Tuesday, December 04, 2012

RI Buka Peluang Industri Asing Produksi Peralatan Pertahanan dan Militer


RI Buka Peluang Industri Asing Produksi Peralatan Pertahanan dan MiliterTRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -Indonesia telah membukakan peluang industri pertahanan  bagi perusahaan asing untuk masuk. Syaratnya, perusahaan itu harus mengandeng  perusahaan dalam negeri untuk memproduksi peralatan pertahanan dan militer.
Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro menyatakan, kepada perusahaan penerbitan, penelitian dan perusahaan konsultan global, Oxford Business Group (OBG) di Jakarta belum lama ini menyatakan aturan baru tersebut berarti sekarang perusahaan asing  bisa bekerjasama dengan perusahaan dalam negeri. 
"Waktu yang lalu,  sektor pertahanan Indonesia tertutup bagi investor asing sementara dengan peraturan baru ini memungkinkan investor luar negeri untuk masuk ke sektor ini melalui kerjasama," tuturnya.
Yusgiantoro berbicara dengan OBG sebagai bagian dari penyusunan hasil penelitian untuk Laporan: Indonesia 2013,  tentang panduan kegiatan ekonomi negara Grup dan peluang investasi yang disusun dengan bantuan penelitian dari BKPM, Kamar Dagang Indonesia & Industri (KADIN), Lubis Santosa & Maramis dan Pricewaterhouse Coopers (PWC).
Laporan ini akan mencakup panduan sektor-per-sektor secara rinci untuk investor asing, di samping berbagai wawancara dengan para pemimpin politik, ekonomi dan bisnis yang paling menonjol.
KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Menteri mengatakan, prioritas pemerintah adalah untuk menghasilkan industri pertahanan manufaktur yang akan memproduksi peralatan militer secara lokal bila memungkinkan, dengan memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan tersebut dialihkan kepada tenaga kerja lokal selama usaha kerjasama  berlangsung.
"Dana sebesar US$ 15 milyar  telah dialokasikan untuk produksi peralatan pertahanan di  dalam negeri lima tahun ke depan," katanya.
"Pembelian peralatan militer dari luar negeri juga diperbolehkan dengan syarat alih teknologi yang tepat dijamin sepenuhnya. Yang penting bagi kami adalah setiap kesepakatan militer yang kami tandatangani  dengan pemerintah asing harus memastikan adanya alih pengetahuan berkelanjutan."
Beliau menyoroti perusahaan patungan negara dengan Korea Selatan untuk memproduksi tiga kapal selam yang akan memastikan Indonesia secara bertahap mengambil peran yang lebih besar sebagaimana proyek  tersebut bergulir.
"Kapal selam pertama akan dibangun di Korea Selatan, yang kedua akan dibangun di bawah skema usaha patungan (joint venture) antara Indonesia dan Korea Selatan, sementara kami berharap bahwa kapal selam ketiga akan sepenuhnya dibangun di Indonesia oleh Galangan Indonesia, PT PAL," katanya.

3 MSI-90U Mk 2 For Indonesia Submarines


Kongsberg MSI 90U Mk2 CMS (Foto Armatim)

Kongsberg Defence Systems has signed a US$ 55.5 million contract with the Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) shipbuilder from South Korea to supply of MSI-90U Mk 2 naval combat management system components for three new submarines.

It is understood the systems are for the three U209-1400 based submarines purchased by Indonesia in December 2011.

© Defesa Global

POTRET : T-90, MBT KEBANGGAAN RUSSIA




 Sebagai Negara yang tertatih-tatih dan berupaya bangkit dari keterpurukan, Rusia berupaya keras memodernisasi alutsistanya. Dengan anggaran yang sangat terbatas, Rusia tidak punya banyak pilihan untuk memilih MBT next generationnya.

Pada dekade 1980-an, Uni Soviet yang sangat mempercayai armada tanknya memiliki visi penggelaran 2 kelas MBT, yang satu mampu diproduksi massal dengan cepat, berharga murah, dan bisa dijual ke Negara-negara tetangga. 

Visi ini terwujud dalam keluarga MBT T-72 yang sukses di pasaran ekspor. Disisi lain, Uni Soviet juga mencoba mematahkan dominasi NATO dan AS yang menggadang-gadang kualitas diatas kuantitas dengan memproduksi satu MBT dengan fitur dan teknologi terbaru, yang kemudian muncul sebagai T-80. 

Pendekatan kuantitas dan kualitas ini pada akhirnya terbukti tidak praktis, dan baik T-72 maupun T-80 akhirnya terbukti gagal dalam pertempuran. T-72M1 milik Garda Republik Irak dibuat babak belur oleh M1A1 Abrams dalam Perang Teluk II, sementara T-80 dihajar habis-habisan oleh pejuang Chechnya dalam dua kali perang di negeri satelit Rusia tersebut.

