Friday, October 05, 2012

PT. DI SERAHKAN DUA PESAWAT CN-295 KE TNI




:PT Dirgantara Indonesia menyerahkan pesawat angkut CN-295 ke Kementerian Pertahanan yang selanjutnya akan diserahkan kepada Mabes TNI. Pesawat CN 295 ini akan menggantikan peran Fokker 27 yang akan dipensiunkan.

"Ini Pesawat penumpang terbaru yang dibeli dari PT DI, untuk menggantikan peran Fokker 27 yang pemakaiannya akan dihentikan secara permanen," ujar Kadispen TNI Angkatan Udara Azman Yunus ketika berbincang dengan VIVAnews di Lanud Halim Perdanakusama, Kamis 4 Oktober 2012.

Pesawat penumpang hasil kerjasama PT DI dan Airbus Military, Spanyol ini dibeli oleh kementerian pertahanan RI sebanyak 9 unit. Saat ini baru dua pesawat yang didatangkan dan sudah berada di Lanud Halim. "Kemhan membeli 9 unit, saat ini baru sampai dua unit dan akan datang secara bertahap sampai 2014 nanti," ujarnya.

Pesawat CN295 ini menurut Azamn mempunyai beberapa kelebihan dibanding pesawat Fokker 27 yang sebelumnya digunakan oleh TNI AU. Di antaranya adalah daya angkut pesawat CN295 lebih besar dibanding dengan Fokker 27. 

  
"Terbang lebih bagus, daya angkut jelas lebih banyak, pesawat ini dapat mengangkut 49 penerjun, dan untuk personal 71 penumpang," ujar Azman. "Prinsipnya, pesawat baru harus mampu bekerja lebih baik dari yang lama"

Ia juga mengatakan, dilihat dari spesifikasinya pesawat ini juga jauh lebih unggul dari pesawat Fokker 27. "Kecepatan pesawat ini 400 km per jam dan maksimum daya angkutnya 9 ton lebih," katanya.

Ia mengatakan, nantinya pesawat  akan digunakan sebagai pesawat angkut untuk mendukung kegiatan operasional TNI. "Ini sangat cocok untuk kegiatan operasi seperti membawa bantuan ketika bencana, pertahanan dan mengangkut logistik," ujarnya.




Sumber : Vivanews

DPR DISARANKAN PELAJARI SISTEM KEANTARIKSAAN INDIA DAN IRAN




Ahli sistem satelit Arifin Nugroho merekomendasikan anggota Komisi VII DPR untuk belajar dari sistem keantariksaan India dan Iran. Kedua negara ini memiliki pola pikir dan karakteristik yang sama dengan Indonesia.

"Kalau mau mencontoh, kepada negara yang memiliki mindset yang hampir sama dengan kita, demografinya hampir sama, kulturnya hampir sama. Negara yang patut untuk dilihat adalah India dan Iran," kata Arifin saat menjadi narasumber RUU Keantariksaan di Komisi VII, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (3/10).

Kedua negara itu, kata Arifin, sudah berhasil meluncurkan satelit pada orbitnya dan dua-duanya sudah memiliki produk misil untuk security.

Kata mantan ketua Asosiasi Satelit Indonesia ini, keantariksaan jangan diposisikan sebagai proyek mercusuar. Keantariksaan harus didudukkan dalam konteks kesadaran bahwa ruang (space) adalah sebagai geopolitik baru.

"Penguasaan space itu adalah penguasaan suatu resources yang akan membawa suatu tingkat atau kesenioran sebuah bangsa. Itu adalah martabat bangsa," katanya.

"Alangkah indahnya bila bangsa ini sudah beranjak pada penguasaan geopolitik baru ini. Untung ruginya barangkali tak harus menjadi penghalang tetapi kedepankanlah martabat bangsa ini," ujarnya.

"RUU Keantariksaan adalah inisiatif pemerintah dengan inisiatornya, LAPAN. Namun menjadi perdebatan, apakah nantinya otoritas Keantariksaan itu cukup dipegang lembaga khusus atau cukup hanya LAPAN," tambahnya.



Sumber : Jurnamen

BERITA FOTO : MISTRAL TIBA ASTROS PERSIAPAN AKHIR




 Berbagai Alutsista kembali berdatangan untuk memeriahkan peringatan HUT TNI ke 67 di Bandara Halim Perdana Kusumah Jakarta. Setelah peluncur roket multi laras ASTROS, rudal pertahanan udara Mistral juga telah tiba. Rudal Mistral ini dikombinasikan dengan Rantis 4X4 buatan Pindad yang biasa disebut Komodo. 

