Tuesday, November 27, 2012

INDONESIA TUAN RUMAH UNSMLC MISI PBB




kasum-sub
 Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi tuan rumah penyelenggara United Nations Senior Mission Leader Course (UNSMLC), yang diikuti 28 pejabat tinggi negara diantaranya Kanada, Jepang, Kenya, Indonesia, Belgia, USA, Nigeria, Denmark, India dan Swiss, yang dibuka oleh Kasum TNI Marsdya TNI Daryatmo, S.IP., mewakili Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E.,  di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (26/11/2012). Kegiatan tersebut berlangsung mulai tanggal 26 November sampai dengan 7 Desember 2012.

Penyelenggaraan UNSMLC adalah mempersiapkan calon-calon pejabat senior di lingkungan Misi Perdamaian PBB untuk mengisi jabatan sebagai Special Representative of Secretary General (SRSG), Deputy SRSG, Force Commanders, Police Commisioners, Director of Mission Support dan Chief of Staff dari misi PBB. Adapun sasaran yang ingin dicapai adalah memberikan gambaran kepada pejabat senior dari Troops/Police Contributing Countries (T/PCCs), khususnya tentang Manajemen Operasional Misi Perdamaian PBB.

Panglima TNI dalam amanatnya yang dibacakan oleh Kasum TNI antara lain mengatakan,  Pemerintah Indonesia sangat menghargai kerjasama dan bantuan dalam penyelenggaraan kursus bertaraf Internasional, sebagai langkah yang sangat penting dalam merealisasikan konteks besarnya kepentingan dan komitmen bersama pada agenda perdamaian dan keamanan dunia. Terlebih lembaga penyelenggara yakni PBB, merupakan suatu lembaga Internasional yang menjadi tempat berkumpulnya negara-negara merdeka di dunia yang mencintai perdamaian kekal dan abadi, namun lebih dari itu mencintai kemerdekaan yang luhur dan bermartabat. 
 
Lebih lanjut dikatakan, kegiatan UNSMLC merupakan sarana strategis dalam sistem peningkatan Sumber Daya Manusia PBB, yang memiliki tujuan sebagai berikut : Pertama, kursus diarahkan untuk lebih mengembangkan kemampuan para Pemimpin Senior PBB dan meningkatkan atau menambah jumlah para pemimpin terlatih, yang disiapkan untuk misi-misi operasi perdamaian PBB.

Kedua, guna memberikan pengertian dan pemahaman akan pentingnya kerjasama, koordinasi, komunikasi dan konsensus, yang terintegrasi dalam satu fungsi yang efektif dan efisien antara pemimpin suatu misi dengan sistem PBB, antar badan PBB dan masyarakat lokal. Ketiga, memberikan para peserta kesadaran dan pemahaman tentang kemampuan dan batas kemampuan dari berbagai komponen operasi misi perdamaian PBB yang cukup kompleks.

Keempat, kursus ini diarahkan untuk memberikan para peserta pemahaman tentang peran, tugas dan tanggungjawab dari pemimpin suatu misi PBB, agar dapat memimpin para personel yang ditempatkan dalam operasi-operasi penjaga perdamaian PBB secara efektif. Terlebih para personel pada misi PBB merupakan gabungan dari suku bangsa yang memiliki prinsip berbeda, namun komit pada satu tujuan yang sama.





Sumber : Poskota

MENAKAR ALUTSISTA INDONESIA




Indonesia merupakan negara kepulauan yang besar dengan jumlah penduduk yang banyak serta kondisi geopolitik berada di dua persimpangan samudra yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta dua benua, yakni benua Asia dan Australia. Negara lain akan menghargai kedaulatan Indonesia jika pertahanan kita kuat.

Nah, sekarang bagaimanakah kondisi pertahanan serta alat utama sistem senjata (alutsista) kita ? apakah sudah cukup kuat “menakuti” bangsa lain ? Mari kita simak masing-masing kekuatan, khususnya kekuatan alutsista trimatra Tentara Nasional Indonesia (TNI) yakni Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU).


Pemerhati isu pertahanan dan alutsista TNI, Jagarin Pane mengatakan perkembangan pengadaan alutsista TNI mulai tahun 2012 ini bisa disebut masuk musim panen raya sampai tahun 2014. 

