Friday, December 28, 2012

operasi seroja tim-tim


Danton 3 Kompi A, Yonif 305/17 Kostrad, Letda Inf. Agustadi Sasongko Purnomo pagi itu sedang mengikuti latihan Ton Yudha Wastu Pramuka Jaya, dari Pusaka Ratu  ke Cikampek dengan jarak 25 km. Tiba-tiba datang seseorang mengaku Lettu CPM mendekat dan memerintah:
” Ikut aku !”
Letda Agus hanya terdiam kemudian dibawa naik jeep ke asrama dan disuruh mengemasi barang-barangnya. Agus kemudian dititipkan ke Korum Yonif Linud 305/Tengkorak.
Letda Agus alias Aguk diperintahkan menghadap Danki A Kapten Inf. Shaleh, tanggal 3 Desember 1975. Ia ditunjuk sebagai Danton di Kompi A Yonif 328, dengan tugas baru, berperang ke Timor Lorosae.  Batonnya Sersan Tardi, menyerahkan payung dan senjata yang masih dalam kotak.  Letda Aguk dibekali amunisi 400 butir, logistik untuk 4 hari.
Anggota Peleton Letda Aguk kebanyakanya orang Sunda, sehingga ia mencoba menyapa, “kumaha?”.
” Masuk tentara tahun berapa?”
” Siap 1957 Komandan!”
” Pengalaman operasi?”
” Siap, PRRI/Permesta, Trikora, Dwikora, Penumpasan DI/TII!”.
Ternyata anggotanya banyak yang sudah kenyang pengalaman tempur. Mereka pandai mendeteksi musuh dengan cara mencium dedaunan sebagai akan ada kontak atau tidak. Untuk mengimbangi kehebatan para anggotanya, Aguk menggunakan referensi “Buku Primbon Adamakna”.
Keberangkatan ke Timor Timur berdasarkan Surat Telegram Kasad nomor :STR/116/1975 tanggal 4 Desember 1975 tentang realisasi susunan tempur KOGASGAB SEROJA dan perintah untuk memperkuat susunan tempur KOGASGAB. Radiogram Pangkostrad nomor : TR/700/1975 tanggal 4 Desember 1975 tentang Pemberangkatan Brigif Linud 17/Kujang 1 Kostrad ke daerah operasi dan BP kepada Pangkogasgab Seroja.
Berdasarkan surat tugas itu, Pasukan Aguk terjun pertama kali ke Timor Timur melaksanakan Operasi Serbuan Linud dalam satuan Yonif Linud 328/Dirgahayu, tanggal 9 Desember 1975. Di dalam pesawat tampak banyak wajah-wajah yang takut, kumis meleleh. Untuk membangkitkan semangat tempur anggotanya, Aguk memerintahkan untuk menyanyikan lagu Halo-Halo Bandung.
Ada seorang Tamtama bernama Suharno belum pernah terjun, sehingga diperintahkan Aguk untuk menempelnya, jangan lebih dari 5 meter.
Operasi Seroja 1975 Timor Timur
Setelah mendarat ternyata sepi sekali. Anggota banyak yang tercecer dan terpisah. Selain itu banyak  juga yang cedera kaki. Pada tahap pertama terkumpul kekuatan 7 orang dari berbagai satuan. Aguk memerintahkan Kopralnya untuk mengaku sebagai Danton dan menyuruh anggota dari berbagai satuan untuk berkumpul. Kopral itu wajahnya lebih tua sehingga dipercaya, sementara Aguk masih sangat muda.
Tanggal 16 Desember 1975, Aguk selaku Danton 3 Kompi A Yonif 328 melakukan persiapan serangan ke Vamasse, saat melakukan patroli pengintaian dengan sasaran jembatan Maoleden. Esok harinya, pada jam 04.00 WIT patroli tersebut berhasil menyergap pos musuh yang berkekuatan 15 orang dan menewaskan mereka.
Selanjutnya, 22 Desember 1975, gerakan Kompi dilanjutkan ke arah barat untuk merebut, menduduki dan mempertahankan kota Manatuto dengan menyusun pemerintahan sementara di kota tersebut. Rencana gerakan berikutnya adalah merebut dan membersihkan kota Lalea yang diduduki musuh dengan kekuatan 1 Peleton.
Setelah melakukan proses perkiraan yang cepat, lalu diputuskan untuk melakukan serangan Batalyon dengan serangan pokok di sebelah kiri oleh Kompi C, dan di sebelah kanan oleh Kompi B, dengan waktu jam “J” pukul 1100.
Pada saat melintasi sungai Lalea (lebar 500 meter), Kipan C terhambat, Danton nya gugur tertembak musuh. Kipan B berhasil menembus dari sayap kanan sampai masuk kota, puluhan mayat musuh bergelimpangan tertembak atau terkena mortir. Dalam perebutan kota Manatuto tidak ada pertempuran dalam kota, karena sisa-sisa musuh sudah kabur meninggalkan kota. Kota Manatuto dikuasai TNI.
Pasukan Fretelin Timor Timur
Satu tahun bertugas di Timor Timur kemudian Aguk kembali ke kesatuan di Cilodong- Jawa Barat, Batalyon Infanteri Lintas Udara 328/Dirgahayu dengan jabatan Komandan Peleton 3 Kompi A terhitung mulai 1 Oktober 1976.
Dari hasil pengamatannya tentang serbuan Linud ke Timor Timur tanggal 3 Desember 1975,  ada hal-hal yang perlu menjadi catatan bagi satuan Linud.
