Sunday, September 23, 2012

SM-92 New Coin fr Russia




General characteristics

Crew: 1
Capacity:
6 passengers or
2 stretchers plus attendant
600 kg (1,323 lb) cargo
Length: 9.13 m (29 ft 11½ in)
Wingspan: 14.60 m (47 ft 11 in)
Height: 3.08 m (10 ft 1 in)
Wing area: 20.44 m² (220 sq ft)
Airfoil: P-301M
Aspect ratio: 10.43
Empty weight: 1,430 kg (3,153 lb)
Loaded weight: 2,350 kg (5,181 lb)
Max. takeoff weight: 2,350 kg (5,181 lb)
Powerplant: 1 × Vedeneyev M14P nine-cylinder radial engine, 269 kW (360 hp)

Performance

Never exceed speed: 290 km/h (156 knots, 180 mph)
Maximum speed: 230 km/h (124 knots, 143 mph)
Cruise speed: 200 km/h (108 knots, 124 mph)
Stall speed: 100 km/h (54 knots, 62 mph) flaps down
Range: 1,380 km (744 nmi, 857 mi) max fuel, 40 minutes reserves
Service ceiling: 3,000 m (9,840 ft)
Rate of climb: 5.0 m/s (984 ft/min)
User : Russian border guard

dengan senjata 2 bom 50kg, 10 roket dan 2 SMG 7.62 serta seorng doorgunner

APC Karya Arek ITS




specs overview ==> Konsep HB-3 dimulai pada tahun 2009 melalui angan-angan dan telah diexpresikan didalam beberapa judul tugas akhir mahasiswa S1 Teknik Sistem Perkapalan ITS. Alhamdullilah pertengahan 2011, bersama PT Wirajayadi Bahari dapat membangunnya di Denhar Marinir Karangpilang Surabaya. Kendaraan beroda rantai sepanjang 8 meter dan berbobot 20 Ton ini telah teruji dan tersertifikasi minggu lalu dengan kemampuan cepat 14 km/jam di laut dan 60 km/jam di darat.

CN-295 Pertama untuk TNI-AU


Pesawat C-295M untuk Indonesia sesuai kesepakatan dengan Airbus Military diberi nama dengan CN-295 (photo : Muniz Zaragueta)

Pesawat CN-295 pertama pesanan Kementrian Pertahanan Indonesia untuk TNI AU yang dibuat oleh Airbus Military Spanyol saat ini telah selesai dan menjalani proses test flight. Pesawat CN-295 pertama ini diberi kode A-9501.

Kontrak senilai 325 juta US Dollar untuk pengadaan sembilan pesawat CN-295 ditandatangani pada 15 Februari 2012 dalam acara Singapore Air Show, didalamnya juga mencakup penyediaan suku cadang dan pelatihan.

Pesawat CN-295 rencananya akan dioperasikan oleh TNI Angkatan Udara untuk menggantikan peran pesawat Fokker-27 yang sudah menua dan di-grounded setelah jatuhnya satu pesawat tersebut pada bulan lalu. Pesawat ini akan ditugaskan dalam berbagai misi seperti operasi militer, dropping logistik, bantuan kemanusiaan, maupun misi evakuasi medis.

Pengiriman pertama pesawat ini diperkirakan akan berlangsung bulan September atau Oktober 2012, dan sisanya berlanjut sampai pada semester kedua 2014.

Sesuai kesepakatan dengan pihak Airbus Military, dari pesanan 9 pesawat tersebut 2 pesawat akan dikerjakan sepenuhnya di Airbus Military Spanyol, sedangkan 7 lainnya perakitan akhirnya akan dilakukan di PT DI Bandung.

(Defense Studies)

CN295 TNI AU Dilengkapi Sistem Canggih

Sevilla - CN295 dilengkapi sistem Fully Integrated Tactical System (FITS) yang berfungsi mengintegrasikan, mengendalikan, dan menampilkan sensor, meningkatkan kewaspadaan dan memfasilitasi pengambilan keputusan.

Didukung FITS, CN295 mampu menunaikan berbagai misi antara lain mengangkut pasukan, kargo, evakuasi, komunikasi dan logistik, pencarian dan pertolongan (SAR), pengintaian dan pengendalian, sampai dropping udara, dengan waktu perubahan konfigurasi sangat cepat, sehingga mengurangi risiko terpapar musuh.

CN295 secara opsional juga dilengkapi sistem perlindungan diri antara lain cockpit berpanser, peringatan radar (RWR), peringatan rudal (MAWS), peringatan laser (LWS), dan pelontar bola api untuk mengecoh rudal, juga kemampuan mengisi bahan bakar di udara.

Pesawat ini dengan panjang body 24,45m, bentang sayap 25,81m, berat kosong 11.000kg, kecepatan jelajah 480km/jam ini juga tersedia dalam versi anti kapal selam dan sistem intelijen, pengintaian dan mata-mata yakni Airborne Early Warning and Control (AEW&C) dengan radar IAI/ELTA 4th Generation Active Electronically Scanned Array (AESA).

"Kemampuan serupa AWACS tersebut bisa mendeteksi musuh dalam radius 400km. Tambahan lainnya adalah persenjataan untuk mendukung pasukan darat, konvoi, fasilitas, dll," ujar Airbus Military Press Officer, Media Relations Communications Javier Lopez kepada detikcom, Rabu (19/9/2012).

Dalam peran militernya, CN295 bisa digunakan untuk pengangkutan taktis pasukan dan catu logistik yang diperlukan seperti air, makanan, amunisi, obat-obatan, dan suku cadang.

