Showing posts with label pesawat tempur. Show all posts
Showing posts with label pesawat tempur. Show all posts

Thursday, August 14, 2014

Fly Pass Pesawat Tempur TNI AU Dan Balance Of Power Dengan Australia

  Kasau Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia usai upacara Peringatan ke-67 Hari Bhakti TNI Angkatan Udara di Kesatrian AAU Yogjakarta, Kamis (7/8/2014) menyatakan bahwa pada peringatan HUT RI ke-69 tanggal 17 Agustus 2014, TNI AU akan melakukan fly pass (terbang lintas) diatas panggung kehormatan.


Fly Pass akan dilakukan oleh  32 pesawat TNI AU dalam dua formasi besar.  Flight kesatu terdiri dari formasi  10 pesawat tempur latih  T-50 Golden Eagle asal Korea dan 6 pesawat tempur ringan  Hawk 100/200. Sementara flight kedua terdiri dari 8 pesawat F-16 versi lama  dan termasuk 3 pesawat yang baru tiba, hibah dari pemerintah AS, F16 blok C/D 52ID, juga gabungan dari  8 pesawat Sukhoi-27/30. Dengan demikian maka  masing-masing flight akan terdiri  terdiri dari 16 pesawat, dimana jumlah masing-masing formasi merupakan kekuatan satu skadron udara.


Terbang lintas tersebut merupakan sebuah pertanggung jawaban TNI AU sebagai abdi negara dalam mempertahankan kedaulatan di udara. Dimana pemerintahan Presiden SBY telah menambah kekuatan pesawat latih dan tempur udara. Dalam fly pass akan ditampilkan berbagai pesawat produk dari  empat  negara. Pesawat T-50 tempur taktis adalah pesawat terbaru buatan Korea Selatan, pesawat Hawk 100/200 buatan Inggris, pesawat F-16 buatan Amerika Serikat dan pesawat Sukhoi 27/30 buatan Rusia. Dengan demikian maka dari pengalaman pahit di masa lalu soal embargo, kini TNI AU menjadi lebih fleksibel dan akan selalu mampu melaksanakan pertahanan udara apabila terulang kembali kasus embargo.

Formasi Pesawat Tempur TNI AU Di Langit Jakarta


TNI angkatan Udara mengerahkan 35 pesawat tempur untuk terbang formasi (fly pass) memeriahkan peringatan detik-detik proklamasi ke-69 tanggal 17 Agustus 2014 di Istana Negara. Untuk itu, sejak Minggu (10/8) ke-32 pesawat tersebut, masing-masing 7 Pesawat Sukhoi dari Makassar, 8 Pesawat F-16 dan 12 Pesawat T 50i dari Madiun dan 8 Hawk 100/200 dari Pekanbaru diparkir di Terminal Selatan Lanud Halim Perdanakusuma untuk berlatih terbang formasi di udara Jakarta.

Sesuai perintah Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), sebanyak 32 pesawat tempur TNI AU akan membentuk dua formasi arrow melaksanakan fly pass di atas peserta upacara peringatan HUT RI ke-69 di Istana Negara. Kedua formasi besar terdiri dari flight pertama terdiri dari 10 pesawat T-50 Golden Eagle dan 6 pesawat Hawk 100/200 serta flight kedua terdiri dari 8 pesawat F-16 termasuk pesawat F-16 C/D 52ID yang baru dan 8 pesawat Sukhoi SU-27/30,.

Sunday, April 27, 2014

New photos of the Su-30M2 and Su-30Cm

Presented new pictures multipurpose fighters Su-30, which, in the state defense order were delivered to the troops at the end of last year. 




Tuesday, April 15, 2014

Sukhoi TNI AU: Siap Tempur!




  Berbagai persenjataan Sukhoi telah datang dan akan terus ditambah lagi. Jet tempur Su-27/30 kini menjadi alutsista paling berbahaya di barisan arsenal TNI AU.

