Wednesday, July 25, 2012

Menunggu kolaborasi TNI AL dan LAPAN


 Pesawat Terbang Nirawak Zen_LAPAN01 (atas) dan Skywalker (bawah) yang digunakan untuk mendukung Program Estimasi Produksi Padi
Jakarta (ANTARA News) - Berbagai langkah diayunkan TNI AL untuk memajukan diri menjaga kedaulatan Indonesia. Kini kerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional digalang agar kelak penguasaan teknologi informatika penginderaan jarak jauh, termasuk penggelaran wahana tanpa awak (UAV/Unm`nned Aerial Vehicles) dimungkinkan secara mandiri.

Angkatan Laut Amerika Serikat, sebagai contoh, telah lama memakai teknologi itu untuk mengendus keberadaan anasir yang mengancam kepentingan Amerika Serikat; nun jauh sebelum anasir itu bisa diindera mata dan telinga manusia. 


Salah satunya berupa RQ-8A/B Fire Scout, serupa helikopter mini yang bisa lepas landas dari kapal perang. Fire Scout ditempatkan pertama kali di dalam hanggar USS Denver pada Januari 2002 dengan kemampuan paling berbahaya bertajuk pengintaian (reconnaisanse), peraihan sasaran taktis, melacak sasaran, dan pemilihan sasaran secara akurat.

Ada lagi yang jauh lebih sangar, seturut Jane's Defence, namanya Northrop-Grumman RQ-4A Tier II Plus Global Hawk yang mampu dibekali teknolgi Synthetic Aperture Radar, electro-optical, sensor infra merah, dan masih banyak lagi. Maklum, arsenal classsified, jadi cuma sedikit yang bisa diungkap pabrikan.  

Bisakah Indonesia menuju ke sana? Bisa adalah jawabannya namun tidak seketika. Sejalan penandatanganan nota kerja sama antara TNI AL dan LAPAN, di Markas Besar TNI AL di Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, kerangka ke arah sana sedang dibangun bersama.

Pihak penandatangan adalah Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Soeparno, dengan koleganya, Kepala LAPAN, Bambang S Tejasukmana, disaksikan para petinggi masing-masing pihak dan belasan jurnalis nasional. Dari sisi waktu pemberlakuan kerja sama itu, ada skema jangka pendek dan jangka panjang. 

Intinya, kedua pihak saling berbagi pengetahuan dan pengalaman serta saling melatih dan meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi-teknologi terkait. TNI AL memiliki Dinas Hidrografi dan Oseanografi yang sangat mumpuni dalam pengamatan perilaku perairan dan kawasan maritim nasional.

Di antara yang paling mudah adalah merekam dan memprakirakan (forecasting) data pasang-surut pantai. Data ini akan sangat berguna untuk banyak kepentingan, baik pelayaran niaga apalagi pertahanan negara.

LAPAN sendiri juga bukan "pemain baru" di dunia kedirgantaraan dan keruangangkasaan. Berbagai kerja sama dan kepercayaan serta capaian telah diraih sejak masa pemerintahan Soekarno, penggagas LAPAN kala itu. Inilah satu-satunya badan di belahan selatan Bumi yang pada masanya telah mampu meluncurkan calo satelit mini asli buatan dalam negeri.

LAPAN juga memiliki organ yang spesialisasinya di bidang penginderaan jarak jauh --contohnya peringatan dini titik-titik panas kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan sehingga bisa cepat diketahui-- yang siap dimanfaatkan bagi kepentingan pertahanan nasional.

Membilang hal ini, teknologi penginderaan jarak jauh berbasis teknologi satelit itu bisa menjelma berupa UAV dengan misi pengintaian dan intelijen maritim. Bukan rahasia lagi bahwa keterbatasan anggaran pertahanan menjadi "tantangan" untuk berinovasi agar tugas pokok bisa dilakukan sebaik mungkin.

Kehadiran UAV ini akan menjadi armada tambahan signifikan bagi banyak kapal perang dan pangkalan TNI AL untuk membuat perairan Indonesia bertambah aman sekaligus mencegah pelanggaran dari pihak-pihak luar negeri. UAV mampu terbang jauh di balik cakrawala, memancarkan data dan temuannya menuju satelit dan memancarkan ulang ke kapal-kapal perang kita.

