Thursday, August 14, 2014

PTDI & Pesawat Patroli Jarak Jauh Filipina

Picture
Tahap pertama penawaran 5,9 miliar Peso ($ 133.6 juta), kontrak untuk 2 pesawat patroli jarak jauh untuk Angkatan Udara Filipina (PAF) mengalami kebuntuan pada Senin, 11 Agustus.
Tujuh dari 10 perusahaan yang membeli dokumen penawaran bergabung dengan tender penawaran Senin, tetapi – setelah 12 jam dari sesi penawaran dan serangkaian pertemuan eksekutif – mereka dinyatakan “tidak memenuhi syarat.” Mereka, memiliki waktu 3 hari untuk mengajukan peninjauan kembali, menurut juru bicara pertahanan Filipina, Arsenio Andolong.

Pesawat patroli jarak jauh tidak lagi dimiliki oleh angkatan udara Filipina, dan proyek akuisisi dimaksudkan untuk meningkatkan kesiapan domain maritim negara itu merespon ketegangan yang tumbuh di Barat Laut Filipina (Laut China Selatan) di antara negara-negara yang mengklaim LCS.
Dua perusahaan Israel – Elta Systems dan Elbit Systems – lulus persyaratan dokumenter awal, tapi mereka akhirnya gagal memenuhi spesifikasi teknis atau parameter kinerja yang diperlukan oleh departemen pertahanan.

Lima perusahaan lain dinyatakan non-compliant karena kekurangan dokumenter. Mereka adalah Saab Asia Pacific Co Ltd (Swiss), L3 Misi Integrasi (AS), PT Dirgantara Indonesia (Persero), Indonesia Aerospace, dan Lockheed Martin (AS). Mereka juga diberikan waktu 3 hari untuk mengajukan mosi dipertimbangkan kembali.

Reputasi Buruk Drone UAV Sebagai Mesin Pembunuh









Di tangan Amerika Serikat dan Israel, Drone UAV sebagai pesawat tak berawak, telah berobah fungsi. Yang semula sekadar berfungsi intelijen sebagai pesawat pengintai dan pengawasan, tiba-tiba berkembang menjadi mesin pembunuh Warga Sipil di Afghanistan, Irak, Somalia,  Palestina dan Lebanon. 

Ketika sedang hangat-hangatnya debat calon presiden tempo hari, khususnya ketika membahas topik pertahanan nasional, tiba-tiba pesawat Drone mencuat sebagai obyek perbincangan yang cukup hangat dalam masyarakat. Terutama pemerhati dan pengkaji perkembangan teknologi kemiliteran. 
 
Drone merupakan jenis pesawat udara tak berawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV).  Pesawat Drone ini merupakan mesin terbang yang berfungsi dengan kendali jarak jauh oleh pilot, atau mampu mengendalikan dirinya sendiri melalui hukum aerodinamika. Pesawat Drone ini sebagian besar didayagunakan di bidang kemiliteran. 
 
Fungsi utama pesawat tanpa awak Drone digunakan untuk misi pengintaian dan penyerangan. Walaupun banyak laporan mengatakan bahwa banyak serangan pesawat tanpa awak yang berhasil tetapi pesawat tanpa awak mempunyai reputasi untuk menyerang secara berlebihan atau menyerang target yang salah, seperti warga masyarakat sipil. 

Fly Pass Pesawat Tempur TNI AU Dan Balance Of Power Dengan Australia

  Kasau Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia usai upacara Peringatan ke-67 Hari Bhakti TNI Angkatan Udara di Kesatrian AAU Yogjakarta, Kamis (7/8/2014) menyatakan bahwa pada peringatan HUT RI ke-69 tanggal 17 Agustus 2014, TNI AU akan melakukan fly pass (terbang lintas) diatas panggung kehormatan.


Fly Pass akan dilakukan oleh  32 pesawat TNI AU dalam dua formasi besar.  Flight kesatu terdiri dari formasi  10 pesawat tempur latih  T-50 Golden Eagle asal Korea dan 6 pesawat tempur ringan  Hawk 100/200. Sementara flight kedua terdiri dari 8 pesawat F-16 versi lama  dan termasuk 3 pesawat yang baru tiba, hibah dari pemerintah AS, F16 blok C/D 52ID, juga gabungan dari  8 pesawat Sukhoi-27/30. Dengan demikian maka  masing-masing flight akan terdiri  terdiri dari 16 pesawat, dimana jumlah masing-masing formasi merupakan kekuatan satu skadron udara.


