Showing posts with label brasil. Show all posts
Showing posts with label brasil. Show all posts

Monday, February 18, 2013

Brasil Beli Sistem Pertahanan Udara Terbaik Rusia

Igla
Sistem pertahanan udara portabel Igla (Foto:en.valka.cz)
Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Brasil, Jenderal Jose Carlos de Nardi, mengungkapkan bahwa Brasil akan membeli sistem pertahanan udara portabel Igla (Needle) dan sistem pertahanan udara Panzer-C1 dari Rusia. Tidak hanya itu, Brasil juga akan memperoleh transfer teknologi dan hak untuk membangun pabrik perakitannya di negara mereka sendiri. Hal ini sangat memungkinkan, bahwa Federasi Rusia akan ambil bagian dalam skema organisasi baru yang fundamental untuk sistem pertahanan udara Brasil.
Presiden Vladimir Putin mengatakan pada pertemuan komisi untuk kerjasama militer-teknis Rusia, yang diselenggarakan pada bulan Desember 2012, bahwa salah satu acuan penting untuk meningkatkan ekspor senjata Rusia adalah melalui penelitian bersama, pengembangan dan produksi produk militer. Dia juga mengatakan bahwa perhatian khusus akan ditujukan pada kerjasama dengan negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India dan China).

Monday, December 24, 2012

BANGKITNYA TEKNOLOGI ROKET BRASIL


ASTROS
ASTROS
Brasil mengejar program jutaan dolar untuk menghidupkan kembali dan memodernisasi teknologi roketnya dengan tujuan untuk mengembangkan roket dan rudal baik untuk penggunaan militer dalam negeri maupun ekspor.

Negara Amerika Latin ini pada pertengahan 1960-an hingga pertengahan 1980-an memperoleh keuntungan yang besar dari ekspor roketnya, sebut saja negara-negara penggunanya seperti Irak dan negara-negara Arab lainnya di Teluk Persia. Berakhirnya perang Irak-Iran dan Perang Dingin membuat industri pertahanan Brasil seolah lumpuh, produksi dihentikan dan banyak karyawannya yang kehilangan pekerjaan. Kini, Brasil kembali ingin merebut pasar ekspor rudalnya di dunia.

Sebanyak US$480 juta telah digelontorkan pemerintah Brasil melalui Kementerian Pertahanan untuk difokuskan pada pembaharuan sistem roket ASTROS dari pabrikan Avibras. ASTROS merupakan akronim dari Artillery Saturation Rocket System yang mampu meluncurkan beberapa roket disaat yang bersamaan.

Konfigurasi ASTROS 2020 yang sudah dimodernisasi mencakup prouksi roket jarak pendek dengan bimbingan GPS dan rudal AV-TM300 yang merupakan sistem baru dengan jangkauan 180 mil.

Dengan tingkat jangkauan ASTROS yang menonjol ini, menyaingi MLRS dan ATMS buatan Amerika Serikat, Brasil berniat kembali untuk merebut pasar global. Para analis pertahanan mengatakan, investasi besar Brasil pada sisi ini menunjukkan strategi pemerintah untuk menumbuhkan kembali pabrikan-pabrikan pertahanannya yang sempat "diabaikan" selama hampir tiga dekade.

Brasil telah berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan roket pandu GPS dan telah berusaha untuk meningkatkan jangkauannya. Versi sebelumnya roket SS-AV-40 kaliber 180mm diketahui hanya memiliki jangkauan sekitar 25 mil.

Sistem ASTROS biasanya diangkut dengan pesawat Hercules C-130, namun pabrikan kedirgantaraan Embraer Brasil telah mengembangkan pesawat angkut taktis militer sendiri yang diharapkan dapat bersaing dengan Hercules serta saingan lainnya dari Eropa, Rusia dan Israel. 

Brasil memang serius dalam mengejar kembali pasar roketnya. Beberapa tahun lalu beberapa pabrikan pertahanan Brasil menyatakan kebangkrutan, namun diselamatkan dengan dana pemerintah. Dan kini untuk meningkatkan pertumbuhannya, pada bulan Agustus lalu Kementerian Pertahanan Brasil mengumumkan pendanaan sebesar US$760 juta untuk mempercepat pertumbuhannya. Setidaknya 30 ASTROS dan kendaraan terkait telah menjadi bagian akuisisi dari pendanaan tersebut.