Tahun ini saja kita sudah menerima empat pesawat coin (counter insurgency) Super Tucano buatan Brazil dari yang kita pesan satu skuadron (16 unit).

Kita juga sudah menerima 2 KCR (Kapal Cepat Rudal) dari enam yang dipesan buatan galangan kapal dalam negeri di Batam. Tank berat Leopard juga sudah diambang pintu dengan pesanan 100 unit bersama dengan 50 uni tank medium Marder buatan Jerman.


“Kita juga sedang menunggu kedatangan MLRS (Multi Launcer Rocket System) Astross II dari Brazil untuk kebutuhan dua batalyon, satu unit kendaraan peluncurnya dipamerkan di ajang Indo Defence di Jakarta. 

Demikian juga dengan howitzer Caesar buatan Perancis untuk kebutuhan dua batalyon artileri sedang dinantikan kedatangannya bersama rudal Mistral untuk satu batalyon. 


Pokoknya banyak sekali pengadaan alutsista hingga tahun 2014 untuk ketiga matra TNI ini”, ungkap Jagarin kepada “PR” ketika dihubungi beberapa waktu lalu.
Jika ditanya mana yang terkuat diantara ketiga matra saat ini, ia mengatakan yang paling kuat adalah Angkatan Darat baik dari sisi jumlah pasukan maupun alutsista. TNI AD punya lebih dari 1000 tank dan panser belum termasuk artileri dan rudal anti serangan udara. 

“Akan tetapi tank yang dimiliki hanya berkategori tank ringan dari jenis Scorpion buatan Inggris dan AMX13 buatan Perancis. Itu sebabnya sesuai perkembangan situasi kawasan yang dinamis kita butuh Main Battle Tank (MBT) dan Medium Tank”, ungkap Jagarin menjelaskan.
Sementara itu, lanjut dia, untuk TNI AL punya kekuatan armada dengan lebih dari 140 KRI terbagi dalam dua armada, yaitu armada Barat dan Timur. 

Yang membanggakan tentu kekuatan pemukul KRI sudah dilengkapi dengan rudal anti kapal Yakhont buatan Rusia berjarak tembak 300 km, rudal C802 dan C705 buatan Cina. 

Uji coba rudal Yakhont yang dilakukan di mulut perairan Ambalat Oktober 2012 lalu pada seri latihan Armada Jaya mampu menenggelamkan KRI LST yang sudah pensiun dengan sekali tembak.

“Satuan pemukul TNI AL yang lain adalah Korps Marinir yang punya kemampuan serang pantai. Ini yang tidak dimiliki oleh Malaysia dan Singapura. 

Korps Marinir memiliki persenjataan yang berbeda generasi mulai dari tank amfibi PT 76, BTR50, AMX10P, BTR80A, RM Grad sampai yang terbaru BMP3F”, ungkap Jagarin lagi.

Untuk TNI AU Jagarin menilai kondisi alutsista yang paling lemah diantara dua matra TNI lainnya. Saat ini TNI AU hanya memiliki kekuatan 10 F16, 10 Sukhoi, 12 F5E, 32Hawk 100/200, 4 Super Tucano. Menurut dia kekuatan itu jelas sangat tidak memadai untuk mengawal dirgantara RI yang seluas Eropa ini.
“Namun dengan kedatangan 24 F16 blok 52, 6 Sukhoi, 16 Super Tucano dan 16 T50 setidaknya sesak nafas yang menjadi kendala mengawal kedaulatan udara RI bisa agak lega. 

Tentu saja tidak berhenti sampai disitu. Mestinya dalam MEF (Minimum Essential Force) tahap II tahun 2015-2019 kita harus memiliki minimal 32 jet tempur kelas berat Sukhoi, 48 jet tempur ringan F16 dan paling tidak punya juga minimal 24 unit dari jenis Typhoon atau Rafale” ucap Jagarin lagi.

Melihat kondisi alutsista trimatra TNI upaya untuk menambah persenjataan tentu menjadi sebuah keniscayaan bagi negara besar seperti Indonesia. Negara kita baru saja memproduksi UU Industri Pertahanan sebagai payung hukum untuk mengembangkan industri pertahanan dan keamanan (hankam) dalam negeri.


“Sebenarnya sebelum UU itu jadi, Kementerian Pertahanan sudah melakukan langkah maju yang berani dengan kerjasama ToT (Transfer of Technology) dengan Korea Selatan dalam pengadaan tiga kapal selam jenis Chang Bogo. 

