Pasukan AL Rusia dan Kopaska latihan bersama di Surabaya. (Foto: Kedubes Federasi Rusia)
3 Januari 2013, Jakarta: Kepala Staf TNI AL (Kasal), Laksamana Madya TNI
Marsetio, mengatakan TNI AL harus terbuka terhadap pandangan global dan
memperbanyak latihan-latihan bersama dengan instansi terkait dari luar
negeri. Apa yang sudah dilakukan selama ini akan diteruskan dan
dipertajam.
"Program Kasal sebelumnya, yakni Laksamana Soeparno, akan saya teruskan
dan pertajam. Selama menjadi Kasal, cita-cita saya adalah kita harus
semakin membuka diri di era globalisasi sekarang ini," kata Marsetio
saat acara pisah-sambut Kasal di Mabes TNI AL, Jakarta, Rabu (2/1).
Menurut dia, Laksamana Soeparno telah melakukan itu dengan baik. "Pak
Soeparno telah mengawali latihan-latihan bersama dengan sejumlah
angkatan laut negara lain. Saya akan mempertajam kebijakan itu," kata
lulusan terbaik Akademi Angkatan Laut pada 1981 itu.
Dalam pidatonya, Marsetio mengaku mendapatkan banyak bimbingan dari
seniornya, Soeparno, yang akan pensiun pada 1 Oktober mendatang. "Saya
berharap, sambil menunggu masa pensiun, Bapak Soeparno tetap menjadi
bagian dari TNI AL," kata dia.
Marsetio sudah mengenal Soeparno sejak masih di Akademi Angkatan Laut.
Soeparno yang merupakan lulusan tahun 1978 kerap selalu membawa Marsetio
membantu pekerjaanya di sejumlah satuan. "Beberapa kali saya menjadi
staf beliau," ujar dia.
Saat menjadi Komandan Gugus Tempur Laut di Armada Timur, Marsetio
menjadi bawahan Soeparno, termasuk saat ramai persoalan Ambalat pada
2005, hingga saat Soeparno menjadi Komandan Armada Bagian Barat.
Terakhir, ketika Soeparno menjadi Kasal, Marsetio dipercaya menjadi
wakasalnya. "Beliau selalu membimbing saya hingga sekarang saya menjadi
Kasal," kata dia.
Lebih jauh, Marsetio menyatakan akan menyesuaikan program kerja TNI AL
sesuai perkembangan dinamika. "Terutama disesuaikan dengan kebijakan
pemimpin dan alokasi anggaran yang ada," kata dia.
Peremajaan Alutsista
Namun, yang jelas, Marsetio menyatakan dirinya akan tetap mengacu pada
pencapaian kekuatan pokok minimal (minimun essential forces/MEF). "Tak
hanya dalam hal peremajaan alat utama sistem senjata/alutsista, tetapi
juga meningkatkan kesejahteraan prajurit," jelasnya.
Prioritas perwujudan MEF, antara lain meningkatkan kemampuan mobilitas
TNI AL, meningkatkan kemampuan satuan tempur (stiking force) dan
menyiapkan pasukan siaga (standby force) untuk penanganan bencana alam,
tugas-tugas perdamaian dunia dan keadaan darurat lainnya.
Marsetio juga menjelaskan pembangunan MEF diimplementasikan dalam tiga
rencana strategis (renstra) hingga tahun 2024 yang diproyeksikan pada
pencapaian MEF yang mencakup organisasi, personel, dan alutsista sesuai
dengan alokasi anggaran pertahanan.
Menurut dia, percepatan pencapaian MEF di bidang alutsista
diprioritaskan pada penggantian alutsista yang kondisinya tidak layak
pakai serta pemenuhan kebutuhan untuk pelaksanaan tugas-tugas mendesak.
Sejumlah persoalan yang mungkin akan dihadapi pada 2013, antara lain
perkembangan situasi kawasan regional tentang Laut China Selatan,
penyelesaian wilayah perbatasan yang berpotensi konflik, dan situasi
kondisi nasional terkait perkembangan politik, ekonomi, sosial budaya,
dan pertahanan keamanan. "Perlu penyesuaian untuk menjawab kecenderungan
yang terjadi," katanya.
Dalam sambutan perpisahannya, Soeparno berharap Marsetio semakin
mengibarkan TNI AL. Dia bahkan meminta Marsetio membawa TNI AL maju
secara signifikan melalui alunan lagu. "Saya yakin dan percaya TNI AL
akan lebih maju. Harapan saya, seluruh jajaran TNI AL ikut bekerja kerja
keras mewujudkan cita-cita membangun postur TNI AL yang ideal," jelas
dia.
Secara terpisah, Kepala Staf TNI AU (Kasau), Marsekal Madya Ida Bagus
Putu Dunia, saat apel khusus menyambut 2013 di di Mabesau,mengatakan
sebagai salah satu komponen pertahanan negara, TNI AU terus tumbuh
berkembang seiring dengan dinamika pembangunan nasional dan perkembangan
lingkungan strategis.
"Kekuatan Angkatan Udara merupakan salah satu komponen kekuatan yang
dapat menjadi bargaining power dalam upaya menyelesaikan konflik
antarnegara," kata Kasau.
Kebijakan pengembangan kekuatan TNI AU tetap mengacu pada rencana
pengembangan yang telah dituangkan dalam renstra TNI AU 2010-2014 dengan
tetap memperhatikan dinamika di lapangan. "Kemungkinan ancaman dan
kontinjensi dapat muncul akibat situasi politik dan keamanan
internasional yang makin intens akibat fenomena global dan adanya
rehabilitas dari bencana alam, kebijakan operasi militer pengamanan
perbatasan, dan daerah rawan pengamanan pulau-pulau terdepan," jelas
dia.
Sumber:
Koran Jakarta