Juga penerjunan pasukan para, aktivitas antiterorisme, serta pengawasan perbatasan berkat sistem pengintaian di dalamnya.

Disebutkan bahwa pesawat ini juga ideal untuk misi-misi non militer antara lain pertolongan kemanusiaan dan evakuasi pada bencana alam, pengintaian dan pemantauan imigrasi ilegal, penyelundupan narkoba, pencurian ikan di wilayah laut Indonesia, pengawasan pencemaran laut, sampai penebangan liar (illegal logging)

Ungkap Kembali Kejahatan Perang Belanda


JAKARTA -- Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Irman Gusman mendukung perjuangan menuntut pengakuan de jure  kemerdekaan RI dari pemerintah Belanda. Irman juga sepakat atas upaya pengungkapan kembali kejahatan perang tentara Belanda ketika negeri kincir angin itu melakukan agresi militer di tanah air. Termasuk tragedi Galung Lombok di Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat, yang dikenal dengan "korban 40.000 jiwa".

"Kami pribadi sangat setuju dengan gerakan ini. Perlu kita bicarakan lagi dengan teman-teman yang lain, akan ada pertemuan lanjutan," papar Irman saat menerima aktivis Komite Nasional Penyelamat Martabat Bangsa Indonesia (KNPMBI) di Senayan, Jakarta, Jumat 21 September.

Ia pun mengapresiasi hadirnya KNPMBI sebagai wadah perjuangan tersebut. KNPMBI merupakan bentukan bersama Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB), Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKMSB) dan sejumlah aktivis dari daerah korban kejahatan perang Belanda.

Setelah mendengar pemaparan terkait tuntutan terhadap pemerintah Belanda, Irman mengaku kaget dan langsung memberikan respon positif. Rupanya, masih banyak yang perlu diluruskan mengenai sejarah bangsa ini.

Ketua KNPMBI Batara R Hutagalung menjelaskan, tuntutan utama terhadap pemerintah Belanda adalah pengakuan de jure kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945. Selama ini, RI hanya mendapat pengakuan secara de facto.

KNPMBI juga tengah berupaya mengumpulkan bukti-bukti kejahatan perang tentara Belanda di beberapa wilayah Indonesia. Aksi tersebut berlangsung antara tahun 1946-1947 atau pasca Presiden Soekarno memproklamirkan kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945.

Salah satunya, adalah pembantaian rakyat sipil di Galung Lombok, Kabupaten Polman dan Majene, Provinsi Sulbar. Batara Hutagalung menyebutkan, telah tercatat lebih dari 650 warga Sulbar yang tewas akibat aksi pembantaian tentara Belanda pimpinan Raymond Pierre Paul Westerling.

Saat itu, warga tak berdosa dikumpul lalu ditembak secara membabi buta. Tragedi Galung Lombok tergolong kejahatan perang terbesar kedua di dunia, setelah yang terjadi di India. Beberapa daerah di Sulsel juga tak luput dari kekejaman Westerling.

Selain di Sulawesi pelanggaran HAM tentara Belanda juga berlangsung di daerah Bondowoso, Solo, dan Jawa Tengah. Kejahatan perang ini akan dibawa ke Mahkamah Kejahatan Internasional di Den Haag, Belanda.

"Pertemuan ini menimbulkan motivasi tersendiri untuk mengembalikan harga diri kita sebagai bangsa Indonesia. Apa yang dilakukan waktu itu kenapa kita diamkan, harus dibuka kembali," imbuh Wakil Ketua Badan Kehormatan DPD RI, Hj. Aida Zulaika Nasution Ismeth.

DPD, kata Aida, siap memfasilitasi, berkoordinasi dengan pemerintah untuk turut serta merumuskan langkah-langkah perjuangan. "Ini masalah harga diri bangsa, Korban begitu banyak, sampai 1 juta. Semoga DPD menampung dan berjuang bersama-sama," urai wakil rakyat Kepulauan Riau itu.

Hadir dalam pertemuan, mantan aktivis Komnas HAM, Saafroedin Bahar. Dari KKMSB, tampak, Sudarman Amin, Alimuddin Panganro, Fadliah Parakkasi, dan Sekjen KKMSB yang juga koordinator lapangan KNPMBI, Salman Dianda Anwar.

Salman menegaskan dukungan politik dari DPD maupun DPR RI akan sangat membantu perjuangan KNPMBI. "Kami awali di DPD karena gesekan politiknya tidak terlalu tinggi. Tidak tergantung terhadap intervensi partai karena langsung dipilih oleh rakyat. Disinilah posisi strategis DPD," papar Salman.

Ia tak lupa menyampaikan rencana KNPMBI menggelar beberapa even terkait perjuangan bagi korban kejahatan perang Belanda, khususnya di Sulbar. Untuk itu, dukungan penuh dari Pemkab dan Pemprov Sulbar akan sangat membantu perjuangan nasional ini. 

Apache for Indonesia : Types AH-64D Block III Longbow and Fully Armed


AH-64D Block III Longbow (photo : global military review)

WASHINGTON – The Defense Security Cooperation Agency notified Congress September 19 of a possible Foreign Military Sale to the Government of Indonesia of 8 AH-64D APACHE Block III LONGBOW Attack Helicopters and associated equipment, parts, training and logistical support. The estimated cost is $1.42 billion.