Pertama, persiapan satuan operasi terkesan terburu-buru sehingga tidak sempurna, indikasinya :
a. Personil satuan operasi (Yonif 328) tidak lengkap, kebutuhan terpaksa dipenuhi dari satuan Linud lainnya (dari Yonif 305,330, dan Mabrigif 17 sendiri).
b. Senjata yang digunakan masih baru (M16A1). Masih dalam kotak tersegel, sehingga prajurit tidak sempat “dasar senapan”. Bahkan sebagian besar prajurit banyak yang tidak paham seluk beluk senapan M16A1.
c. Sarana angkutan udara terbatas, sehingga ada penggunaan pesawat komersial Fokker-28.
d. Marshalling Area di Madiun dan Kupang tidak siap betul (seadanya).
e. Data intelijen pendukung operasi serbuan linud ke Dilli dan Baucau tidak akurat, sehingga banyak jatuh korban.
f. Prajurit Linud yang diterjunkan di Dilli terkesan tidak profesional, banyak terjadi “salah lirik” dan baku tembak anta kawan, mungkin karena cuaca gelap saat itu, akibatnya banyak jatuh korban sia-sia.
g. 1 Kompi Kopasandha yang tidak di drop di Dilli, karena alasan 2 Jump Masternya tertembak (gugur) dari bawah, sementara pesawat Hercules banyak lubang tertembus peluru. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap dinamika operasi dan moril prajurit lainnya.
h. Operasi Serbuan Linud di Lapangan Terbang Villa Salazar Baucau dilaksanakan pada tanggal 9 Desemeber 1975, pukul 0900, sementara operasi Amfibi Marinir TNI-AL di Laga dan Pantai Baucau tanggal 8 Desember 1975, pukul 1800. Dari segi taktik maka hal ini dinilai kurang tepat, karena musuh yang dipukul oleh Marinir dalam operasi Amfibi mundur kearah selatan (Venilale) melalui Lapangan Terbang dan bertahan secara kuat di ketinggian selatan Lapangan Terbang (di Letter S). Akibatnya, Yonif Linud 328 mendapatkan perlawanan yang ringan dalam perebutan Lapter Villa Salazar, sementara Yonif Linud 330 yang melalui Air Landed melalui pertempuran berdarah-darah yang sengit. Banyak personilnya yang gugur disini.
Pasukan Falintil di Timor Timur
Operasi Serbuan Linud yang dilakukan TNI saat itu, merupakan operasi linud terbesar (dengan jumlah yang terjun lebih kurang 4000 personil) setelah Operasi Merdeka di Padang dan Operasi Mandala di Irian Barat.
Tour of Duty ke Dua di Timor Lorosae
Pada tahun 1978, Aguk berangkat untuk kedua kalinya ke Timor Timur. Dengan tetap berbekal buku Primbon sebagai pegangan bila akan bergerak di daerah operasi. Misalkan jam sekian hidup, jam sekian mati, hati-hati dalam kontak senjata. Ramalan-ramalan buku primbon tersebut ternyata banyak cocoknya, sehingga banyak anggota yang menurut atau patuh pada petunjukknya. Dengan referensi buku tersebut, Aguk dikenal dan disegani di kalangan prajurit Yonif Linud 328/Dirgahayu, 305/Tengkorak, dan 330/Tri Dharma.
Tugas pertama yang dibebankan adalah merebut dan menghancurkan Fahimehan, Alas, dan Fatoberliu Komplek. Dilanjutkan dengan merebut sasaran Matabean Komplek. Di sini, komposisi kekuatan GPK terdiri dari Tropaz, Milisi, dan Secundalina dengan perkiraan jumlah senjata 274 pucuk. Sasaran lain adalah merebut sektor tengah utara GPK dari Brigade Choqeu sebagai pasukan komando dengan perkiraan kekuatan senjata 500 pucuk.
Langkah yang ditempuh oleh Kompi A dengan melakukan pengintaian visual terhadap Lororete KV 8739 dari KTG 1362, Fahisoi dari KTG 1343. Kemudian kelompok Kompi Bantuan bersama Kotis Yon bergerak bersama Kompi A. Selanjutnya Mo.81 ditempatkan di Sabona bersama Kompi C memberikan bantuan untuk tembakan senjata lintas lengkung atas sasaran Faninia dan Derohati.
Ketinggian tersebut pada akhirnya dapat direbut setelah Kompi A dapat merebut KTG 1219 pada tanggal 12 Juli 1978. Kemudian tanggal 24 Juli 1978 merebut Lilitei dan Fadanara dengan mendapat perkuatan 1 Peleton dari Kompi C. Hasil daripada operasi ini, 13 orang GPK tewas, 2 pucuk senjata direbut. amunisi, logistik, sepatu, dan magazen di dapatkan.
Suatu ketika, dalam pertempuran Kompi C yang dipimpin Kapten Inf. Syaiful Islam, Dantonnya gugur satu, dan minta bantuan ke Kotis Yon. Kotis menggerakkan peleton Aguk yang tidak jauh dari lokasi untuk merapat kesana. Aguk memerintahkan anggotanya bergerak cepat kesasaran dengan sandi “Biru Dua Datang…Biru Datang Ganti..” yang disampaikan melalui radio PRC. Ternyata sandi ini meningkatkan moril pasukan, sehingga Peleton yang mau tuspur (memutuskan pertempuran) tidak jadi mundur.
Dalam perkembangan selanjutnya, Danki C mengumpulkan para Danton dan memberi Perintah Operasi (PO) serangan malam. Ketika itu, Peleton Aguk di BKO di Kompi C. Ketika rencana berangkat, para Danton ditanya kesiapannya, tetapi banyak yang beralasan, sehingga hanya Peleton Aguk yang diperintahkan berangkat.
Dankipan C/328 Kapten Inf. Syaiful Islam bertanya kepada Aguk:
” Jam berapa berangkat?”
” Maaf Komandan, kalau untuk urusan jam berangkat belum bisa saya jawab sekarang, nanti saja jam 2200 saya akan laporkan kembali”.
Tepat pukul 2200 Aguk melaporkan rencana keberangkatannya kepada Danki, yaitu pukul 00.03 (dua belas lewat tiga menit).
Danki bertanya:
” Kenapa mesti lewat tiga menit?”
” Mbah bilang begitu Komandan, mohon doa restunya semoga berhasil”
Dankipan C/328 hanya terdiam.
Tepat pukul 00.03 Aguk bersama 20 orang prajuritnya berangkat menuju sasaran penyergapan di Ossoliro, dengan perhitungan taktis bahwa pada tengah malam musuh pasti sudah tertidur lelap.
Pada saat serangan malam, sektor kiri dipimpin oleh Lettu Inf. Sjamsul Mappareppa (Pensiun Mayjen). Ketika sudah dekat saran yang jaraknya 500 meter, gerakan peleton diperlambat. Kemudian Aguk menyampaikan berita kepada Sjamsul bahwa musuh berkedudukan di kampung Osoliro Matabean berbaur dengan rakyat, nanti kalau peleton saya merebut Ossoliro pasti musuh akan meloloskan diri ramai-ramai keraah Peleton 1/C/328 (Peleton Sjamsul). Musuh pasti akan berusaha menembus sektor kiri Kipan C/328. Bila butuh bantuan, segera tembakkan flare nanti Aguk akan membantu dengan tembakan SMR-M60.