 Kunjungan Angkasa ke Makassar bulan lalu untuk menghadiri upacara serah terima jabatan Panglima Komando Operasi Angkatan Udara II dari Marsda TNI Agus Supriatna kepada Marsma TNI Abdul Muis menjadi momen yang sangat berharga. Pasalnya, sehari sebelum pelaksanaan sertijab pada 25 Maret 2014 itu, Angkasa mendapatkan kesempatan eksklusif dari KSAU Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia untuk melihat langsung beragam persenjataan yang telah dibeli Pemerintah Indonesia untuk armada Su-27/30 Skadron Udara 11. Pesan KSAU sederhana, agar masyarakat Indonesia tahu bahwa Sukhoi TNI AU kini sudah bersenjata lengkap.

Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsma TNI Dody Trisunu mengungkapkan, beragam persenjataan yang telah datang saat inimenjadikan armada Su-27/30 siap tempur. Kelengkapan persenjataan ini kemudian disempurnakan dengan kemampuan para penerbang Skadron Udara 11 yang sudah diasah langsung oleh para instruktur senjata dan penerbang tempur AU Rusia. Setiap tahun TNI AU rutin mengirimkan para penerbangnya ke negeri Beruang Merah untuk memperdalam ilmu dan kemahiran bertempur. Tahun ini saja, ada empat gelombang pengiriman penerbang ke Rusia.

Komandan Skadron Udara 11 Letkol Pnb Dedy Ilham S. Salam menerangkan, di Rusia para penerbang Sukhoi TNI AU mendapat selama empat bulan dari para suhu senjata dan pertempuran udara yang sudah sangat mumpuni sehingga mereka dijuluki profesor. “Mereka adalah para penerbang tempur AU Rusia yang sudah mencoba segala macam persenjataan Sukhoi,” ujarnya. “Bahkan, ketika kami di sana, ada satu profesor yang ilmunya sangat tinggi didatangkan khusus dari Siberika ke Moskwa, hanya untuk melatih kami,” ujarnya.

Tuesday, April 08, 2014

Eurofighter Typhoon Dan Sukhoi SU-35

eurofighter-typhoon (photo: baesystems)
Eurofighter-typhoon
 : Membeli Pesawat tempur yang produsennya bersedia berbagi teknologi memang layak untuk dibeli. tujuannya adalah untuk kemandirian di masa depan.

PT. DI memberikan opsi Typhoon, karena PT. DI melihat bahwa produsen Typhoon bersedia berbagi teknologi. Jika pemerintah Indonesia menuruti opsi dari PT. DI dan akhirnya memilih Typhoon, Pemerintah Indonesia harus meminta jaminan dari PT. DI bahwa ditahun 201*, PT. DI sudah bisa membuat pesawat tempur sendiri. tentunya dengan kualitas tidak jauh dari spesifikasi Typhoon.

Jika ternyata di tahun yang sudah ditentukan PT. DI gagal, tentunya harus ada yang bertanggung jawab atas kegagalan itu dan recomendasi dari PT. DI untuk pembelian Typhoon perlu di selidiki oleh BIN dan KPK.

Secara serampangan, pilihan para pilot TNI AU itu juga perlu diperhatikan, mereka cenderung memilih SU-35. Sebagai orang yang memang dilatih dan dididik menjadi pilot tempur dengan segala resikonya, para pilot TNI AU itu lebih mengerti dan lebih memahami medan pertempuran udara yang mungkin kelak mereka hadapi. Para pilot TNI AU tentunya ingin memenangkan setiap insiden pertempuran udara karena kalau mereka kalah berarti nyawa mereka sendiri sebagai taruhannya.

Tuesday, April 01, 2014

TNI AU tunggu pesawat tempur generasi 4,5



  Peremajaan dan modernisasi arsenal perang TNI AU terus dilakukan, di antaranya pesawat tempur pengganti F-5E/F Tiger II yang sekarang tergabung di Skuadron Udara 14, yang berasal dari generasi 4,5 atau 4,5++.

Di antara kontestan yang telah masuk ke dalam daftar pasti pengajuan adalah Sukhoi Su-35 Flanker E (Rusia), JAS-39 Gripen(Swedia), Dassault F1 Rafale (Prancis), dan Boeing-McDonnel Douglas F/A-18E/F Super Hornet (Amerika Serikat). Pengadaan arsenal baru TNI AU itu sesuai Perencanaan Strategis Pertahanan Indonesia Tahap III.

"Kami masih menunggu evaluasi dari Kementerian Pertahanan dan Markas Besar TNI. Jika ditanya, kami menginginkan generasi 4,5," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto, di Yogyakarta, Minggu.