The Government of Indonesia has requested a possible sale of 8 AH-64D APACHE Block III LONGBOW Attack Helicopters, 19 T-700-GE-701D Engines (16 installed and 3 spares), 9 Modernized Target Acquisition and Designation Sight/Modernized Pilot Night Vision Sensors, 4 AN/APG-78 Fire Control Radars (FCR) with Radar Electronics Units (Longbow Component), 4 AN/APR-48A Radar Frequency Interferometers, 10 AAR-57(V) 3/5 Common Missile Warning Systems (CMWS) with 5th Sensor and Improved Countermeasure Dispenser, 10 AN/AVR-2B Laser Detecting Sets, 10 AN/APR-39A(V)4 Radar Signal Detecting Sets, 24 Integrated Helmet and Display Sight Systems (IHDSS-21), 32 M299A1 HELLFIRE Missile Launchers, and 140 HELLFIRE AGM-114R3 Missiles.

Also included are Identification Friend or Foe transponders, 30mm guns and ammunition, communication equipment, tools and test equipment, training devices, simulators, generators, transportation, wheeled vehicles, organizational equipment, spare and repair parts, support equipment, personnel training and training equipment, U.S. government and contractor engineering, technical, and logistics support services, and other related elements of logistics support. The estimated cost is $1.42 billion.

This proposed sale will contribute to the foreign policy and national security of the United States by helping to improve the security of a friendly country which has been, and continues to be, an important force for political stability and economic progress in Southeast Asia.

The proposed sale provides the Government of Indonesia with assets vital to protect and deter both external and other potential threats.Indonesia will use these APACHE helicopters to defend its borders, conduct counterterrorism and counter-piracy operations, and control the free flow of shipping through the Strait of Malacca.

The materiel and services under this program will enable Indonesia to become a more capable defensive force and will also provide key elements required for interoperability with U.S. forces.

The proposed sale of this equipment and support will not alter the basic military balance in the region.

The prime contractors will be The Boeing Company in MesaArizona; Lockheed Martin Corporation in OrlandoFlorida; General Electric Company in CincinnatiOhio; Lockheed Martin Millimeter Technology inOwegoNew York; and Longbow Limited Liability Corporation inOrlandoFlorida. Implementation of this proposed sale may require the assignment of five U.S. contractor representatives and three U.S. Government representatives in country full-time for equipment checkout, fielding, and technical
support.

There will be no adverse impact on U.S. defense readiness as a result of this proposed sale.

This notice of a potential sale is required by law and does not mean the sale has been concluded.

(DSCA

Dua Howitzer Caesar 155 mm Tiba di Jakarta


Howitzer Caesar 155mm buatan Nexter Prancis (all photos : ARC)

JAKARTA – Dua howitzer tipe truck mounted berkaliber 155mm tiba di bandara Halim Perdana Kusumah,  jakarta diangkut dengan pesawat Rusia tipe Il-76. Howitzer Caesar buatan Nexter Prancis ini digolongkan sebagai Self Propelled Howitzer/howitzer yang dapat bergerak sendiri dengan bentuk yang lebih inovatif dibandingkan howitzer jenis tersebut yang sebelumnya menggunakan roda rantai (tracked).

Sejalan dengan percepatan modernisasi TNI, maka Angkatan Darat direncanakan mendapatkan  dua batalion howitzer Caesar ini. Satu batalion Artileri Medan terdiri dari 3 baterai, dimana 1 baterai terdiri dari 6 meriam, dengan demikian jumlah howitzer Caesar untuk TNI AD akan mencapai jumlah 36 unit.

Saat ini TNI AD memiliki 2 batalion howitzer gerak sendiri, masing-masing adalah Yon Armed 7/105 GS di Cikiwul Bekasi (Kodam Jaya), dan Yon Armed 5/105GS Cimahi Jawa Barat (Kodam Siliwangi). Howitzer yang digunakan adalah AMX Mk-61 eks Belanda berjumlah 50 unit yang diperoleh pada akhir 1970-an hingga tahun 1982. Howitzer beroda rantai dengan berat 13,7 ton ini memiliki meriam kaliber 105mm.

TNI AD juga memiliki howitzer caliber 155mm tipe tarik (towed) yang diperoleh dari Singapura pada tahun 1997. Howitzer FH-88 ini (di Indonesia sering disebut FH-2000) mempunyai bobot 12,9 ton dan digunakan oleh Batalyon Armed 9 Kostrad di Sadang, Purwakarta.


Menilik dari jangkauan tembakan maka pilihan atas howitzer Caesar ini menjadikan korps Artileri Medan memiliki jangkauan tembakan yang meningkat drastis. Bila AMX Mk-61 hanya mempunyai jangkauan tembakan 15km, dan FH-88 mempunyai jangkauan tembakan maksimal 30 km, maka Caesar mampu melakukan tembakan dengan jangkauan hingga 42-50 km. Jauh-dekatnya jangkauan tembakan ditentukan pula oleh pilihan proyektil yang dipakainya.

Howitzer Caesar juga digunakan oleh Thailand, negeri gajah putih tersebut membeli 6 unit pada tahun 2006 dan semua unit telah diterima pada tahun 2010. Pembelian oleh Thailand ini merupakan perolehan order ekspor pertama-kali bagi Caesar.

Howitzer Caesar bersifat air-transportable, dapat diangkut dengan pesawat seperti C-130 Hercules ataupun A-400M, ini sangat memudahkan bagi howitzer ini untuk dapat disebar ke daerah konflik dengan cepat.
  
Dua howitzer Caesar yang telah datang di Indonesia ini akan mengikuti parade militer pada hari ulang tahun TNI tanggal 5 Oktober 2012. Setelah parade militer tersebut, Caesar dapat dilihat dari dekat oleh public pada Pameran Alutsista di Lapangan Monas pada tanggal 6-8 Oktober 2012.