Terbang lintas tersebut merupakan sebuah pertanggung jawaban TNI AU sebagai abdi negara dalam mempertahankan kedaulatan di udara. Dimana pemerintahan Presiden SBY telah menambah kekuatan pesawat latih dan tempur udara. Dalam fly pass akan ditampilkan berbagai pesawat produk dari  empat  negara. Pesawat T-50 tempur taktis adalah pesawat terbaru buatan Korea Selatan, pesawat Hawk 100/200 buatan Inggris, pesawat F-16 buatan Amerika Serikat dan pesawat Sukhoi 27/30 buatan Rusia. Dengan demikian maka dari pengalaman pahit di masa lalu soal embargo, kini TNI AU menjadi lebih fleksibel dan akan selalu mampu melaksanakan pertahanan udara apabila terulang kembali kasus embargo.

Formasi Pesawat Tempur TNI AU Di Langit Jakarta


TNI angkatan Udara mengerahkan 35 pesawat tempur untuk terbang formasi (fly pass) memeriahkan peringatan detik-detik proklamasi ke-69 tanggal 17 Agustus 2014 di Istana Negara. Untuk itu, sejak Minggu (10/8) ke-32 pesawat tersebut, masing-masing 7 Pesawat Sukhoi dari Makassar, 8 Pesawat F-16 dan 12 Pesawat T 50i dari Madiun dan 8 Hawk 100/200 dari Pekanbaru diparkir di Terminal Selatan Lanud Halim Perdanakusuma untuk berlatih terbang formasi di udara Jakarta.

Sesuai perintah Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), sebanyak 32 pesawat tempur TNI AU akan membentuk dua formasi arrow melaksanakan fly pass di atas peserta upacara peringatan HUT RI ke-69 di Istana Negara. Kedua formasi besar terdiri dari flight pertama terdiri dari 10 pesawat T-50 Golden Eagle dan 6 pesawat Hawk 100/200 serta flight kedua terdiri dari 8 pesawat F-16 termasuk pesawat F-16 C/D 52ID yang baru dan 8 pesawat Sukhoi SU-27/30,.

Lockheed Martin Announces Indonesian Radar Industry Initiative



AN/TPS-77 air surveillance radar (photo : militaryphotos)

JAKARTA, Indonesia/PRNewswire/ -- Lockheed Martin (NYSE: LMT) has launched an Indonesian radar industry initiative as part of its efforts to support the country's plans to modernize and extend its air surveillance coverage.

This initiative includes technology transfers to aid in the development of a new Indonesian radar industry, as well as partnerships with local universities to cultivate the workforce necessary to support it. Enhancing Indonesia's ability to make critical radar components will reduce the nation's reliance on foreign suppliers, while providing employment opportunities for its citizens.

"Lockheed Martin is committed to supporting Indonesia and its defense industry revitalization plans," said Robert Laing, National Executive, Lockheed Martin, Indonesia. "Our goal is to create a new technology sector and associated jobs to ensure a sustainable industry in Indonesia."

TNI AD Terima Peluncur Roket Astros II dari Brasil




Peluncur roket Avibras Astros II (photo : Defense Studies)

TEMPO.CO, Jakarta - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat menerima alat utama sistem persenjataan baru berupa multiple launcher rocket system atau senjata peluncur roket bernama Astros II. Senjata baru untuk Divisi Artileri Medan tersebut didatangkan dari pabrik Avibras Indústria Aeroespacial, Brasil.

"MLRS Astros II telah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok kemarin (6 Agustus 2014), sekitar pukul 10.00 WIB," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Andika Perkasa lewat pesan pendek kepada Tempo, Kamis, 7 Agustus 2014. (Baca: TNI AD Pamerkan Meriam Kaliber Terbesar)

Menurut Andika, Astros II yang tiba kemarin terdiri atas tiga paket, yakni satu baterai peluncur roket, amunisi roket, dan simulator peluncur roket. Ketiga paket tersebut akan segera didistribusikan ke beberapa markas TNI Angkatan Darat sesuai dengan kebutuhan. (Baca: Panglima TNI Tabrak Tameng Prajurit)

Enam Helikopter Super Cougar Siap Datang Akhir Tahun

Helikopter EC-725 Cougar (photo : Renald Aquilina)

BANDUNG, (PRLM).- Enam helikopter canggih buatan Prancis yaitu Super Cougar akan tiba di Bandung pada akhir tahun dan menjadi tantangan baru bagi Satuan Pemeliharaan 16 Depo Pemeliharaan 10 TNI Angkatan Udara.