Namun demikian, belum ada nama resmi alutsista baru ini. Untuk sementara, kami menyebutnya Mistral Komodo. Mistral Komodo ini sendiri sebenarnya tiba di Bandara Halim pada rabu malam kemarin, langsung dari pabrik PT.Pindad di Bandung Jawa Barat. Rencananya, TNI AD memesan sebanyak 56 Unit Mistral Komodo.

 

 

Setelah mengalami keterlambatan, alutsista peluncur roket multi laras (MLRS) terbaru milik TNI-AD, ASTROS akhirnya tiba di tanah air. Peluncur roket buatan Brazil ini tiba semalam dan langsung dibawa menuju kawasan Bandara Halim Perdana Kusumah Jakarta. Rencananya ASTROS akan tampil dalam HUT TNI ke 67 serta Pameran Alutsista di Monas tanggal 6-8 Oktober nanti

 


Sementara itu, MLRS ASTROS juga pada rabu siang ini tengah dipersiapkan. Sejumlah teknisi tampak sibuk menyingkap selubung yang menutupi roket. Dan sungguh sangar penampakan 4 buah roket ASTROS ini. Di masa mendatang, TNI AD akan membeli 2 Batalyon MLRS asal Brasil ini.

 

 





Sumber : ARC 

HEAD TO HEAD APACHE VS SUPER COBRA




Kini, Kementerian Pertahanan tengah menimbang-nimbang helikopter serang mana yang sebaiknya dipilih? AH-64 Apache, UH-1Z Super Cobra atau UH-60 Blackhawk. Percaya atau tidak, skenario menimbang-nimbang ini juga dilakukan Marinir AS – penggunan utama heli ini di AS yang sadar akan keterbatasan anggaran. Dan, pilihan ternyata jatuh pada AH-1Z. Kenapa? Bukan saja, karena harganya lebih murah, tapi ada sejumlah pertimbangan teknis sehingga mereka memilih Super Cobra.

Meski helikopter ini akan dibeli untuk memperkuat Penerbad, Pemerintah RI seyogyanya menyimak pula pertimbangan Marinir AS. Alasannya ternyata simpel saja. Di antaranya, pertama, yakni bahwa Super Cobra mudah diterbangkan. Bagi Marinir AS ini sangat penting untuk melatih para penerbangnya. Mantan penerbang heli CH-46 Sea Knight  AS mengaku cukup melakukan familiarisasi 45 menit untuk bisa menerbangkan heli yang ukurannya lebih mungil dari Apache ini. Oleh karena bodinya yang mungil ini pula, sang heli mudah diangkut kemana-mana dengan kapal perang atau pesawat angkut.

Kelebihan kedua, oleh karena bodinya lebih kecil dari Apache dan lajunya lebih lincah, musuh diyakini pula lebih sulit memburu Super Cobra. Pertimbangan ini amat krusial khususnya setelah menyimak pengalaman tempur di Irak. Membidik Super Cobra pada kenyataannya memang jauh lebih sulit ketimbang membidik Apache. Begitu pun, sejumlah Apache yang jatuh di Irak dikatakan bukan oleh karena badannya yang relatif besar, tapi lebih karena suaranya yang sudah amat dikenali pejuang Irak. Di Irak, Apache adalah sasaran berharga bagi para pejuang penyandang RPG (Rocket Propelled Grenade), sehingga mereka dilatih untuk mengenali suaranya dari jauh.

Di Irak, Apache toh merupakan andalan AD AS untuk menghajar tank-tank Irak. Begitu pun, kemampuan ini muncul bukan karena kelincahannya, tetapi oleh karena dia memiliki rudal antitank Hellfire yang bisa ditembakkan dari jarak jauh. Tapi kalau untuk pertempuran jarak dekat, kebanyakan tentara AS mengaku lebih menyukai Super Cobra. Itu sebab Super Cobra kerap disebut sebagai rajanya pertempuran jarak dekat. Kabarnya, jika saat ini harga Apache sudah melambung jadi 35-40 juta dollar per unit, Super Cobra masih di sekitar angka 15-20 juta dollar.

Super Cobra adalah varian atau revisi perbaikan dari Cobra. Revisi dilakukan setelah AD AS menemukan berbagai kekurangan Cobra di medan pertempuran di Asia. Super Cobra memiliki jangkauan tempur tiga kali lebih jauh dan mampu mengangkut persenjataan dua kali lebih banyak dari Cobra. Heli serang berkursi dua ini adalah buatan Bell Textron. Versi pertamanya, AH-1W, dengan baling-baling berbilah dua, diproduksi tahun 1986. Pada tahun 2000, Bell Textron merevisinya menjadi AH-1Z yang jauh lebih powerfull, baling-baling berbilah empat, dengan sistem pembidikan target yang lebih canggih.