F-5E/F Tiger II didatangkan langsung dari pabriknya di Amerika Serikat pada awal dasawarsa '80-an, dengan skema pembelianforeign military sales.

TNI AU saat itu adalah pengguna perdana Tiger II di ASEAN dengan kekuatan satu skuadron udara penuh (16 unit).

Angkatan Udara Kerajaan Thailand menjadi negara kedua, yang malah membeli lebih banyak lagi Tiger II itu, dan mengembangkan kemampuan pesawat tempur kelas interseptor itu. 

Monday, March 31, 2014

TNI Segera Bangun Shelter Sukhoi Di Natuna

 : Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Ranai, Letkol (Pnb) Andri Gandy, mengatakan pangkalan Udara TNI AU Ranai akan segera diliengkapi dengan jet tempur cangih, Sukhoi. Untuk itu di pangkalan ini akan segera dibangun shelter Sukhoi di hanggar barat Lanud Ranai.  

“Pembangunan Shelter Sukhoi ini sebagai pangkalan pendukung operasi TNI AU di Natuna,” sebut Andri Gandy di Ranai, Kamis (27/3).

Shelter ini, kata Gandy, untuk memungkinkan pergelaran pesawat tempur dan dijadikan home base di Lanud Ranai. Sehingga pesawat Sukhoi tetap berada di Lanud Ranai, jika setiap saat diperlukan.

Saat ini Lanud Ranai sendiri sudah dilengkapi beberapa fasilitas seperti lampu runway, lampu taxiway, emergency, radio TNI AU primary dan secondary hingga lampu tower. Jika sebelumnya bandara ini belum bisa beroperasi di malam hari, tetapi saat ini sudah bisa dioperasikan dan sudah dilengkapi radar yang terintegrasi.

"Setidaknya dalam kurun waktu dekat, bandara Lanud Ranai bisa sekelas Batam. Walau panjang landasan saat ini masih 2,5 kilometer, sementara Batam sudah tiga kilometer,” ujarnya.

Wednesday, March 19, 2014

H2C Kehadiran Si Badai

Pesawat Tempur Rafale Prancis
  JKGR  : Siapa yang tidak kenal dengan Rafale? Pemerhati dunia militer, khususnya dunia aviasi militer pastilah mengenal sosok pesawat tempur andalan Armee de l’Air atau AU negeri Pakdhe Sarkozy ini.

Sosok pesawat tempur, yang dijuluki Bill Gunston “the most beautiful fighter aircraft ever” , kini sedang menjadi buah bibir di bebagai media publikasi militer, bukan karena segudang prestasi tempur, tapi karena kegagalannya memenangkan kontrak pesanan dari bebeberapa negara sepanjang 3 tahun terakhir. Sebegitu burukkah nasib si Badai ini? Tak adakah keberuntungan yang menaungi si Badai yang baru diproduksi 160 unit ini?.

Ternyata dewi fortuna berpihak pada Rafale, durian runtuh buat Dassault, Thales, dan SNECMA sebagai system vendor utama Rafale. Siapakah yang jadi dewa penolong Rafale?

Monday, March 17, 2014

T-50i Golden Eagle: “Baby Falcon” Elang Emas Indonesia


T-50i dalam skema warna latih dan aerobatic (photo : Alex Sidharta)

Penyerahan 16 unit T-50i Golden Eagle dari Korea Selatan kepada Indonesia di Lanud Halim Perdanakusuma, 13 Februari 2013, menandai resminya Sang Elang Emas bergabung dengan jajaran kekuatan TNI AU. Pesawat yang juga dijuluki “Baby Falcon” ini akan menjadi titik awal kebangkitan Skadron Udara 15 di tahun-tahun mendatang.

Sehari sebelum penyerahan 16 T-50i, Mekopolhukan Marsekal (Purn) Djoko Suyanto didampingi Komandan Skadron Udara 15 Letkol Pnb Wastum terbang menggunakan T-50i nomor ekor TT-5004 berkelir biru-kuning. Di pesawat yang lain, KSAU Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia juga terbang menggunakan T-50i nomor ekor TT-5012 berkelir hijau toska-abu-abu didampingi Kasiops Skadron Udara 15 Mayor Pnb Hendra Supriyadi. Dari Lanud Halim kedua pesawat terbang dengan tanda panggil Golden Flight menuju ketinggian 15.000-20.000 kaki di atas Pelabuhan Ratu, Jawa Barat selama kurang lebih satu  jam.