Berbicara mengenai ASTROS, Indonesia pada 8 November lalu juga sudah menandatangani nota jual-beli alutsista Sistem ASTROS II senilai antara US$400-800 juta atau sekitar 3,8 sampai 7,6 triliun rupiah yang terindikasi meliputi sekitar empat puluh (40) unit kendaraan peluncur ASTROS II. ASTROS II merupakan ASTROS tercanggih saat ini yang dikembangkan oleh Avibras Brasil.

Wednesday, December 19, 2012

LAPAN DAN BADAN ANTARIKSA BRAZIL SIAP BEKERJASAMA



Brazil dipilih karena negara itu merupakan negara tropis yang dia anggap cukup berhasil dalam bidang keantariksaan

Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat, Sutan Bhatoegana mengatakan bahwa lembaga penerbangan dan antariksa Brazil (Brazilian Space Agency) siap bekerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Itu merupakan salah satu hasil kunjungan kerja Komisi VII DPR ke Brazil beberapa waktu lalu dalam rangka merampungkan Rancangan Undang-Undang Keantariksaan.

"'Lapan sana' ingin bekerja sama dengan Lapan kita untuk memantau sumber daya alam kita, tentang pohon-pohon yang ditebang berapa. Dan kalau ada sarjana Indonesia ingin mempelajari, silakan datang, disambut oleh mereka," kata Sutan di Gedung Nusantara I, Senayan, Selasa (18/12) sore.

Sebanyak 12 anggota Komisi VII yang ikut ke Brazil, beber Sutan, sempat melakukan pertemuan antara lain dengan Parlemen Brazil, lembaga antariksa Brazil, serta Brazil National Institute for Special Research. Sutan juga mengatakan, Brazil dipilih karena negara itu merupakan negara tropis yang dia anggap cukup berhasil dalam bidang keantariksaan.

"Paling baik luncurkan roket itu di negara tropis. Palangka Raya itu katanya yang paling cocok (sebagai tempat) meluncurkan roket," ucap Sutan.

Sutan menegaskan bahwa satelit akan menjadi salah satu masalah yang diatur dalam RUU Keantariksaan, karena peran satelit dianggap penting untuk melindungi keamanan negara. Satelit juga bisa memantau dan mengawasi penebangan ilegal pohon-pohon di hutan tropis Indonesia sebagaimana sudah dilakukan di Brazil.

"Kalau kita tidak menguasai, bakal ketinggalan kita," tambah Sutan.

Diketahui, RUU tersebut merupakan inisiatif pemerintah dan Lapan merekomendasikan kepada parlemen beberapa negara yang maju dalam bidang keantariksaan, seperti Rusia, Amerika Serikat (AS), Prancis, India, dan Brazil.

Hasil kunjungan ke Brazil ini sendiri, kata Sutan lagi, akan menjadi masukan untuk RUU Keantariksaan yang sedang dirampungkan oleh komisi yang mengurusi bidang energi, lingkungan hidup, dan riset teknologi tersebut. Selain ke Brazil, rombongan Komisi VII lainnya pekan lalu juga bertolak ke AS, dalam rangka perampungan RUU Kedirgantaraan. 






Sumber : Beritasatu

Monday, October 22, 2012

Wamenhan dan Dubes Brazil Bahan Kerjasama Pertahanan



(Foto: DMC)

19 Oktober 2012, Jakarta: Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sjafrie Sjamsoeddin dengan didampingi Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kaba Ranahan) Kemhan Mayjen TNI R. Ediwan Prabowo, S.Ip, Jum’at (19/10), menerima kunjungan Duta Besar Brazil untuk Indonesia H.E. Mr. Paulo Alberto Silveira Soares, di kantor Kemhan, Jakarta. Pertemuan singkat antara Wamenhan dan Dubes Brazil kali ini diantaranya membicarakan mengenai rencana kunjungan Wamenhan ke Brazil dalam waktu dekat.

Adapun maksud kunjungan kerja Wamenhan ke Brazil adalah untuk melanjutkan pembahasan mengenai draft agreement kedua negara baik yang sedang berjalan maupun yang tertunda sejak tahun 2006. Untuk itu kedua negara perlu membahas kembali draft kerjasama di bidang industri pertahanan agar kerjasama pertahanan kedua negara dapat terus berlangsung. Selain itu kunjungan kerja Wamenhan ke Brazil adalah untuk membahas isi kontrak kerjasama yang telah ditandatangani kedua negara dan modernisasi TNI. Dalam kunjungannya ke Brazil nanti diharapkan Wamenhan dapat bertemu dengan kreditur dan pemberi pinjaman dalam hal ini CEO Embraer yaitu perusahaan pembuat pesawat Super Tucano.