"Helikopter ini merupakan helikopter terbaru dan akan datang mulai akhir tahun, satu persatu secara bertahap masing-masing selama 3 bulan," kata Komandan Depohar 10 TNI Asmawi Prawiro, di Pangkalan Udara Husein Sastranegara, seusai serah terima jabatan Dansathar, Rabu (13/8/2014).

Asmawi meminta para personel yang bertugas khusus memelihara helikopter milik TNI AU ini lebih meningkatkan kemampuannya, karena mereka pun sebenarnya sudah dikursuskan di Prancis untuk perawatan khusus helikopter tersebut.

13 Tank Marder Jerman Bakal Tiba di Markas Yonif 413/Bremoro Oktober



Kendaraan tempur Marder (photo : Kaskus Militer)

Sukoharjo – Sebanyak 13 unit tank jenis Marder buatan Jerman bakal tiba di Markas Batalyon Infanteri 413/Bremoro Palur, Mojolaban, Solo, Oktober 2014 mendatang.

Danyonif 413/ Bremoro, Mayor (Inf) Setyo Wibowo, menerangkan pihaknya telah mendapat kejelasan perihal rencana kedatangan tank seberat 30 ton perunit itu. Diperkirakan tiba di tempatnya pada 5 Oktober. Saat ini, tank-tank untuk memperkuat pertahanan NKRI itu ada di pangkalan Surabaya, Jawa Timur.

“Baru diserahterimakan setelah tanggal 5 Okober. Kami masih terus berkoordinasi. Tinggal selangkah lagi jadi pasukan mekanik atau tank,” terangnya, baru-baru ini.

British Lightweight Multi Purpose Missile (LMM).

We continue to review the UK arms. There will be considered light multipurpose missile (Lightweight Multirole Missile) or LMM, which, in accordance with the requirements of the future to easily manage armament class surface - air (Future Surface to Air Guided Weapon (Light), FASGW (L) is planned to equip the Royal Navy helicopters Wildcat.


History

LMM is a relatively new missile, although to a large extent it is based on an older family of missiles High Velocity Missile / Starstreak. Starstreak born of the requirements for short-range air defense systems, portable and installed on the vehicle. The system has its roots in the construction of MANPADS Blowpipe and Javelin. Starstreak is an extremely complex system; starts with the installation, after the establishment of the first stage of the rocket is accelerated to a high speed of 3.5 Mach. After development of the second stage towards the goal rush three submunition.



Rocket Starstreak

Each submunition "dart" is bezdvigatelnym, but it is also controlled and equipped with a delayed-action fuse, driving the warhead is already inside the target.

Anti-aircraft missile system Starstreak. Ill be enemy aircraft!

The complex has been tested on a number of platforms, such as helicopters and naval installations.

