Showing posts with label astros. Show all posts
Showing posts with label astros. Show all posts

Saturday, August 17, 2013

Alutsista Baru Batalyon Armed 2013


MLRS ASTROS 2 Indonesia
MLRS ASTROS 2 Indonesia
Berbahagialah Batalyon Armed 1/105 mm yang berkedudukan di Singosari, Malang, Jawa Timur yang telah berbulan-bulan melakukan persiapan untuk menyambut alutsista baru. 
Setelah belajar teknologi komputer, bahasa inggris dan elemen pendukung lainnya, mereka akan kedatangan roket multilaras modern, MLRS (Artillery Saturation Rocket System) ASTROS II, buatan Brazil. Jika selama ini Yon Armed 1/105 Malang hanya memiliki meriam tua, maka sebentar lagi berganti dengan meriam teknologi baru yang pengendaliannya serba digital.

Thursday, May 09, 2013

Kasad Terima Presdir Avibras, Bahas Perkembangan Pembelian Astros


Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menerima kunjungan Presiden Direktur Avibras Brazil Mr. Sami Youssef Hassuani beserta rombongan di Markas Besar Angkatan Darat, Rabu (8/5/2013).
Kunjungan Presdir Avibras adalah untuk membahas mengenai perkembangan pembelian produk Alutsista dari Avibras, Brazil, yaitu produk Multi Launcher Rocket System (MLRS) Astros II. 

Thursday, January 31, 2013

Tahun Ini Yon Armed TNI AD Segera Diperkuat MLRS Astros II


Tahun ini, Resimen Armed 2/1 Kostrad rencananya akan mengganti alat utama sistem persenjataan (Alutsista) jadul dengan persenjataan yang lebih canggih. Salah satunya, Alutsista yang ada di lingkungan Batalyon Armed Pasopati 9 Purwakarta.

Pasalnya, artileri yang ada terutama yang terdapat di tiga Batalyon Armed dinilai sudah usang dan harus segera disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Bila tak ada aral melintang, dalam waktu dekat Batalyon ini akan mendapatkan Alutsista berbentuk roket yang diimpor dari Brazil.

Komandan Resimen Armed 2/1Kostrad, Kolonel Arm Mohamad Naudi Nurdika mengaku, saat ini Alutsista yang dimiliki tiga Batalyon dibawah struktur Resimen Armed 2/1 Kostrad, masing-masing Yon Armed 9 Pasopati, Yon Armed 10 Brajamusti, dan Yon Armed 13 Nanggala, adalah berjenis meriam 105 mm-M101A1 buatan Amerika tahun 1942, dan meriam 76/GN buatan Yugoslavia dengan tahun pembuatan 1949.

Monday, December 24, 2012

BANGKITNYA TEKNOLOGI ROKET BRASIL


ASTROS
ASTROS
Brasil mengejar program jutaan dolar untuk menghidupkan kembali dan memodernisasi teknologi roketnya dengan tujuan untuk mengembangkan roket dan rudal baik untuk penggunaan militer dalam negeri maupun ekspor.

Negara Amerika Latin ini pada pertengahan 1960-an hingga pertengahan 1980-an memperoleh keuntungan yang besar dari ekspor roketnya, sebut saja negara-negara penggunanya seperti Irak dan negara-negara Arab lainnya di Teluk Persia. Berakhirnya perang Irak-Iran dan Perang Dingin membuat industri pertahanan Brasil seolah lumpuh, produksi dihentikan dan banyak karyawannya yang kehilangan pekerjaan. Kini, Brasil kembali ingin merebut pasar ekspor rudalnya di dunia.

Sebanyak US$480 juta telah digelontorkan pemerintah Brasil melalui Kementerian Pertahanan untuk difokuskan pada pembaharuan sistem roket ASTROS dari pabrikan Avibras. ASTROS merupakan akronim dari Artillery Saturation Rocket System yang mampu meluncurkan beberapa roket disaat yang bersamaan.

Konfigurasi ASTROS 2020 yang sudah dimodernisasi mencakup prouksi roket jarak pendek dengan bimbingan GPS dan rudal AV-TM300 yang merupakan sistem baru dengan jangkauan 180 mil.

Dengan tingkat jangkauan ASTROS yang menonjol ini, menyaingi MLRS dan ATMS buatan Amerika Serikat, Brasil berniat kembali untuk merebut pasar global. Para analis pertahanan mengatakan, investasi besar Brasil pada sisi ini menunjukkan strategi pemerintah untuk menumbuhkan kembali pabrikan-pabrikan pertahanannya yang sempat "diabaikan" selama hampir tiga dekade.

Brasil telah berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan roket pandu GPS dan telah berusaha untuk meningkatkan jangkauannya. Versi sebelumnya roket SS-AV-40 kaliber 180mm diketahui hanya memiliki jangkauan sekitar 25 mil.

Sistem ASTROS biasanya diangkut dengan pesawat Hercules C-130, namun pabrikan kedirgantaraan Embraer Brasil telah mengembangkan pesawat angkut taktis militer sendiri yang diharapkan dapat bersaing dengan Hercules serta saingan lainnya dari Eropa, Rusia dan Israel. 

