
JAKARTA: Mabes TNI memperkirakan anggaran untuk mengamankan proyek
Lapangan gas Abadi di Blok Masela, Maluku sebesar Rp1,4 triliun.
Dalam dokumen yang didapat Bisnis disebutkan Wakil Asisten Operasi
Panglima TNI Laksamana Pertama TNI Widodo menyatakan dana sebesar itu
akan digunakan untuk menggelar operasi permanen, operasional
sehari-hari, dan pembangunan landasan pesawat.
Untuk pengamanan permanen Angkatan Darat, yang meliputi operasi sejumlah
pos seperti koramil, markas batalion, dan markas kompi dibutuhkan dana
minimal Rp274 miliar dan gelar operasi Rp1,5 miliar, sehingga total dana
yang dibutuhkan sekitar Rp276 miliar.
Angkatan Laut membutuhkan Rp139 miliar untuk gelar tetap dan Rp18 miliar
untuk biaya operasional, sehingga total biaya yang dibutuhkan mencapai
Rp157miliar.
Untuk gelar tetap Angkatan Udara dibutuhkan sedikitnya Rp822 miliar dan
biaya operasional Rp72 miliar, sehingga jumlah yang dibutuhkan Rp968
miliar.
"Dengan demikian kebutuhan untuk pengamanan Masela adalah Rp1,4 triliun," tulis dokumen itu, mengutip pernyataan Widodo.
Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul
menegaskan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP
Migas) meminta Mabes TNI untuk membuat rencana pengamanan proyek
tersebut sehingga keluar perkiraan anggaran sebesar Rp1,4 triliun.
“Ini baru rencana ke depan, belum terlaksana tahun ini, tetapi untuk 20
tahun yang ada datang,” kata Iskandar kepada Bisnis hari ini.
Sarana keamanan di daerah tersebut masih kosong sehingga perlu dibangun.
Mabes TNI perlu membangun lapangan terbang untuk operasi Angkatan
Udara, pangkalan angkatan laut (Lanal), dan pendirian batalion untuk
Angkatan Darat.
Iskandar menegaskan pengamanan di sekitar wilayah tersebut perlu
disiapkan karena menyangkut daerah perbatasan dengan Australia. Namun
hingga saat ini belum ada pembicaraan lebih lanjut dengan BP Migas
mengenai hal itu.
Lapangan gas Abadi di Blok Masela, terletak di Laut Arafuru, sekitar 180
km sebelah Selatan Pulau Tanimbar. Daerah ini merupakan wilayah
perbatasan dengan perairan Australia.
Pencarian migas di Blok Masela oleh Inpex Masela Ltd dimulai sejak
November 1998 dan berhasil menemukan cadangan gas yang cukup ekonomis
untuk diproduksikan pada Desember 2000.
Lapangan gas Abadi memiliki cadangan 6,5 triliun kaki kubik (TCF) gas.
Proyek yang menelan investasi US$5 miliar dengan kilang LNG terapung
berkapasitas 2,5 juta ton per tahun (MTPA) ini diharapkan mulai
berproduksi pada 2016.
BP Migas diminta mengajukan permohonan kepada Presiden, Kementerian
Keuangan, atau Bappenas untuk menyisihkan sebagian penerimaan dari
proyek Masela untuk pembangunan sarana pengamanan, tidak langsung
semuanya masuk ke kas negara.
"Dengan adanya dana, pengamanan di sana akan lebih baik. Intinya kami
siap mengamankan blok migas itu," tulis dokumen tersebut mengutip
pernyataan Widodo.
Kesiapan untuk mengamankan blok gas tersebut juga diutarakan oleh Polda
Maluku. Sayangnya, Direktorat Obyek Vital Nasional di Polda Maluku baru
terbentuk, belum memiliki sarana, prasarana, serta personel yang
optimal. Ditambah lagi kondisi geografi dan sosial masyarakat Maluku
yang sangat kompleks.
Untuk memproduksi cadangan terbukti (P1) sebesar 6,05 TCF tersebut,
Inpex berencana membangun berbagai fasilitas pendukung yang terkait
dengan production integrator seperti pemasangan wellhead di dasar laut,
flow line, riser, umbilical dan sub sea tool maintenance.
Selain itu, akan dibangun kilang terapung (FLNG) berupa ruang terbatas
dengan dimensi panjang 360 meter dan lebar 80 meter, yang akan digunakan
untuk mengolah gas menjadi LNG, fasilitas logistik berupa pelabuhan
laut dan heli, kantor, gudang, bengkel perawatan, mes untuk transit,
crew change dan supply base.
Seperti layaknya proyek migas lain, proyek Lapangan Abadi merupakan
objek vital nasional (Obvitnas). Karena letaknya di jalur ALKI – III
dirasa sangat rawan terhadap potensi ancaman.
Kebocoran pada fasilitas production integrator ataupun over pressure,
misalnya dapat mengakibatkan masalah lingkungan yang akan mempengaruhi
hubungan kedua negara, mengingat posisinya yang sangat dekat dengan
garis perbatasan.
Situasi di perbatasan dapat berubah setiap saat dengan sangat cepat
apabila tidak diantisipasi dengan baik. Hal ini dapat mempengaruhi
pelaksanaan proyek yang masuk dalam kategori Obvitnas tersebut.
"Untuk mengantisipasi munculnya masalah-masalah tersebut, kami
menganggap perlu adanya grand design pengamanan proyek pengembangan
Lapangan Abadi di Blok Masela. Mekanisme pengamanan di kawasan itu
merupakan upaya preventif, bukan seperti pemadam kebakaran. Saya kira
hal ini juga sejalan dengan Renbang TNI di wilayah Timur Indonesia,"
tulis dokumen tersebut mengutip Widodo.