Monday, June 23, 2014

KRI Sampari 628: Generasi Pertama KCR 60 TNI AL


e0f2a-kcr-60-bumn-18122013-1819
Mengingat luasnya wilayah lautan Indonesia dengan ribuan pulaunya, adalah wajar bila TNI AL menjadi jawara pemilik armada kapal cepat terbesar di Asia Tenggara. Melengkapi jumlah dan kualitas yang ada, Satuan Kapal Cepat (Satkat) TNI AL kembali kedatangan ‘warga’ baru, yakni dari jenis KCR (Kapal Cepat Rudal) 60. Yang dimaksud adalah KRI Sampari 628 dan KRI Tombak 629, dan bakal menyusul kemudian KRI Halasan 630, ketiganya dibuat oleh industri Dalam Negeri, PT. PAL di Surabaya.
Sesuai dengan rencana strategis yang telah dicanangkan dalam MEF (Minimium Essential Force), belakangan ini frekuensi kemunculan nama-nama KRI baru di kelas kapal cepat dan kapal patroli begitu sering terdengar. Belum lama berselang, TNI AL menerima KCR 40, yaitu KRI Clurit 641, KRI Kujang 642, KRI Beladau 643, dan KRI Alamang 644. Keempatnya dibuat oleh galangan PT. Palindo Marine di Batam. Dan, melengkapi stugas Satuan Kapal Cepat, dikembangkan pula KCR 60 yang punya spesifikasi lebih tinggi dari KCR 40. Meski bila diperhatikan, baik KCR 40 dan KCR 60, punya rancangan desain yang tak jauh beda, yakni mengunggulkan lambung berdesain stealth, bahkan kapal generasi anyar ini punya tampilan anjungan model streamline, mirip dengan korvet SIGMA Class.
Menilik spesifikasi yang telah dikupas di berbagai pemberitaan KCR 60 yang kemunculan perdananya diwakili KRI Sampari 628, punyai panjang keseluruhan 60 meter dan berbot total 460 ton. Sebagai kapal cepat, KRI Sampari disokong 2 mesin diesel yang masing-masing punya kekuatan 2880 KW. Dari mesin tersebut, dapat dicapai kecepatan maksimum 28 knot, kecepatan jelajah 20 knot, dan kecepatan ekonomis 15 knot. Dengan jumlah awak 55 personel, KRI Sampari dirancang untuk mampu berlayar terus menerus selama 9 hari. Jarak jelajahnya bisa mencapai 2.400 nautical mile pada kecepatan 20 knot.

Master –T: Radar Hanud Tercanggih Perisai Ruang Udara Indonesia


radar11
Meski armada jet tempur TNI AU kian bertaring, tapi bukan berarti momen hadirnya black flight bisa dihilangkan begitu saja. Penerbangan gelap tanpa identitas bisa bisa muncul kapan saja dan di masa saja. Black flight pun tak melulu terkait misi intai dan spionase, bisa juga terkait kasus penerbangan sipil tak beridentitas jelas yang secara sengaja atau tidak melintasi wilayah udara Indonesia.

Salah satu yang menarik dicermati pada kasus raib-nya Boeing 777-200ER Malaysia Airlines, semenjak pesawat itu berbalik arah dan mematikan transponder, maka jadilah ia sebuah black flight, yang pada rute pelariannya diduga keras berusaha menghindari pantauan radar militer Indonesia yang tergabung dalam Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas). Nah, bicara seputar radar menjadi bahasan yang menarik, di artikel sebelumnya kami pernah mengulas radar-radar yang digunakan TNI. Dalam lingkup radar Kohanudnas pernah diulas Nysa P-30 B/C dan Thomson TRS-2215/2230. Dan, kini rasanya lebih menarik lagi jika yang diulas adalah radar Kohanudnas paling baru, dan tentunya punya fitur paling canggih.
Bicara radar Kohanudnas paling baru maka merujuk pada jenis Master-T buatan Thales Raytheon System Perancis. Dirunut dari berbagai informasi, radar ini mulai digunakan Satuan Radar (Satrad) TNI AU/Kohanudnas antara tahun 2005 – 2007, dan hingga kini beberapa Master-T akan didatangkan guna melengkapi kebutuhan radar khusus militer.
Lalu, seperti apa kemampuan radar Master-T ini? Radar ini menganut sistem tiga dimensi (ketinggian, jarak dan azimuth) dengan desain yang lebih kompak (solid state) dan beroperasi pada bandwidth 400 Mhz. Sebelumnya, radar ini berfungsi sebagai Early Warning (EW). Dikutip dari situs Kohanudnas.mil.id, disebutkan berdasar surat Pangkosekhanudnas I Nomor B/338-10/01/01/ Kosekhanudnas I, 30 September 2008 tentang Perubahan Fungsi Radar dari EW menjadi Radar Ground Control Interception (GCI). Dari segi jangkauan, radar dapat memindai area sejauh 444 km, sementara jangkauan minimum 8 km dengan coverage 360 derajat. Sedangkan untuk ketinggian deteksi bisa mencapai 100.000 kaki (30,48 km).

Hingga Akhir 2014, AL Rusia Akan Terima 50 Lebih Kapal Baru


Novorossiysk, kapal selam dari Project 636
Sebelum akhir tahun ini, Angkatan Laut Rusia akan menerima lebih dari 50 kapal baru, Komandan Angkatan Laut Rusia Laksamana Viktor Chirkov mengatakan pada hari Sabtu.

