Negara anggota NATO, Turki, memilih sebuah perusahaan China yang telah
terkena sanksi AS untuk membuat sistem pertahanan rudal jarak jauh
senilai US$ 4 miliar, menyingkirkan tawaran dari Rusia,
perusahaan-perusahaan Eropa lainya dan Amerika Serikat sendiri, Reuters
melaporkan.
Menteri Pertahanan Turki mengumumkan keputusan untuk memberikan kontrak
kepada China Precision Machinery Import and Export Corp (CPMIEC) pada
hari Kamis kemarin dalam sebuah pernyataannya. Namun tidak disebutkan
biaya sebesar US$ 4 miliar tersebut untuk berapa sistem pertahanan
rudal.
Pada bulan Februari lalu, Amerika Serikat memberikan sanksi kepada
CPMIEC karena melanggar sanksi yang diberikan kepada negara-negara yang
diberi sanksi seperti Iran, Korea Utara dan Suriah. Tidak jelas apa yang
telah dilakukan oleh CPMIEC sehingga harus mendapatkan sanksi dari AS.
Sebelumnya CPMIEC juga terkena sanksi AS. Pada tahun 2003, Washington
mengatakan pihaknya memperpanjang sanksi pada CPMIEC untuk penjualan
senjata kepada Iran. Menurut Reuters, pejabat dari CPMIEC sendiri tidak
bisa dihubungi perihal sanksi Amerika Serikat ini.