(Defense Studies

Satu Baterai Rudal Starstreak Masuk ke Arhanudse Kodam Jaya


Rudal Starstreak II versi vehicle mounted (photo : Thierry Lachapelle)

Jam Komandan Yonarhanudse 10/1/F

KODAM JAYA - Komandan Yonarhanudse 10/1/F Letkol Arh I Made Kusuma D.G., memberikan Jam Komandan kepada seluruh personelnya. Acara yang bertepatan dengan Bulan Ramadhan ini dihadiri oleh 453 personel dengan sangat antusias, bertempat di aula Yonarhanudse-10/1/F, Selasa (07/08).

Ada beberapa hal terpenting yang disampaikan oleh Danyon Arhanudse 10/1/F yang berhubungan dengan kegiatan Batalyon ke depan.

Pertama, bahwa untuk menjadi prajurit yang profesional, seluruh prajurit harus terdidik dan terlatih, hal ini sesuai dari pengarahan dari Kasad pada saat Rabiniscab terpusat.

Kedua, mengenai pembelian Alutsista bagi jajaran Arhanud yang telah disahkan oleh Kasad serta berhubungan dengan masuknya Rudal Starstreak ke Batalyon Arhanudse 10/1/F sebanyak 1 (satu) Baterai.

Hal berikutnya adalah penekanan agar seluruh prajurit menjauhi pelanggaran sekecil-kecilnya. Prajurit profesional adalah prajurit yang tidak memiliki pelanggaran.

(TNI)

Misteri Kapal Selam Indonesia


KRI Cakra 401 1024x682 Misteri Kapal Selam Indonesia
KRI Cakra 401
Kalau dipikir-pikir,  ada yang ganjil dengan armada bawah laut Indonesia.  Saat ini TNI AL hanya memiliki dua kapal selam gaek namun harus menjaga wilayah laut  Indonesia yang demikian luas. Bayangkan saja, 2/3 dari wilayah Indonesia adalah lautan.
Hal itu kontras dengan pengadaan alutsista untuk matra darat,  udara maupun permukaan laut.  Lihat saja, alutsista untuk matra permukaan laut  terus ditambah dengan: 4 Korvet Sigma, 3 Nakhoda Ragam Class, 1 PKR Sigma 10514, PKR Trimaran KRI Klewang, 4 Heavy Landing Platform Dock KRI Makassar Class,  KCR-40 dan kapal-kapal patroli lainnya, BMP-3, Ruda C-705 dan lain-lain.
Matra udara ada penambahan: 6 Sukhoi SU30MK2, 16 Super Tucano, 34 pesawat F-16 Block 32++, 9 C-295, 4 Hecules, , Bell 412, CN 235,  Rudal anti udara dan lain-lain.
Sementara untuk matra darat ada penambahan: 100 MBT Leopard Revo, 50 IFV Marder, MLRS Astros II, ATGM, Meriam Caessar 155mm, Rantis Sherpa, Panser Anoa, 12 Helikopter Fennec,  Rudal anti udara Startreak dan lain sebagainya.
Pengembangan kekuatan bawah laut yang  terkesan ketinggalan, terseok-seok, hanya dijaga  dua kapal selam tua. Apakah keputusan itu masuk akal  ?.
Kapal Selam Changbogo
Memang ada rencana pembuatan 3 kapal selam Changbogo dari Korea Selatan. Namun pengadaan kapal selam ini masih menuai kendala, terkait transfer of technology. Korea Selatan meminta dana yang cukup besar untuk ToT. Bukan itu saja, Korea Selatan pun, mengaku tidak mungkin memenuhi syarat yang diajukan Indonesia untuk pengadaan 3 kapal selam Changbogo.  Artinya proyek kapal selam Changbogo ini belum jelas.
 Misteri Kapal Selam Indonesia
Kapal Selam Changbogo Korea Selatan
Dengan demikian, banyak  lubang besar di bawah laut Indonesia yang menjadi titik lemah negeri ini, sekaligus memberikan jalan masuk bagi kapal selam asing. Kondisi ini menempatkan kapal-kapal permukaan TNI AL dalam posisi berbahaya dan menjadi sasaran empuk.  Padahal kita tahu, kapal selam adalah salah satu deteren dalam alutsista militer, karena keberadaannya susah dilacak.
Bahkan negara-negara besar seperti AS, Rusia, Inggris, Perancis dan China terus memodernisasi armada kapal selam mereka.
Dengan kondisi di atas, apakah tidak aneh Indonesia hanya memiliki 2 kapal selam tua, sebagai pertahanan bawah laut ?. Tentu Aneh.
Kapal Selam Tetangga
Sekarang mari kita bandingkan dengan kapal selam negara tetangga, agar kalkulasi yang kita dapatkan lebih cermat.
Negara mini seperti Singapura,  memiliki 6 kapal selam modern. Namun mereka terus memperkuat armada bawah laut  dengan memesan 4 kapal selam Scorpene class SSKs dari DCNS Perancis. Sebentar lagi Singapura akan memiliki 10 kapal selam yang siap tempur dan menggentarkan.
Bahkan Vietnam yang ekonominya masih di bawah Indonesia sedang mendatangkan 6 kapal selam  Improved Kilo (Kilo-636 KMV).  Kontrak pembelian kapal selam itu dilakukan Vietnam ke Rusia pada tahun 2010, dan akan datang satu kapal selam, setiap tahunnya.
kapal selam scorpene Misteri Kapal Selam Indonesia
Kapal Selam Scorpene
Adapun Malaysia memiliki dua kapal selam modern Scorpene yang dikerjakan  Galangan Kapal Perancis DCNS bersama rekannya  Navantia Spanyol.  Sebelum menerima kapal selam itu, 150 prajurit Angkatan Laut Malaysia dilatih mengenal dan mengoperasikan kapal selam Agosta Class, yang telah dipensiunkan dari Angkatan Laut Perancis.   Malaysia sedang mempertimbangkan penambahan jumlah kapal selam, setelah Angkatan laut mereka terbiasa dengan 2 kapal selam Scorpene yang dibeli dari Perancis.
Malaysia memang baru memiliki 2 kapal selam, namun jangan salah kapal selam mereka sudah modern. Selain itu luas laut yang harus dijaga kapal selam Malaysia, jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia.
Negara tetangga di Selatan, Australia memiliki 6 kapal selam Collin Class yang dibangun bertahap sejak tahun 1996.  Kapal selam ini dibuat oleh Australian Submarine Corporation bekerjasama dengan Galangan kapal Kockums, Swedia- Jerman.
Australia sendiri telah mencanangkan penggantian 6 kapal selam mereka sejak tahun 2007, dengan nama Project SEA 100. Kapal selam Collins akan digantikan oleh 12 kapal selam yang lebih modern.
HMAS Rankin 2007 Collins Misteri Kapal Selam Indonesia
Kapal Selam Collin Class Australia
Dengan konstelasi seperti itu, armada kapal selam Indonesia paling kecil secara kualitas-kuantitas dibandingkan negara-negara di sekitarnya.
Jumlah kapal selam Indonesia yang hanya dua unit, memang cukup diragukan oleh berbagai pengamat militer internasional. Alasannya, secara hitung-hitungan militer, jumlah itu sangat minim. Keraguan lain disebabkan, hingga saat ini pihak  Indonesia maupun Rusia belum pernah terdengar membatalkan pembelian 2 kapal selam Kilo Classa. Sementara Presiden Rusia Vladimir Putin sudah menyetujui kredit ekspor untuk pengadaan kapal selam itu sebesar 700 juta USD.
kilo kapal Misteri Kapal Selam Indonesia
Presiden SBY melihat model Kilo Class
Bahkan sebagian pengamat militer negara asing mempercayai Indonesia memiliki 4 hingga 6 kapal selam Kilo Class.  Kalaulah dugaan itu betul adanya, beruntunglah Indonesia.  Namun jika dugaan itu tidak benar dan Indonesia hanya memiliki 2 kapal selam tua, tentu kebijakan itu terasa aneh. Yang membuat penasaran adalah, mengapa TNI AL tampaknya tenang-tenang saja, walau hanya memiliki dua kapal selam gaek, sementara armada permukaan laut terus digenjot jumlah dan kualitasnya(JKGR)