Pasca pecahnya Uni Soviet, Rusia ditinggalkan dengan masalah superioritas armada MBTnya. Negara-negara lawannya sudah lama mengembangkan penyempurnaan MBT mereka, tetapi Rusia bertahan dengan desain usang T-72 dan T-80. Mendanai pengembangan MBT baru seperti Black Eagle makan biaya yang terlalu besar dan Rusia tak mungkin mengadakan MBT yang terlalu canggih karena harganya pasti mahal. Langkah kompromi akhirnya ditempuh, dengan menggabungkan keunggulan teknologi T-80 dan mengintegrasikannya ke T-72. Proyek yang tadinya dinamai T-72BM ini akhirnya diberikan desainasi berbeda, seolah menandakan bahwa ini adalah MBT baru.

T-90 dikembangkan oleh tim di biro Kartsev/ Venediktov yang dikepalai oleh V. Potkin, dan dikerjakan di Uralvagonzavod (Pabrik gerbong kereta Ural) di Nizhnyi Tagil. Purwarupanya diberi kode Obiekt 188 yang diselesaikan pada 1988. 

Dari segi desain, T-90 tidak memiliki banyak perbedaan dibandingkan dengan T-72. Layout hullnya serupa, termasuk pemosisian awaknya. Sistem suspense tetap menganut model torsion bar dengan enam pasang roda pada setiap sisi, drive sprocket dibelakang, idler didepan, dan tiga track-return roller. 

Peredam kejut hidrolik dipasang di roda pertama, kedua, dan keenam sehingga tidak terlalu menyiksa krunya saat tank dibawa untuk perjalanan jauh. Krunya tetap tiga, pengemudi, penembak, dan komandan, melanjutkan tradisi penggunaan sistem autoloader dalam MBT Soviet. Kubahnya memiliki profil yang sangat rendah, dan sangat tidak nyaman untuk orang dengan tinggi badan diatas rata-rata. 

 Komandan duduk disebelah kanan, didalam modul yang berputar independen terhadap putaran kubah. Kemanapun arah kubah berputar, komandan selalu menghadap kedepan. T-90 digerakkan oleh mesin diesel V-84S yang dilengkapi pemanas untuk pengoperasian di wilayah beriklim dingin dan sensor suhu. Kemampuan menenggak berbagai jenis bahan bakar seperti bensin, kerosene standar militer, dan benzine menjadi keunggulan yang ditawarkan untuk mempermudah pasokan logistik.

Biarpun layoutnya sama, namun T-90 memperoleh sistem proteksi berupa lapisan armour reaktif Kontakt-5 yang didesain dengan sudut landai untuk mengalahkan hululedak APFSDS dan HEAT yang datang bertandang. Pada bagian kubah, 2 panel dipasang membentuk belah ketupat sehingga bentuk kubah seolah bertambah. Panel ERA tambahan juga dipasang di sisi kiri-kanan skirt untuk semakin mengamankan posisi kru, terutama pengemudi. 

Terkait dengan pengamanan pengemudi, kursinya kini dibuat menggantung ke atas, seperti halnya komandan dan penembak untuk melindungi dari gelombang kejut yang mematikan saat melindas ranjau antitank. Untuk mengemudi dalam kegelapan malam, pengemudi memperoleh optik termal TVN-5 yang bisa dipasang menggantikan periskop TNPO-168 standar.


 
Sejumlah pembenahan dilakukan pada sistem kontrol penembakan yang mengadopsi sistem kontrol penembakan otomatis model 1A45T yang merupakan penyempurnaan dari versi yang digunakan T-80, yang didukung oleh sistem bidik malam TO1-KO-1 atau TO1-PO2T, sistem observasi PNK-4S untuk komandan, dan layar televisi untuk mengamati wilayah belakang. 1A45T sendiri diotaki oleh sistem 2A43 IVDPK, stabilizer laras 2Eh42-4 Zhasmin dan converter PT-800 yang dipasangkan dengan regulator voltase dan frekuensi RChN 3/3. 

Sistem 1A45T menerima input dari beberapa sensor, seperti data balistik munisi yang disimpan dan dipasok komputer balistik 1V528, pengukur kecepatan angina DVE BS, dan sistem bidik TPN4-49-23 Buran. Apabila dananya memadai, sistem Buran dapat digantikan oleh sistem Agava-2 dengan fitur termal yang dipasang pada menara di atap. 

Untuk komandan, tersedia sistem terpadu TKN-4S Agat S day/ night sight dengan pembesaran x7,5 day dan x5,1 night yang sudah dilengkapi fitur stabilisasi, serta periskop TNP-160 di kanan-kiri sistem TKN-4S. Sementara untuk penembak daftarnya lebih lengkap lagi, seperti 1A43 day sight yang sudah terintegrasi dengan laser rangefinder IG46 Irtysh yang dilengkapi dengan sistem pemandu laser untuk rudal yang bekerja dengan sistem beam riding.

Meriam T-90 juga mengadopsi meriam dari T-80, dengan kode 2A46M4. Perbedaan antara varian M4 yang digunakan T-90 dan M1 yang dipakai T-80 diperkirakan perbedaannya ada pada kualitas baja dan akurasi yang digunakan. 