Sehingga, di ruang kendali operasi (combat situation room) kapal perang, keputusan paling tepat bisa diambil berdasarkan perintah bermodal data paling akurat. Soeparno mengangankan agar hal itu nanti bisa terjadi secara seketika alias real time. UAV ini dioperasikan dari landasannya di kapal perang dan kembali ke kapal asalnya untuk kemudian dioperasikan lagi. 

LAPAN memang tidak mengurusi persenjataan fisik berupa perancangan dan pembuatan peluru kendali. Terlepas dari unsur manusia pengawak, apalah arti peluru kendali tanpa bisa dikendalikan bersandar teknologi state of the art? TNI AL tengah membangun postur kekuatannya yang kuat, ramping, liat, dan modern; salah satunya berupa kapal perang sekelas KAL Clurit ukuran 48 meter yang bisa ngebut di perairan dangkal.
Masih ada kapal kelas Kapal Cepat Rudal 60 yang masih mampu berlayar sempurna sambil tetap memungkinkan sistem giroskop meriam 57 milimeter dan peluru kendali hingga kelas MM-40 Exocet Block II (kelak) diaktifkan dari pijakan luncurnya.

Menurut Sidang Pleno Ke-VI Komite Kebijakan Industri Pertahanan pada 23 Mei 2012 lalu, hal ini masih ditambah dengan kapal kelas Perusak Kawal Rudal dengan kodifikasi PKR 10514 sepanjang 105 meter dengan harga 220 juta dollar AS perunit. "Tampang" kapal yang direncanakan dibuat di galangan PT PAL Surabaya ini mirip dengan kapal fregat kelas SIGMA yang penuh dengan diamond cut-nya.

Perompakan di Selat Malaka, sebagai satu hal, sempat menempatkan nama Indonesia sebagai negara yang kurang baik dalam mengamankan wilayahnya sendiri. Namun berbagai langkah digiatkan sehingga patroli kerkoordinasi digelar di antara negara-negara pihak di perairan yang menguasai sekitar 70 persen omzet perdagangan dunia itu bisa semakin aman.

Kalau sudah begitu nanti, bayangkan capaian yang bisa diraih jika sepertiga saja kapal-kapal perang TNI AL dibekali dengan sistem penginderaan jarak jauh (baca: UAV) yang lebih mumpuni. Tidak akan mudah pihak luar menyodorkan "data pembanding" yang kerap bisa disesuaikan dengan kepentingan mereka.

Apalagi belakangan dan ke depan nanti isu Kepulauan Spratly di Laut China Selatan alias Laut Filipina Barat, di utara Laut Natuna, Provinsi Riau Kepulauan, bisa makin menghangat. Indonesia berada persis di persimpangan konflik antara China, sebagian negara ASEAN, dan (bisa melibatkan) Amerika Serikat.

Indonesia perlu mewaspadai secara khusus tiap perkembangan di perairan itu. Percepatan pembangunan sistem arsenal militer nasional layaklah menjadi prioritas pembangunan demi kemandirian dan kedaulatan bangsa. Di sinilah kontribusi TNI AL dan LAPAN kali ini berawal mula.
sumber : ANTARA