ANALISIS : AS BANTU JEPANG JIKA TERJADI PERANG DENGAN CHINA




:Kurt Campbell, Deputi Menlu urusan Asia Timur dan Pasifik AS, mengatakan Washington akan bantu Jepang jika terjadi perang dengan China, terkait dengan sengketa pula dua negara. "Pulau-pulau di Laut China Selatan yang jadi pusat sengketa antara China dan Jepang secara jelas tercakup dalam perjanjian keamanan tahun 1960 yang mewajibkan AS membatu Jepang jika diserang," demikian diplomat AS itu, Jumat (21/9).

"Kami tidak mengambil sikap mengenai kedaulatan pokok atas pulau-pulau ini," kata Kurt Campbell, kepada subkomite Hubungan Luar Negeri Senat AS.

Jepang menguasai pulau-pulau yang berbatu itu sejak tahun 1895 -- kecuali selama pendudukan Okinawa pasca perang AS tahun 1945-1972-- dan menamakannya Senkaku. China dan Taiwan, yang bersikeras mereka telah mengklaim lebih lama dan menamakan pulau itu dengan Diaoyu.

"Kita mengakui secara tegas... bahwa Jepang mempertahankan pemerintah yang efektif... dan ini secara tegas sesuai dengan Pasal 5 Perjanjian Keamanan," kata Campbell dalam dengar pendapat mengenai sengketa-sengketa wilayah Asia.

Ia mengemukakan kepada subkomite Senat bahwa unjuk rasa anti-Jepang yang rusuh di China dan tindakan lainnya yang menimbulkan ketegangan semakin mencemaskan AS.

Sengketa wilayah yang lama meningkat kembali pekan lalu ketika pemerintah Jepang memutuskan menasionalisasi beberapa pulau, membeli beberapa pulau dari seorang pemilik Jepang.

"Kita khawatir oleh demonstrasi baru-baru ini, dan jelas potensi bagi kemitraan antara Jepang dan China akan terganggu," kata Campbell.

"Itu bukan kepentingan strategis kita dan jelas akan mengganggu perdamaian dan stabilitas di Asia-Pasifik secara keseluruhan," tambahnya.

Perjanjian Kerjasama Timbal Balik dan Keamanan antara AS dan Jepang ditandatangani tahun 1960 sebagai pengganti perjanjian keamanan bilateral tahun 1951 dan tiang fondasi yang dianggap sebagai paling penting dari lima aliansi perjanjian AS di Asia.

Pasal 5 mengatakan "setiap pihak mengakui bahwa satu serangan bersenjata terhadap pihak lainnya di wilayah yang berada dibawah pemerintah Jepang akan membahayakan perdamaian dan keamanannya dan mengumumkan bahwa pihaknya akan bertindak untuk menghadapi bahaya bersama sesuai dengan ketentuan dan proses konstitusionalnya."

Pasal itu juga menetapkan sekutu-sekutu akan melaporkan "setiap serangan bersenjata dan segala tindakan sebagai akibat dari itu ke Dewan Keamanan PBB dan menghentikan tindakan itu apabila Dewan Keamanan melakukan tindakan yang mendukung perdamaian dan keamanan.

