Showing posts with label iron dome. Show all posts
Showing posts with label iron dome. Show all posts

Saturday, December 01, 2012

Iron Dome, Tameng Bangsa Israel

Saling balas serangan. Itulah inti ‘perang’ antara Hamas dan Israel dalam perang singkat 8 hari. Hamas mengerahkan seluruh arsenal roketnya, dan Israel meluncurkan puluhan sorti serangan udara. Dari keduanya, mana yang lebih efektif?
Tujuan utama Israel sejak awal, yaitu menghentikan teror roket Hamas sudah tercapai berkat keefektifan sistem pertahanan Iron Dome, yang mencegat 85% roket yang diluncurkan dari arah Gaza. Upaya Israel menuntut pertanggungjawaban atas serangan Hamas, terwujud dalam tewasnya pemimpin Hamas seperti Ahmed Jaberi, orang nomor dua di Brigade Qassam. Boleh dibilang, hampir seluruh roket Hamas dapat dimandulkan oleh sistem Iron Dome.



Israel memetik pelajaran pahit dari operasi Cast Lead yang dilancarkan pada tahun 2006 ke Libanon. Hezbollah menghujani kota-kota di Utara Israel dengan beragam roket, mulai dari Katyusha sampai WS-1 buatan Cina. Pada saat yang bersamaan, sisi Selatan Israel juga dihantam roket Brigade Izz ad-Din al-Qassam, sayap militer Hamas yang juga sibuk meroket Israel. Israel membutuhkan ‘obat’ untuk memandulkan roket-roket Qassam milik Hamas yang semakin menakutkan.
Rafael kemudian mengembangkan sistem penangkal serangan artileri, rudal, dan mortir dalam bentuk rudal, yang boleh dibilang kontroversial karena biayanya mahal. Sistem perlindungan lain seperti Phalanx, Goalkeeper, C-Ram atau Skyshield buatan Rheinmetall menggunakan kanon dengan munisi pintar AHEAD yang dipandu sistem radar untuk menghancurkan sasaran. Namun, kanon memiliki kelemahan yaitu kaliber peluru yang kecil kemungkinan tidak dapat menghancurkan roket menjadi serpihan kecil.
Sistem yang dibuat Rafael diberi nama Iron Dome. Dari segi konsep, sebenarnya produk Israel ini juga tidak revolusioner, karena AS dan Rusia juga memiliki konsep serupa. Iron Dome terdiri dari sistem rudal pencegat Tamir, sistem BMC (Battle Management & Weapons control), dan counterbattery radar. Sistemnya besar, berat, dan tidak sepenuhnya mobile. Sistem rudal Tamir dikemas dalam kotak peluncur berkapasitas 20 rudal yang dapat dimuat keatas truk 8x8. BMC dimuat dalam kotak berbentuk kontainer berisi layar radar dan operator, sementara sistem radar pendeteksi ditaruh diatas sasis truk.
Sistem kerjanya terbagi dalam tiga tahap, dimana radar akan mendeteksi ancaman yang tengah menuju sasaran. Informasi ini dipasok kedalam sistem BMC, yang menghitung lintasan ancaman, sampai titik perkiraan jatuhnya. Berdasarkan perkiraan tersebut, sistem kemudian membuat solusi penembakan dan menyerahkan pada operator untuk meluncurkan rudal, atau mengesetnya secara otomatis. Pada fase awal peluncuran, Tamir dipandu oleh BMC ke titik pencegatan, sampai kemudian sensor elektro optiknya bekerja sendiri untuk mengenali sasaran dan meledakkan diri berkat keberadaan sumbu jarak (proximity fuze).
Yang istimewa dari Iron Dome adalah kemampuan algoritma software yang dibuat pabrikan MPrest, yang dibuat berdasar platform Microsoft .NET. Iron Dome mampu mengukur besarnya ancaman; apabila roket atau serangan lain jatuhnya di wilayah yang tidak berbahaya, Iron Dome tidak akan bereaksi. Tidak mengherankan, angka keberhasilannya mencapai 90% dari ancaman roket ke wilayah berpenduduk. Sistem Iron Dome efektif mencegat sampai lima sasaran simultan yang berada sekaligus di udara. Sistem yang satu baterainya berharga US$ 50 Juta dan satu rudal Tamir berharga US$ 40.000 ini digelar di 8 kota, termasuk ibukota Tel Aviv. Israel mendapat bantuan US$ 201 Juta dari AS untuk pengadaan enam baterai Iron Dome.

