Sunday, December 02, 2012

PT. Lundin (North Sea Boats) Introduces 63m FMPV Trimaran - Stealth Fast Missile Patrol Vessel



Export version of the 63 meters FMPV Trimaran (photo : Navy Recognition)

The Fast Missile Patrol Vessel (FMPV) Trimaran was designed by North Sea Boats, an Indonesia based shipyard, with input from New Zealand and Swedish engineers as well as the Indonesian Navy. The vessel employs a modern “Wave Piercing” trimaran design and some "stealth" characteristics.

An export version of the 63 meters FMPV Trimaran is available. North Sea Boats partnered with SAAB for this version, as a consequence most weapons and sub-systems are provided by the Swedish Defence group as shown in the picture below which was displayed on SAAB booth during Indodefence 2012.

FMPV Trimaran in export configuration would come with:
» Saab RBS15 Mk3 anti-ship missiles
» BAE Systems Bofors 40Mk4 40mm main gun
» Saab Sea Giraffe LT radar
» Saab CEROS 200 radar and optronic tracking system
» Saab 9LV Combat management system

“Wave Piercing” trimaran design: This allows the vessel to cut-through waves rather than rise up and over them, and the increased beam provides inherent stability. This combination of features reduces both pitching and rolling, creating a stable weapons platform, and enabling the vessel to comfortably and safely maintain higher average speeds in adverse conditions.

The FMPV has “Stealth” design characteristics, and incorporate features that minimise detection by reducing Radar, Infra-Red, Acoustic and Magnetic signatures. Stealth properties are further improved as there are no reverse-angle bow overhangs to reflect radar signals, as seen on conventional hull forms. Weaponry, including missiles and naval guns, and the ships 11 m high-speed RHIB, are discreetly concealed or shaped to meld into the superstructure profile.

Construction is from strong and highly durable, lightweight composite carbon fibre sandwich, utilising vinylester modified epoxy resin and the vacuum resin infusion process. Thus ensuring improved fuel efficiency, and reduced operational, maintenance, and life cycle costs.


Missions :
» Patrol in international and territorial waters
» Patrol close to shores, in shallow waters
» Deployement of special forces
» Air and surface surveillance
» Intelligence gathering
» Disaster relief

Weapons
» 8x CASIC C-704 anti-ship missiles
» Chinese 6 barrelled gatling type gun

Sensors, Electronics
Electronic, CMS, Navigation Systems: Unknown type, Chinese origin
Communication Systems: Unknown type, Chinese origin
Engines/Propulsion/PowerEngine: 4x 1800 hp
Propulsion : MJP Waterjets

Specifications
Type : Fast Missile Patrol Vessel
Crew : 23 (+ 7 Special Forces)
Operators : Indonesian navy
Speeds:  sprint 30+ kts,  cruising : 22 kts
Range : 2000+ nm @ 16 kts
Endurance : n/a
Designer / Builder : PT. Lundin (North Sea Boats)
Displacement : n/a
Propulsion: MJP Waterjets
Dimensions
Length : 63 m
Beam : 16 m
Maximum Draft : 1.20 m

Saturday, December 01, 2012

Dua Kompi Kopassus ke Kaltim

JAKARTA, KOMPAS.com - Dua kompi prajurit Komando Pasukan Khusus atau Kopassus TNI AD diterjunkan ke hutan belantara Kalimantan Timur, Sabtu (1/12/2012) malam ini. Penerjunan malam dari empat pesawat Hercules TNI AU tersebut dalam rangkaian latihan infiltrasi melalui udara.
Pejabat Penerangan Kopassus Mayor Inf Achmad Munir di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Sabtu sore, membenarkan adanya rencana penerjunan para prajurit tersebut.
"Ini dalam rangkaian latihan bersandi Tribuana Cakti XVIII tahun 2012 yang sudah berlangsung beberapa waktu lalu dan puncaknya nanti pada 19 Desember," jelasnya, Sabtu sore.
Para prajurit tersebut dilepas oleh Wakil Komandan Jenderal Kopassus Brigjen TNI Jaswandi dan para perwira ahli, Asisten Danjen, dan Kabalak.

Turkey to Begin Attack Helicopter Production Next Year

Turkish Prime Minister Recep Tayyip Erdogan says the Turkish defense industry will begin producing attack helicopters next year.