Sebagai mantan penerbang tempur, baik Menkopolhukam (F-5E/F Tiger II) maupun KSAU (A-4 Skyhawk) tentu saja tertantang untuk mencoba mengendalikan sendiri jet latih fly-by-wire buatan Korea Aerospace Industries (KAI) kerja sama dengan Lockheed Martin, AS yang bentuknya mirip F-16 Fighting Falcon ini. Kedua fighter TNI AU tersebut kemudian mencoba kendali sendiri dan melaksanakan beberapa manuver seperi loop, cuban eight, serta barrell roll.

Monday, February 17, 2014

Pesawat Tempur Dan Kesiapan Militer Indonesia


JKGR :Berbicara tentang tawaran Saab Swedia terhadap pesawat tempur Gripen NG plus ToT-nya, pemerintah akan realistis di mana tidak akan menggangarkan begitu besar biaya untuk pembelian alutsista strategis demi transfer of technology (tot), tapi dengan syarat jumlah pembelian besar menurut info minimal 30 unit gripen saab.

Di luar itu semua (pemenuhan alutsista dalam rentang renstra) pemerintah juga sedang mengubah skala prioritas untuk menciptakan kemandirian energi nasional mengingat konflik kawasan yang kian bergejolak.

Salah satunya dengan membangun tempat penimbunan BBM cadangan nasional (tahap 1 untuk 30 hari, estimasi 1 miliar barel), kemudian pemerintah juga sedang merencanakan penciptaan kilang minyak baru yang akan menelan biaya sekitar $ 1 miliar dengan margin keuntungan 2-3 % / tahun (dan ini konon yagn bikin RI tidak punya kilang baru di mana modal terlalu besar dan untung tipis).

Wednesday, February 12, 2014

Indonesia May Replace F-5S With SU-35S

2
JAKARTA  : Indonesia’s defense authority is leaning toward a plan to purchase 16 of the latest generation of Russian twin-engine Sukhoi Su-35 multirole fighters to replace its F-5 Tigers.

The decision to purchase the Russian fighters came after a meeting between Defense Minister Purnomo Yusgiantoro and Indonesian military top brass, including Military Commander Gen. Moeldoko and Air Force Chief of Staff Marshal Ida Bagus Putu Dunia in mid-January.

Speaking to reporters, Yusgiantoro said they also considered other options to replace the aging Tigers beyond the Su-35 purchase.

Moeldoko said the Air Force will hold further evaluations of other fighters prior to making a final decision. Other fighters under evaluation are the Saab JAS 39 Gripen, Lockheed Martin F-16 Block 60, Boeing’s F-15 Silent Eagle and F/A-18 Super Hornet, and the Dassault Rafale.

Saturday, February 08, 2014

TNI AU: Pesawat Tempur Terbang Rendah di Batam Milik Australia


Jakarta   : Misteri pesawat tempur yang terbang rendah di di wilayah Sekupang, Batam, Provinsi Kepri, Jumat (7/2/2014), sekitar pukul 14.30 WIB, akhirnya terjawab.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU  Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto menyebutkan, bahwa pesawat itu milik Australia.
"Itu pesawat jenis F-18 Super Hornet, milik Ausralia dengan tujuan Singapura yang rencananya akan berpartisipasi dalam air show," kata Hadi saat dihubungi Tribunnews.com, Sabtu (8/2/2014).
Hadi menegaskan, bahwa pesawat buatan Amerika Serikat itu sudah memiliki flight clearance (izin terbang). Dirinya menyebutkan, alasan pesawat itu terbang rendah, lantaran akan mendarat di landasan udara Singapura yang tak jauh kawasan pelabuhan di Batam tersebut.

Thursday, February 06, 2014

TNI AU Persiapkan Skuadron Baru Indonesia Timur

 Biak : Mabes TNI Angkatan Udara (TNI AU) tengah mempersiapkan penambahan pesawat tempur untuk pendirian skuadron tempur di wilayah Indonesia Timur.