Baja yang lebih baik mampu menghasilkan ketahanan tekanan yang lebih besar, membuat 2A46M4 dapat melontarkan munisi generasi baru, termasuk munisi berinti DU (Depleted Uranium). Meriam 2A46M4 memiliki fitur meriam setara MBT Barat, komplit dengan muzzle reference system untuk mengecek keselarasan alur tembakan meriam. 

Satu keunggulan meriam ini adalah kemampuannya melontarkan rudal hululedak tandem 9M119 Refleks/ AT-11 Sniper yang dipandu oleh tuntunan laser (laser beamriding), dengan jarak efektif sampai 5.000 meter atau melebihi jarak efektif meriam, memberikan kesempatan bagi T-90 untuk membidik MBT lain sebelum lawan dapat menembak. Kendali penembakan untuk Refleks sepenuhnya ada ditangan penembak, dan tidak ada pada kompartemen komandan.

Sementara untuk urusan munisi, Rusia memanfaatkan sistem pengisi otomatis model carousel, yang letaknya ada di lantai dibawah kru penembak dan komandan. Munisi untuk meriam 125mm ini masih menggunakan mesiu dan hululedak yang terpisah, beda dengan Barat yang menggunakan sistem combustible. Hal ini yang menyebabkan munisi APFSDS Rusia jauh lebih inferior dibandingkan dengan munisi serupa yang digunakan oleh pihak Barat, karena panjang penetrator yang bisa digunakan pun relatif terbatas. Sementara untuk fungsi anti pesawat, disediakan senapan mesin berat 12,7mm NSVT yang dilengkapi PZU optical sight dan distabilisasi oleh 1ETs29 pada satu plana vertikal. Komandan yang menembakkan senapan mesin berat ini terlindung dalam kubah baja mini.

Sementara untuk sistem perlindungan, T-90 memanfaatkan sistem perlindungan granat asap 81mm, yang dapat dipasangi munisi Type 902A Aerosol Forming Grenade Launch System dengan granat 3D17 aerosol. 

Saat diluncurkan, akan tercipta semprotan partikel halus yang dapat memunculkan iluminasi laser yang diarahkan ke tubuh tank, dibaca oleh keempat sensor yang terpasang, dan memberikan peringatan agar pengemudi segera bermanuver untuk menghindar atau mungkin mengeluarkan tabir asap. 

Sistem jammer rudal antitank TShU1-7 Shtora siap sedia memancarkan sinyal infra merah acak untuk mengacaukan sirkuit penuntun rudal. 

Sementara untuk aksesori tambahan, tersedia KMT-7/KMT-8 mine roller untuk mencangkul tanah dan meledakkan ranjau, yang sudah jadi standar sejak era T-72.


SPEK T-90

Kru                              : 3
Bobot tempur                : 46,5 ton
Power/weight                : 18,06 hp/ ton
Ground pressure          : 0,983 kg/cm3
Panjang                       : 6,86m (hull)
Lebar                           : 3,37m
Tinggi                           : 2,23m
Ground clearance         : 0,492m
Lebar tapak rantai         : 580mm
Panjang tapak rantai     : 4,278m
Kecepatan maks.          : 60 km/ jam
Jarak tempuh               : 550km (jalan raya), 450km (cross-country)
Kapasitas bahan bakar  : 1200 liter + 400 liter (opsional tangki eksternal)
Tanjakan                       : 60o
Kemiringan                   : 40o
Halangan vertikal            : 0,85m
Lintas parit                    : 2,8m
Mesin             : V-84MS 4 langkah, 12 silinder diesel, mengeluarkan daya 840hp
Transmisi                      : manual, 7 gigi maju dan 1 mundur
Suspensi                       : torsion bar
Persenjataan                 : 1x125mm 2A46M4 smoothbore gun; 1x12,7mm NSVT; 1x7,62mm PKT
Elevasi meriam               : +14/-6o
Sistem kelistrikan            : 24V    




Sumber : ARC

APAPUN ALUTSISTANYA, TNI HARUS PUNYA SEMANGAT JUANG TINGGI




Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, terus berusaha membenahi alat-alat persenjataan militer Indonesia. Dia pun meminta agar prajurit bisa terus mengobarkan semangat juang yang bakal mampu mengalahkan apapun.

Inilah pesan yang disampaikan Purnomo usai menghadiri acara peluncuran buku 'Pasukan-M, Menang tak Dibilang Gugur tak Dikenang'. Buku ini diluncurkan di Gedung Smesco, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Senin (3/12/2012). Selain Purnomo, Hadir dalam acara ini KSAL Laksamana TNI Soeparno dan keluarga dari Kapten Markadi.

"Apapun alutsista yang kita punya itu tetapi yang terpenting semangat juang, nilai-nilai kejuangan yang terus kita kobarkan dari waktu ke waktu," kata Purnomo.

Buku setebal 240 halaman ini menceritakan kisah operasi lintas laut Banyuwangi-Bali. Operasi ini adalah pertempuran laut pertama sejak Indonesia berdiri di bawah komando Kapten Markadi.

Meski dengan kapal yang sangat sederhana, serta senjata seadanya, mereka menempuh rute laut yang dijaga ketat armada laut Belanda. Hebatnya, pasukan ini bahkan berhasil menenggelamkan kapal Belanda.