Ternyata perkiraan taktis Aguk benar. Setelah melalui pertempuran sengit dan berhasil merenut Ossoliro, kekuatan musuh turun jurang ke arah kiri, berusaha menembus pertahanan Peleton Sjamsul. Setelah melihat isyarat flare dari Peleton Sjamsul, dengan sigap Aguk mengambil SMR-M60, diarahkan kedepan pertahanan Peleton Sjamsul. Musuh makin terdesak, dan memutuskan untuk turun jurang menuju Pos Marinir 10 di Quilicai. Malam itu, anggota Marinir disana turut berpesta ria. Musuh habis tidak tersisa. Dengan dikuasainya bukit Ossoliro, gerakan Yonif 328 ke depan semakin terbuka lebar dan lancar.
Dalam mengemban tugas operasi di Timor Timur, ia selalu dapat melaksanakan tugas dengan baik dan anggotanya mempunyai sugesti serta kepercayaan padanya, bahwa kalau bertugas dengan Lettu Inf. Agustadi Sasongko Purnomo, pasti akan berhasil!.
Setahun melaksanakan tugas tempur di Timor Timur, akhirnya pada 1979 kembali lagi kepangkalan satuannya. Selanjutnya pada tahun 1980 bersama Kapten Inf. Soesilo Bambang Yudhoyono ikut Latgab yang dipimpin oleh Jenderal Edy Sudradjat. Latgab ABRI 1980 menggunakan medan latihan Timor Timur, Maluku, dan Papua.
Setahun kemudian, menjadi Kapten Inf. dengan jabatan baru Kasi Pers-3/Pers/328/17, berangkat lagi ke Timor Timur dalam Kompi Kujang Teritorial Intelijen Kombat (KUTERINBAT) dengan jawabatan Wakil Komandan Kompi.
Mengawaki Kompi Khusus Kuterinbat
Yon 328 Brigif Linud 17 Kujang, Kostrad
Kuterinbat adalah teori taktik yang diuji coba di Timor Timur pada tahun 1981. Teori taktik ini berasal dari mantan Komandan Brigif Linud 17 Kostrad, Mayjen M.Sanif sewaktu menjabat Asisten Operasi Mabes ABRI. Beliau melihat hasil-hasil operasi pasukan TNI yang berada di Timor Timur saat itu belum menunjukkan hasil yang maksimal. Berangkat dari pengalaman masa lalunya ketika memimpin berbagai operasi tempur, tercetuslah ide untuk melakukan ujicoba kembali suatu konsep operasi yang sudah berulang kali beliau laksanakan di daerah-daerah operasi lainnya dan berhasil.
Dulu, Kuterinbat ini adalah kemampuan atau keterampilan yang wajib dilatihkan kepada setiap prajurit Kujang 1, dan telah terbukti dengan baik. Di manapun prajurit jajaran Kujang 1 yang memiliki kemampuan Kuterinbat ditugaskan, yaitu Yonif Linud 305/Tengkorak, Yonif Linud 328/Dirgahayu, dan Yonif Linud 330/Tri Dharma, selalu berhasil dalam operasi yang dibebankan kepada mereka. Misalnya, operasi penumpasan DI/TII, PGRS Paraku, dan sebagainya. Kemudian yang paling khas adalah operasi teritorial dan intelijennya yang dijalankan bersama-sama dan kemudian dikenal dengan sebutan adu bako.
Hanya sayangnya, untuk tahun-tahun selanjutnya, setelah berkurangnya operasi-operasi militer, kemampuan dan keterampilan ini dilupakan dan tidak dimanfaatkan lagi. Bahkan kemudian tidak lagi diprogramkan dan dilatihkan, sehingga pernah menghilang di agenda jajaran Kujang 1 sendiri. Sampai akhirnya Mayjen M. Sanif mencetuskan kembali gagasan baru untuk menggunakan pola operasi Kuterinbat di Timor Timur.
Untuk mewujudkan gagasan ini, Mabes ABRI menunjuk Brigif Linud 17 Kujang via Kostrad, agar menyiapkan satu satuan setingkat Kompi yang masih memiliki pengetahuan keterampilan dan kemampuan Kuterinbat untuk ditugaskan di Timor Timur.
Adapun susunan operasi Kuterinbat ini berjumlah 150 orang, yang terdiri dari :
a. Pok Koki : Dari Mabrigif Linud 17 Kujang
b. Danki : Kapten Inf. Adam Damiri (Pensiun Mayjen TNI)
c. Wadanki : Kapten Inf. Agustadi Sasongko Purnomo
d. Anggota :
1) Dari Yonif Linud 305/Tengkorak sebanyak 2 Regu Senapan, Regu 1 dipimpin Serda Slamet Sudjarwo, Regu 2 dipimpin Serda Suharyono.
2) Dari Yonif Linud 328/Dirgahayu sebanyak 1 Peleton dengan Danton Letda Inf.M.Hafid yang membawahi 3 Regu Senapan.
3) Dari Yonif Linud 330/Tri Dharma sebanyak 1 Peleton dengan Danton Lettu Inf. Toni SB. Husodo membawahi 3 Regu Senapan.
M Yusuf Berikan Pengarahan Operasi Seroja
Kronologi penunjukan Kapten Inf. Agustadi Sasongko Purnomo sebagai Wadanki adalah sebagai berikut :
Ketika itu tahun 1981 ia menjabat sebagai Kasi 3/Pers/328/17, Danyonif Linud 328/Dirgahayu dijabat Letkol Inf.Firdaus Jamal, sedangkan sopirnya bernama Abdullah. Dipanggil menghadap Pangdiv 1 Brigjen Faisal Tandjung, ditanya oleh beliau:
” Siapa Perwira di 328 yang jago perang?”
” Siap, Kasi Pers, Kapten Agustadi Sasongko Purnomo!” jawab Abdullah.
Maka dipanggila Aguk menghadap Pangdiv-1.
” Kamu, Agustadi, jago perang!”
” Siap Panglima!” jawab Aguk.
” Kamu si jago perang, kamu persiapkan dirimu ikut pemilihan Komandan Kuterinbat!”
” Siap, kerjakan!”