Saat ini PT PAL dan Daewoo sedang menyeleksi tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk mendapatkan 200 tenaga ahli yang akan dikirim ke Korsel. Dua kapal selam dibangun di Korsel dan satu unit di PT PAL Surabaya. Dengan Cina kita juga sedang melakukan kerjasama alih teknologi rudal C705. Jika sekolah rudal ini berhasil, dikombinasi dengan kemampuan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) yang sudah mampu menguji roket berjarak tembak 300 km, bisa dipastikan akan terjadi kemajuan yang luar biasa dalam teknologi rudal kita dua hingga tiga tahun ke depan” ungkap Jagarin lagi.

Lebih lanjut ia menambahkan dalam pembuatan kapal perusak kawal rudal yang dikenal sebagai proyek PKR10514 dengan Damen Schelde Belanda saat ini pun dilakukan dengan transfer teknologi. “PT PAL yang saat ini sudah mendapat order membuat enam kapal cepat rudal ukuran 60 meter untuk TNI AL, jika berhasil mendapatkan teknologi PKR 10514 akan menjadi perusahaan pembuat kapal perang yang disegani di Asia Tenggara “, tutur Jagarin.

Posisi di Asia Tenggara


Jika demikian bagaimana sebenarnya posisi Indonesia di Asia Tenggara saat ini ? dulu kita dikenal sebagai “Macan Asia”, apakah gelar itu masih pantas diberikan kepada Indonesia ?

Jagarin mengatakan modernisasi alutsista TNI sebenarnya untuk mengejar ketertinggalannya yang cukup jauh dibanding dengan tetangganya. Malaysia sudah jauh hari punya MBT PT91 buatan Polandia, Singapura sudah punya MBT Leopard. Sampai hari ini TNI AD hanya punya tank ringan Scorpion. “Lha, Scorpion jika diadu dengan PT91 di Kalimantan, kan sama saja dengan menandingkan kambing dengan sapi, beda kelas. Jadi penambahan kekuatan persenjataan kita adalah sebuah keniscayaan dan fardu kifayah. 


Dulu di zaman Dwikora kekuatan militer RI adalah yang terkuat di Asia Tenggara sehingga dianggap sebagai kekuatan Macan Asia. Dengan modernisasi alutsista ini diharapkan Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan di Asia sesuai arahan Presiden SBY di hadapan petinggi Kemenhan dan Mabes TNI blan puasa yang lalu”, ujarnya menjelaskan.

Khusus dengan Malaysia dimana Indonesia sering mengalami konflik, Jagarin berani menyatakan bahwa kekuatan militer Indonesia saat ini secra umum tetap lebih kuat dari Malaysia. “Hanya di AU kekuatan mereka lebih ‘bergigi’ dengan memiliki 18 Sukhoi, 12 Mig29, 8 Hornet, 12 F5E. Untuk AL kita yang terkuat dengan lebih dari 140 KRI bandingkan dengan Malaysia hanya memiliki 58 KD. Mereka tidak punya pasukan Marinir berkualifikasi serbu, kita punya dua divisi pasukan Marinir berkemampuan serang pantai”, katanya lagi.

Yang lebih membanggakan, lanjut Jagarin, tentu skill individu prajurit kita lebih tahan uji dan mahir. Terbukti dalam setiap uji tanding di kejuaraan menembak regional berbagai senjata perseorangan, Indonesia selalu tampil menjadi nomor satu. 

Negara-negara ASEAN dan Australia angkat topi dengan kemampuan individu prajurit TNI. “Dengan Marinir AS pun terbukti dalam uji ketahanan fisik dan mental di hutan Jawa Timur beberapa waktu lalu bersama Marinir AS, personel Marinir AS kalah uji nyali dan uji fisik dengan Marinir Indonesia”, ungkapnya.

Apalagi, lanjut Jagarin, kehadiran 45 negara dan 500 produsen alutsista dunia di ajang Indo Defence membuktikan bahwa dunia sedang melirik Indonesia dengan anggaran alutsista yang luar biasa yakni Rp 100 trilyun dan diharapkan menjadi Rp 150 trilyun pada tahun 2014 nanti. “Prinsip yang dibangun Kemenhan, kan sudah jelas kalau belum mampu bisa beli dari luar tapi syaratnya berbagi teknologi. Kita meyakini kebijakan Kemenhan yang melakukan transaksi pengadaan alutsista sudah berada di jalan yang benar. Pengadaan MBT Leopard dilakukan G to G ( government to government) sehingga mampu menghapus beban jasa broker”, katanya menjelaskan.