Erdogan says mass production of Turkey's indigenous T-129 attack helicopters will begin in 2013 as part of the country's program to expand domestic production of military equipment.

"Today, Turkey meets 54% of the needs of the country's defense system," Erdogan said in a report on TRT Haber TV. "Our goal is fully provision with defense products through domestic production."

Erdogan adds that Turkey intends to include the manufacturing of warships.

Turkey has previously exported armored vehicles, air defense systems, missile systems, light warships, and helicopters, a trend that has seen its defense industry exports quadruple.

Turkish Aerospace Industries is the prime contractor for the T-129 attack helicopter, with Aselsan and AgustaWestland NV as the subcontractors, under a collaboration agreement in which TAI shares ownership of intellectual property rights for the new configuration with AgustaWestland NV.

TAI will also become the sole source for the production of the T-129's fuselage, including final assembly and flight operations, and will be responsible for marketing the "T-129 attack helicopters" for export.

TNI Kembangkan Brigade Gabungan


TNI mengembangkan brigade gabungan untuk menangkal dinamika ancaman yang semakin kompleks. Kekuatan brigade gabungan dinilai akan menempatkan TNI dalam posisi penting dalam keamanan regional. Tak heran, brigade gabungan ini diterapkan dalam Latihan Gabungan (Latgab) 2012 TNI yang selesai belum lama ini.

TNI Kembangkan Brigade Gabungan

"Latihan ini merupakan salah satu upaya awal untuk menjawab dan mengetahui sampai di mana tingkat kemampuan dan batas kemampuan Brigade Gabungan TNI bila dihadapkan dengan tren tantangan dan ancaman,"kata Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono, dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI, Marsekal Madya TNI Daryatmo, saat menutup Latgab, di Surabaya, Jumat (30/11).

Agus mengatakan dibutuhkan daya tanggap, ketajaman evaluasi, dan kecermatan dari seluruh perwira hingga unsur satuan terkecil agar kemampuan brigade mumpuni. Setiap hal-hal penting harus menjadi perhatian dan disempurnakan dalam segala sisi.


Kemampuan militer tingkat brigade, lanjut dia, juga dikembangkan beberapa negara. Hal ini sebagai konsekuensi menyikapi perkembangan ancaman dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. "Kemampuan militer tingkat brigade gabungan dinilai memiliki kemampuan taktis dan strategis serta mobilitas dan daya tempur yang efektif dan efisien guna menghadapi karakteristik ancaman modern di ruang globalisasi yang cenderung mengeliminasi batas negara dalam konteks global village,"tegas dia.

 
TNI Kembangkan Brigade Gabungan
 

Di sisi lain, lanjut Panglima TNI, penguatan kemampuan militer tingkat brigade gabungan memiliki dimensi politis dalam konteks kerja sama internasional sebab ini berguna untuk penanganan keamanan bersama di tingkat regional.
Karenanya, dia meminta agar peningkatan kemampuan satuan TNI, konsep Latgab TNI harus terus diintensifkan dan dikembangkan melalui skenario operasi militer dari berbagai trouble spots yang diasumsikan terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

"Tentunya intensifikasi tersebut harus dilaksanakan secara bertahap dan bertingkat, baik di lingkup manajemen tempur, taktik dan strategi, maupun penguatan unsur-unsur bantuan lainnya,seperti unsur intelijen, logistik, dan lainnya,"jelas dia.

Memperhatikan kepentingan tersebut, tambah dia, evaluasi dan konsolidasi terhadap pelaksanaan Latgab menjadi hal yang urgen dan esensial. Hal itu guna mendapatkan perspektif yang lebih luas demi penyempurnaan beberapa aspek terkait, baik doktrin, strategi, taktik, teknik, dan prosedur, serta aspek psikologis dan litbang, yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan interoperability brigade gabungan TNI dalam skenario operasi militer.

Di samping itu, penyempurnaan juga untuk memperoleh besaran yang proporsional dan efektif, baik pada aspek personel, alutsista, maupun dukungan administrasi logistik lainnya, guna mendukung konsep pembangunan Minimum Essential Force (MEF).

Komandan Satgas Penerangan Latgab TNI 2012, Letkol Laut (KH) Edys Riyanto, mengungkapkan pelaksanaan latihan lapangan Latgab TNI Tingkat Brigade 2012 dengan sandi Wibawa Yudha berlangsung sejak 26 Oktober hingga 30 November 2012 di Sangatta dan Tarakan, Kalimantan Timur. Latihan itu melibatkan belasan ribu prajurit dengan puluhan alutsista berbagai jenis.