Brasil memang serius dalam mengejar kembali pasar roketnya. Beberapa tahun lalu beberapa pabrikan pertahanan Brasil menyatakan kebangkrutan, namun diselamatkan dengan dana pemerintah. Dan kini untuk meningkatkan pertumbuhannya, pada bulan Agustus lalu Kementerian Pertahanan Brasil mengumumkan pendanaan sebesar US$760 juta untuk mempercepat pertumbuhannya. Setidaknya 30 ASTROS dan kendaraan terkait telah menjadi bagian akuisisi dari pendanaan tersebut.

Berbicara mengenai ASTROS, Indonesia pada 8 November lalu juga sudah menandatangani nota jual-beli alutsista Sistem ASTROS II senilai antara US$400-800 juta atau sekitar 3,8 sampai 7,6 triliun rupiah yang terindikasi meliputi sekitar empat puluh (40) unit kendaraan peluncur ASTROS II. ASTROS II merupakan ASTROS tercanggih saat ini yang dikembangkan oleh Avibras Brasil.

Tuesday, December 04, 2012

ASTROS dan Kisahnya


Kepastian penandatanganan kontrak 36 unit sistem MLRS (Multiple Launch Rocket System) menyisakan sekelumit kisah menarik. Salah satunya, pembelian 36 sistem ASTROS III mk6 tersebut kembali mengukuhkan TNI sebagai spesialis penyelamat perusahaan pertahanan yang nyaris bangkrut (salah satu contohnya, pembelian Hawk 100/200 dan tank intai Scorpion pada 1996/1997 yang menyelamatkan British Aerospace)


Kok bisa? Ternyata, selidik punyalidik sesungguhnya perusahaan pembuat ASTROS yaitu Avibras telah mengajukan pailit pada bulan Juli 2008. Iklim ekonomi yang buruk dan sepinya order telah menyebabkan Avibras akhirnya kehilangan pasar yang signifikan.

Pemerintah Brasil, yang tak rela kehilangan keseluruhan industri pertahanannya (Engesa bangkrut pada 1993) menyetujui sejumlah program restrukturisasi. Bagi Avibras, pertolongan federal ini mendorongnya mampu meluncurkan program ASTROS 2020, yang sistem awalnya terwujud sebagai ASTROS III mk6, varian yang dibeli Indonesia.


Namun sesungguhnya, ASTROS 2020 ingin mencapai suatu lompatan teknologi tinggi, yaitu dengan memperkenalkan sistem rudal jelajah yang dapat diluncurkan dari platform ASTROS. Jika pembaca sempat menyaksikan empat roket kaliber 300mm SS-150 yang perkasa dan dapat menjangakau jarak sampai 90 kilometer, tunggu sampai Avibras bisa menyelesaikan  AV-TM, yang merupakan "missil de cruizero" alias rudal jelajah. AV-TM memberikan kemampuan serangan presisi bagi platform ASTROS, diluar garis horison. Dengan kemampuan jangkau 300 kilometer, akan sangat sulit bagi lawan untuk memperkirakan asal serangan, apalagi membalas. Saat serangan balasan diluncurkan pun, ASTROS III sudah jauh meninggalkan lokasi awal peluncuran.

Memang masih terlalu dini untuk memperkirakan kesuksesan ASTROS 2020, tetapi dengan komitmen Brasil dan Indonesia, yang gabungan order keduanya mencapai 1,2 miliar dolar, dapat membangkitkan kembali industri pertahanan Brasil dan juga Indonesia yang menerima ToT sebagai bagian dari kontrak pembelian 450 juta dolar AS oleh Indonesia.

Sebagai info, sebagian dari 36 unit yang akan datang secara bertahap, akan ditempatkan di yon armed 10 di Cileungsi, Bogor menggantikan meriam Gunung kaliber 76mm M-48 dan M101A1 kaliber 105mm. Satu lompatan teknologi dan jangkauan yang luar biasa, dari sistem tarik menjadi swagerak, dan jarak jangkau yang lima kali lipat.

Ikuti kembali bahasan mengenai ASTROS dalam edisi-edisi mendatang.

Sunday, November 25, 2012

INDONESIA GELONTORKAN RP. 3.8 - 7.6 TRILIUN UNTUK 40 UNIT ASTROS GENERASI TERAKHIR




TNI akan membeli sistem peluncur roket paling mutakhir dari produsen senjata Avibras yang bermarkas di Sao Jose dos Campos, terletak di negara bagian Sao Paulo Brazil, untuk mempersenjatai salah satu batalion khususnya.

Kesepakatan pembelian ini diteken dua pekan lalu di Jakarta berisi nota jual-beli alat utama sistem senjata bernilai antara US$400-800 juta (Rp 3,8 sampai 7,6 triliun) yang diduga meliputi sekitar empat puluh unit kendaraan peluncur roket canggih.

Seperti ditulis koran O Estado de Sao Paulo, peluncur roket dengan Sistem Roket Saturasi Artileri (Artillery Saturation Rocket System) ini diklaim sebagai buatan Avibras yang paling canggih, sementara yang akan dikirim ke Indonesia nantinya adalah jenis Astros II.