"Dengan semangat juang yang tinggi bisa kalahkan Belanda," lanjut Purnomo.

Dalam kesempatan ini, Purnomo juga berbicara mengenai RUU Kamnas yang kini bolanya ada di tangan DPR. Purnomo meminta publik jangan salah kaprah mengenai keberadaan RUU ini.

Kehadiran RUU ini bukan untuk mengkerdilkan peran Polri. Bukan juga untuk menaikkan lagi posisi TNI.

"Pesannya untuk menghadapi ancaman berbeda, kalau dulu ancaman militer sekarang adalah ancaman non militer," tegasnya.





Sumber : Detik

ASTROS dan Kisahnya


Kepastian penandatanganan kontrak 36 unit sistem MLRS (Multiple Launch Rocket System) menyisakan sekelumit kisah menarik. Salah satunya, pembelian 36 sistem ASTROS III mk6 tersebut kembali mengukuhkan TNI sebagai spesialis penyelamat perusahaan pertahanan yang nyaris bangkrut (salah satu contohnya, pembelian Hawk 100/200 dan tank intai Scorpion pada 1996/1997 yang menyelamatkan British Aerospace)


Kok bisa? Ternyata, selidik punyalidik sesungguhnya perusahaan pembuat ASTROS yaitu Avibras telah mengajukan pailit pada bulan Juli 2008. Iklim ekonomi yang buruk dan sepinya order telah menyebabkan Avibras akhirnya kehilangan pasar yang signifikan.

Pemerintah Brasil, yang tak rela kehilangan keseluruhan industri pertahanannya (Engesa bangkrut pada 1993) menyetujui sejumlah program restrukturisasi. Bagi Avibras, pertolongan federal ini mendorongnya mampu meluncurkan program ASTROS 2020, yang sistem awalnya terwujud sebagai ASTROS III mk6, varian yang dibeli Indonesia.


Namun sesungguhnya, ASTROS 2020 ingin mencapai suatu lompatan teknologi tinggi, yaitu dengan memperkenalkan sistem rudal jelajah yang dapat diluncurkan dari platform ASTROS. Jika pembaca sempat menyaksikan empat roket kaliber 300mm SS-150 yang perkasa dan dapat menjangakau jarak sampai 90 kilometer, tunggu sampai Avibras bisa menyelesaikan  AV-TM, yang merupakan "missil de cruizero" alias rudal jelajah. AV-TM memberikan kemampuan serangan presisi bagi platform ASTROS, diluar garis horison. Dengan kemampuan jangkau 300 kilometer, akan sangat sulit bagi lawan untuk memperkirakan asal serangan, apalagi membalas. Saat serangan balasan diluncurkan pun, ASTROS III sudah jauh meninggalkan lokasi awal peluncuran.

Memang masih terlalu dini untuk memperkirakan kesuksesan ASTROS 2020, tetapi dengan komitmen Brasil dan Indonesia, yang gabungan order keduanya mencapai 1,2 miliar dolar, dapat membangkitkan kembali industri pertahanan Brasil dan juga Indonesia yang menerima ToT sebagai bagian dari kontrak pembelian 450 juta dolar AS oleh Indonesia.

Sebagai info, sebagian dari 36 unit yang akan datang secara bertahap, akan ditempatkan di yon armed 10 di Cileungsi, Bogor menggantikan meriam Gunung kaliber 76mm M-48 dan M101A1 kaliber 105mm. Satu lompatan teknologi dan jangkauan yang luar biasa, dari sistem tarik menjadi swagerak, dan jarak jangkau yang lima kali lipat.

Ikuti kembali bahasan mengenai ASTROS dalam edisi-edisi mendatang.

Ancaman Keamanan Udara Indonesia Oleh Asing


Seringkali kita selalu berbicara tentang ancaman keamanan nasional, maka mainstream pembicaraan mengarah kepada jenis-jenis ancaman yang bersifat politik, ideologi, ekonomi dan hankam, sementara di sisi yang lain kita kurang menyadari bahkan mungkin beberapa petinggi di negara ini atau pengambil kebijakan di negara ini juga kurang mengerti sebenarnya ada ancaman sangat besar yang bisa menerkam Indonesia ke depan yaitu ancaman “pengkaplingan udara” Indonesia oleh asing.


Dalam konsep ATFM (Air Traffic Flow Management), wilayah udara dunia akan dibagi menjadi 4 pusat pengendalian penerbangan (ATFM Centre) : Eurocontrol, mengendalikan seluruh penerbangan di Eropa. Berpusat di Brussels dan mulai dibuka tahun 1996. ATCCC, mengendalikan seluruh penerbangan di Amerika. Berpusat di Warrenton, VA. Dibuka mulai 2002 sebagai pemgembangan TRACON. ATNS, menjadi pusat pengendalian penerbangan di seluruh wilayah udara Afrika. Dibuka sejak 2010 dan berpusat di Johannesburg. Sedangkan untuk Asia Pasifik, saat ini ada 3 negara sedang bersaing untuk memperebutkan sebagai ATFM Centre, yaitu : Indonesia, Thailand dan Australia, seperti yang tergambar dalam ATC world map dibawah ini :        
 