Ia mengatakan sikap terhadap pulau-pulau itu sama yang ditetapkan oleh para pejabat AS sejak tahun 1997.

Ketua subkomite Senator Jim Webb, seorang dari Partai Demokrat Virginia dan pakar militer Asia, mendesak pemerintah Obama "menanggapi secara seksama dan penuh" terhadap tindakan China di Laut China Timur dan Laut China Selatan, di mana China dan negara-negara lain terlibat sengketa wilayah yang meningkat dalam beberapa tahun belakangan ini.

"Ancaman itu menimbulkan konsekuensi laagsung pada AS," kata Webb, yang menyatakan satu deklarasi tahun 2004 oleh pemerintah George W.Bush dan pada tahun 2010 oleh Menlu Hillary Clinton bahwa kewajiban perjanian keamanan AS diperluas mencakup pulau-pulau yang disengketakan.

"Membiarkan tindakan China yang memasuki perairan di sekitar wKepulauan Senkaku kita perlu tetap melakukan kewajiban kita secara tegas sesuai dengan perjanjian keamanan ini," katanya.



Sumber : Analisa

ASIA DIAMBANG PERANG KARENA SENGKETA WILAYAH




:China dan negara-negara di Asia lain bisa terjerumus ke dalam perang yang dipicu sengketa wilayah. Ini bisa dipercepat dengan sikap berbagai pemerintahan yang provokatif.
Demikian dikatakan Menteri Pertahanan AS, Leon Panetta di Tokyo, Minggu (16/9/2012). Panetta memohon kesabaran Asia, terutama terkait sengketa di Laut China Selatan dan Laut China Timur.

"Saya merisaukan negara-negara yang terlibat sengketa. Jika mereka terjebak aksi provokasi, maka itu meningkatkan kemungkinan salah interpretasi yang merujung pada aksi kekerasan dan selanjutnya berkembang menjadi konflik," kata Panetta. "Dan konflik ini bisa meluas."

Panetta berkunjung ke Jepang untuk menemui mitranya dan juga mitranya di China. Dia juga mengingatkan persaingan ekonomi bisa mendorong aksi perebutan kekayaan sumber daya alam. "Kita akan semakin sering menghadapi isu-isu seperti ini. Masalahnya banyak negara yang terlibat pencarian sumber daya alam," katanya.

Di Laut China Timur ada aksi provokatif yang dilakukan Jepang maupun China. Di Laut China Selatan juga ada aksi provokasi yang dilakukan China berhadapan dengan Vietnam dan Filipina. Korea Selatan dan Jepang juga terlibat aksi provokatif terkait Gugu Kepulauan Dokdo (dalam istilah Korea Selatan) atau Takeshima dalam istilah Jepang. 



Sumber : Kompas

RENCANA PEMBELIAN HELIKOPTER APACHE MENGEJUTKAN




:Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin, mengungkapkan rencana pemerintah Indonesia untuk membeli pesawat helikopter serang Apache, mengejutkan.
 
Mengejutkan, kata politisi PDI Perjuangan ini,  karena selama ini  Kemenhan maupun TNI tidak pernah merencanakan pembelian helikopter Apache baik dalam APBN 2012 maupun RAPBN 2013 yang akan datan.

"Tahun ini TNI memang akan membeli 8 Unit heli serang seharga 90 juta dollar US dan 16 unit heli serbu seharga 170 juta dollar US.  Kedua jenis pesawat itu akan dibeli dari PT DI dan sudah dilakukan kontrak," Tubagus menjelaskan dalam rilisnya kepada Tribun, Jumat (21/9/2012).

Dikatakan, harga satu unit helikopter Apache tanpa senjata diperkirakan sekitar 40 juta dollar Amerika Serikat.  Dan bila dipersejatai, harganya akan meningkat menjadi 60 juta dollar Amerika Serikat setiap untinya, atau 600 juta dollar Amerika Serikat untuk 10 unit . Tugabus Hasanuddin berharap, pemerintah sebaiknya konsisten saja dengan rencana yang dibuatnya.

Bulan Februari lalu, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin kepada wartawan usai menghadiri Workshop Enhancing defence Cooperation on Public Affairs dengan Kemhan AS di Kemhan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (9/2/2012) lalu mengungkapkan rencana pemerintah membeli sejumlah helikopter serang Apache dari Amerika Serikat (AS) untuk menambah kekuatan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista).

"Pemerintah berminat membeli Apache sebanyak delapan unit," ujar Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. 
 
Sjafrie menjelaskan, pengadaan delapan unit helikopter serang jenis Apache itu merupakan rencana pembelian yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan Indonesia dan Sjafrie juga menegaskan bahwa heli tersebut tidak ditawarkan pihak AS namun Indonesia yang mencari.
 
"Mereka (AS) tidak menawarkan, kami yang mencari," jelas Sjafrie.

Saat itu, Sjafrie mengutarakan, belum ada deal antara pemerintah Indonesia dengan AS terkait pembelian helikopter tersebut. Sementara yang sudah disepakati adalah pembelian pesawat tempur jenis F16 dari Amerika Serikat.



Sumber : Tribunnews

RENCANA PEMBELIAN APACHE DISAMBUT GEMBIRA SKUADRON PENERBAD




Salah seorang komandan skadron Pusat Penerbangan TNI AD mengaku gembira jika Pemerintah Indonesia benar-benar jadi membeli helikopter serang AH-64/D Apache. Ia mengaku mengikuti terus perkembangan berita ini sejak awal. Kemungkinan pembelian makin menguat setelah Kamis, 20 September kemarin, Menlu AS Hillary Clinton mengumumkan kepastiannya untuk menawarkan delapan heli ini kepada Indonesia, melalui Menlu RI Marty Natalegawa, dalam Joint Commision Meeting di Washington, AS. 
  
