Wednesday, November 14, 2012

Lanal Batam Tempatkan Integrated Maritime Surveillance System (IMSS) dari Sabang Hingga Batam



Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Batam mengakui penempatan 12 unit radar sistem pengawasan maritim atau Integrated Maritime Surveillance System (IMSS) buatan Amerika Serikat dari Sabang hingga Batam, Kepulauan Riau, sangat efektif untuk mengamankan kawasan perairan Selat Malaka.

Lanal Batam Tempatkan Integrated Maritime Surveillance System (IMSS) dari Sabang Hingga Batam
Pemantauan situasi perairan wilayah dengan IMSS
(Foto: Infoglobal
/tendef)


"Pengawasan bisa memantau hal terkecil yang berada di kapal. Radar ini terintegrasi ke gugus keamanan laut (Guskamla), dimana bisa melihat seluruh kapal yang melintas di Selat Malaka," kata Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Batam, Kolonel Laut Nurhidayat, saat menerima rombongan wartawan dan Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan (Kemhan), di Lanal Batam, Kepulauan Riau, Selasa (9/10).


Kata dia, penggunaan radar sistem pengawasan maritim tersebut dioperasikan hanya pada malam hari karena pada siang hari kapal-kapal yang melintas masih dapat dipantau oleh patroli keamanan laut (Patkamla). "Malam hari itu kan yang susah memantau sebetulnya. Sebelum ada radar itu, kita kesulitan memantau kapal-kapal yang melintas. Apalagi kapal yang bergerak dalam kecepatan rendah di malam hari, semakin sulit untuk dideteksi. Nah dengan adanya keberadaan IMMS itu kita bisa memantau kapal-kapal meski dari jarak kejauhan dan suasana gelap," ujarnya.

Ia menambahkan, radar tersebut akan menjadi sangat efektif membantu pengawasan laut mengingat jumlah personel yang ada di Lanal Batam kurang memadai. "Jumlah personel yang ada hanya 143 orang, padahal seharusnya jumlah personelnya mencapai 256 orang," katanya.

Tak hanya itu, lanjut dia jumlah kapal yang dimiliki oleh Lanal Batam hanya 12 unit, dari 18 unit yang dibutuhkan di tiap tiap pos penjagaan, sehingga dengan adanya Radar tersebut sangat membantu pemantauan. 


Sumber : Tendef

Indonesia Harus Miliki Kekuatan Udara Besar dan Handal



UNTUK melindungi seluruh wilayah Indonesia menuntut tersedianya kekuatan yang cukup besar dan handal, namun disisi kemampuan pemerintah serta prioritas pembangunan nasional belum memungkinkan untuk menyediakan tambahan anggaran.  
Indonesia Harus Miliki Kekuatan Udara Besar dan Handal

Hal tersebut dikatakan Komandan Skadron Udara 45 Lanud Halim Perdanakusuma Letkol Pnb Muzafar, S. Sos.,MM. pada acara HUT ke-1 Skadron Udara 45 lanud Halim Perdanakusuma baru-baru ini dalam suatu upacara militer di Hanggar Skadron Udara 45, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (13/11/2012).

Lebih lanjut dikatakan, dalam kenyataannya harus kita hayati secara sungguh-sungguh dan oleh karenanya program pembinaan dan pembangunan TNI AU akan terus dilanjutkan sesuai kemampuan, dengan tetap harus diupayakan agar dengan kekuatan yang terbatas dapat dihasilkan kesiapan operasional yang optimal.


Untuk itulah HUT Skadron Udara 45 kali ini hendaknya tidak hanya sekedar diperingati sebagai suatu tonggak sejarah, namun kita dapat menemukan makna dan hikmahnya yang selanjutnya akan melandasi kiprah pengabdian Skadron Udara 45 dalam menghadapi tugas-tugas dimasa depan.

Upacara tersebut diikuti seluruh anggota Skadron Udara 45 dan sebagai acara tambahan diresmikan Mushalla Skadron Udara 45 yang ditandai dengan pemotongan pita.