Sebelum penutupan, dilakukan evaluasi untuk penyempurnaan bagi beberapa aspek terkait, baik doktrin, strategi, taktik, teknik, dan prosedur, serta aspek psikologis dan litbang yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan kampanye militer.

Kasum TNI, Daryatmo, mengatakan perlunya beberapa penyempurnaan baik aspek pengorganisasian, peranti lunak, operasional, dan material. "Jaga terus soliditas dan solidaritas TNI demi tegaknya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,"tegas Kasum TNI. 



SUmber : Koran Jakarta

Pemerintah Belum Miliki Kebijakan Berorientasi Maritim


Ketua Forum Kajian Pertahanan dan Maritim (FKPM) Laksda TNI (Purn) Robert Mangindaan mengemukakan, pemerintah belum memiliki kebijakan yang berorientasi pada pengembangan sektor maritim, padahal sebagian besar wilayah Indonesia adalah laut.

Kapal Perang Republik Indonesia Mengawal Keamanan Maritim
Kapal Perang Republik Indonesia Mengawal Keamanan Maritim
foto : republika.co.id


"Bahkan dalam RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) dan MP3EI (Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia), fokus pemerintah masih pengembangan infrastuktur wilayah daratan," kata Mangindaan di Surabaya, Kamis.

Pernyataan Robert Mangindaan itu disampaikan pada seminar nasional "Membangun Kembali Kejayaan Bangsa Indonesia sebagai Bangsa Maritim" yang digelar Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) Kobangdikal.

"Sekitar 70 persen wilayah Indonesia adalah laut dan sudah seharusnya pemerintah memiliki kebijakan yang lebih berorientasi pada pengembangan maritim. Tapi, kami melihat hal itu belum banyak dilakukan," kata Mangindaan yang saat ini aktif menjadi Tenaga Profesional Tetap di Lemhanas.


Menurut ia, posisi maritim Indonesia dipengaruhi tiga faktor utama, yakni globalisasi perdagangan, keamanan wilayah perairan dan dominasi kekuatan maritim negara-negara besar.

Sementara untuk pengelolaan wilayah maritim, ada tiga elemen yang menangani, yakni bidang kelautan, pelayaran dan instrumen keamanan dalam hal ini TNI Angkatan Laut.

"Untuk membangun kesadaran maritim di Indonesia, diperlukan adanya peran politik, dukungan teknologi, pendanaan, dan regulasi dari pemerintah," tuturnya.

Pakar statistik ITS Drs Kresnayana Yahya Msc dalam kesempatan sama mengatakan, kontribusi sektor maritim terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) saat ini masih sangat rendah sekitar 10 persen, padahal potensi yang bisa dikembangkan sangat besar.

"Dengan wilayah laut yang sangat luas, potensi maritim itu sebenarnya mencapai 1,2 triliun dolar AS pertahun. Ini salah satu modal besar untuk mendukung perekonomian," ucapnya.

Pimpinan lembaga konsultan bisnis Enciety itu menambahkan, selain kekayaan sumber daya laut yang melimpah, sektor layanan jasa kemaritiman juga belum digarap secara maksimal.

Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno dalam sambutan pembukaan seminar mengatakan, belum maksimalnya pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam, khususnya laut, lebih disebabkan pupusnya visi maritim dan kurangnya kesadaran komponen bangsa.

"Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam kelautan memerlukan penguasaan teknologi rekayasa maritim yang sarat 'high tech' dan 'high cost'," ujarnya dalam sambutan yang dibacakan Asisten Personel KSAL Laksda TNI Sudirman.

KSAL menambahkan, TNI AL berupaya menjadi pelopor dalam membangun budaya kemaritiman yang sejalan dengan program pemerintah dan bertanggung jawab secara moril untuk ikut membangun kembali kejayaan bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim.

Seminar yang diikuti sekitar 300 peserta dari berbagai kalangan itu, juga menghadirkan pembicara lain, yaitu pakar kelautan dan perkapalan ITS Prof Daniel Rosyid PhD, yang mengupas pembangunan visi maritim melalui pendidikan. 