Alhasil, Danki dijabat oleh Kapten Inf. Adam Damiri, sedangkan Wadanki dijabat oleh Aguk. Kompi ini semacam satuan anti gerilya dengan kualifikasi Raiders. Setelah menerima petunjuk perencanaan (jukcan) dari Komandan, ia langsung mengumpulkan keterangan dan mempelajari daerah selama 7 hari.
Proses pemilihan anggota Kuterinbat cukup unik, yaitu diawali dengan apel Batalyon yang diambil oleh Kasipers, Kapten Inf. Agustadi Sasongko Purnomo. Kemudian para anggota ditanya oleh Aguk:
” Siapa yang mau mati di Timor-Timur?”
Tantangan itu direspon para Kopral dan Tamtama dengan mengangkat tangan secara serentak. Ini menunjukkan semangat dan kesediaan mereka secara ikhlas. Intinya para anggota mempunyai sugesti dan percaya kepada Komandannya yang pernah beberapa kali bertugas disana dan berhasil, pulang dengan selamat. Ternyata, Aguk memilih prajurit yang bandel-bandel, dan urakan, tetapi setia dan berani. Pilihan ini ternyata tepat setelah pembuktian nantinya di medan operasi.
Sebelum diberangkatkan kedaerah operasi, mereka langsung berada di bawah kendali dan pengawasan Asops Pangab Mayjen M.Sanif, dimana beliau menjabat sebagai penanggung jawab dan pembina latihan. Kompi pilihan ini dilatih di Cipatat selama 1 bulan penuh. Para pelatih dalam latihan Kuterinbat terpadu ini direkrut dari mantan orang-orang Kujang yang qualified dan paham betul tentang Kuterinbat.
Keunikan komposisi organisasi satuan khusus setingkat Kompi ini adalah, terjadinya pembauran dan campuran antara orang-orang yang sudah sangat senior dan prajurit-prajurit yang masih muda. Keistimewaan lainnya, ketika ditawarkan kepada anggota-anggota yang tergolong senior di masing-masing Batalyon, siapa yang menguasai Kuterinbat dan bersedia bergabung, banyak Bintara/Tamtama senior yang mendaftarkan diri, sehingga akhirnya diseleksi ulang. Bahkan dengan sukarela, ada beberapa yang sudah MPP pun masih bersedia dan bersemangat untuk bergabung. Mengingat dan menimbang pengalaman mereka semasa operasi-operasi terdahulu, akhirnya para sesepuh ini dijinkan juga ikut memperkuat Satuan Khusus Kuterinbat.
Fenomena semacam ini menunjukkan jiwa juang, jiwa korsa dan semangat persatuan serta kebanggaan selaku prajurit Kujang tidak bisa diukur dengan materi, batas usia, ataupun hal-hal lainnya, sehingga 6 bulan penugasa di Timor Timur saat itu, ada 3 personil yang pensiun di sana, pulang dengan status purnawirawan.
Sebuah kebanggan yang tidak terkira bisa mencapai pensiun di daerah operasi.
Mayjen M. Sanif tidak sembarangan memilih personel. Walaupun yang turut diantaranya sudah tua-tua, tapi semua dalam rangka strategi untuk menurunkan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan. Dengan didampingi orang-orang tua yang sarat pengalaman, minimal prajurit-prajurit muda ini bisa merekam semua tindakan, kesiapan, ketenangan, dan kesigapan para jago perang tua ini dalam saat-saat genting ketika berhadapan dengan musuh. Seluruh Bintaranya adalah orang-orang tua yang sudah banyak makan asam garam pertempuran. Sedangkan prajurit-prajuritnya adalah pilihan yang terbaik dari Batalyon masing-masing dengan seleksi kemampuan fisik, inteligensia, mental, kemahiran menembak dak taktis/teknis militer, serta tidak sombong.
Sementara Pasukan Khusus Kuterinbat masih tahap latihan di Cipatat, di Timor Timur sedang terjadi Opreasi Pagar Betis dengan mengerahkan seluruh pasukan dan rakyat yang ada disana untuk menggiring para GPK dari arah barat ke timur untuk selanjutnya dihancurkan di killing ground di daerah Gunung Matabean. Operasi ini melibatkan 34 Batalyon tempur yang ada di Timor Timur, berbaris bersaf dari barat ke timur, dibantu oleh Hansip, Wanra serta penduduk setempat. Tapi karena operasi GPK bersifat gerilya, mereka pasti didukung oleh penduduk dan jaringan clandestine, maka walaupun operasi sudah dijalankan dengan semaksimal mungkin, hasilnya tetap minimal dan dipastikan terjadi banyak pelolosan.
Kelemahan operasi ini adalah, dengan pengerahan seluruh kekuatan pasukan dari barat ke timur, berarti terjadi kekosongan di daerah-daerah belakang pasukan, dan GPK ini malah menjadi bebas membentuk kantong-kantong di belakang pasukan yang beroperasi. Celakanya lagi, mereka melakukan aksi-aksi balas dendam melalui teror, intimidasi, pemerkosaan dan pembakaran terhadap rumah-rumah penduduk yang mereka anggap sebagai simpatisan ABRI.
Hal semacam ini tidak berlangsung lama. Untuk mengimbangi aksi teror GPK di garis belakang, Mabes ABRI mengirim satuan khusus sebagai lawan tanding GPK digaris belakang, yaitu Operasi Kuterinbat ini. Melalui Surat Perintah Komandan Brigif 17/Kujang 1, Kolonel Inf. Kilian Sidabutar tanggal 21 Agustus 1981, berangkatlah kompi khusus ini menuju daerah operasi di Timor Timur dengan pesawat pesawat Hercules dan mendarat di Lapangan Terbang Baucau.
Setelah konsolidasi dan persiapan di Base Camp Baucau, 2 hari kemudian Kompi ini menerima Perintah Operasi (PO) untuk segera masuk ke pedalaman, yaitu Kecamatan Quilicai di kaki Gn.Matabean. Kemudian dengan Kotis dari Quilicai ini dilakukan operasi-operasi ke daerah-daerah sekitar Matabean untuk menghancurkan GPK yang lolos dari Operasi Pagar Betis.
Operasi ini dinilai cukup berhasil, menewaskan cukup banyak GPK, menawan sisanya hidup-hidup, dan menyita banyak senjata api. Nmaun dalam perjalanan operasi selanjutnya, Danki Kapten Inf. Adam Damiri jatuh sakit dan harus dievakuasi ke Bacau. Wadanki Kapten Inf. Agustadi SP mengambil alih pimpinan operasi Kuterinbat sampai selesai.