Keterangan gambar: Komandan Skadron Udara 45 Letkol Pnb Muzafar, S. Sos.,MM. Saat memberikan piagam penghargaan kepada prajurit yang berprestasi pada HUT Skadron Udara 45 yang ke-1 di hangar Skadron Udara 45 Lanud Halim, Jakarta.


Sumber : Angkasa

Masih Pentingkah Peran AWACS Untuk Perang Udara Masa Kini?



Masih Pentingkah Peran AWACS Untuk Perang Udara Masa Kini?
 Apakah perang udara masa depan yang melibatkan pesawat generasi ke-5 seperti F-22 dan F-35 masih memerlukan kehadiran AWACS (radar terbang)?
foto : angkasa.co.id

Dari berbagai sumber USAF diketahui bahwa dengan kecanggihan pesawat generasi kelima maka kebutuhan akan AWACS (Airborne Warning and Control System) lebih kecil. Apalagi sistem perang udara lawan juga dirancang untuk menghancurkan radar terbang lawan. Dalam latihan perang di Nellis AFB yang berlokasi di atas gurun Nevada ditemukan fakta bahwa pesawat AWACS yang ditempatkan ratusan mil di belakang garis pertempuran tidak bisa memberikan gambaran menyeluruh tentang ancaman pesawat lawan sebaik gambaran ancaman udara yang dihasilkan dari sensor pesawat F-22.

Bertempur dengan pesawat generasi keempat masih sangat membutuhkan kehadiran pesawat AWACS untuk mendapatkan informasi “Situation Awareness” (Kewaspadaan Situasi) di atas medan perang. Namun dengan kemajuan sensor pesawat generasi kelima seperti F-22 dan F-35 maka kebutuhan bantuan informasi tersebut sangat berkurang. Memang kehadiran AWACS masih tetap membantu meningkatkan kewaspadaan, namun dalam situasi dimana sistem lawan juga bertambah canggih maka AWACS terkadang tidak bisa tersedia karena terlalu berisiko.


Perbedaan antara bertempur dengan pesawat tempur generasi keempat dengan generasi kelima cukup signifikan. Perbedaan utama adalah pesawat tempur generasi keempat menggunakan sensor yang bermain pada spektrum RF yang berbeda. Penerbang harus berkomunikasi dengan kata (verbal) lewat radio untuk membangun gambaran tiga dimensi tentang situasi di depan pesawat. Selanjutnya penerbang membagi tanggung jawab pada ruang udara tertentu untuk menyaring lawan dan membagi tanggung jawab. Budaya kerja sama dan komunikasi di antara penerbang dan pengendali radar terbentuk disini.

Pesawat generasi keempat memiliki sensor radar warning receiver, jammer, komunikasi data, dan berbagai peralatan independen yang harus dikelola dengan baik dalam sebuah konsep sistem operasi yang membutuhkan kemampuan manajemen tempur penerbang.

Dengan pesawat generasi kelima, penggunaan radar aktif (AESA) dan berbagai sistem independen tersebut sudah menggabungkan semua data situasi udara dalam layar glass cockpit yang mudah dibaca. Penerbang tidak usah terlalu repot dengan manajemen sistem pesawat yang rumit, sistem pesawat sudah membantu menyajikan dalam data yang mudah digunakan.

Pesawat generasi kelima akan menyajikan informasi lengkap tentang kawan dan lawan layaknya tayangan “battle manager” dalam pesawat AWACS dari semua sensor yang ada dalam pesawat, dari pesawat kawan, dari radar bawah, dari radar terbang, dari satelit, dari kapal angkatan laut, dari pasukan darat, dan dari UAV (pesawat nirawak). Penerbang bisa mengatur ritme operasi dengan data yang dibutuhkan sesuai kebutuhan operasi. 
(Baca tulisan lengkapnya dalam Angkasa edisi November 2012)


Sumber : Angkasa

KAI seeks to enhance Indonesian relationship through KT-1, T-50 collaboration

Helicopter Utility Surion
Korea Aerospace Industries (KAI) intends to build its presence in Indonesia through collaboration with local industry following deals to export KT-1 basic trainers and T-50 advanced trainer jets to the Southeast Asian country.