"Mabes TNI AU tahun ini akan melakukan pengadaan pesawat tempur, yang diprioritaskan untuk wilayah udara Timur Indonesia," ungkap Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia, di Biak, Rabu.

Ia mengatakan, rencana untuk membentuk skuadron pesawat tempur di Indonesia bagian Timur sudah masuk dalam grand desain Mabes TNI AU.

Hanya saja untuk merealisasikan pembentukan skuadron tempur baru, menurut Marsekal Putu Dunia, diperlukan kesiapan sarana prasarana, personel prajurit serta dukungan langsung kemampuan keuangan Negara.

Iran Memproduksi Jet Tempur Saeqeh Versi Baru

 Teheran : Iran telah memproduksi pesawat tempur jet generasi baru rancangan dalam negeri dan dikembangkan oleh para ahli lokal.
 

Generasi baru dari jet tempur Saeqeh (Petir) itu dilengkapi dengan dua kokpit terpisah, kata Wakil Komandan Angkatan Udara Iran, Brigadir Jenderal Alireza Barkhor pada hari Ahad (2/2).

 

Pesawat itu akan diresmikan dan dioperasikan dalam beberapa bulan mendatang, katanya.

 

Jet tempur ini mampu membawa dan menembakkan berbagai jenis roket, bom dan rudal, serta dilengkapi dengan sistem radar produksi dalam negeri.

Saturday, February 01, 2014

T-50i Golden Eagle Indonesia Ready to Rock and Roll

T-50i Golden Eagle
T-50i Golden Eagle
Sebanyak 16 pesawat T-50i Golden Eagle pesanan Pemerintah Indonesia telah berada di Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur,  setelah dua pesawat terakhir Sabtu (25/1/2014), tiba di Lanud Iswahjudi, diterima Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Yuyu Sutisna, S.E.
t-50-4
Kedatangan kedua pesawat terakhir merupakan pengiriman tahap akhir setelah secara bertahap ke-16 pesawat T-50i Golden Eagle, diterbangkan secara ferry dengan rute Sacheon Korea Selatan-Kaohsiung Taiwan -Cebu Philipina-Sepinggan Balikpapan Kaltim-Iswahjudi Air Force Base, oleh Penerbang Korean Aerospace Industries (KAI) ke Indonesia, mulai September 2013.
t-50-6

9 Pesawat Tempur China dalam Satu Gambar

http://www.artileri.org/2014/02/9-pesawat-tempur-china-dalam-satu-gambar.html
Bahkan seandainya gambar ini ditampilkan tanpa keterangan pun, gambar ini tetap menarik. Ini adalah gambar beberapa pesawat tempur buatan China. Seandainya sobat bertanya soal ukuran J-10 dibandingkan dengan J-8II, gambar ini akan memberikan jawaban.
Sejak gambar ini dipublikasikan di situs-situs China, tidak diketahui kapan gambar ini diambil dan juga tidak bisa dipastikan apakah gambar ini asli atau hanya hasil photoshop.

Wednesday, January 29, 2014

Pesawat Su 35 Tergantung Kemenhan

http://static1.businessinsider.com/image/51f180fe69bedd213f000022-1200/the-su-35-is-produced-by-russian-aerospace-company-sukhoi.jpgJakarta : TNI mengusulkan pesawat tempur Sukhoi (SU)-35 menjadi generasi pengganti F-5 Tiger. Namun, perlu ada proses kajian lebih lanjut soal kecocokan dan risiko penggunaan teknologi canggih tersebut.

Panglima TNI Jendral TNI Moeldoko mengatakan, generasi SU-35 memang menjadi tipe pilihan pengganti pesawat lama. Namun sejumlah prosedur teknis memang harus dilalui. TNI sudah menerima hasil kajian AU, tinggal memproses pertimbangan kemenhan.

"Memang kajian secara bottom up mulai dari TNI AU, Mabes baru ke kemenhan. Sekarang tinggal bagaimana kementerian mempertimbangkan risiko penggunaan teknologi canggih itu." kata Moeldoko di Jakarta, Selasa (28/1).