Operasi Kuterinbat di Timor Timur dikendalikan langsung oleh Komandan Korem 164/Wiradharma dengan segala dukungan logistik dan administrasi. Karena operasi berintikan personel yang sudah berpengalaman, maka satuan ini dalam pergerakannya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, yaitu 3-5 orang personil, tidak pernah lebih. Mereka memiliki kemampuan untuk mengendus jejak, mencari dan mendekati musuh, serta menghancurkannya. Anggota pasukan sudah siap moril untuk tidak mendapatkan dukungan dari satuan lainnya, karena mereka beroperasi terlepas dari induk pasukan.
Komando dan pengendalian hanya menggunakan hari. Yakni, ditentukan lebih dahulu sekian hari bergerak dihutan, kemudian harus berpindah kembali. Begitu juga urusan logistik selalu berpindah dan berubah-ubah. Alat komunikasi Radio Portable PRC pada saat itu tidak bisa terlalu diandalkan. Selain jumlahnya yang sangat sedikit, masalah baterai dan kemungkinan dimonitor musuh sangat besar, sehingga alat radio relatif sedikit digunakan dan tidak terlalu diandalkan.
Minggu demi minggu berlalu, keberhasilan demi keberhasilan dari masing-masing Peleton terus dilaporkan ke Korem 164/Wiradharma selaku pengendali. Paling menarik adalah timbulnya persaingan positif yang sehat dari masing-masing Peleton untuk membaw nama Batalyon masing-masing. Keberhasilan Peleton yang mewakili Yonif Linud 305/Tengkorak misalnya dianggap sebagai pemacu semangat bagi Peleton yang mewakili Yonif Linud 328/Dirgahayu dan Yonif Linud 330/Tri Dharma. Mereka berusaha saling mengimbangi dan saling berpacu untuk lebih baik lagi.Tidak jarang mereka kadang dipanas-panasi oleh Korem 164/Wiradharma selaku pengendali untuk bertugas seoptimal mungkin, tetapi tetap dalam batas sehat dan kewajaran.
Operasi Kuterinbat ini ternyata berhasil memecahkan rekor hasil pengumpulan senjata, tawanan, dan musuh yang tertembak. Catatan menunjukkan, 40 orang GPK tewas tertembak, 65 menyerahkan diri, dan 118 pucuk senjata berhasil direbut. Jika dibandingkan antara penugasan 1 Batalyon dengan 1 Kompi Khusus ini, maka kompi khusus ini menunjukkan hasil yang sangat memuaskan.
Selain itu, masih ada hasil non combatan yang sebetulnya lebih besar artinya bagi operasi untuk tingkat yang lebih tinggi. Anggota Kompi Khusus ini berhasil menyergap tawanan hidup-hidup yang menbawa ransel berisi dokumen-dokumen yang ditandatangani oleh Mauhudu. Selanjutnya oleh Satgas Intel Korem 164/Wiradharma, dokumen ini dipelajari dan dikembangkan. Hasilnya diketahui bahwa para pimpinan GPK dari seluruh daerah Timor Timur akan mengadakan rapat umum di sekitar Sungai Lalea.
Sebagai tindak lanjut, secara tertutup Yonif 744 dan 745 Kopasandha dan semua pasukan yang berada disekitar Kabupaten sasaran disamarkan untuk bergerak dan mengepung kordinat yang sudah diketahui. Lokasi tepatnya didaerah Lindau, setelah terjadi kontak senjata yang cukup sengit dan melelahkan, kekuatan mereka berhasil disapu bersih. Ratusan GPK tewas, 12 tokoh penting GPK turut tewas. Sebagian besar sisanya tertawan hidup-hidup, sedangkan hasil rampasan senjata berjumlah 78 pucuk.
Dari 12 tokoh GPK yang tewas, 8 orang diantaranya berasal dari Los Palos. Daerah tersebut pada masa itu termasuk daerah rawan. Data intelijen mengatakan bahwa menjelang hari Natal 1981, Los Palos akan dikuasai oleh GPK selama 6 jam, sebagai upaya menunjukkan kepada dunia luar bahwa eksitensi GPK Timor Timur masih ada. Untuk itulah pasukan khusus Kuterinbat digerakkan secara terus menerus tanpa henti, sekaligus sebagai show of force disekitar Los Palos dan hutan-hutan untuk mencegah tujuan politik tersebut.
Tugas lain yang terkandung dari operasi Kuterinbat ini bukan hanya sekadar combat and intelligent, tetapi semua berawal dari teritorial dengan metode adu bako. Dalam operasi teritorial ini, pimpinan Kuterinbat menyiapkan dan melatih rakyat dimedan operasi yang bersimpati terhadap NKRI. Mereka diseleksi terlebih dahulu rasa nasionalismenya, kesadaran berbangsa dan bernegara sampai yakin betul bahwa mereka merah putih, kemudian dilatih dengan ilmu kemiliteran. Setelah itu, setahap demi setahap mereka diikutkan dalam operasi penumpasan GPK. Pada awalnya hanya satu dua orang saja, tetapi selanjutnya meningkat menjadi banyak. Kompi Kuterinbat yang dalam pergerakannya selalu dalam kumpulan kecil sangat terbantu oleh simpatisan ini. Tidak jarang mereka tanpa senjata berani bergerak sendiri kehutan-hutan dengan tujuan menjadi mata dan telinga untuk mendapatkan informasi. Hasil laporan mereka dipilah-pilah untuk diteliti tahap keakuratannya. Inilah awal mulanya pelepasan panah-panah di medan operasi di Timor Timur.
Uji coba Satuan Khusus Kompi Kuterinbat ini dilaksanakan selama 6 bulan. 1 personel gugur dalam penugasan atas nama Serda Sutoyo dari Yonif Linud 330/Tri Dharma. Kompi Khusus ini pulang kepangkalannya menggunakan C-130 Hercules dan mendarat di Lanud Hussein Sastranegara Bandung. Turut menyambut pasukan di Lanud Hussein, Komandan Brigif Linud 17/Kujang Kolonel Inf. Killian Sidabutar, mendamping Panglima Divisi I Brigjen Faisal Tandjung.