Lalu bagaimana dengan UH-60 Blackhawk. Dibanding Apache dan Super Cobra, heli ini tentu jauh lebih “lembut”. Itu karena pada dasarnya Blackhawk lebih dirancang untuk angkut pasukan. Dia memang bisa diperlengkapi persenjataan untuk serang darat, tapi bodinya yang besar akan menyulitkan dirinya melakukan manuver serangan itu di udara.


Jadi baiknya, pilih yang mana ya?



Sumber : ARC

BERITA FOTO : ACARA PUNCAK HUT TNI KE 67




 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku inspektur upacara melakukan pemeriksaan pasukan pada acara HUT TNI ke-67 di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (5/10/2012). Peringatan HUT TNI tersebut bertema "Dilandasi Profesionalisme, Semangat Juang dan Soliditas TNI Bersama Segenap Komponen Bangsa Siap Menjaga Kedaulatan dan Keutuhan Wilayah.

 

 


Prajurit TNI saat upacara HUT TNI ke-67 di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (5/10/2012). Peringatan HUT TNI tersebut bertema "Dilandasi Profesionalisme, Semangat Juang dan Soliditas TNI Bersama Segenap Komponen Bangsa Siap Menjaga Kedaulatan dan Keutuhan Wilayah."
 
 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku inspektur upacara melakukan pemeriksaan pasukan pada acara HUT TNI ke-67 di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (5/10/2012). Peringatan HUT TNI tersebut bertema "Dilandasi Profesionalisme, Semangat Juang dan Soliditas TNI Bersama Segenap Komponen Bangsa Siap Menjaga Kedaulatan dan Keutuhan Wilayah."

 

 
Prajurit TNI saat upacara HUT TNI ke-67 di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (5/10/2012). Peringatan HUT TNI tersebut bertema "Dilandasi Profesionalisme, Semangat Juang dan Soliditas TNI Bersama Segenap Komponen Bangsa Siap Menjaga Kedaulatan dan Keutuhan Wilayah."
 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku inspektur upacara melakukan pemeriksaan pasukan pada acara HUT TNI ke-67 di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (5/10/2012). Peringatan HUT TNI tersebut bertema "Dilandasi Profesionalisme, Semangat Juang dan Soliditas TNI Bersama Segenap Komponen Bangsa Siap Menjaga Kedaulatan dan Keutuhan Wilayah."
 


 
 
 
Sumber : Okezone

TIGA AGENDA BESAR TNI




 :Tentara Nasional Indonesia harus memastikan tiga agenda besar perbaikan institusi berjalan dengan baik hingga tercapai sesuai target. Sebab, kuatnya TNI di masa depan dapat menaikkan posisi dan peran Indonesia di internasional. 

Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq mengatakan, tiga agenda besar yang harus dihadapi TNI adalah :

Pertama

Memastikan modernisasi alutsista berjalan lancar dan tepat hingga tercapai kekuatan standar minimal pada 2025. Jika tercapai, TNI dapat menjaga NKRI. 

Kedua

Peningkatan standar profesionalisme dan kesejahteraan prajurit. Sebelumnya, pemerintah berencana menaikkan gaji anggota TNI dan Polri sebesar 7 persen tahun 2013 . Alokasi anggaran masih dibicarakan dengan Komisi I. 

Ketiga

TNI harus menjadi motor pengembangan dan pemberdayaan industri pertahanan nasional. 

"Komisi I mendukung penuh tiga agenda ini melalui Panja Alutsisa, Panja Kesejahteraan dan Saspras TNI, dan melahirkan UU Industri Pertahanan," kata Mahfudz di Jakarta menyikapi HUT Ke-67 TNI, Jumat (5/10/2012). 

Mahfudz menilai kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono sudah memberi perhatian yang besar terhadap sektor pertahanan. Politisi Partai Keadilan Sejahtera itu berharap kebijakan tersebut dilanjutkan setelah pemerintahan berganti pada 2014. 

Seperti diberitakan, TNI telah dan berencana membeli sejumlah alutsista untuk memperkuat jajarannya. Terakhir, TNI Angkatan Darat akan membeli helikopter serang. Tiga Helikopter yang masih dipertimbangkan adalah Apache, Super Cobra, atau Black Hawk. 

Sejumlah alutsista TNI AD juga akan dipamerkan kepada masyarakat di lapangan Monas. Beberapa alutsista baru yang akan dipamerkan adalah roket multiple launch rocket system (MLRS) Astros dari Brasil dan meriam 155 mm Caesar buatan Perancis. Adapula tank Scorpion, AMX-13, panser VAB NG buatan Pindad, panser V 150 dan panser Anoa.



Sumber : Kompas

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...