Sumber: DMC

Saturday, September 01, 2012

Super Tucano Dijadwalkan Tiba di Indonesia 2 September




31 Agustus 2012, Jakarta: Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang, menyiapkan hangar untuk menampung enam pesawat Super Tucano baru. Pada tahap awal, TNI Angkatan Udara akan menerima sebanyak empat unit pesawat tempur taktis dari pabrikan Embraer Brazil.

Dijadwalkan pesawat tiba 2 September setelah diterbangkan dari Brazil. "Tahap kedua, yakni Maret 2013, empat pesawat lagi dikirim," kata Komandan Skuadron 21 Lanud Abdulrachman Saleh, Mayor (PNB) James Yanes Singal, Jumat, 31 Agustus 2012.

Kementerian Pertahanan meneken kontrak pemesanan pesawat Super Tucano sebanyak 16 unit hingga 2014. Pesawat itu akan menggantikan OV-10 Bronco yang di-grouded karena dianggap sudah tak laik terbang.

Pesanan pesawat tersebut sudah diberangkatkan dari Brazil dengan menempuh rute penerbangan Brazil-Maroko-Spanyol-Italia-Doha-Qatar-India-Thailand-Indonesia. Pesawat transit dan beristirahat di sejumlah negara sehingga total perjalanan mencapai 12 hari. "Istirahat demi keamanan dan konsentrasi penerbang," katanya.

Pesawat dikirim langsung produsen Super Tucano Embraer bersama delapan penerbang dan teknisi. Mereka bertugas mengirimkan pesawat hingga serah terima pada 17 September. Adapun para teknisi terus mengawasi pesawat hingga masa garansi setahun. Kini pesawat telah tiba di Pengkalan Udara Halim Perdana Kusuma.

Setelah melakukan perjalanan jauh, pesawat akan menjalani pemeriksaan fisik dan konfigurasi, lalu diikuti pengecekan terbang yang bakal diikuti bersama Komandan Wing 2 Lanud Abdulrachman Saleh, Letnan Kolonel Andi Wijaya dan James Yanes Singal. Keduanya telah menjajal pesawat yang berfungsi untuk serangan udara taktis.

Usai menjalani pemeriksaan, uji terbang, dan diserahterimakan dari Embraer, pesawat segera digunakan untuk operasi pengamanan. Namun, James tak bersedia mengungkapkan misi pertama yang bakal dilakukan Super Tucano (burung maskot Brazil). Pesawat berfungsi membantu tembakan udara ke darat membantu pasukan infanteri, patroli udara, dan serangan udara terbatas.

Total sebanyak 12 penerbang telah mengikuti pelatihan khusus untuk mengenal karakteristik pesawat asal Brazil. Para pilot sebelumnya berpengalaman menerbangkan OV-10, Hawk, Sukhoi dan F-5. Mereka dilatih selama sebulan di Brazil.

Selain itu, ada juga dukungan pelatihan dengan simulator atau computer based training dan simulator untuk menerbangkan pesawat di kawasan Skadron 21. Sebanyak 36 teknisi juga dilatih merawat pesawat.

Pesawat tempur ringan dengan call sign EMB 314 ini dicat kepala hiu berwarna merah di bagian moncongnya. Keempat Super Tucano TT-3101, TT-3102, TT-3103, dan TT-3104 ini mampu mengangkut peralatan tempur seperti persenjataan dan bom hingga 1.500 kilogram. Maksimal bisa mengangkut sekitar empat bom.

Sumber: TEMPO

Wednesday, August 15, 2012

Delapan Super Tucano Perkuat TNI AU Tahun Ini



Upacara penyerahan empat unit Super Tucano di Embraer, Brazil. Pesawat dibawa secara terbang ferry dari Brazil ke Indonesia. (Foto: Embraer)

14 Agustus 2012, Jakarta: Sebanyak empat unit pesawat Super Tucano akan tiba di Tanah Air pada tanggal 28 Agustus 2012 mendatang. Selanjutnya, tiga bulan lagi 4 unit pesawat Super Tucano juga tiba di Indonesia sehingga pada tahun 2012 ada delapan unit Pesawat Super Tucano untuk mengisi Skuadron Udara 21 Lanud Abdul Rachman Saleh.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul pada acara buka puasa bersama wartawan di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (14/8).