Menurut pengasas Kuterinbat Letjen TNI Purn. M. Sanif, konsep ala Kuterinbat ini masih sangat relevan untuk setiap penugasan masa kini. Setinggi apapun teknologi, apapun prajurit-prajurit kita, secanggih apapun peralatan kita dewasa ini, Kuterinbat bukanlah fungsi staf. Ia adalah kekuatan ujung tombak dari setiap prajurit. Kuterinbat adalah pegangan-pegangan ilmu pragmatis yang harus bisa dipegang dan dijadikan model dasar bagi setiap prajurit.
Dari Danyonif Hingga menjadi Panglima Divisi.
Kapten Inf. Agustadi Sasongko Purnomo mengikuti pendidikan Susstafpur (sekarang kaskus) pada tahun 1984 di Secapa Bandung selama 6 bulan. Kemudian mendapatkan amanah sebagai Kasi Ops Org Litbag Pussenif di Bandung dengan pangkat Mayor Inf.. Beliau sangat nyaman mengemban tugas ini karena ingin lulus Seskoad. Untutk persiapan-persiapan menghadapi ujian, ditembok kamarnya ditempeli peta-peta dan teori taktik agar mudah dibaca dan dihapal. Selanjutnya konsultasi pemeriksaan Psikologi di Dispsiad. Hasilnya, pertama R.10, kedua R.7, dan terakhir Q.2. Kesempatan pertama mengikuti seleksi Seskoad langsung lulus.
Selesai mengikuti pendidikan di Seskoad, beliau sebetulnya ingin bertugas di komando teritorial karena sudah lama bertugas disatuan tempur. Tetapi, ternyata surat keputusan yang terhitung mulai tanggal 1 Juni 1989 menunjuk Letnan Kolonel Inf. Agustadi Sasongko Purnomo sebagai Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 100/PS Kodam I/Bukit Barisan, dan dilantik pada 28 Mei 1990.
Perintah Operasi (PO) yang harus dilaksanakan adalah operasi tempur di daerah Aceh Timur untuk menghadapi separatis GAM yang merampas senjata-senjata anggota Yonif 113. Pelaksanaan operasi dipimpin oleh Wadanyon Linud 100/PS Mayor Inf. Asep Pribadi. Namun, dalam pelaksanaan operasi di daerah Aceh Timur, 4 prajurit Yonif Linud 100/PS gugur dalam kontak senjata.Hal ini mengharuskan Danyonif Letkol Inf. Agustadi SP turun tangan langsung mengambil alih pimpinan operasi. Operasi tempur Yonif Linud 100/PS berlangsung selama 10 bulan, dari tahun 1990 hinga 1991.
Setelah melaksanakan operasi militer di Aceh, beliau diberi amanah memangku jabatan Kasi Ops Korem 011/Lilawangsa di Lhokseumawe terhitung mulai tanggal 1 Maret 1991. Pada saat memangku jabatan ini, 1 April 1991 Operasi Jaring Merah II dimulai, disambung Operasi Jaring Merah III, Operasi Jaring Merah IV, dan ditutup dengan Operasi Jaring Merah V yang mulai pada 1 April 1994.
Terhitung mulai tanggal 1 Oktober 1993, Letkol Inf. Agustadi Sasongko Purnomo menjabat Komandan Kodim 0106/Aceh Tengah. Daerah wilayah Kodim ini terletak disekitar pegunungan Bukit Barisan, berbatasan langsung dengan daerah Aceh Barat, Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tenggara, sehingga berbagai karakteristik dan perkembangan-perkembangan daerah-daerah tersebut akan berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Aceh Tengah.
Dimasa jabatan ini, masih dengan pangkat Letkol Inf, teman satu lichting 1974 dan sekamar masa Taruna dulu, Prabowo Subianto sudah menjabat Wadanjen Kopasus dengan pngkat Brigadir Jenderal. Beliau menawari Letkol Inf. Agustadi SP untuk menjabat sebagai Kasbrig di Kostrad, tetapi tidak diindahkan. Selanjutnya, pada tahun 1994 Letkol Inf. Agustadi SP mendapat perintah mengikuti Sussospol ABRI selama 4 bulan. Kursus ini ditutup pada bulan Januari 1995.
Setelah Sussospol, jabatan Letkol Inf. Agustadi SP , masih dalam pangkat yang sama menjadi Waasops Kasdam I/Bukit Barisan terhitung mulai tanggal 1 Agustus 1994. Namun tiba-tiba keluar perintah untuk menjadi Anggota DPR RI Fraksi ABRI. Sebelum melaksanakan perintah, sesuai prosedur beliau menghadap Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Arie J. Kumaat. Pangdam marah-marah karena Letkol Inf. Agustadi SP yang sudah diplot menduduki jabatan Asops Kasdam ternyata harus hengkang dari organisasi TNI-AD. Pangdam memerintahkan Kasdam I/Bukit Barisan Brigjen TNI Agum Gumelar mencari tahu dan mengecek kebenaran perintah yang diterima Letkol Inf. Agustadi SP. Hasil pengecekan ternyata benar, dengan berat hati Pangdam melepasnya untuk melaksanakan amanah sebagai wakil rakyat di DPR RI.
Allah SWT sangat melindungi hambanya yang selalu jujur dan ikhlas dalam mengemban tugas. Setelah meninggalkan Medan dan Asops Kasdam dijabat orang lain, di Medan terjadi kerusuhan yang cukup besar dan berakibat pencopotan dan penonaktifan pejabat Aspos Kasdam I/Bukit Barisan
Tahun 1995-1997 dan tahun 1997-1998 Letkol Inf. Agustadi SP menjadi Anggota DPR/MPR RI dari Fraksi ABRI, mengantikan posisi Kolonel Inf. Djoko Santoso. Saat kerusuhan 14 Mei 1998, Kolonel Inf. Agustadi SP sedang berada di gedung baru DPR RI lantai 20. Dari situ terlihat awal pembakaran Jakarta yang dimulai dari arah Tanjung Priok, selanjutnya dalam waktu singkat merembet keseluruh bagian Kota Jakarta.
Tanggal 19 Mei 1998 halaman dan gedung DPR.MPR RI diduduki oleh lebih kurang 10.000 demonstran mahasiswa dan rakyat. Anggota DPR/MPR RI dilarang keluar dari Komplek DPR/MPR RI sampai dengan Pak Harto selaku Presiden RI saat itu lengser keprabon pada tanggal 21 Mei 1998. Sekali lagi Kolonel Inf. Agustadi Sasongko Purnomo diselamatakan oleh Allah SWT, sementara rekan-rekannya se lichting di AKABRI 74 seperti Letjen TNI Prabowo Subianto dan Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin harus menghadapi sidang pengadilan militer berkaitan dengan penanganan kerusuhan massal di Jakarta.