Dengan angka pembelian yang demikian besar, belanja alutsista ini akan meliputi pula pembelian baterai Astros: mesin peluncur roket, kendaraan komunikasi lapis baja, kendaraan penembak dan kendaraan kontrol, kendaraan dilengkapi radar, dan stasiun cuaca bergerak.

Namun rincian alat tak diketahui karena dilindungi klausul kerahasiaan.Tipe amunisi juga tak disebutkan meski dengan sistem ini dikabarkan roket mampu mencapai sasaran antara 9 hingga 100 kilometer.

Peluncur roket versi Astro yang akan dipakai TNI ini akan dikirim dalam kondisi lengkap termasuk dengan peralatan elektroik yang nantinya bisa dipakai untuk melepas amunisi cerdas, seperti rudal, namun kini masih menunggu proses sertifikasi.

'Kompetisi sengit'

Menteri Pertahanan Brazil celso Amorim menyatakan transaksi ini mengharuskan Brazil "bekerja dengan mitra dan pemain internasional baru."

Sementara menurut Amorim, "Indonesia adalah pemain besar dunia internasional dan juga telah membeli pesawat Super Tucano dari Embraer (Brazilian Aeronautics Company)," tambahnya. 

Untuk TNI Angkatan Udara, pemerintah Indonesia berbelanja 16 pesawat serang ringan turboprop, pengawas elektronik serta pesawat pendukung pasukan darat. 

Untuk memenuhi kontraknya, Avibras akan membuka sebuah kantor di Jakarta segera. kantor ini akan menjadi perwakilan keduanya di kawasan Asia, setelah yang pertama dibuka di Kuala Lumpur,

Malaysia, dimana peluncur roket Astros telah menjadi bagian dari alutsista negara itu sejak 2010.
Transaksi dengan Indonesia ini, menurut Presiden Avibras Sami Hassuani, "dicapai di tengah kompetisi sengit."

Negosiasi sudah dimulai sejak 2008 dan "memaksa perusahaan untuk kukuh di tempatnya dan terus-menerus menawarkan bukti keunggulan tekniknya."

Hassuani yakin dokumen final sudah akan ditandatangani 90 hari setelah kesepakatan dicapai sementara seluruh pesanan akan dikirim dalam tiga tahun, tetapi dia juga yakin 

"hubungan dengan pelanggan akan terus berlanjut lebih dari 30 tahun." 

Kesepakatan pembelian ini diteken oleh Ediwan Prabowo, Direktur Badan Sarana Pertahanan Kementrian Pertahanan dan Sami Hassuani di Jakarta, 8 November lalu.

Dua hari sesudahnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginspeksi sebuah kendaraan peluncur roket Astros yang sudah dicat sesuai warna TNI yang mengangkut empat SS-80 roket.





Sumber : BBC

Friday, November 09, 2012

INDONESIA BRAZIL TANDATANGANI MOU TOT MLRS ASTROS




 Di hari kedua penyelenggaraan Indo Defence 2012, Kamis (8/11) di Stand Pameran Kementerian Pertahanan RI dilaksanakan penandatanganan MoU kerjasama Transfer of Technology (ToT) dengan Pemerintah Brasil dan Pemerintah Jerman.
 
MoU pertama yang ditandatangani yakni ToT dalam rangka pengadaan MultiLauncher Rokcet System atau sistem peluncur roket jarak jauh dengan perusahaan Avibras Industria Aeroespacial Brazil. Technologi tersebut nantinya akan diberikan kepada pihak LAPAN, PT. Pindad, PT DI dan Bengpuspal TNI AD. Penandatanganan dilakukan oleh Kabaranahan Kemhan RI Mayjen TNI Ediwan Prabowo, S.IP dengan President Avibras Industria Aeroespacial Brasil Sami Josef Hassuani. MoU kerjasama ini merupakan implmentasi didalam proses Transfer Technologi dalam pembelian dari produk roket.

Sementara itu penandatanganan dengan pemerintah Jerman khususnya Rheinmetall AG Jerman terdapat dua bentuk, pertama, dalam hal pengadaan Medium Battle Tank untuk ukuran 30 ton dan Main Battle Tank (MBT) Leopard ukuran 60 ton serta tank pendukungnya. Kedua adalah MoU pelaksanaan ToT yang akan diberikan kepada PT. Pindad, Bengpuspal Ditpalad dan Bengpushub Dithubad.

Penandatanganan MoU yang dilakukan dengan Jerman tersebut merupakan langkah awal untuk hubungan yang lebih lama khususnya pengadaan Tank jenis MBT Leopard. Pemerintah Indonesia menginginkan jumlah MBT Leopard sekitar 2 Batalion Satuan, setingkat Leopard untuk Kavaleri TNI Angkatan Darat.

Penandatanganan MoU ini dilakukan oleh Kabaranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, S.IP dengan Direktur Rheinmetall AG Jerman, Herald Westernman.




Sumber : DMC

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...