Sunday, November 25, 2012

INDIA TERTARIK BELI IRON DOME SRAEL




Kubah Besi diklaim berhasil tangkal 87 persen serangan roket dari Gaza

Konflik di Gaza yang berlangsung selama delapan hari secara tidak langsung menjadi "ajang promosi" bagi alat utama sistem persenjataan Israel. Sudah ada negara yang tertarik dengan sistem pertahanan rudal Israel dalam menangkal serangan roket dari kelompok militan Hamas dari Jalur Gaza. Sistem itu disebut "Kubah Besi" (Iron Dome).

India tertarik dengan alutsista ini. Menurut Times of India, pejabat pertahanan negara itu terus mengamati kinerja Kubah Besi dalam menangkal tembakan roket Fajr V dari Gaza.

Kantor berita Reuters mengungkapkan selama 14 November hingga tercapai gencatan senjata pada 22 November lalu, ada sekitar 1.500 tembakan roket dari Gaza ke Israel. Menurut laporan, rudal Kubah Besi Israel diklaim mampu menembak jatuh 87 persen dari roket-roket yang meluncur dari Gaza.

Kemampuan Kubah Besi ini diyakini berperan dalam mencegah banyaknya jumlah korban jiwa di pihak Israel. Menurut klaim dari pemerintah negara zionis itu, lima warga mereka tewas akibat gempuran roket dari Gaza. Namun, jumlah ini tidak sebanding dengan banyaknya warga sipil Palestina yang menjadi korban serangan rudal dari jet-jet tempur Israel, yaitu lebih dari 160 jiwa.

Kubah Besi itu diproduksi oleh perusahaan Israel, Rafael Advanced Defense Systems, dan dioperasikan sejak 2011. Rudal ini mampu menembak jatuh roket dan peluru artileri yang berdaya jangkau hingga 70 km. Sistem ini juga efektif menghalau roket-roket ke wilayah berpenduduk padat.

Itulah yang membuat India kesengsem dengan rudal pertahanan Israel itu. Mereka ingin adanya sistem pertahanan mirip Kubah Besi untuk mengantisipasi ancaman serangan dari kelompok-kelompok militan dari Pakistan, seperti Lashkar-e-Taiba (LeT).

Kelompok itu disinyalir mampu menembakkan roket jarak pendek ke wilayah India. India pun terus mengantisipasi munculnya lagi ketegangan hubungan dengan Pakistan. Kedua negara itu pernah beberapa kali saling serang dalam memperebutkan wilayah di perbatasan, seperti Kashmir. 

Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah India soal minat mereka terhadap Kubah Besi. Namun, kalangan media massa India sudah mengendus ketertarikan pemerintah mereka untuk memiliki pertahanan rudal mirip yang dimiliki Israel.

Beberapa bulan lalu, para ilmuwan militer India telah menyarankan pemerintah untuk membuat program patungan dengan Israel dalam membangun Kubah Besi. Menurut mereka, walau sudah punya rudal balistik, India tidak memiliki sistem pertahanan yang memadai untuk menangkal tembakan roket jarak pendek dan artileri dari musuh.

Para ilmuwan militer India, yang tergabung dalam Organisasi Penelitian dan Pembangunan Pertahanan (DRDO), tengah bekerjasama dengan perusahaan Israel dalam membuat rudal jarak menengah anti serangan udara. Namun, kemampuan dan kegunaan rudal itu berbeda dengan Kubah Besi.





Sumber : Vivanews

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...