Ancaman Serius
 
Persoalan keamanan udara Indonesia ini tidak dapat dipandang sebelah mata, karena dapat menimbulkan ancaman serius. Salah satu bentuk ancaman tersebut adalah apabila asing (Thailand atau Australia) berhasil menjadi ATFM Centre di Asia Pasifik, maka seluruh penerbangan di wilayah ini akan dikendalikan dari sana, termasuk Indonesia. Dengan kata lain, apabila pesawat Garuda akan terbang dari Jakarta ke Makassar, maka dia harus ijin dulu ke Thailand atau Australia. Begitu pula apabila pesawat TNI-AU akan berpatroli, maka harus ijin kepada Thailand atau Australia.
 
Dalam pembuatan skenario dan foresight terkait dengan ancaman ini menggunakan metode pendekatan Lockwood Analytical Method for Prediction (LAMP) dengan 12 langkah, maka dapat ditarik kesimpulan yang besar bahwa kekalahan Indonesia dalam memperebutkan dominasi ATFM akan membuat wilayah udara Indonesia “diambil-alih” oleh negara lain. Situasi ini serupa dengan diambilnya wilayah udara Batam oleh Singapura, namun dalam skala yang jauh lebih luas karena menyangkut seluruh wilayah udara Nusantara.
 
Bahaya lainnya jika wilayah Indonesia “dikapling asing” karena Indonesia gagal menjadi ATFM Center adalah akan banyak maskapai penerbangan swasta dan nasional milik Indonesia yang akan bangkrut, sebab maskapai penerbangan Indonesia diwajibkan untuk terbang dengan dibawah upper air space yang akan berdampak pesawat terbang tersebut akan boros dengan bahan bakar, sebab semakin rendah sebuah pesawat terbang maka memerlukan bahan bakar/avtur yang besar dibandingkan dengan pesawat yang mengudara diatas upper air space
 
Dengan begitu dapat dibayangkan multiplier effect yang dihasilkan yaitu maskapai penerbangan swasta dan nasional di Indonesia kurang kompetitif dibandingkan maskapai penerbangan asing, yang pada akhirnya mengakibatkan kebangkrutan dan PHK besar-besaran. Kondisi ekonomi dan sosial ini jelas rawan dipolitisasi oleh kekuatan asing ataupun komprador asing di dalam negeri untuk “mengais keuntungan di air yang keruh”
 
Bagaimana mencegahnya ?
 
Salah satu tugas utama dari badan intelijen di negara manapun juga adalah memberikan “warning” atau peringatan atas kemungkinan adanya ancaman dan pendadakan strategis yang datang dari pihak manapun juga. “Warning” itu sendiri dibagi dalam strategic warning atau peringatan strategis dan tactical warning atau peringatan taktis. Strategic warning itu sendiri dibagi dalam strategic warning sebelum dikeluarkannya keputusan/kebijakan dan strategic warning setelah dilakukan aksi atas kebijakan yang telah dikeluarkannya. “Warning” diperlukan oleh pembuatan kebijakan atau keputusan secepat dan seakurat mungkin. Sementara itu, “tactical warning” terkait erat dengan operasional intelijen, namun bukan merupakan bagian fungsi dari intelijen.  Terkait dengan waktu dikeluarkannya “warning”, maka warning dibagi dalam imminent (dekat), immediate future (masa langsung), near future (waktu dekat), soon (segera) dan foreseeable future (masa depan).
 
Agar badan intelijen tidak salah dalam memberikan “warning/peringatan”, maka Cynthia Grabo sebagai penulis buku “Handbook of Warning Intelligence (2010)” yang juga pernah direkrut Army Intelligence US tahun 1942 ini, menulis bahwa “warning” bukan merupakan komoditi (karena warning adalah tidak terukur, abstrak, sebuah teori, sebuah persepsi dan sebuah beliefs), warning juga bukan current intelligencewarning juga bukan kompilasi dari berbagai fakta, dan warning juga bukan konsensus mayoritas. Namun warning adalah sebuah upaya penelitian yang lengkap, warning adalah penilaian atas berbagai probabilitas, warning adalah penilaian dari pembuat kebijakan, dan warning adalah keyakinan yang menghasilkan tindakan. 
 
Untuk membuat sebuah “warning” yang baik, maka sumber-sumber informasi yang terkait dengan warning tersebut haruslah berasal dari sumber-sumber tertutup, memiliki nilai akses langsung atau hasil observasi, sangat detail dan spesifik, dan timeliness.
 
Persoalan ancaman keamanan udara diatas, adalah tugas yang harus diselesaikan oleh aparat intelijen dibantu dengan stake holder di bidang keamanan udara seperti Angkasa Pura, Kementerian Perhubungan, Kementerian Luar Negeri, TNI khususnya TNI Angkatan Udara untuk saling bantu membantu memenangkan posisi sebagai ATFM Center dapat dimenangkan oleh Indonesia, tentunya dengan upaya diplomatik yang benar, penggalangan yang benar serta pendekatan-pendekatan hukum lainnya.

