TO CONTROL 70% OF INDONESIA'S AIRSPACE




Indra will implement four new latest-generation radar systems in Indonesia. This contract means that there will now be ten stations deployed by the company, controlling approximately 70% of the archipelago's airspace.

The new stations will be at Natuna, Tanjung Pinang, Sorong and Pontianak and will have Indra mode S secondary radars. This technology is the most advanced in the market in terms of the detection and identification of aircraft and complies with the highest standards of the International Civil Aviation Organization (ICAO) and Eurocontrol, amongst others.
 

  • Indra will implement four new latest-generation surveillance systems (MSSR mode S)
  • This contract brings the total number of stations deployed by the company throughout the archipelago to ten
  • Indra is equipping two control centres with its air traffic management system. The area of Papua is already managed with this solution.

These systems will be added to the ones already implemented by Indra at Sentani, Bali, Medan, Curug, Tarakan and Timika. The modernisation of the surveillance network will appreciably improve the safety of air operations and increase the number of flights that can be managed.

The radar system implemented by Indra at Curug will be used to train the technicians who are to use this surveillance system technology.

Thanks to these contracts Indra is now the main supplier of radar systems in Indonesia. The company has been responsible for all the latest projects related to the modernisation of the country's surveillance network.

Air control safety
 
Additionally, Indra is equipping the Medan control centre, which once construction is completed will manage Sumatra's traffic, and the Berau control centre with its automated air traffic management system. This solution is already in place at the Sentani centre, which manages Papua's traffic.

Indra's automated air traffic management system relieves controllers of certain repetitive tasks, allowing them to manage a greater number of flights. The system also generates alerts in the case of route conflicts. These functions increase the safety and efficiency of the management of the traffic.

Indra in Asia
 
Indra has been supplying Indonesia with air traffic management systems since 2007. The country's geography, made of up thousands of islands, its popularity as a tourist destination and its strong economic growth have led to a significant increase in its air traffic in recent years. Accordingly, plans to modernise the nation's air traffic management infrastructure have been implemented.

In addition to Indonesia, Indra's positioning in the air traffic management sector throughout the Asia-Pacific region is very strong. For example, the company is deploying a network of radars in Australia to reinforce traffic management along the country's east coast. In China the company's radars will cover the surveillance of 60% of its airspace. The Xian and Chengdu control centres will also use Indra technology to manage an area the size of Western Europe.





Source : ASD

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...