Menurut Kapuspen TNI, pemenuhan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI mengacu pada konsep Minimum Essential Forces (MEF) dan Rencana Strategis Pertahanan Jangka Panjang dengan menitikberatkan penggunaan hasil produksi industri strategis dalam negeri.

Pengadaan alutsista TNI dari luar negeri dilakukan apabila industri strategis dalam negeri belum mampu memproduksi peralatan tersebut dan tidak ada unsur politis dari negara produsen.

Iskandar menjelaskan, modernisasi alutsista TNI pada 2010-2014 fokus pada alutsista bergerak seperti pesawat tempur dan kapal selam. Target tersebut bertujuan untuk membangun postur pertahanan negara yang lebih tangguh.

Pada bagian lain, Kapuspen TNI menyatakan pembangunan Pangkalan Militer AS di Darwin, Australia, tidak akan mengganggu kedaulatan Indonesia. AS dan Australia bahkan menjalin kerja sama erat di bidang kemanusiaan. Kedua negara tersebut sudah memberikan klarifikasi bahwa pembangunan pangkalan tidak mengganggu kedaulatan Indonesia.

Sumber: Jurnas

Tuesday, August 07, 2012

Embraer Serahkan Empat Super Tucano ke TNI AU




6 Agustus 2012, São Paulo -- Embraer Defense and Security menyerahkan empat pesawat tempur ringan dan latih A-29 Super Tucano ke TNI AU di Gavião Peixoto, São Paulo, Brazil. Indonesia negara pertama operator Super Tucano di kawasan Asia-Pasifik.

Empat A-29 Super Tucano batch pertama dari delapan unit yang dibeli oleh TNI AU pada 2010. TNI AU telah memesan batch kedua sebanyak 8 unit, sehingga total 16 unit.

Pembelian A-29 Super Tucano bagian dari modernisasi alutsista TNI AU. Super Tucano dipilih menggantikan armada OV-10 Bronco yang telah digrounded.

Skuadron Udara 21 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang menjadi sarang Super Tucano. TNI AU telah membangun 6 shelter tambahan, hingga total 8 shelter untuk Super Tucano. Dan juga pembangunan sarana penunjang lainnya, seperti ruang simulator, ruang pengembangan teknologi, serta pengiriman 12 penerbang untuk menjalani training di Brazil.

Sumber: Embraer

Saturday, July 21, 2012

MLRS ASTROS II SANG KANDIDAT UNTUK ARMED TNI AD


astros2 Dari Super Tucano ke Astros II
MLRS Astros 2 Brazil

Pengkajian tentang Multiple Launch Rocket System (MLRS) yang harus dibeli TNI AD, sudah berlangsung panjang. User di perbatasan Kalimantan juga sudah berteriak-teriak menginginkan MLRS segera datang, untuk mengimbangi kekuatan militer yang digelar Malaysia di perbatasan. 
 
Peninjauan MLRS ke negeri pembuatnya pun telah dilakukan, antara lain ke China dan Brazil. Namun peluncur roket multi laras mana yang dibeli, belum juga ketahuan. 
 
Kementerian Pertahanan dan TNI AD sepaham bahwa MLRS harus mengisi alutsista satuan Armed, untuk mengejar Pembangunan Kekuatan Minimum (Minimum Essential Force) TNI AD 2010-2029. Armed harus berdaya dan mampu meladeni/melenyapkan potensi ancaman ke pasukan infanteri yang sedang bergerak di medan perang. Untuk itu Armed Kostrad ini, memerlukan alutsista yang modern, jarak jangkau yang jauh, berdaya ledak besar dan mobile. 

astros ii foto avibras Dari Super Tucano ke Astros II
Astros 2 Brazil
Kandidat MLRS tersebut adalah: Astros II Brazil, Himars Amerika Serikat, T-122/300 Turki dan WS-2 China. Kandidat terkuat dari semua itu adalah Astros II Brazil. Dari segi harga Astros II lebih mahal dibandingkan T-122 Sakarya Turki, namun MLRS Brazil memiliki keunggulan: daya jangkau, daya hancur, berteknologi modern, anti-serangan zat kimia dan biologi, serta bisa diangkut hercules c-130. Brazil pun siap berbagi teknologi dengan PT Pindad, untuk lapis baja pengangkut MLRS Astros II. 
 
