Thursday, April 11, 2013

Ujian bagi Pasukan Baret Merah

1365649197820041935
red-beret.forumotion.com
Baru baru ini di Facebook telah muncul sebuah aksi 1 juta dukungan bua Kopassus terkait kasus penyerangan LP Cebongan Maret lalu, banyak pro kontra terjadi antara yang mendukung tindakan pasukan ini demi memberikan shock terapi bagi para pelaku premanisme dan memberikan rasa aman bagi masyarakat serta yang menyesalkan tindakan Baret merah yang tidak mengindahkan sisi kemanusiaan dan hukum. Kasus Cebongan terus bergulir tanpa akhir yang pasti, meski tim penyedik gabungan dari TNI AD sudah memberikan pernyataan siapa pelaku dan motif pembunuhan, namun seperti tak bisa di bendung kasus ini mulai memasuki ranah politik dan yang lebih tinggi lagi tercium aroma Konspirasi.

Inilah Ungkapan Kekecewaan Prajurit Kopassus

136548248921659917
Tentara dalam HUT Kemerdekaan RI di Semarang (foto dindin)
Sejak kasus perseteruan polisi dan tentara merebak di media, saya mengamati beberapa teman yang berprofesi sebagai tentara dan polisi. Kebetulan memang dil lingkungan saya tinggal, kebanyakan berprofesi sebagai tentara dan polisi.
Hampir sebagian besar polisi  yang saya temui mengungkapkan analisis yang sama, santun, dan cenderung persuasif : ciri khas orang sipil. Berbeda dengan rekan-rekan dari TNI yang cenderung agresif dan meledak-ledak  Bahkan karena saking jengkelnya,  ada beberapa   unek-uneknya yang  tertumpah dalam status facebook.

Pabrik Kapal Selam Ditargetkan Direalisasikan Paling Lambat 2017


KRI Cakra salah satu dari dua kapal selam TNI AL.

10 April 2013, Jakarta: Pembangunan pabrik modern untuk pembuatan kapal selam TNI Angkatan Laut di Indonesia ditargetkan dapat direalisasikan tahun 2016 atau 2017. Sebab, kapal selam pertama yang dibuat oleh Korea Selatan baru selesai tahun 2014.

"Pembangunan pabrik semua tergantung komitmen pemerintah. Pemerintah mutlak menyokong pendanaannya. Tanpa itu saya kira sangat sulit pembangunan kapal selam bisa direalisasikan di Indonesia," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Suropati di sela seminar tentang "Teknologi Perkapalan sebagai Bagian dari Peradaban Maritim Indonesia", di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Rabu.

Wednesday, April 10, 2013

Mengenal Oto Melara 76 mm, naval gun TNI AL


KRI Karel Satsuit Tubun 356 - salah satu fregat kelas Van Spijk TNI-AL yang dibekali meriam Oto Melara

Meriam Oto Melara 76 mm terhitung sebagai meriam yang banyak di gunakan sebagai meriam utama di berbagai jenis pada kapal perang, meriam yang di produksi oleh perusahaan Otobreda Italia ini walaupun mempunyai kaliber yang tidak begitu besar namun bisa diandalkan, sehingga banyak dipercaya oleh produsen kapal perang di dunia untuk di pasang di atas kapal perang produksi mereka, mulai dari jenis kapal patroli, korvet hingga fregat.

Phalanx CIWS

   Senjata Close In Weapon System ini dikembangkan dari konsep pertahanan kapal yang dulu menggunakan AAA gun yang digunakan untuk menangkal serangan udara dari musuh, akan tetapi karena terus berkembangnya teknologi persenjataan terutama dari rudal, dalam teknologi pertahanan sekarang, rudal sudah bisa menenggelamkan sebuah kapal, ini terbukti ketika mesir dengan kapal cepatnya menenggelamkan sebuah kapal israel dalam perang melawan mesir, oleh karena itulah dibutuhkan sebuah senjata yang mampu menangkal serangan dari rudal tersebut, angin segar datang ketika M61 diproduksi, awalnya M61 digunakan hanya untuk persenjataan pesawat saja akan tetapi pada dekade'70-an senjata ini dikembangkan untuk melindungi kapal dari serangan rudal.dan akhirnya berhasil, lalu muncul-lah konsep CIWS sebagai bagian dari perlindungan kapal, senjata ini juga dapat dimasukkan ke dalam sistem AEGIS untuk sistem komputer misil. senjata ini mempunyai tinggi 4.7m dan berat 5.700 kg, dengan kecepatan tembak 2.000 peluru/menit, senjata ini mampu berelevasi dari  - 25 derajat - +85 derajat. kapasitas peluru di senjata ini sampai 1.550 peluru, senjata ini dilengkapi dengan radar ku band untuk mendeteksi arah datangnya serangan rudal musuh. senjata ini mulai terkenal sejak perang teluk dimulai sebagai senjata pelindung kapal, pada tahun 1996, pada saat latihan bersama antara JMSDF dan USN, senjata CIWS dari salah satu kapal destroyer jepang menembak jatuh sebuah pesawat A-6 Intruder, kemungkinan disebabkan oleh human eror 

Indonesia Sambut Positif “Pesan Perdamaian” China





Indonesia menyambut positif “pesan perdamaian” dari China yang mengajak seluruh negara Asia bekerja sama, memelihara serta membangun stabilitas keamanan dan kemakmuran regional dan global
"Apa yang disampaikan Presiden Xi Jinping pada Boao Forum 2013, patut kita sambut positif dengan ikut aktif dalam memperkuat arsitektur kawasan yang bertumpu pada ASEAN+1 dan ASEAN+3," kata Duta Besar Indonesia untuk China merangkap Mongolia Imron Cotan di Beijing, Senin (8/4).
Dubes Imron yang hadir mewakili Indonesia dalam Boao Forum for Asia 2013, mengatakan dalam pidato pembukaannya Presiden Xi menekankan tiga prinsip utama untuk mengatasi perbedaan pilihan politik, yaitu diskusi, konsultasi dan negosiasi damai.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...