Noh Sun-park, KAI senior executive vice-president, told IHS Jane's on 9 November at the Indo Defence Expo & Forum in Jakarta that the company sees opportunities in Indonesia to export its Surion utility helicopter and to collaborate further on the co-development of the proposed next-generation KF-X fighter aircraft.

These projects are linked to the industrial collaboration programme that developed between KAI and state-owned PT Dirgantara Indonesia (PTDI) on the production of 17 KT-1 aircraft and the co-operation that is being finalised in relation to the production of the 16 T-50 aircraft that Indonesia ordered in 2011.

"We want to expand our footprint in Indonesia but at the moment the scale is too small and economically it is not yet worthwhile," Noh said. "We have proposed to PTDI that they re-assemble the T-50 here in Indonesia and undertake some other production activities: this is similar to the KT-1 programme. However, the workshare programme on the T-50 is not yet finalised and we are talking this through."

RI - Singapura Berencana Produksi Alutsista Bersama RWS

PRODUKSI dan pengembangan perangkat militer terus dilakukan Indonesia, baik secara mandiri maupun kerjasama. Ini diantaranya dilakukan dengan Singapura melalui PT Pindad, Bandung dan Singapore Technologies Kinetics Ltd (ST Kinetics) Singapura, mengembangkan kerjasama produksi perangkat pembidik dan perlindungan individu penembak untuk kendaraan lapis baja atau tank bernama Terrex RSTA.

Perangkat semacam Terrex RSTA adalah sistem pendukung yang dilengkapi perangkat elektronik, baik untuk mengintip maupun memperjelas sasaran serta situasi sekitar. Prajurit tak perlu keluar dari panser untuk menembak, cukup menembak dari dalam ruangan kendali kendaraan tempur lapis baja atau truk.

Ini membuat keamanan personel terlindungi dari risiko serangan musuhnya, dan penglihatan sasaran cukup dilihat dari tampilan layar monitor. Perangkat seperti yang dipasang pada sejumlah kendaraan tempur marinir Amerika.

Menurut seorang pimpinan ST Kinetics, Lim Miah Wee, didampingi Predir PT Inter Korana Inti Adi Sunaryo, selaku mitra, di sela-sela Pameran Industri Pertahanan Indo Defense, di Jakarta, Kamis (8/11) lalu, rencananya Terrex RSTA akan di coba dipasangkan pada panser buatan PT Pindad, pekan ini. Ini sebagai optimalisasi sistem penembakan sekaligus pengamanan individual pada kendaraan lapis baja 6x6 Anoa, produksi PT Pindad.

Terrex RSTA yang digunakan memang pas ukurannya untuk melengkapi senapan mesin berat (SMB) kaliber 12,7 mm x 99 (.50 Browning) produksi PT Pindad yang mengikuti model ST Kinetics, yaitu CIS 50 MG. Panser 6x6 Anoa produksi PT Pindad tengah diuji apakah dapat dioptimalkan dengan dilengkapi perangkat Terrex RSTA tersebut.

Humas PT Pindad, Tuning Rudiyat yang dikonfirmasi, Minggu (11/11), belum memberikan keterangan.

Sumber Pikiran Rakyat

Indonesia pays upfront costs for 16 T-50 jet trainers


693827 기사의  이미지

Indonesia has finally implemented its $ 400 million deal to buy 16 units of T-50 Golden Eagle advanced jet trainers from Korea Aerospace Industries (KAI) by paying part of the contract, Korea Aerospace Industries (KAI) said Wednesday.

The deal marks the type’s first export sale to overseas but the payment had been delayed, said the Korean aerospace company.



Indonesia paid an upfront cost of $ 60 million, 15 percent of the total contract for the jet trainers.

The Indonesian Defense Ministry signed the deal with KAI one year and six months ago. KAI will deliver the trainers to the country’s air force as the contract stipulates that the aircraft must be delivered 18 months after the contract went in effect.

The aircraft will be delivered more than four months ahead of schedule. KAI already began production of T-50i, the Indonesian variance of T-50, a KAI official said.

© News.mk.co.kr

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...