TNI AU DAN AU CHINA JAJAKI KERJASAMA




Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Imam Sufaat menerima kunjungan Major General Officer Dan Zhi Ping dan Major General Wu Fei dari Chinese People Liberation Army Air Force (CPLAAF) di Mabes AU, Cilangkap, Senin (3/12/2012). 

Kasau didampingi Asisten Pengamanan Kasau Marsda TNI Kuswantoro, Asisten Personel Kasau Marsda TNI Mawardi, Asisten Logistik Kasau Marsda TNI JFP Sitompul, dan Kadispenau Marsma TNI Azman Yunus membahas sejumlah agenda kerja sama.

Tahun lalu, Kementerian Pertahanan RI dan Pemerintah RRC sepakat membuka latihan pilot tempur jet Sukhoi di China. Pertemuan yang berlangsung dengan lancar tersebut dilakukan dalam kunjungan delegasi Senior Officer Chinese People Liberation Army Air Force (CPLAAF) yang diikuti 49 perwira.

Delegasi yang dipimpin Major General Dan Zhi Ping ini selama di Indonesia dijadwalkan melakukan kunjungan ke Lanud Halim Perdanakusuma untuk melihat simulator Hercules.
Selain itu, rombongan juga mengunjungi Skadik 102 Wingdikterbang Lanud Adi Sucipto Yogyakarta, Museum Dirgantara Mandala, dan Candi Borobudur. 





Sumber : Kompas

PASAR PESAWAT ANGKUT DI INDONESIA LEBIH POTENSIAL DIBANDING PESAWAT TEMPUR




Putra sulung mantan Presiden RI ke-3 BJ Habibie, Ilham Akbar Habibie mengaku lebih tertarik mengembangkan pesawat angkutan massal (komersial) ketimbang pesawat tempur.

Menurutnya, pesawat angkutan massal secara bisnis lebih menguntungkan. “Jelas (pesawat tempur secara bisnis) tidak terlalu menguntungkan,” ujar Ilham Akbar Habibie, Presiden Director PT. Ilthabi Rekatama yang juga tengah merintis pesawat terbang baling-baling, Regio Prop kepada Okezone di kantornya di kawasan Mega Kuningan Jakarta.

Ia mencontohkan, ketika masih bekerja di PTDI (PT Dirgantara Indonesia). Waktu itu PTDI masih fokus pada satu produk pesawat terbang, yakni pesawat tempur. “Itu dilemanya PTDI, mereka punya produk, mereka bisa secara leluasa jual kemana-mana, namun pasarnya terlalu merugikan,” tuturnya.

Karena, menurut Ilham, bila ia terlibat dalam shopping list di angkatan udara, maka shoping list terkait pesawat udara angkutan militer adalah prioritas yang paling rendah. “Dulu, yang lebih disukai itu pesawat tempur, pesawat pengintai dan sebagainya,” tambahnya.

Apalagi, yang namanya pesawat terbang dapat terbang boleh dikatakan selamanya, dengan catatan, apabila dirawat dengan baik. Dengan baik berarti setiap kali ada retakan atau komponen rusak atau salah, itu perlu digantikan. Sehingga, dengan penggantian komponen ini, meskipun relatif kecil, namun bisa mencegah terjadi kecelakaan atau yang membahayakan pesawat.

Kerusakan pesawat itu terkait intensitas pemakaian pesawat. “Jadi, untuk airlines yang bisa 8 kali take off dan landing per hari, tentu kerusakan lebih cepat. Namun untuk pesawat angkutan militer, belum tentu dia setiap hari terbang, yaitu bila ada misi saja,” tuturnya

Putra sulung BJ Habibie itu mengatakan, pesawat tempur bisa diganti bukan karena rusak. Akan tetapi, perlu upgrade, karena bila lawan punya armada yang lebih canggih, maka dia bisa mengalami kekalahan. Sedangkan pesawat angkut militer, itu hanya untuk mengangkut tentara misalnya, pesawat ini tidak dibuat untuk memenangkan perang, tetapi pesawat ini mendukung untuk yang menang perang.

“Oleh karena itu, pasar transport militer/pesawat tempur menurut saya kurang bagus menjadi andalan.  Makanya, waktu itu di PTDI atau masih IPTN, kita buat N-250, karena kita sudah tahu, kalau IPTN hanya produksi pesawat tempur saja, (maka ini akan) mati, tidak bisa. (Ketika itu), hanya satu produknya, maka kita harus buat yang kedua, tetapi akhirnya tidak jadi. Ini hal yang dilematis,” sesalnya.

Dukungan Pemerintah
 
Ilham mengatakan, dalam hal ini dirinya berharap bahwa pemerintah bisa mendukung proyek pengembangan pesawat Regio Prop, yang merupakan pengembangan dari pesawat terbang N-250.

“Kami juga bermaksud untuk kerjasama, dalam arti kata bekerjasama dengan PTDI (Dirgantara Indonesia). Kami sudah berkali-kali diskusi dengan teman di sana, juga dengan BUMN,” terangnya.