Fighter SU 35 Game Changer Indonesia


Sukhoi SU 34 Rusia JKGR : Salah satu kandidat pengganti pesawat tempur F 5 Tiger Indonesia adalah Sukhoi SU 35. Panglima TNI Jenderal Moeldoko, dalam beberapa kesempatan, mengatakan tentang ketertarikan TNI terhadap pesawat tempur Su 35.  
Gayung bersambut, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Ida Bagus Putu Dunia juga mengatakan,  Sukhoi SU 35 menempati prioritas pertama dari empat kandidat pesawat tempur pengganti F 5 Tiger, yang akan dipensiunkan.

Keberadaan fighter semacam Su-35 sangat penting untuk mengawal Kapal Selam Kilo, Amur yang akan dibeli oleh TNI. Pasalnya, sekalinya kapal selam ini menembakkan missile Klub-S, pesawat pencari kapal selam akan dengan mudah melacak lokasi asal-usul rudal itu ditembakkan. Apalagi, MQ-4C Triton, versi naval dari RQ-4 Global Hawk yang akan dimiliki Australia, sanggup terbang sehari lebih (30 jam). 
Cukup efektif meronda laut. Siapa tahu tiba-tiba muncul Klub-S dari tengah lautan, Triton akan bisa menganalisis asal-usulnya. Triton kemudian melapor ke pesawat MPA (P8 Poseidon, dan lain-lain) dan kapal perang, akhirnya bisa dengan cepat menemukan keberadaan kapal selam dan menghancurkannya.

Monday, January 27, 2014

TNI Angkatan Udara Pilih Sukhoi Gantikan F-5 Tiger



TNI Angkatan Udara Pilih Sukhoi Gantikan F-5 Tiger
Pesawat tempur Sukhoi Su-35 fighter dengan mesin jet terbaru mengangkasa di bandara Le Bourget, menjelang pembukaan pameran dirgantara Paris Air Show ke-50, di Perancis (15/6). REUTERS/Pascal Rossignol
TEMPO.CO, Jakarta - Pesawat tempur F-5 Tiger milik TNI Angkatan Udara akan memasuki masa pensiun dan segera dikandangkan tahun ini. Meski begitu, TNI Angkatan Udara maupun Kementerian Pertahanan belum memutuskan pesawat pengganti Tiger. Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Ida Bagus Putu Dunia mengatakan baru membuat kajian soal opsi-opsi pesawat pengganti.

"Kajian tersebut sudah saya kirim ke Menteri Pertahanan dan Markas Besar TNI. Nanti akan diputuskan di sana," kata Putu Dunia kepada wartawan di Markas Besar TNI Angkatan Udara, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, 27 Januari 2014.

Dalam kajian tersebut, TNI Angkatan Udara merekomendasikan sejumlah pesawat tempur canggih pengganti F-5 Tiger. Antara lain pesawat tempur Sukhoi SU-35 buatan Rusia, F-16 Fighting Falcon di atas blok 24 buatan Amerika Serikat, F-15 Strike Eagle buatan Amerika Serikat, atau SAAB Gripen buatan Swedia.

TNI Angkatan Udara juga membuat peringkat dari pesawat-pesawat tersebut sesuai kebutuhan mereka. Pada urutan pertama adalah Sukhoi SU-35, disusul SAAB Gripen, dan terakhir adalah F-15 Strike Eagle. Dengan kata lain, pesawat tempur bikinan Rusia menjadi pilihan utama pengganti F-5 Tiger.

Thursday, January 16, 2014

Patent analysis shows how PAK-FA differs from F-22 in air combat philosophy

The designers at Sukhoi have opted for a blend of stealth and super maneuverability, rather than going for a totally invisible aircraft.



The PAK-FA patent document published by Russia’s Federal Service for Intellectual Property shows the fifth generation stealth aircraft’s design is heavily influenced by low radar visibility requirements. At the same time, the Russians are prepared to sacrifice some stealth in their quest for super maneuverability and excellent flight characteristics.

The aim of the invention, say the patent papers, is to provide an aircraft having low radar visibility, super maneuverability at high angles of attack (close to an astounding 90 degrees), and simultaneously preserving high aerodynamic efficiency at subsonic speeds.

Creating an aircraft that is capable of performing tasks in a wide range of altitudes and flight speeds and also has a low radar signature is a technical challenge, the Russians admit. “All these requirements are contradictory, and the creation of an airplane that meets these requirements represents a

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...