Salah satunya adalah dari Project 636, yaitu proyek kapal selam diesel listrik yang akan diluncurkan minggu depan. "Pada tanggal 26 juni, kapal selam diesel listrik Rostov-on-Don akan diluncurkan di Dermaga Admiralty untuk Armada Laut Hitam," kata Chirkov. Chirkov menambahkan bahwa semua armada Angkatan Laut Rusia total akan menerima enam kapal selam dari Project 636. Angkatan Laut Rusia juga akan menerima paket pelatihan awak kapal selam di masa mendatang.

Pada tanggal 27 Juni, pasukan penyapu ranjau juga akan menerima kapal penyapu ranjau baru dari Project 12700, kapal yang dikembangkan oleh biro desain Almaz.

Jepang Pelajari Sistem Pertahanan Rudal Baru


Peluncuran THAAD
Kementerian Pertahanan Jepang akan melakukan penelitian skala penuh pada sistem pertahanan rudal baru yang nantinya akan melengkapi Jepang untuk mencegat rudal balistik Korea Utara, kata para pejabat Jepang dilansir Japan Times.

Kementerian Pertahanan Jepang sudah mulai berkonsultasi dengan Amerika Serikat untuk perkenalannya dengan sistem pertahanan rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) dan versi darat dari interseptor Standard Missile-3 (SM-3) yang dipasang pada kapal perang dengan sistem tempur Aegis, menurut para pejabat.

Saat ini, Pasukan Bela Diri Jepang menggunakan sistem perisai udara dua tahap dalam mencegat rudal balistik. Pada tahap pertama, kapal perang Aegis Jepang (Kelas Atago dan Kelas Kongō) meluncurkan rudal SM-3 untuk menghancurkan rudal atau puing-puing di luar angkasa yang diyakini ditujukan kepada Jepang. Jika itu gagal, sistem rudal Patriot Advance Capability-3 yang berada di darat akan meluncurkan rudal untuk mengintersepnya.

Pra pengiriman: 'Sea Demonstrations' Frigat KRI BUNG TOMO-357


“……Blarrrrr…. suara dahsyat menyalak dari tabung peluncur torpedo KRI Bung Tomo-357 di perairan utara Inggris…. kobaran api dihadapi oleh fire fighting team dengan sigap….”.
KRI Bung Tomo-357, KRI John Lie-358 dan KRI Usman Harun-359

Perairan Glasgow, Senin 9 Juni 2014. Suhu udara di perairan Glasgow, utara Inggris, terasa menggigil walaupun matahari bersinar terang, hal ini dikarenakan hembusan angin dari balik bukit yang bertiup cukup kencang. Sesosok kapal perang dengan siluet yang garang bergerak senyap dari pelabuhan Fairly Quaey menuju laut lepas. Ternyata sosok kapal perang itu adalah KRI Bung Tomo-357, sebuah frigat multi-peran yang dalam waktu dekat akan menjadi bagian kekuatan alutsista TNI AL yang sedang berada di perairan tersebut untuk melaksanakan pentahapan "Sea Demonstrations", Senin, 9 Juni 2014, untuk pengujian platform system dan kesenjataan serta calon pengawak kapal dalam mengoperasikan seluruh peralatan yang melengkapi kapal tersebut. Dua kapal sejenis lagi yang akan memperkuat jajaran alutsista TNI AL, yaitu KRI John Lie-358 dan KRI Usman Harun-359.

Kapal perang tersebut dilengkapi dengan kesenjataan yang sangat kompleks dan lengkap yang didukung oleh platform system yang baik. Radar navigasi, radar surveillance untuk mendukung pengamatan udara serta radar tracker senjata untuk mengendalikan arah dan elevasi secara akurat terhadap sasaran meriam 76mm Otomelara Super Rapid Gun (OSRG) dan 30mm di lambung kanan dan kiri kapal yang dapat berperan sebagai Close in Weapon System (CIWS ) jika ada bahaya udara mengancam kapal tersebut.