Akan tetapi, Ilham mengungkapkan bahwa saat ini, tampaknya pemerintah sudah cukup puas di posisi minoritas.  “Namun kita tetap kerja, nanti PTDI sebagai mitra,” tambahnya.

Lebih lanjut Ilham menjelaskan, saat ini pengembangan Regio Prop masih ditahap konseptual. “Kami swasta, dalam fase ini kita tidak harus dapat dukungan pemerintah. Kalau kita sudah punya produk, (barulah) kita mulai bicara dengan mereka,” tegasnya.

Dirinya berharap, ke depan dapat bekerjasama dengan baik dengan pemerintah. Meskipun demikian, saati ini atau fase konseptual ini, pihaknya belum merasa perlu untuk berkoordninasi dengan pihak pemerintah.

“Karena ini uang kita sendiri, kita tidak meminta uang ke pemerintah. Untuk koordinasi lebih ke dukungan dari PTDI, apakah mereka punya kapasitas untuk mmbuat pesawat, insinyur dan sebagainya,” tutupnya.





Sumber : Okezone

REGIO PROP, NEXT GENERATION N-250




 Sepintas pesawat itu mirip dengan pendahulunya N-250. Karena wajar, terlebih pesawat masa depan Indonesia ini, merupakan turunan dari pendahulunya yang baru saja dirancang pada tahun 2004.

Mendapat dukungan dari sang ayah yang juga merupakan perintis pesawat terbang nasional sekaligus arsitek terbangunnya pesawat N-250, Ilham Akbar Habibie mencoba merancang sendiri pesawat yang digadang-gadang bakal menjadi kebanggan bangsa Indonesia.

“Namun, ini masih sebatas rancangan kasar, belum selesai secara keseluruhan,” kata Ilham Habibie saat berbincang santai dengan Okezone di kantornya, di Kawasan Mega Kuningan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, lanjut putra sulung presiden RI ke-3 ini, setidaknya orang Indonesia telah mampu berpikir jauh bagaimana menciptakan pesawat yang mampu mengangkut jutaan masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Dengan Regio Prop yang mampu mengangkut 50 hingga 70 penumpang, diharapkan dapat terealisasi dengan mulus. Sang arsitek yang telah lama mengenyam pendidikan di Jerman itu, mengaku bangga bisa memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negeri ini melalui karya-karyanya.

Pesawat rancangannya ini juga tidak asal-asalan, terlebih ini didukung juga dengan sistem keamanan, dengan menggunakan teknologi tinggi semacam software atau sistem yang memberi batasan kontrol pada pilot ketika tengah mengendalikan pesawat itu di udara.

“Dulu 1998, belum banyak pesawat yang menggunakan teknologi fly-by-wire, kalau sekarang di buat fly-by-wire dibandingkan dengan fly-by-hidrolic dan cable. Itu mungkin kalau dihitung secara biaya, lebih mahal yang konvensional,” paparnya.

Ilham pun meyakini bahwa pesawat yang kini tengah dikembangkannya (Regio Prop) adalah primadona yang bakal laris manis di pasaran pesawat terbang, khususnya di Indonesia.

“Saat ini kalau kita lihat di lapangan, di pasar, yang diperlukan adalah pesawat itu (Regio Prop). Pesawat ini bisa dibeli atau dijual ratusan di Indonesia, karena itu yang diperlukan,” jelasnya.

Ilham mengungkapkan, sejak dahulu telah memprediksi bahwa di masa mendatang, dengan sendirinya akan diperlukan pesawat terbang dan bila perkembangannya terus belanjut, juga bisa sebagai tulang punggung daripada infrastruktur.

Mengudara 2018
 
Pesawat terbang baling-baling (Regio Prop), yang akan dibuat melalui PT Regio Aviasi Industri, masih perlu dirumuskan serta dikembangkan, baik dari sisi desain, kapasitas penumpang, sistem pesawat serta teknologi yang diusungnya. Meskipun masih konseptual, namun Agung Nugroho, Direktur Utama PT Regio Aviasi Industri, optimis pesawat ini sudah dapat mengudara di wilayah Nusantara pada 2018.

“Proyek (Regio Prop) ini dimulai di 2004, di mana N-250, merupakan semangat untuk kami meneruskan pesawat terbang tersebut. Namun dari sisi teknologi, sistem serta desain lebih canggih dari N-250,” ujar Agung kepada Okezonemelalui sambungan telefon.

Ia menjelaskan, ketika itu (di 2004), proyek ini mendapatkan bantuan dari IDB (Islamic Development Bank) sebesar USD200 juta atau sekira Rp1,9 triliun. Dengan anggaran sebesar itu, nantinya, akan menggandeng PTDI untuk memberdayakan kembali, apakah nantinya para tenaga ahli di PTDI bisa direkrut kembali, baik kalangan tua atau mudanya.