Mencermati keberuntungan dalam perjalanan karirnya, beliau selalu mengambil hikmahnya, bahwa setiap jabatan apapun harus disyukuri. Seperi kata pepatah Jawa : Derajat, pangkat iso loncat, bondo nonyo iso musno ayu bagus ono watese. Segala sesuatu di dunia bisa berubah kapanpun bila Allah SWT menghendaki. Maka dari itu, bersyukurlah apa yang telah diberikan.
Pada tahun 1999 beliau ditarik ke Mabesad sebagai personel BP di Staf Ahli Kasad dengan pangkat Brigadir Jenderal TNI. Aktivitas Brigjen TNI Agustadi Sasongko Purnomo selama si Sahli Kasad, selesai apel pagi memimpin lari, menghantar jemput anak ke sekolah, dan menghantar istri ke pasar. Gaji yang diterima Rp 900 ribu tanpa tunjangan jabatan. Bila dihitung-hitung selama non job 16 bulan menjadi tekor, akhirnya istilahnya “Mantab” (makan gaji tabungan). Kenangan selama non job adalah pada suatu hari dengan pakaian training mengemudikan sendiri mobil Honda Accord 89 di jalan tol Jakarta. Saat melaju, tiba-tiba “dung!”, ternyata ban mobil meletus. Setelah keluar tol sampai depan Gedung Gudang Garam Cempaka Putih, mobil dipinggirkan. Ketika mengganti ban, tiba-tiba ada Sersan Kowad dan PNS Mabesad disebelahnya. Namun, dia diacuhkan saja. Mungkin karena tidak kenal. Kejadian-kejadian yang dialami selama non job membuat beliau mempunya prinsip tabah sampai akhir. Allah SWT pasti akan memberikan jalan terbaik kepada hambanya yang bersabar dan tawakkal.
Keprihatinan selama non job di Staf Ahli membuat Brigjen TNI Agustadi Sasongko Purnomo berusaha untuk mengubah nasib yang lebih baik. Sehingga pada tahun 2000 bersama istrinya bisa menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Makkah. Ongkos naik haji berasal dari pesangon ketika lepas sebagai anggota DPR/MPR RI sebesar Rp 13.000.000. Beliau dan istri mendaftar haji ke Disbintalad dengan nomor urut 19. Ketika berangkat, beliau bertemu teman-teman sekloter dan diberi masukan bahwa di Tanah Suci Makkah bila berdoa, minta apa saja kepada Allah SWT, maka doanya akan dikabulkan dalam waktu paling lama 1 tahun.
Selesai menunaikan Ibadah Haji dan kembali ketanah air, sampai waktu 11 bulan belum juga ada perubahan nasib. Sampai 1 tahun lebih tetap tidak ada perubahan.
Kemudian pada masa itu di Papua, dilaksanakan Operasi Penumpasan GPK, dan negara memberikan amanah kepada Brigjen TNI Agustadi Sasongko Purnomo untuk menjabat sebagai Kepala Staf Kodam XVII/Cenderawasih terhitung mulai 15 Februari 2001. Alhamdulilah, doanya di Tanah Suci Makkah setahun lalu terkabul. Kemudian beliau mengikuti Lemhanas selama 8 bulan dan selanjutnya menjabat Panglima Divisi 2 Kostrad menggantikan Mayjen TNI Djoko Santoso (yang ke-2 kali) terhitung mulai tanggal 1 Juli 2002. Banyak karya-karya yang telah diukir selama menjabat Pangdiv 2 Kostrad. Tatkala menjabat di Singosari Malang, pada sore hari sekitar jam 15.00 beliau berjalan-jalan sendiri untuk melihat kerajinan kulit. Di saat bersamaan ada sekumpulan orang sedang bermain catur, beliau kemudian turut bermain dan bisa mengalahkan para pecatur di sana. Awalnya, orang-orang disekitar situ tidak mengenali beliau, sampailah kebetulan ada Perwira TNI yang mengenal dan langsung memberi hormat dengan sikap sempurna. Terheran-heranlah orang-orang disana, rupanya dari tadi mereka bermain catur dipinggir jalan sambil guyon-guyonan dengan Pangdiv 2 Kostrad, Mayor Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo.
Sebelum mengakhiri jabatan sebagai Pangdiv 2 Kostrad, beliau sempat memimpin latihan kesiapan PPRC Kostrad dari Malang yang akan diterjunkan ke Ambon. Latihan PPRC berjalan dengan baik, aman dan lancar.
Menjabat Panglima Komando Daerah Militer
Pepatah mengatakan banyak berjalan banyak yang dilihat, banyak jabatan yang dilalui banyak juga pengalaman. Asam garam selama 27 tahun (1975-2002) berdinas dengan mengemban 20 jabatan bervariasi dengan segala pengabdiannya kepada bangsa dan negara. Akhirnya Komando/Pimpinan, atas nama negara memberikan amanah kepada Mayor Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo mengemban tugas sebagai Pangdam XVI/Pattimura TMT 1 Februari 2003. Menerima jabatan dari Mayjen TNI Djoko Santoso (untuk ke-3 kalinya).
Mengemban tugas dan tanggungjawab di daerah konflik tentunya relatif berat. Dihadapkan dengan peristiwa dan tragedi kemanusiaan yang telah terjadi di Ambon dan sekitarnya yang masuk dalam wilayah teritorial Kodam XVI/Pattimura. Konflik horizontal di Ambon yang bernuansa SARA dimanfaatkan oleh Separatis RMS untuk bergerak meraih cita-citanya yaitu memisahkan diri dari NKRI.
Menyikapi kondisi wilayah yang masih bergolak baik menyangkut keamanan dan sosial, maka Pangdam mengambil langkah-langkah persuasif dan represif untuk meredam dan memulihkan situasi keamanan. Rencana awal yang dibuat oleh Mayjen TNI Agustadi Sasongko Purnomo selaku Pangkoopsliham wilayah Maluku dan Maluku Utara dalah rencana operasi menghadapi HUT RMS tanggal 25 April 2003. Isinya meliputi :
1. Pelarangan pengibaran bendera RMS dan peringatan HUT RMS.
2. Himbauan untuk tidak menjahit bendera RMS dan tidak boleh menjual balon gas.
3. Himbauan penyerahan senjata dan amunisi, serta bahan peledak, organik maupun rakitan.
4. Himbauan untuk menggalang persatuan dan kesatuan bangsa dalam wadah NKRI.
5. Ancaman hukuman bagi pelanggaran terhadap himbauan dan larangan tersebut diatas, yang dituangkan ke dalam satu maklumat pemerintah.