Semula terdengar kabar, Kongres AS kurang menyetujui itikad Pemerintah AS untuk menawari helikopter tersebut. Namun, setelah pemerintahan Presiden AS Barack Obama menjelaskan bahwa dukungan persenjataan ini penting bagi hubungan kedua negara dan akan memperkuat keamaman di negara Muslim terbesar di dunia ini, Kongres AS akhirnya menyetujui. Dukungan dan kerjasama pertahanan ini juga digencarkan dalam rangka refocuses perhatian ke wilayah Asia-Pasifik setelah bertahun-tahun terlibat dalam konflik yang melelahkan di Irak dan Afghanistan. 


"Kesepakatan ini diharapkan bisa memperkuat persahabatan komprehensif kedua negara dan membantu memperkuat keamanan di wilayah Asia Pasifik," ujar Menlu Hillary Clinton, mengutip Reuters. 


Hillary Clinton, yang selama sebulan terakhir ini sibuk berkunjung ke sejumlah negara di wilayah Asia Pasifik, mengakui bahwa Pemerintah AS telah berusaha meningkatkan kerjasama militer dengan sejumlah sekutu tradisionalnya, seperti Filipina dan Australia. Hal ini dilakukan untuk menekan China agar mau menerima kesepakatan bersama untuk memecahkan konflik teritorial di Laut China Selatan. 


Di mata pers Indonesia, keinginan AS untuk menjual delapan heli Apache tentunya merupakan perkembangan menarik, mengingat belum lama ini Indonesia telah menerima tawaran 24 pesawat tempur F-16 versi upgrade. Paket F-16 ini akan ditebus dengan biaya 750 juta dollar AS, sementara untuk kedelapan Apache belum jelas benar berapa "angka" yang akan disodorkan pemerintah AS. 


Jika tawaran ini disetujui Pemerintah Indonesia, kedelapan heli serang buatan Boeing tersebut hampir bisa dipastikan akan digunakan untuk memperkuat Skadron Serbu, Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat (Puspenerbad). Sejauh ini Skadron Serbu Penerbad telah diperkuat dengan heli NBO-105 dan Mi-35P yang dipersenjatai.



Sumber : Angkasa

KEMHAN : APACHE BARANG BAGUS, SELAMA HARGA COCOK




:Kerjasama keamanan Indonesia dan AS menciptakan terobosan baru. Washington menawarkan Jakarta untuk membeli sejumlah unit helikopter tempur Apache, yang tidak lagi mereka pakai. Langkah AS ini terkait dengan kebijakan Indonesia yang tengah meremajakan alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Menurut kantor berita Reuters, rencana penjualan itu dikemukakan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, kepada Menlu RI Marty Natalegawa di Washington DC pada Kamis siang waktu setempat (Jumat pagi WIB). Kedua menteri bertemu untuk pertemuan kali ketiga Komisi Bersama AS-Indonesia, yang membahas perkembangan kemitraan komprehensif bilateral.

Kepada wartawan, Menlu Clinton mengatakan bahwa Kongres telah diberitahu perihal rencana pemerintahnya menjual helikopter tempur Apache ke Indonesia. "Persetujuan ini akan memperkuat kemitraan komprehensif dan membantu meningkatkan keamanan di kawasan," kata Clinton.

Menurut dia, dengan ingin menjual helikopter Apache, AS berkepentingan memperkuat pertahanan Indonesia. Pasalnya, menurut Clinton, AS kini memandang Indonesia sebagai "pijakan bagi stabilitas di kawasan Asia Pasifik."

Tahun lalu, AS pun mengumumkan hibah 24 unit jet tempur F-16 ke Indonesia. Dua lusin jet tempur itu tidak lagi digunakan oleh militer AS, walau harus mengalami pemutakhiran teknologi dan yang biayanya harus ditanggung Indonesia.

Di bawah pemerintahan Barack Obama, AS saat ini tengah mempererat kerjasama pertahanan dengan Indonesia. Ini sejalan dengan perubahan strategi keamanan AS, yang mulai berfokus ke Asia Pasifik setelah terlibat perang di Irak dan Afganistan.

AS juga telah meningkatkan kerjasama militer dengan sekutu-sekutu tradisionalnya di Asia Pasifik, seperti Filipina dan Australia. Manuver-manuver Washington di kawasan ini pun - walau berkali-kali dibantah oleh para pejabat AS, mengundang perhatian serius dari China, karena dianggap sebagai upaya membendung pengaruh dan ancaman Beijing.

Terkait pernyataan Clinton soal penguatan kerjasama kedua negara, Menlu Natalegawa menegaskan bahwa hubungan erat antara Indonesia dan AS kini dampaknya tidak lagi sebatas lingkup bilateral. "Kedua negara kini telah menempuh hubungan yang sangat dekat dalam suasana yang sangat produktif dan saling menguntungkan, yang tidak hanya dirasakan di tingkat bilateral, namun juga meningkat ke lingkup regional," kata Natalegawa, dalam jumpa pers yang transkripnya dimuat di laman Deplu AS.

Keunggulan Longbow
Menurut Menlu Clinton, Apache yang ditawarkan AS adalah seri AH-64D seri Longbow. Dibuat oleh Boeing, AH-64 Apache merupakan helikopter andalan Angkatan Darat AS untuk operasi tempur terbatas. Menggantikan helikopter AH-1 Cobra, Apache mulai digunakan Angkatan Darat AS pada April 1986.