SU 30 Indonesia VS F/A 18F Australia


 
su27 SU 30 Indonesia VS F/A 18F Australia
SU-27 Indonesia
Untuk pertama kalinya tanggal 27 Juli 2012 nanti, pesawat tempur andalan Indonesia, SU-27/SU-30 MK2 keluar dari Makassar, terbang ke Australia mengikuti moc combat, Pitch Black 2012.
Selama ini Indonesia belum pernah menyertakan jet tempur Sukhoi dalam latihan perang dengan Australia. Bahkan ketika Australia datang ke Markas Sukhoi di Makassar, Indonesia hanya memunculkan F-16 saat latihan dengan F/A-18 Hornet.
Australia menyambut gembira rencana kedatangan Sukhoi Indonesia karena dianggap sebuah peningkatan kerjasama antar kedua negara. “Angkatan Udara Indonesia belum pernah memberikan akses kepada Angkatan Udara Australia, untuk mengenal Sukhoi Rusia yang dirancang untuk menandingi jet tempur generasi keempat Amerika Serikat”, ujar Lindsay Murdoch dari Casey Weekly Berwick.
4 Sukhoi RI dan 4 F/A-18F Australia akan “bertarung” dan saling menjajal kemampuan di wilayah udara Indonesia- Australia. Kedua kelompok yang bertarung moc combat, terbang dari Pangkalan Udara Darwin dan Tindal-Katherine, Australia Utara. Jet-jet tempur dari Amerika Serikat juga berpartisipasi dalam ujicoba perang udara tanggal 27 juli hingga 17 Agustus 2012 di Australia.
su30mk2flanker SU 30 Indonesia VS F/A 18F Australia
SU-30MK2 Indonesia
Pakar Militer Australia John Farrell menilai keputusan Indonesia mengirim Sukhoi ke Australia, membawa kerja sama pertahanan kedua negara ke level baru yang lebih tinggi. “Sebelumnya, Indonesia tidak pernah mengirim pesawat tempur utamanya ke luar negeri. Hal ini terjadi karena Indonesia dan Australia menghadapi ancaman besar di wilayah mereka”, ujar Farrel merujuk ke China dan India.
Australia begitu surprise dengan rencana Indonesia mengirimkan Sukhoi ke negara mereka, karena pesawat ini dinilai aset pertahanan udara paling rahasia dari Indonesia. Dengan munculnya pesawat sukhoi ini, para pilot Australia bisa berkenalan langsung dengan karakter pesawat tempur Rusia yang mereka segani. Menurut Australia, tindakan mengirim Sukhoi, merupakan wujud kepercayaan Indonesia ke Australia, terlebih lagi sejak Australia mengundang pasukan AS untuk menetap di Darwin.
MissionIndonesia1025 SU 30 Indonesia VS F/A 18F Australia
Juru Bicara TNI AL Kolonel Agung Sasongkojati membenarkan TNI AU akan mengirim jet Sukhoi ke Australia dalam latihan perang Pitch Black. Para pilot Indonesia sedang berlatih sebelum diterjunkan dalam latihan bersama nanti. Latihan perang yang lebih intim diharapkan menjadi dasar peningkatan hubungan kerjasama militer kedua negara.
Menurut pihak Australia, saat ini Indonesia dan Australia sedang melakukan negosiasi untuk membentuk perjanjian kerjasama pertahanan. Kerjasama itu ditujukan untuk mengimbangi ancaman militer China yang semakin menguat di kawasan Asia Tenggara. China pun telah memperluas patroli kapal perang destroyernya hingga meliputi seluruh laut China Selatan. Bahkan Jepang menyampaikan keluhannya tentang semakin agresifnya patroli kapal perang China yang mendekati laut Jepang.
Pengiriman Sukhoi Indoinesia ke Australia memang bisa diterjemahkan dengan bermacam-macam sudut pandang. Pengiriman Sukhoi ke Australia juga menunjukkan alutsista Indonesia bisa langsung menyentuh wilayah Australia. Para pilot akan berkenalan dengan geografis Australia, sekaligus mengenal karakter F/A-18F.
sukhoi3103091 SU 30 Indonesia VS F/A 18F Australia
Angkatan Udara Australia (RAAF) mengoperasikan 57 pesawat F/A-18A serta 18 pesawat F/A-18B sejak tahun 1984 dan 4 dari pesawat itu jatuh, sehingga tinggal 71 unit.
Sebanyak 14 Pesawat F/A-18 Australia sempat berpartisipasi dalam perang Irak tahun 2003, sebagai close air support bagi pergerakan pasukan di darat. F-18 Australia juga telah di-up grade pada tahun 1999n namun segera dipensiunkan karena semakin meningkatnya biaya operasi dan out of date. Sebagai gantinya Australia telah memesan 72 jet tempur F-35 Lightning II.