6. Penyiapan pasukan di daerah-daerah rawan konflik mulai tanggal 15 April 2003.
7. Pendudukan Desa Kudamati dan Desa Alang, masing-masing oleh 1 Peleton pasukan.
8. Penyerangan, penguasaan, dan pendudukan Desa Aboru sebagai daerah basis RMS yang terkenal ekstrim. Dengan pengerahan pasukan berkekuatan 1 Kompi dipimpin langsung oleh Danrem 151, Kolonel Inf. Toni SB. Husodo muali tanggal 15 April 2003. Penyerangan menggunakan 3 poros, yaitu : Poros Utara 1 Peleton Kopassus, Poros Barat 1 Peleton Kostrad, dan Poros Selatan (pendaratan lewat laut) oleh 1 Peleton Marinir.
Pelaksanaan serangan hanya mendapatkan perlawanan kecil dan beberapa kali tembakan, semuanya bisa diatasi. Melihat situasi keamanan yang mulai membaik di kota Ambon, Pangdam Mayjen TNI Agustadi Sasongko Purnomo mengisyaratkan akan segera menarik pasukan yang selama ini bertugas di Ambon. Menurut Pangdam, penarikan pasukan Infanteri (Kopasus, Kostrad) karena pasukan ini cocoknya bertugas di Aceh (2003) bukan di Ambon. Untuk wilayah Ambon cukup satuan Banpur saja.
Keberhasilan melaksanakan tugas sebagai jurumudi Komando Teritorial Kodam XVI/Pattimura yang wilayahnya sarat dengan konflik selama 8 bulan 24 hari, oleh Pimpinan TNI-AD Mayjen TNI Agustadi Sasongko Purnomo dimutasi menjadi Panglima Komando Derah Militer Jakarta Raya menggantikan Mayjen TNI Djoko Santoso ( ke 4 kalinya).
3 tahun 13 hari mengemban tugas sebagai Pangdam Jaya, kemudian sesuai kebutuhan organisasi, pada tanggal 7 Desember 2006 Mayjen TNI Agustadi Sasongko Purnomo melakukan serah terima jabatan kepada Mayjen TNI Liliek AS Sumaryo di Jakarta.
Beliau selanjutnya mendapat promosi kenaikan pangkat setingkat menjadi Letnan Jenderal TNI dengan jabatan baru sebagai Sekretaris Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan TMT 6 November 2006. Suatu tugas baru yang tidak menggunakan ilmu militer dalam melaksanakan tugas-tugasnya, karena terkait dengan politik yang selama ini militer tidak boleh berkecimpung didalamnya, serta hukum yang berbeda dengan hukum militer.
Kepala Staf Angkatan Darat ke-25
KSAD Jend Agustadi SP dan Panglima Jend Djoko Santoso
Ketika Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono mengusulkan nama Jenderal TNI Djoko Santoso sebagai calon panglima TNI menggantikan Marsekal TNI Djoko Suyanto kepada DPR RI, khalayak umum lalu tertanya-tanya siapakah gerangan prajurit terbaik yang akan terpilih menduduki jabatan Kasad yang ditinggalkan Jenderal TNI Djoko Santoso.
Markas Besar TNI-Angkatan Darat yang beralamat di Jl.Merdeka Utara Jakarta berbenah untuk menyambut Kasad yang baru. Presiden SBY yang mempunyai kewenangan memilih Kasad, akhirnya setelah melakukan pertimbangan dan pemikiran cermat dan matang, menjatuhkan pilihan kepada Sesmenpolhukam Letjen TNI Agustadi Sasongko Purnomo sebagai nahkoda baru TNI-AD.
Letnan Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo TMT 27 Desember 2007 memegang amanah Kasad ke-25 menggantikan Jenderal TNI Djoko Santoso (untuk ke-5 kalinya). Pelantikan jabatan pucuk pimpinan TNI-AD dilaksanakan pada 28 Desember 2007 di Istana Negara oleh Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono dengan dihadiri oleh para undangan pejabat tinggi militer dan sipil. Tindak lanjut dari pelantikan Kasad oleh Presiden, maka dilakukan acara serah terima jabatan Kasad pada penghujung tahgun 2007. Bertindak selaku Irup, Panglima TNI Marsekal TNI Djoko Suyanto di lapangan Mabesad, selanjutnya Letjen TNI Agustadi Sasongko Purnomo mendapat kenaikan pangkat setingkat menjadi Jenderal penuh bintang empat.
Awal memangku jabatan Kasad, ujian pertama muncul dalam TNI-AD pada triwulan I TA 2008, adalah terjadinya bentrokan antar Yonif 731/Karabessy dengan Polres Maluku Tengah yang dipicu oleh kesalahpahaman.Sehingga, mengakibatkan korban tewas 2 orang Polisi dan 1 orang personil TNI-AD. Luka-luka 2 orang Polisi dan 1 personel TNI-AD, kerugian lainnya 60 bangunan rusak parah/ringan terkena GLM-203 dan granat.
Menyingkapi kejadian ini, Kasad Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo mengaku sangat prihatin dan memerintahkan Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Rasyid Qurnuen Aquary untuk menuntaskan kasus ini dan menyampaikan maaf kepada aparat kepolisian di Masohi, Maluku Tengah.
Menjawab pertanyaan anggota Komisi I DPR pada saat rapat kerja di Gedung DPR tanggal 11 Februari 2008 tentang kasus bentrokan di Masohi, Kasad sempat menyinggung tentang pola-pola penanganan Polri terhadap para anggotanya. Intinya, ada ketidak adilan dalam penanganan anggota yang berkelahi, khususnya Polri. Kasad mengimbau agar Polri menyelesaikan kasus perkelahian itu secara transparan. Hal ini perlu dikedepankan untuk menghindari kecemburuan para prajurit, solanya pihak TNI-AD sudah mengambil tindakan tegas. Contohnya, pencopotan Danyonif 731/Karabessy Letkol Inf. Dani Hutabarat dari jabatannya. (Dicuplik dari kaskus.co.id  Postingan: erwin.parikesit )/ JKGR.
Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...