Sumber : Antara Jatim

Iron Dome, Tameng Bangsa Israel

Saling balas serangan. Itulah inti ‘perang’ antara Hamas dan Israel dalam perang singkat 8 hari. Hamas mengerahkan seluruh arsenal roketnya, dan Israel meluncurkan puluhan sorti serangan udara. Dari keduanya, mana yang lebih efektif?
Tujuan utama Israel sejak awal, yaitu menghentikan teror roket Hamas sudah tercapai berkat keefektifan sistem pertahanan Iron Dome, yang mencegat 85% roket yang diluncurkan dari arah Gaza. Upaya Israel menuntut pertanggungjawaban atas serangan Hamas, terwujud dalam tewasnya pemimpin Hamas seperti Ahmed Jaberi, orang nomor dua di Brigade Qassam. Boleh dibilang, hampir seluruh roket Hamas dapat dimandulkan oleh sistem Iron Dome.



Israel memetik pelajaran pahit dari operasi Cast Lead yang dilancarkan pada tahun 2006 ke Libanon. Hezbollah menghujani kota-kota di Utara Israel dengan beragam roket, mulai dari Katyusha sampai WS-1 buatan Cina. Pada saat yang bersamaan, sisi Selatan Israel juga dihantam roket Brigade Izz ad-Din al-Qassam, sayap militer Hamas yang juga sibuk meroket Israel. Israel membutuhkan ‘obat’ untuk memandulkan roket-roket Qassam milik Hamas yang semakin menakutkan.
Rafael kemudian mengembangkan sistem penangkal serangan artileri, rudal, dan mortir dalam bentuk rudal, yang boleh dibilang kontroversial karena biayanya mahal. Sistem perlindungan lain seperti Phalanx, Goalkeeper, C-Ram atau Skyshield buatan Rheinmetall menggunakan kanon dengan munisi pintar AHEAD yang dipandu sistem radar untuk menghancurkan sasaran. Namun, kanon memiliki kelemahan yaitu kaliber peluru yang kecil kemungkinan tidak dapat menghancurkan roket menjadi serpihan kecil.
Sistem yang dibuat Rafael diberi nama Iron Dome. Dari segi konsep, sebenarnya produk Israel ini juga tidak revolusioner, karena AS dan Rusia juga memiliki konsep serupa. Iron Dome terdiri dari sistem rudal pencegat Tamir, sistem BMC (Battle Management & Weapons control), dan counterbattery radar. Sistemnya besar, berat, dan tidak sepenuhnya mobile. Sistem rudal Tamir dikemas dalam kotak peluncur berkapasitas 20 rudal yang dapat dimuat keatas truk 8x8. BMC dimuat dalam kotak berbentuk kontainer berisi layar radar dan operator, sementara sistem radar pendeteksi ditaruh diatas sasis truk.
Sistem kerjanya terbagi dalam tiga tahap, dimana radar akan mendeteksi ancaman yang tengah menuju sasaran. Informasi ini dipasok kedalam sistem BMC, yang menghitung lintasan ancaman, sampai titik perkiraan jatuhnya. Berdasarkan perkiraan tersebut, sistem kemudian membuat solusi penembakan dan menyerahkan pada operator untuk meluncurkan rudal, atau mengesetnya secara otomatis. Pada fase awal peluncuran, Tamir dipandu oleh BMC ke titik pencegatan, sampai kemudian sensor elektro optiknya bekerja sendiri untuk mengenali sasaran dan meledakkan diri berkat keberadaan sumbu jarak (proximity fuze).
Yang istimewa dari Iron Dome adalah kemampuan algoritma software yang dibuat pabrikan MPrest, yang dibuat berdasar platform Microsoft .NET. Iron Dome mampu mengukur besarnya ancaman; apabila roket atau serangan lain jatuhnya di wilayah yang tidak berbahaya, Iron Dome tidak akan bereaksi. Tidak mengherankan, angka keberhasilannya mencapai 90% dari ancaman roket ke wilayah berpenduduk. Sistem Iron Dome efektif mencegat sampai lima sasaran simultan yang berada sekaligus di udara. Sistem yang satu baterainya berharga US$ 50 Juta dan satu rudal Tamir berharga US$ 40.000 ini digelar di 8 kota, termasuk ibukota Tel Aviv. Israel mendapat bantuan US$ 201 Juta dari AS untuk pengadaan enam baterai Iron Dome.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...