Wednesday, August 21, 2013

Ex Karyawan PT. DI Sayangkan Proyek N2130 Berhenti


BUMN produsen pesawat terbang, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) (Persero) sempat merancang dan mengembangkan pesawat penumpang bermesin jet, N2130. Pesawat ini dirancang dengan 3 varian dan siap menjadi pesaing dari pesawat sejenis Airbus 320 dan Boeing 737. Namun project ini terpaksa dihentikan setelah krisis ekonomi 1998.

Mantan karyawan PTDI pun menyayangkan project pengembangan pesawat komersial buatan asli Indonesia ini harus diberhentikan. Hal ini diungkapkan mantan anggota project N2130 dan juga ex karyawan PTDI, Gemini C. Bangun Putra  di sela acara Diaspora, JCC Senayan Jakarta, seperti dikutip Selasa (20/8/2013).

Pengamat : Modernisasi Alutsista Harus Terus Ditingkatkan



Pengamat militer Universitas Muhammadiyah Malang Dr Muhadjir Effendi mengemukakan pemerintah harus terus berupaya melakukan modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) agar tidak tertinggal dengan negara lain.

"Sudah ada perkembangan positif dalam skema pembenahan dunia militer di Tanah Air, meski dilakukan secara bertahap. Kita harus terus semakin memperkuat kemampuan sendiri dalam pengadaan persenjataan utama maupun pendukung," tegas Muhadjir Effendi di Malang, Sabtu.

Indonesia Mampu Bangun Helikopter Carrier



BUMN produsen kapal, PT PAL Indonesia (Persero) berencana mengembangkan kapal induk versi militer. Kapal ini nantinya mampu didarati hingga 8 unit helikopter.

Kapal induk versi Indonesia ini, merupakan pengembangan dari kapal tipe Double Skin Bulk Carrier, Star-50 dengan berat 50.000 ton bobot mati (DWT).

"Star 50 dirancang untuk kapal induk. Kita siapkan rancangan. Dirancang untuk 8 helikopter. Belum termasuk yang disimpan di hanggar," ucap Petugas Penjaga Stand PAL Utario EP  di acara Kongres Diaspora, JCC Senayan Jakarta, Selasa (20/8/2013).

Legislator Dukung Pembelian Kapal Selam dari Rusia


B-871 Alrosa, kapal selam jenis Project 877V kelas Kilo dioperasikan Armada Laut Hitam AL Rusia. (Foto D.Starostin)

19 Agustus 2013, Jakarta: Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan, tawaran 10 unit kapal selam dari Pemerintah Rusia kepada Pemerintah Indonesia, merupakan hal menarik. Karenanya, tawaran itu perlu dikaji lebih lanjut.

"Saya kira, tawaran dari Rusia, 10 kapal selam itu menarik untuk dikaji lebih mendalam dan ditindaklanjutinya," ujar Mahfudz Siddiq di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (19/8).

Namun, menurut Mahfudz, jika nantinya disetujui, pengadaan kapal selam dari Rusia itu baru bisa direalisasikan pada pengadaan tahap kedua atau setelah 2014 mendatang. "Sebab, saat ini sudah ada keputusan untuk pengadaan tiga kapal selam dari Korea Selatan," ujarnya.

Monday, August 19, 2013

Indonesia-China mantapkan kerja sama industri pertahanan


https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSpN0EJkuGkjKfwJVXwlQ6tGqNBqpIgm-JrHcX2kw6bYrbQnpdpHg
Rudal C705
Beijing - Indonesia dan China sepakat untuk memantapkan kerja sama industri pertahanan berdasarkan prinsip saling menguntungkan dan saling menghormati.

"Indonesia dan China telah memiliki kerja sama yang baik, termasuk dalam industri pertahanan," kata Dirjen Departemen Perdagangan Militer dan Hubungan Luar Negeri State Administration for Science, Technology and Industry for National Defense (SASTIND) Zhan Chunli di Beijing, Senin.

Indonesia-Russia military ties going strong








Indonesia-Russia military ties going strong
Source: Reuters
The USSR began selling arms to Indonesia almost immediately after the two countries established diplomatic relations in 1950. In those early years, Indonesian naval and air force personnel were sent to study in the Soviet Union. However, the relations soured in the mid-1960s for political reasons.
The parties attempted to resume contacts in the early 1990s, but a number of factors prevented them from re-establishing close contacts until the 2000s.
For example, talks had been on about deliveries of Russian Sukhoi Su-30 fighters to Indonesia since 1997, but the first examples of the type were not delivered until 2003.
Russian and US presence in Indonesia
The resumption of Russian-Indonesian military contacts was largely facilitated by a split between Indonesia and the USA.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...