Kandidat lain yang diajukan TNI ke Kementerian Pertahanan adalah T-122/300 Turki. Namun dari segi kualitas MLRS Turki ini, jauh di bawah Astros II, walau harganya lebih murah. MLRS Turki ini juga tidak bisa langsung diangkut oleh Hercules, kecuali sebagian komponennya dilepas terlebih dahulu. Secara Teknologi MLRS T-122/300 Turki hampir sama dengan WS-1 China. T-122 Sakarya Turki mengadopsi MLRS BM-21 Grad yang sudah jadul, produksi tahun 1964. Bahkan Rusia sendiri telah mengeluarkan varian terbaru BM-30 Smerch, yang juga telah ditolak oleh Indonesia. 

t122 sakarya Dari Super Tucano ke Astros II
MLRS T-122 Sakarya, Turki
TNI AD sendiri menginginkan MLRS Astros II untuk mengisis alutsista Armed Kostrad. 
 
Saingan Astros II adalah Himars. namun, Himars tampaknya akan dikesampingkan karena harganya terlalu mahal, sehingga dari sisi kuantitas tidak masuk ke dalam jumlah minimum yang dibutuhkan. 
 
Melihat lancarnya proses pembelian pesawat Super Tucano ke Brazil, peluang lolosnya MLRS Astros II mejadi MLRS Armed, semakin besar. 

 Apalagi tim Kemenhan dan TNI AD telah meninjau MLRS tersebut ke Brazil.

Astros II


ASTROS rockets Dari Super Tucano ke Astros II
Berbagai Munisi Astros 2
Astros II (Artillery Saturation Rocket System) dikembangkan oleh Avibras Aerospacial SA, Sao Paulo, Brazil sejak tahun 1983, dan telah digunakan Angkatan Darat Brazil, Arab Saudi, Qatar dan Malaysia. 
 
Arab Saudi menggunakan MLRS Astros II dalam perang Irak-Koalisi tahun 1991. Pada tahun 2002, Malaysia membeli 18 unit Astros II dan kembali melakukan pembelian 18 Astros II di tahun 2007.
 
Astros II menembakkan lima jenis roket dengan kaliber yang berbeda dari ukuran 127 mm hingga 300 mm. MLRS ini bisa menembakkan 3 baterai sekaligus, untuk target yang ditetapkan command and control lewat radar dan komputer. 

Astros II bisa digunakan sebagai rudal anti-kapal di pertahanan garis pantai dengan cara dikombinasikan dengan AV-CBO, yakni radar mobile penjejak kapal.

astros 2 malaysia Dari Super Tucano ke Astros II
Astros 2, Malaysia
Satu grup MLRS Astros II terdiri dari satu mobil command and control vehicle/fire control beserta dua mobil peluncur roket dan amunisi. 
 
Untuk roket caliber 127mm (SS-30), Astros II menembakkan 32 roket sekaligus dengan jarak jangkau 9- 30 km. Untuk roket kaliber 180mm, memuat 16 roket dengan jarak tembak 15-35km. 
 
Sementara untuk roket kaliber 300mm, memuat 4 roket dengan jarak tembak 20- 80 km. Selain dilengkapi armour protection, MLRS ini bisa dioperasikan malam hari dan bisa menyasar berbagai jenis target.
 
astros 2 missile1 Dari Super Tucano ke Astros II
Misil Astros II, 300 Kilometer
Avibras Aerospacial telah mengembangkan misil yang ditembakkan melalui Astros II dengan jangkauan 300 km dengan memuat berbagai jenis hulu ledak. 

Kendaraan pengangkut roket multi laras ini, lapis baja 6×6 dengan kecepatan maksimum 90km/ jam atau setara dengan mesin diesel Mercedes-Benz 280hp.

Kita tunggu kedatangan MLRS Astros II. Semoga tidak ada kejutan kali ini. 

Maksudnya, jangan sampai Astros II yang ditunggu kedatangannya, namun yang muncul malah yang lain, kecuali diganti Himars. 