Wamenhan: "Industri Pertahanan Kita Sudah Bangkit"


http://www.artileri.org/2014/06/wamenhan-industri-pertahanan-kita-sudah-bangkit.html
Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sjafrie Sjamsoeddin menilai industri pertahanan Indonesia sudah bangkit dari keterpurukan. Hal tersebut diungkapkannya setelah ia berkeliling melihat langsung proses kerja tiga perusahaan yang membuat alutsista TNI AD, AL, dan AU.

Sjafrie menerangkan, kunjungannya ke PT. Pindad, Bandung, menunjukkan bahwa produksi Panser Anoa dan Komodo sudah melebihi 300 unit.

Padahal, kapasitas produksi Pindad hanya 80 unit per tahun. Belum lagi, pihaknya juga sudah memberi order Pindad untuk melakukan retrofit bodi dan mesin AMX-13 sebanyak 400 unit. Dengan diperbaruinya persenjataan, teknologi dan mesin kelas ringan tersebut maka tidak ada keraguan lagi bahwa Pindad sudah bisa bersaing di tingkat regional untuk memasarkan produknya. "Kita masih butuh 200 panser lagi, dan semoga perusahaan bisa menjawabnya dengan meningkatkan produksi plus teknologi kendaraan tempur ini," kata Sjafrie, Rabu, 18 Juni 2014.

Panther AS-565 MB Skadron 400

 Helikopter anti kapal selam AS-565 Panther (photo:eurocopter)

  Rasa gembira menaungi Skadron Udara 400 (Anti Kapal Selam) TNI AL. Pasalnya sebagian rekan mereka tengah berada di Prancis untuk menguji coba dan memilih spesifikasi Helikopter Anti Kapal Selam (AKS) Panther AS-565 MB yang sedang dibeli Kementerian Pertahanan. Gembira karena ada alutsista baru yang segera menemani helikopter AS332 Super Puma, Bell 412EP dan BO-105c, milik Skadron 400. Gembira karena kapal perang mereka akan semakin gahar dan diperhitungkan lawan.

Helikopter AS 565 MB merupakan multi purpose: naval version, serach and rescue, berbasiskan AS 365 N3 (maritime patrol and surveillance platform).

AS 565 MB, bisa digunakan untuk misi: fire support, Anti-Submarine (ASW) dan Anti-Surface Warfare (ASuW), yang bisa dipersenjatai dengan: AS15TT anti-ship missiles, searchlight, Magnetic Anomaly Detector (MAD), dipping sonar, search radar, anti-tank missiles, gun pods, rockets, torpedo dan lain sebagainya. Panther juga dijual oleh Eurocopter ke Amerika Serikat untuk United States Coast Guard (USCG) sebagai HH-65 Dolphin.

Dari 11 helikopter yang dibeli TNI AL, tidak semuanya untuk AKS, namun ada juga versi AKPA dan versi Intai Taktis. Helikopter Panther AS-565 MBe yang dibeli seharga 23 USD/unit ini, sedang disiapkan oleh Skadron 400 TNI AU dan pihak Prancis, untuk mendapatkan spesifikasi yang terbaik, bagi Indonesia.
Untuk misi operasi Naval, AS565MB bisa dikatakan nyaris sempurna: senyap, biaya perawatan murah, multi purpose untuk: surveillance kapal permukaan, Anti-Surface unit Warfare (ASuW) dan Anti-Submarine Warfare (ASW).

Dukung Minimum Essential Force, PT PAL Tingkatkan Kapasitas dan Kualitas Produksi


Minimum Essential Force (MEF) atau kekuatan pokok minimum TNI menjadi salah satu poin penting dalam hal pertahanan negara menuju era global. Persoalan yang tidak kalah penting adalah peningkatan kemampuan industri militer dalam negeri, seperti LAPAN, Pindad, PT PAL, PT DI, BPPT, PT Dahana, dan sebagainya.

“Kapasitas alutsista yang modern dan memadai tentu akan meningkatkan pamor dan menambah rasa percaya diri bangsa kita di tengah-tengah dinamika hubungan antarnegara yang terjadi,” ujar Direktur Utama PT PAL, Muhammad Firmansyah Arifin, kepada JMOL di Surabaya, Rabu (18/6).

Menurut Firmansyah, peningkatan kualitas dan kuantitas alutsista yang dimiliki Indonesia menjadi sangat penting, mengingat Indonesia memiliki lautan yang sangat potensial dan strategis. Alutsista memadai akan sangat berguna apabila suatu ketika terjadi ancaman di wilayah perairan Indonesia, seperti yang terjadi di wilayah Ambalat.