Sebelumnya, pada tahun 2007 Australia juga memesan F/A-18F Super Hornet untuk mengganti Skuadron F-111 yang sudah tua. F/A-18F Australia mulai beroperasi Desember 2010.
f18raaf2 SU 30 Indonesia VS F/A 18F Australia
Rudal udal udara ke udara F/A 18 F Super Hornet:
4× AIM-9 Sidewinder atau 4× AIM-120 AMRAAM,
2× AIM-7 Sparrow atau tambahan 2× AIM-120 AMRAAM
Rudal udara ke darat:
AGM-65 Maverick
Standoff Land Attack Missile (SLAM-ER)
AGM-88 HARM Anti-radiation missile
AGM-154 Joint Standoff Weapon (JSOW)
Rudal Anti-Kapal:
AGM-84 Harpoon
Bom:
JDAM Precision-guided munition, Paveway Laser guided, Mk 80 unguided iron bombs, CBU-87 cluster, CBU-78 Gator, CBU-97 dan Mk 20 Rockeye II.
Avionic:
Hughes APG-73 or Raytheon APG-79 Radar
Northrop Grumman/ITT AN/ALE-165 self-protection jammer pod
BAE Systems AN/ALE-214 integrated defensive electronic countermeasures
Raytheon AN/ALE-50 atau BAE Systems AN/ALE-55 towed decoy
Northrop Grumman AN/ALR-67(V)3 radar warning receiver
MIDS LVT or MIDS JTRS datalink transceiver
RAAF Super Hornet SU 30 Indonesia VS F/A 18F Australia
F/A-18F Super Hornet Australia
Jika melihat rudal dan avionic yang diusung F/A 18 F Super Hornet, tampaknya jet tempur itu benar-benar tangguh, baik persenjataan maupun avionic. Namun setelah dilakukan analisa head to head, tidak demikian realitanya.
Sejak Indonesia membeli SU 27 maupun SU 30, Australia terus mengkaji kemampuan pesawat tempur Rusia tersebut, karena bisa menjadi ancaman bagi mereka. Berbagai kajian tentang F/A 18 VS SU 30 dilakukan Australia. Hasilnya menunjukkan F/A- 18 Super Hornet kalah dibandingkan SU 30, hampir dari semua lini.
“Jika Flanker (Sukhoi) dibandingkan Super Hornet, tampak jelas kehebatan: firepower, kecepatan, raw agility, jarak tempuh, dan performa manuver pesawat dimiliki oleh Sukhoi”, ujar pengamat militer Dr Carlo Kopp di Defence Today.
Su 30MK BVR 2 1 SU 30 Indonesia VS F/A 18F Australia Selain itu, dari segi kecepatan supersonic, akselerasi subsonic dan kemampuan mendaki, Super Hornet kalah dari seluruh varian pesawat Sukhoi (flanker). “High speed turning performance, where thrust limited, also goes to the Flanker, as does supersonic manoeuvre performance“, tambah Carlo Kopp.
Apalagi bila membandingkan F/A 18 Super Hornet dengan SU 33 dan Su 30 MKI yang telah dilengkapi canard, maka pesawat-pesawat Rusia itu sangat superior. Hal ini antara lain disebabkan kelemahan Super Hornet dalam hal “lower combat thrust/weight ratio”, serta “hybrid wing planform”.
Irbis BARS SU 30 Indonesia VS F/A 18F Australia
Super Hornet juga kalah dalam hal combat radius performance, termasuk jika F/A- 18 dipasang eksternal tank. “There is no substitute for clean internal fuel”, tambahnya.
Selain kalah dari sisi performa mesin dan aerodinamika pesawat, Super Hornet juga kalah telak dalam hal kemampuan radar maupun misil. “The Flanker’s radar aperture is twice the size of the Hornet family apertures, due to the larger nose cross section”.
Begitu pula dengan sistem defensif pesawat. Super Hornet kalah telak. Terutama dalam hal Radar Warning Receiver, mid/high band defensive jammer. “The Super Hornet does not have any compelling advantage in EWSP capability”, ujar Carlo Kopp.
Su 30 AAM SU 30 Indonesia VS F/A 18F Australia
Analisa itu juga yang tampaknya membuat Australia mempercepat pensiunnya pesawat F/A 18 mereka. F/A 18 dinilai “out of date” dibandingkan dengan Sukhoi. Australia sangat mewaspadai kemampuan pesawat Sukhoi, karena jet tempur ini juga digunakan oleh India dan China.
Pakar-pakar militer Australia menilai, perang udara di masa kini berbeda dengan di masa lalu yang banyak ditentukan lewat dog fight. Perang udara masa kini bersifat asimetris. Pesawat mana yang lebih dulu berhasil menjejak lawan atau menembak rudal, maka kemungkinan besar dialah pemenangnya. (Jkgr).
sumber : jakartagreater

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...