Semua industri hankam dalam negeri saat ini bergerak dan mekar dengan berbagai order alutsista dari Kemenhan. Lihat saja PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Industri dirgantara PT DI yang sempat dinyatakan bangkrut, saat ini sedang berupaya merekrut tenaga ahli untuk menyinari kembali industri kebanggaan RI itu. “Demikian juga dengan PT PAL, semuanya sedang menggeliat dan menampilkan kesibukannya tak terkecuali industri swasta nasional kita”, tutur Jagarin.





PENDARATAN PERDANA JET TEMPUR CHINA DI KAPAL INDUK




China berhasil melakukan pendaratan pesawat tempur pertama di dok kapal induk mereka pada Minggu waktu setempat. Namun, para ahli memperkirakan, masih butuh beberapa tahun sampai kapal induk itu beroperasi penuh.

Diberitakan Reuters yang mengutip Xinhua, pendaratan berhasil dilakukan oleh pesawat tempur multi-fungsi generasi pertama J-15 di Lianing, kapal induk pertama China. Liaoning sebelumnya adalah bekas kapal induk peninggalan Uni Soviet yang diperbarukan.

J-15 dapat membawa rudal anti-kapal perang, udara-ke-udara, dan udara-ke-darat. Kemampuan J-15 setara dengan jet Su-33 Rusia dan F-18 Amerika Serikat. Tidak disebutkan dimana pendaratan itu dilakukan.

Menurut laporan People's Daily, Liaoning dapat memuat 30 pesawat J-15 dan mengangkut sekitar 2.000 kru kapal. Liaoning sendiri berhasil melakukan uji pelayaran pertamanya pada Agustus tahun lalu.

Dalam laporan penilaian kemampuan militer China oleh Pentagon, AS, walaupun China berhasil mendaratkan jet di kapal itu, namun masih perlu bertahun-tahun untuk megoperasikannya secara penuh.

"Masih perlu bertahun-tahun untuk China dalam mencapai kemampuan tempur, bahkan yang terminimal, untuk kapal induknya," tulis Pentagon.

Menurut perkiraan Pentagon, saat ini China tengah membuat kapal induk buatan mereka sendiri yang diprediksi siap berlayar pada 2015. "China akan membangun banyak kapal induk dan kapal pendukung lainnya dalam sepuluh tahun ke depan," tulis Pentagon.

Kapal induk baru dimiliki oleh angkatan laut Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris yang diluncurkan hampir seratus tahun lalu. AS adalah negara satu-satunya yang punya lebih dari satu kapal induk, yaitu 11 kapal.




Sumber : Vivanews

ISRAEL KLAIM SUKSES UJI COBA SISTEM PERTAHANAN RUDAL BARU




:Para pejabat pertahanan Israel dan AS sukses menguji sistem pertahanan rudal baru yang disebut David's Sling. Sistem pertahanan itu dapat mencegat rudal berjangkauan lebih jauh dibandingkan yang dijatuhkan sistem Iron Dome yang digunakan dalal konflik Israel-Jalur Gaza belum lama ini, demikian pernyataan kementerian pertahanan Israel, Minggu (25/11).

Sebuah rudal Stunner yang diluncurkan sistem pertahanan David’s Sling mampu "mencegat sasaran dalam penerbangan perdananya", kata kementerian itu dalam pernyataannya. "Organisasi Pertahanan Rudal Israel dan Badan Pertahanan Rudal AS menyelesaikan tahap pertama pengembangan David’s Sling Weapon System (DSWS), dengan melakukan pencegatan yang sukses," tambah pernyataan itu.

Uji coba tersebut diluncurkan oleh Sistem Pertahanan Canggih Rafael di Israel selatan tetapi tidak dijelaskan kapan uji coba itu dilakukan. Sistem itu diharapkan siap dioperasikan tahun 2014, kata sejumlah media Israel.

Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak, mengucapkan selamat kepada mereka yang terlibat dalam uji coba itu. Ia menambahkan, David's Sling akan membentuk sebuah lapisan baru yang signifikan dalam sistem pertahanan rudal multi-lapis Israel.

David's Sling merupakan sistem pertahanan rudal yang saat ini sedang dikembangkan Rafael di Israel dan Raytheon di AS dan dirancang untuk mengisi kesenjangan proteksi jarak pendek yang diberikan sistem Iron Dome dan program pertahanan rudal balistik jarak jauh dari Arrow 2. David's Sling juga dikatakan mampu bertindak sebagai back-up bagi Arrow, dengan mencegat ancaman yang berhasil menyelinap melalui pertahanan Arrow.

Arrow, sistem mutakhir yang dirancang untuk melawan serangan terutama dari musuh bebuyutan Iran, berhasil mencegat rudal-rudal semacam rudal Shihab-3 dari Iran dalam berbagai kondisi pengujian.

David Sling, yang menurut televisi Israel dirancang untuk mencegat rudal yang ditembakkan dari jarak 50 sampai 250 kilometer, dimaksudkan untuk menjembatani kesenjangan antara Arrow dan Iron Dome.

Pengumuman Israel itu muncul empat hari setelah gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalar Gaza diberlakukan menyusul pertempuran selama delapan hari. Militer Israel mengatakan, sebanyak 1.354 roket ditembakkan ke Israel dari Jalur Gaza selama pertempuran itu, dan sebanyak 421 di antaranya dicegat oleh sistem Iron Dome.





Sumber : Kompas

Monday, November 26, 2012

Mainan Baru di Tahun 2013...?

Menyambut tahun 2013, Kementrian Pertahanan Republik Indonesia sudah menyusun sejumlah perencanaan. Rencana yang tertuang dalam Rencana Kerja Kementrian 2013 ini masih menitik beratkan kepada percepatan MEF tahap 1 serta Peningkatan Industri dalam negeri.



Sesuai surat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Menteri Keuangan, di tahun 2013 pagu indikatif pertahanan negara ditetapkan sebesar Rp 76,53 triliun. Besaran ini setara dengan 0,89% PDB atau 14,14% dari pagu indikatif nasional, atau 60,43% dari kebutuhan pembangunan Postur Pertahanan Negara Tahun 2010-2014. Sementara program dan prioritas Kementrian Pertahanan terdiri atas 17 program dan 44 kegiatan dengan kebutuhan anggaran semula sebesar Rp 25.719,41 miliar menjadi Rp 28.014,32 miliar.
Sasaran Pembangunan Pertahanan Negara Tahun 2013 antara lain terwujudnya postur dan struktur Pertahanan rata-rata sebesar 30% dari kekuatan pokok minimum (minimum essential force), terbangunnya 14 pos pertahanan baru di wilayah perbatasan darat dan terbangunnya 1 pos pertahanan baru di pulau terdepan (terluar) beserta penggelaran prajuritnya, serta terdayagunakannya industri pertahanan nasional bagi kelengkapan Alutsista TNI sebesar 16,73% akuisisi Alutsista TNI tahun 2013.
Beberapa program lainnya di tahun 2013 adalah, Pengadaan 2 unit Helikopter NAS-332C1 VVIP senilai Rp460 Milyar, Up grading (falcon star) F-16 sebanyak 10 unit senilai Rp 270 Milyar, Pembangunan platform KCR 60M Lanjutan senilai Rp 169,78 Milyar serta Pengadaan Heli Angkut Bell-412 Tahap II lanjutan Rp 88,93 Milyar. Ada juga pengadaan kapal bantu minyak cair, pembangunan Universitas Pertahanan, Pengadaan tambahan Anoa bagi brigade mekanis, serta perlengkapan satuan armed.
Disisi lain, Redaksi ARC juga mendapat bocoran mengenai alutsista yang akan dibeli di tahun 2013. Diantaranya, Korps Marinir akan kebagian Ranpur Amfibi jenis baru dari eropa timur. Selain itu paket Upgrade 10 F-16A/B TNI AU setara MLU juga akan segera dilakukan. Beberapa jenis senapan serbu juga akan memasuki gudang-gudang senjata Pasukan Khusus TNI. Sementara, Sukhoi TNI-AU juga akan semakin tajam dengan datangnya persenjataan presisi. Apa saja mainan terbaru TNI..? Tunggu tanggal mainnya.

