Thursday, January 31, 2013

Indonesia's MLRS

A multiple rocket launcher (MRL) is a type of unguided rocket artillery system. Like other rocket artillery, multiple rocket launchers are less accurate and have a much lower (sustained) rate of fire than batteries of traditional artillery guns.
However, they have the capability of simultaneously dropping many hundreds of kilograms of explosive, with devastating effect.

First developed in 1409, the Korean Hwacha is the most likely example of the first weapon system with a resemblance to the modern-day multiple rocket launcher. The first modern multiple rocket launcher was the German Nebelwerfer of the 1930s, a small towed artillery piece. Only later in World War II did the Allies deploy similar weapons in the form of the Land Mattress.

Iran Produksi Massal Sistem Rudal Ya Zahra dan Mersad

Sistem rudal pertahanan udara Ya Zahra
Uji coba sistem rudal pertahanan udara Ya Zahra, Rabu, 14 November 2012 (Foto:presstv.ir)
ARTILERI - Lini produksi dari sistem rudal jarak pendek baru "Ya Zahra" yang diproduksi dalam negeri Iran telah diresmikan. Selain itu, produksi massal sistem rudal Mersad telah dikirim ke Pangkalan Pertahanan Udara Khatam-ol-Anbiya (Khatamul Anbiya), Iran.
Menteri Pertahanan Iran Ahmad Vahidi yang menghadiri upacara peresmian tersebut, memberikan penjelasan kepada Press TV mengenai fitur baru sistem rudal pertahanan udara mobile (bergerak) Ya Zahra, dengan mengatakan, "Senjata ini memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi, melacak, dan menghancurkan target udara, seperti berbagai jenis pesawat, helikopter, dan UAV (pesawat tak berawak) dalam jarak dekat."

Bom Blast Effect Diuji Coba di Lanud Iswahjudi


Para teknisi pesawat F-16/Fighting Falcon Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi saat memasang Bom yang akan di uji coba, di AWR Pandanwangi, Lumajang, Rabu (30/1). (photo : TNI AU).


Guna mengurangi ketergantungan terhadap produk-produk luar negeri dan sebagai wujud kemandirian terhadap industri pertahanan di tanah air, Dislitbangau mengadakan uji coba bom, dengan menggunakan pesawat tempur F-16/Fighting Falcon dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi, Rabu (30/1).

Philippines Nears $443 Million Deal for South Korea Fighter Jets




The Philippines is close to reaching an 18 billion peso ($443 million) deal to purchase 12 fighter jets from South Korea as it moves to bolster its defenses amid tensions with China over disputed territory.

Defense Assistant Secretary Patrick Velez today said the government intends to finalize a contract with Korea Aerospace Industries Ltd. (047810) by the 
end of February and two could be delivered in the next six months. The Philippines hasn’t had an operating fighter jet since 2005.

“The military upgrade is already a priority before our incident with China,” Edwin Lacierda, a spokesman for President Benigno Aquino, told reporters today. “It is not aimed at any particular country. It is our obligation to modernize our military hardware.”

Final Giraffe Arrives in Australia







Counter Rocket Artillery and Mortar radar (photo : Aus DoD)

Minister for Defence Materiel Jason Clare today announced that the final of three Counter Rocket Artillery and Mortar (C-RAM) Giraffe radars has arrived in Australia.

Mr Clare said two radar systems are currently operating in Tarin Kot. This third system will be used to train troops ahead of their deployment to Afghanistan.

“The Giraffe radars provide our troops with early detection of attacks from enemy rockets, artillery and mortars, protecting Australian and ISAF forces,” Mr Clare said.

Tahun Ini Yon Armed TNI AD Segera Diperkuat MLRS Astros II


Tahun ini, Resimen Armed 2/1 Kostrad rencananya akan mengganti alat utama sistem persenjataan (Alutsista) jadul dengan persenjataan yang lebih canggih. Salah satunya, Alutsista yang ada di lingkungan Batalyon Armed Pasopati 9 Purwakarta.

Pasalnya, artileri yang ada terutama yang terdapat di tiga Batalyon Armed dinilai sudah usang dan harus segera disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Bila tak ada aral melintang, dalam waktu dekat Batalyon ini akan mendapatkan Alutsista berbentuk roket yang diimpor dari Brazil.

Komandan Resimen Armed 2/1Kostrad, Kolonel Arm Mohamad Naudi Nurdika mengaku, saat ini Alutsista yang dimiliki tiga Batalyon dibawah struktur Resimen Armed 2/1 Kostrad, masing-masing Yon Armed 9 Pasopati, Yon Armed 10 Brajamusti, dan Yon Armed 13 Nanggala, adalah berjenis meriam 105 mm-M101A1 buatan Amerika tahun 1942, dan meriam 76/GN buatan Yugoslavia dengan tahun pembuatan 1949.

Kopassus Jalin Kerjasama Dengan Pasukan Bela Diri Jepang


Wakil Komandan Jenderal Kopassus Brigjen (TNI) Jaswandi menerima kunjungan kehormatan Jenderal Eiji Kimizuka, Kepala Staf Angkatan Darat Pasukan Bela diri Jepang, beserta rombongan di Makopassus Cijantung, Jakarta Timur, Senin (28/1/2013).
Kunjungan didahului dengan penyambutan jajar kehormatan, foto bersama dan Courtessy Call di Ruang Danjen Kopassus. Kegiatan kemudian dilanjutkan pertemuan di ruang rapat Kopassus, yang diawali dengan sambutan Danjen Kopassus, sambutan KSADJepang, paparan Asops Danjen Kopassus Letnan Kolonel (Inf) Rifky, dan diakhiri dengan pemutaran film profil Kopassus dan pengisian buku tamu.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...