Transfer of technology (ToT) memang sangat penting, seperti yang ditawarkan oleh produsen T-122/300 Turki. Namun kualitas alutsista juga tidak kalah penting. 

Jangan sampai demi mengejar transfer of technology, semua alutsista “di-ToT-kan” yang mengakibatkan kualitas alustista meleset dari keinginan user. 


Sumber : JKGR

Saturday, June 30, 2012

Komisi I Kunker ke Spanyol dan Brasil

Senayan - Terkait pembahasan RUU Industri Pertahanan, sejumlah anggota Komisi I DPR akan melakukan kunjungan kerja ke Spanyol dan Brasil pada 1-7 Juli 2012. Apa tujuan dan alasanKomisi I kunker ke kedua negara tersebut?

"Jadi, tujuan kami kunker ke dua negara tersebut di antaranya untuk mendapatkan gambaran secara umum mengenai konsep dan sistem dalam industri pertahanan yang diselenggarakan pada negara tujuan kunker. Termasuk mempelajari berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai industri pertahanan di negara tersebut," ujar Wakil Ketua Komisi I Tubagus Hasanuddin dalam penjelasannya di Press Room DPR RI, Selasa (26/6).

Politisi PDIP ini mengatakan, sasaran yang diharapkan dapat tercapai dari kegiatan kunker ini ialah mendapatkan informasi mengenai sistem dan konsep yang berkaitan dengan industri pertahanan, dari segi kelembagaan atau pelaku industri pertahanan, penyertaan modal negara untuk pendirian industri pertahanan, lembaga regulasi industri pertahanan. Juga standardisasi alat peralatan pertahanan dan keamanan, penelitian, pengembangan dan rekayasa dalam industri pertahanan (research and development) serta sistem pengadaan pertahanan terintergrasi.

"Termasuk soal sanksi terhadap kejahatan di bidang industri pertahanan, sistem pengawasan industri pertahanan, tanggung jawab anggaran industri pertahanan, serta bagaimana soal insentif tarif bea dan fiskal dalam industri pertahanan," ujarnya.

Lantas, kenapa negara yang jadi tujuan kunker adalah Spanyol dan Brasil? Kata Hasanuddin, kedua negara tersebut dinilai memiliki produk alutsista berkualitas tinggi dan memenuhi persyaratan atau tuntutan yang tinggi.

"Di negara tersebut industri pertahanannya secara aktif berpartisipasi dalam restrukturisasi berbagai sektor dan memperluas pasar serta menyesuaikan kapasistas produksinya dengan kebutuhan pasar. Termasuk Kemhan Spayol memberikan dukungan penuh atas kebijakan industri pertahanannya melaluiarmament and equipment policy terutama dalam inovasi teknologi yang mengadaptasikan dengan situasi dunia terkini," ujarnya.

Sementara, Brasil dipilih atas pertimbangan bahwa negara itu merupakan sebuah negara dengan wilayah yang paling luas dengan jumlah penduduknya yang besar (192 juta jiwa tahun 2010) di Amerika Selatan. Dengan kemajuan ekonominya kini mampu membangun beberapa industri pertahanan dengan kualitas yang sangat baik. Brasil kini menjadi salah satu negara penting pengekspor di bidang persenjataan, terutama bagi negara-negara berkembang.

"Produk industri Brasil selama ini dikenal berkualitas tinggi, mudah dalam pemeliharaan, kinerjanya baik dalam kondisi ekstrem sekalipun, dan harganya murah. Produknya meliputi amunisi, granat, ranjau, kendaraan pengangkut pasukan (APV), kapal patrol, pesawat patroli laut, turboprop trainers, tank, dan pesawat tempur supersonik," ujarnya.

Hasanuddin menambahkan, pada 15 Maret 2012, Wakil Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menerima kunjungan Dubes Brasil untuk Indonesia Paulo Alberto da Silveira Soares di Jakarta. Dalam pertemuan itu, Dubes Brasil menawarkan produk alutsista terbaru kedirgantaraan atau kapal perang serta peningkatan kerja sama industri pertahanan melalui pembangunan pesawat terbang dan kapal perang antara industri pertahanan laut dan udara kedua negara. "Seperti diketahui, Indonesia pun saat ini telah memesan 16 unit pesawat tempur Super Tucano A29 buatan Industri Embraer Defense System, Brasil," pungkasnya.

sumber: JurnalParlemen

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...