(arc)

Persaingan Senjata di Asia Tenggara

Kapal Selam Mutan Indonesia
Besaran pembelian senjata oleh negara-negara Asia Tenggara telah menjadi pembicaraan hangat bagi analis-analis pertahanan. Pengeluaran Pertahanan di seluruh wilayah Asia Tenggara meningkat 13,5 persen dari tahun lalu menjadi US$ 25,4 miliar dan diperkirakan akan terus meningkat menjadi US$ 40 miliar pada tahun 2016, seperti yang digambarkan Stockholm International Peace Research Institute.

Lembaga independen tersebut mengatakan, Indonesia, Vietnam, Thailand dan Kamboja telah meningkatkan anggaran pertahanan sebesar 66 persen hingga 82 persen dari tahun 2002 sampai tahun lalu.

Indonesia telah membeli kapal selam dari Korea Selatan dan sistem radar pantai canggih dari China dan Amerika Serikat, Vietnam juga mengakuisisi kapal selam dan jet tempur dari Rusia dan juga telah mendapatkan rudal balistik dari Israel. Anggaran pertahanan Vietnam untuk tahun ini adalah US$ 3,1 miliar, naik 35 persen dari tahun lalu. Filipina pun tidak ketinggalan, negara kepulauan tersebut juga memiliki keinginan besar terhadap persenjataan dari Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Perancis dan Inggris untuk akuisisi pertahanannya.

Singapura, negara kecil ini telah menjadi negara terbesar kelima di dunia dalam urusan impor senjata. Singapura tampaknya ingin mempertahankan gelarnya sebagai pemboros alat pertahanan di kawasan Asia Tenggara, mengalokasikan US$ 9,7 miliar pada tahun ini untuk belanja pertahanan. Ini merupakan 24 persen dari anggaran nasionalnya. Negara ini membeli jet tempur dari Amerika Serikat dan kapal selam dari Swedia. Thailand berencana untuk membeli kapal selam dan pesawat tempur dari Swedia yang nantinya akan dilengkapi dengan rudal anti-kapal, sedangkan pengiriman senjata ke Malaysia melonjak delapan kali lipat selama dari tahun  2004 hingga 2009.

Selama beberapa dekade, sebagian besar negara Asia Tenggara seperti tertidur, sebagian besar hanya jenis senapan dan kendaraan tempur ringan yang mereka impor untuk menghadapi ancaman internal. Namun, negara-negara Asia Tenggara yang memiliki sengketa wilayah dengan China telah membangun kekuatan pertahanan mereka. Memang telah terjadi ketegangan atas klaim teritorial China di Laut Cina Selatan, sperti dengan Filipina.

Hingga tahun 2020, para analis pertahanan memperkirakan 56 kapal selam akan ditambahkan ke seluruh armada laut negara-negara Asia Tenggara dan 30 kapal selam akan juga memperkuat China. Beberapa kapal selam China akan mampu membawa 12 rudal balistik peluncuran laut yang nantinya bisa dilengkapi dengan hulu ledak ganda. seorang analis Asia Tenggara dari Akademi Angkatan Pertahanan Australia di Universitas NSW, Carl Thayer, mengatakan  penyebaran kapal selam nuklir, termasuk kapal selam rudal balistik, akan menjadikan dimensi geostrategis baru untuk keseimbangan regional.

Penyebaran kapal selam nuklir China akan terus menarik perhatian bagi Angkatan Laut AS. Aksi membeli/memproduksi senjata dalam jumlah besar akan memiliki dampak destabilisasi bagi keamanan regioal. Dalam sebuah makalah oleh seorang analis pertahanan, Profesor Thayer, mengatakan : "Asia tenggara sudah siap untuk bersaing dalam persenjataan karena ketidakpercayaan strategis dengan China."

Amerika pun turut campur dalam "menghadapi China" ini, AS akan memperkuat poros pasukan keamanan ke Asia tenggara dan Pasifik. Strategi ini dipandang sebagai penyeimbang kekeutan China, yang agresif menegaskan klaim teritorialnya di hampir seluruh Laut Cina Selatan. Bagian dari wilayah yang juga diklaim oleh Filipina, Brunei, Malaysia dan Vietnam.
Sumber : Vivanews

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...