Menurut data dari Boeing.com, Apache seri AH-64D Longbow mulai dipakai Angkatan Darat AS pada Maret 1997. Selain AS, kini militer dari sejumlah negara sudah menggunakannya, yaitu Mesir, Yunani, Israel, Jepang, Kuwait, Belanda, Arab Saudi, Singapura, Uni Emirat Arab, dan Inggris.

Dibanding dari seri pendahulunya, AH-64D Longbow ini memiliki sejumlah kelebihan dalam konektivitas digital, sensor, sistem persenjataan, peralatan pelatihan, dan sistem dukungan pemeliharaan.

Helikopter yang dikendalikan dua awak ini juga dilengkapi teknologi presisi yang lebih baik dari seri awal. Pengembangan mesin dan navigasinya membuat helikopter tempur ini bisa terbang lebih lama dan lebih lincah bermanuver.

Keunggulan utama seri D dari versi sebelumnya adalah kemampuan helikopter itu dalam menggunakan rudal-rudal Longbow Hellfire, yang dipandu radar. Seri AH-64D ini pun dilengkapi dengan radar FCR, yang membuat helikopter itu bisa mendeteksi dan menyerang target di tengah hujan, kabut, atau asap. Kemampuan ini tidak dimiliki model AH-64A.

Apache AH-64D ini dalam beberapa tahun terakhir mengalami pengembangan varian. Menurut army-technology.com, varian Apache Block II mulai digunakan Angkatan Darat AS pada 2003. Varian ini dilengkapi sistem komunikasi digital yang lebih baik.

Selain itu, Angkatan Darat AS sejuak Oktober 2010 memulai pengembangan varian baru, yaitu Block III. Pada tahap ini AH-64 D mengalami pemutakhiran pada sensor televisi bercahaya rendah (LLTV), yang bisa memantau cahaya lampu jalan dan suar. Block III ini mulai dipasok sejak November 2011, demikian ungkap Flight International.

Namun, demi peremajaan helikopter tempur baru, Angkatan Darat AS sudah menargetkan pembelian terakhir Apache Longbow pada 2010. Menurut laporan dari Kantor Anggaran Kongres AS pada November 2007, harga satu unit Apache AH-64D ini sekitar US$18 juta, atau kini kurang lebih Rp171,8 miliar. Harga itu sudah termasuk pemasangan radar FCR.   

Hingga berita ini dimuat, pemerintah AS belum memaparkan kepada publik harga Apache yang ditawarkan ke Indonesia. Selain itu belum ada tanggapan resmi dari delegasi Indonesia atas tawaran itu, termasuk bagaimana pengaturan jual belinya bila memang disetujui.

Tanggapan Pejabat
Namun tawaran Apache dari Amerika ini sudah mengundang pro dan kontra. Ada pejabat yang mendukung, namun ada pula yang mengkritisi.

Seorang pejabat Kementerian Pertahanan menyambut baik rencana Amerika Serikat untuk menjual helikopter tempur Apache AH-64/D kepada Indonesia. "Benar, mereka menawarkan. Tapi itu baru komitmen mereka. Helikopter itu sendiri bagus, kita tertarik," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Hartind Asrin kepada VIVAnews, Jumat 21 September 2012.

Menurut Hartind, saat ini belum ada tindak lanjut dari Indonesia terkait rencana AS tersebut. "Kita masih mempertimbangkan. Karena belum bicara mengenai harga. Baru komitmen mereka," ucapnya.

Tapi yang pasti, kata Hartind, Indonesia tidak akan membeli jika harga delapan unit helikopter Apache itu terlalu mahal. "Kalau harganya pas, jadilah kita beli. Karena itu helikopter yang bagus," lanjut Hartind.

Namun, dia menilai bahwa Apache yang ditawarkan Amerika itu kemungkinan bekas pakai. Jadi, kondisinya masih harus diteliti. "Tentunya, sebelum dibeli, tim kami akan terlebih dulu melihat kondisi helikopternya. Apakah kondisinya masih bagus atau tidak," Hartind menambahkan.

Sebaliknya, anggota DPR dari Komisi I, Mahfudz Siddiq, mengkritisi tawaran Amerika itu. Menurut dia, lebih baik Indonesia membeli helikopter multifungsi yang lebih berguna, yaitu CH-47 Chinook, ketimbang helikopter tempur.

Chinook dikenal sebagai helikopter angkut, baik untuk personel maupun logistik. "Komisi I tahun lalu pernah mengusulkan ke Kementerian Pertahanan untuk membeli Chinook dari Amerika Serikat dengan skema MFS (military foreign sales)," ujar Mahfudz.

Bagi dia, kegunaan heli Chinook sangat multifungsi, terutama untuk membantu operasi penanggulangan bencana. "Apache memang diperlukan sebagai heli serbu, namun lebih prioritas Chinook. Syukur kalau pemerintah Amerika Serikat bisa tawarkan keduanya," kata dia.
  
Namun, bagi Mahfudz, pembelian Apache juga diperlukan untuk mengimbangi negara-negara lain, seperti Singapura. "Namun akan lebih efektif jika diprioritaskan Chinook atau dilakukan secara bersamaan," tegasnya.

Meski rencana pembelian heli tempur sudah ramai diperbincangkan, Mahfudz belum mengetahui lebih detil soal realisasi. Sebab, kata politisi Partai Keadilan Sejahtera ini, sampai saat ini belum ada anggaran untuk pembelian Apache. "Termasuk juga dalam rencana anggaran 2013," kata dia.



Sumber : Vivanews

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...