“Saat ini masih tahapan konseptual design, dari situ kemudian ada tes dengan pasar kepada airlines. Kemudian apa-apa saja yang diperlukan, lalu mengelola seperti operating serta biaya,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, nantinya Regio Prop akan melewati proses sertifikasi pesawat melalui pemerintah Indonesia, dalam hal ini Direktorat Jenderal Penerbangan Udara.  “Insya Allah pada 2018, pesawat ini akan meluncur setelah melalui uji coba tersebut,” tuturnya.

Uji coba ini akan dilakukan guna menguji sistem pesawat terbang seperti tes aerodinamika, struktur pesawat, sistem electrical dan lain-lain. “Ini akan memakan waktu 4-5 tahun,” tambahnya.

Lebih detail Agung menjelaskan, Regio Prop berjarak tempuh sekira 400-600 kilometer. Pesawat ini dirancang sebagai pesawat cepat dan penerbangan jarak menengah. Meskipun belum fix dan masih tahap konseptual, namun kabarnya pesawat ini, direncanakan berkapasitas sekira 50-70 penumpang. “Awal 2013, kita akan mulai visibility study, technical serta market,” imbuhnya.

Ekonomis, Pesawat Regio Prop Cocok di Langit Indonesia

Masyarakat Indonesia bersiap dimanjakan dengan Regio Prop, armada angkasa sebagai pengembangan terbaru sekaligus perwujudan dari kobaran semangat pesawat terbang N-250 yang sempat terhenti lebih dari satu dasawarsa.

Pesawat buatan dalam negeri itu akan dilanjutkan pengembangannya melalui PT Regio Aviasi Industri yang digawangi oleh Ilham Akbar Habibie, putra sulung Presiden RI ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie.

Pesawat terbang ini memiliki keunggulan dari berbagai sisi, di samping cocok untuk kondisi geografis wilayah Indonesia, juga memiliki sisi ekonomis terkait harga tiket yang nantinya bisa semakin terjangkau.

Ilham Akbar Habibie, yang bertindak sebagai Program Director Regio Prop  kepada Okezone menegaskan, ide pembuatan pesawat terbang ini dimulai sejak 2004. Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit, diperkirakan proyek ini menelan dana hingga USD500 juta (Rp4,8 triliun) untuk sekira 10 sampai dengan 12 armada pesawat terbang (Regio Prop).

Lalu apa yang membuatnya tertarik untuk melanjutkan proyek ini. Secara terknologi pesawat terbang tidak hanya menarik, tetapi juga dari sisi kompleksitas tingkat tinggi yang ada pada bidang pesawat terbang tersebut. Ia juga mengaku, mengimplementasikan rancangan pesawat terbang adalah tidak mudah.

“Ini menjadi tantangan tersendiri, karena untuk pengembangan ini butuh lima tahun, bisa Anda bayangkan ini terbilang cepat. Sementara banyak perusahaan seperti Boeing dan Airbus yang mengembangkan pesawat bisa sampai 7 hingga 8 tahun, karena kompleksitas, banyak juga tantangan  dari segi management, finance dan sebagainya,” jelasnya.

Kendati sulit dan terjal, kekecewaan Ilham beberapa tahun silam bakal terjawab, di mana waktu itu industri pesawat terbang nasional kurang mendapatkan apresiasi. Namun, lanjutnya, kini zamannya telah berbeda, banyak orang yang ditemuinya mendukung dan bersemangat untuk pengembangan pesawat terbang, khususnya pesawat terbang Regio Prop yang kini masih dalam fase konseptual.

“Bisa dilihat dengan mata kepala kita, apabila kita ke lapangan udara, itu sudah seperti stasiun bus. Jadi, ini menunjukkan bahwa banyak orang senang (dengan moda transportasi tersebut). Dulu mungkin orang tidak mengerti, kini orang biasa juga (memilih) naik pesawat, dan itu sangat bermanfaat,” tuturnya.

Dengan preferensi masyarakat yang lebih senang memilih pesawat terbang sebagai alat transportasi, maka menurutnya, ini menunjukkan daya beli masyarakat semakin meningkat. “Harga tiket pesawat tidak setinggi langit seperti dulu. Ini sudah sangat affordable (terjangkau),” tambahnya.

Pria kelahiran Jerman ini melihat masyarakat kini sudah mulai mengerti di Indonesia, perlu pesawat terbang. Sebab, pesawat terbang menurutnya sangat layak secara ekonomis, serta sangat mendukung untuk negara yang besar dan luas, seperti di Indonesia.

Orang kini mulai melihat, ternyata pesawat terbang itu sangat layak secara ekonomis dan pesawat yang diperlukan itu rupanya, yang selalu ia katakan “persis kijang terbang”. Namun, dengan harga yang relatif murah, handal, bandel, tidak cepat rusak, bisa terbang kemanapun dan mendarat di landasan bandar udara yang juga tidak terlalu panjang.

“Terkadang kendala yang ada, masih agak pendek landasan itu, untuk pesawat jet terlalu pendek. Oleh karena itu, ini menjadi salah satu keunggulan dari pesawat terbang baling-baling, (selain mendukung landasan yang tidak terlalu panjang), pesawat baling-baling bisa lebih murah, serta dari segi konsumsi bahan bakar lebih irit,” jelasnya.


Sumber : Okezone

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...