52 Tank Leopard Siap Dikirimkan ke Indonesia dari Jerman


Sebanyak 52 tank Leopard siap dikirimkan dari Jerman ke Indonesia di pengiriman pertama ini. Jumlah tersebut merupakan sebagian dari total pemesanan TNI AD 2013 sebanyak 164 unit.

Upacara pengiriman pertama (roll out) 52 tank dilakukan di Unterluss, Jerman. Rombongan High Level Commitee (HLC) dipimpin Wakil Menteri Pertahanan Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin dan turut dalam rombongan tersebut mantan KSAD Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo. Rombongan dijadwalkan bertolak dari Jakarta Minggu (22/6/2014) pagi ini menuju Hamburg.

Pembelian tank Leopard merupakan inisiasi KSAD saat itu, Jenderal Pramono Edhie Wibowo. Adapun alasan perlunya pembelian alat utama sistem senjata (Alutsista) tersebut sebagai bagian dari modernisasi alutsista.

Tatra T815 : Kendaraan Peluncur Roket 6x6 MLRS Astros II Mk-6



MLRS Astros II Mk-6 menggunakan basis kendaraan truk 6x6 Tatra T815-790R39 sebagai kendaraan peluncur roketnya, sedangkan kendaraan pendukung menggunakan basis truk 4x4 Tatra T815-7A0R59. Sebelumnya digunakan truk 6x6 Mercedes Benz tipe 2028A (photo : Kompas)
 
  Awal Agustus mendatang, 13 dari 38 kendaraan sistem peluncur roket multilaras (MLRS) Astros II MK-6 buatan perusahaan Avibras, Brasil, tiba di Jakarta. Kendaraan MLRS yang berpenggerak enam roda (6 x 6) itu memiliki kemampuan meluncurkan 24 roket dengan daya jangkau dari belasan kilometer hingga 300 kilometer.
Namun, kali ini yang akan dibahas bukanlah mengenai kemampuan roket yang diluncurkan, melainkan tentang kendaraan 6 x 6 yang memanggul kontainer peluncur roket itu. Di masa lalu, Avibras mendatangkan kendaraan 6 x 6-nya dari Mercedes Benz, Jerman. Akan tetapi, kali ini, Avibras memesannya dari Ceko, tepatnya dari perusahaan Tatra.

Analisis : Memahami Wibawa Pertahanan

Analisa :  Sebenarnya tanpa kita sadari kekuatan pertahanan kita selama setahun terakhir ini meningkat dengan tajam seiring dengan kedatangan berbagai alutsista untuk mengisi satuan tempur di segala matra. Belum lagi ledakan amunisi terbesar dan tergagah sepanjang sejarah dalam Latgab TNI awal Juni kemarin yang ditembakkan dari berbagai sumber daya alutsista darat, laut dan udara. Bisa dibayangkan betapa lumatnya KRI Karang Banteng yang menjadi korban 4 peluru kendali anti kapal Exocet dan C802 yang ditembakkan dari 4 KRI sekaligus.  Memang Latgab kemarin adalah latgab terdahsyat yang pernah dilakukan TNI dan pertama kali mengintegrasikan sistem pertempuran 3 matra dengan konsep pre emptive strike.



Latgab itu adalah salah satu aplikasi memahami wibawa pertahanan. Memahami wibawa pertahanan esensinya sama dengan memperhatikan kesehatan dan kebugaran sekujur tubuh.  Tubuh yang sehat dan bugar adalah gambaran kesehatan organ tubuh di dalamnya. Tubuh yang atletis menggambarkan kegagahan bagi si pemilik tubuh. Demikian juga dengan gambaran sebuah negara. Negara yang “atletis” tentu menggambarkan kekuatan militernya yang tangguh dan gahar. Wibawa pertahanan adalah bagian dari cara pandang untuk mengukur sejauh mana harga diri bangsa berdiri di tengah pergaulan antar bangsa. Maknanya adalah tidak ada pelecehan teritori dan sekaligus kemampuan merawat pagar teritori.  Bukan ketika ada yang mencoba melecehkan teritori lalu bersikap reaktif dan retorika.


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...