Showing posts with label dirgantara. Show all posts
Showing posts with label dirgantara. Show all posts

Monday, February 18, 2013

Demi Kedaulatan Indonesia Harus Ambil Alih FIR dari Singapura


Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia, yang baru diresmikan bulan lalu, harus segera melakukan konsolidasi organisasi. Organisasi yang kuat akan memungkinkan LPPNPI bisa mengambil alih Flight Information Region (FIR) yang saat ini dikuasai oleh Singapura.
 
Demi Kedaulatan Indonesia Harus Ambil Alih FIR dari Singapura

Demikian kesimpulan yang didapat dari seminar ”Harapan dan Tantangan Navigasi Penerbangan Indonesia” yang digelar Masyarakat Transportasi Indonesia di Jakarta, Kamis (14/2/2013).

”Wilayah kontrol udara di Indonesia saat ini dikuasai oleh Singapura. Mereka bisa mendapatkan hak untuk mengatur lalu lintas udara karena peralatan mereka lebih modern dan menggunakan satelit. Kini sudah saatnya Indonesia mengambil alih kontrol udara di atas wilayah Indonesia,” kata Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim.


Menurut Chappy, Indonesia mempunyai peluang untuk memegang kendali atas lalu lintas udara tidak hanya di atas Indonesia, tetapi juga untuk kawasan Asia Tenggara.

Wednesday, January 30, 2013

Izin Lintas Pesawat Asing Akan Diringkas

Ada empat hal pokok yang dibahas dalam memformulasikan suatu kebijakan dalam pengawasan.

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2010/10/05/97234_pasukan-tni_209_157.jpg
Dalam upaya memformulasikan kesepakatan atau kesatuan dengan mengeluarkan kebijakan tentang pengawasan wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di udara, pemerintah memiliki empat hal pokok yang dibahas.

Demikian disampaikan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Politik (Menko Polhukam), Djoko Suyanto dalam Rapat Pimpinan Tingkat Menteri (RPTM)  yang membahas Penanganan Penerbangan Pesawat Asing tidak Terjadwal di wilayah NKRI, di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis 29 Maret 2012. 

Tuesday, December 18, 2012

Kedaulatan Udara RI Masih Lemah


Kedaulatan udara Republik Indonesia masih lemah. Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal (Purn) Chappy Hakim disela peluncuran bukunya "Quo Vadis Kedaulatan Udara Indonesia" di Jakarta, Senin (17/12/2012) mengatakan, insiden penerbangan gelap lima jet tempur F-18 Hornet US Navy tanggal 2 Juli 2003 di sekitar Pulau Bawean menjadi pelajaran berharga.

"Ketika itu pilot sipil salah satunya dari maskapai Bouraq mengaku ada pesawat jet terbang jungkir balik dan berguling-guling mengganggu keselamatan penerbangan. Yang dituduh tentu saja penerbang jet tempur TNI AU dari Pangkalan Madiun. Setelah dicek dengan mengirim sepasang F-16 Falcon ternyata ada 5 F-18 Hornet dengan senjata lengkap sedang mengawal kapal induk dari Armada VII AS yang berpangkalan di Pasifik," kata Chappy.

Indonesia harus memberi peringatan dan sebaliknya pihak AS merasa berhak melintas. Padahal, setiap hari ada 1.000 penerbangan sipil domestik dan puluhan penerbangan internasional di ruang udara Indonesia.

Meski mengalami pelajaran berharga tersebut, Chappy menyayangkan sampai kini kemampuan radar Indonesia belum maksimal. Bahkan, kemarin puluhan penerbangan ke Bandara Soekarno-Hatta dibatalkan karena listrik padam yang mengakibatkan radar tidak berfungsi. Selain itu, penerbangan gelap (intruder) juga masih terjadi berulangkali di ruang udara Indonesia. 

Kedaulatan Udara adalah Sumber Uang

Kedaulatan udara akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut diungkapkan Marsekal TNI Purnawirawan Chappy Hakim dalam acara peluncuran buku ketiganya berjudul "Quo Vadis Kedaulatan Udara Indonesia?", Senin (17/12/2012) di Jakarta.

Buku tersebut seperti judulnya menguraikan pentingnya pertahanan udara. Chappy mengambil contoh dari pertempuran Laut Aru tahun 1962 yang menggambarkan kurangnya pertahanan udara dan peristiwa Bawean tahun 2003 dimana pesawat F-18 milik AS melakukan manuver membahayakan bagi Indonesia.

Kepada Kompas.com, Chappy mengungkapkan bahwa di tengah zaman dimana perang dianggap usang, upaya pertahanan terhadap wilayah Indonesia tetap penting. Kedaulatan udara akan mendukung pembangunan menuju kemakmuran.

"Kita memang sudah bukan berada di zaman perang. Tetapi, kedaulatan udara kita merupakan sumber uang. Wilayah udara kita ini adalah market kita. Apakah kita mau orang lain yang memanfaatkan market kita," papar Chappy.

Kedaulatan udara sama pentingnya seperti kedaulatan lautan. Kurangnya kedaulatan di laut mengakibatkan praktik perikanan ilegal dan pencurian sumber daya alam yang nilai kerugiannya bisa sampai triliunan rupiah per tahun.

"Di udara kerugiannya juga banyak. Orang akan bebas terbang di wilayah kita, mengangkut barang atau orang seenaknya," kata Chappy yang tepat pada peluncuran buku juga merayakan ulang tahun yang ke 65.

Chappy menggarisbawahi bahwa wilayah udara seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri. Salah satu yang membuat Singapura sejahtera adalah kepandaian untuk mengelola wilayah udaranya. Air security will bring prosperity.

Pulau-pulau Indonesia adalah 'Kapal Induk'

Pulau-pulau di Indonesia adalah "kapal induk" yang dapat menjadi pangkalan pesawat tempur TNI-AU.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal (Purn) Chappy Hakim disela peluncuran bukunya "Quo Vadis Kedaulatan Udara Indonesia" di Jakarta, Senin (17/12/2012), menjelaskan, pulau-pulau yang tersebar di Nusantara berfungsi ibarat kapal induk.

"Indonesia tidak memiliki doktrin agresi menyerang keluar. Untuk itu tidak diperlukan kapal induk. Pulau-pulau kecil di bagian terdepan Nusantara dapat menjadi pangkalan pesawat tempur Indonesia," kata Chappy.

Pertahanan untuk menangkal itu, dikombinasikan dengan kapal-kapal perang TNI-AL yang berada di pangkalan aju di pulau-pulau terluar.

Namun Chappy menyayangkan, hingga kini belum ada koordinasi yang padu dalam membangun sinergi antar instansi untuk menjaga kedaulatan dari ancaman asing, serta praktik kegiatan ilegal seperti penyelundupan kekayaan sumber daya alam serta perikanan Indonesia.

Anggota Komisi I DPR, Mahfudz Sidik, dalam kesempatan sama menjelaskan, setiap tahun Rp 20 triliun kerugian negara disebabkann pencurian, penyelundupan, dan rangkaian kegiatan ilegal yang lolos dari pemantauan terpadu dari udara dan laut di lautan Indonesia.

● Kompas

Monday, December 17, 2012

Indonesia Dalam Flight Global World Air Forces 2013

(arc)Media penerbangan Internasional, Flight Global kembali mempublikasi hasil laporan khusus mereka, yaitu berupa Kekuatan Udara Militer seluruh dunia yang dirangkum dalam World Airforces 2013. Dalam publikasinya, Fligh International mencatat bahwa selama 2012 ini banyak konflik yang melibatkan peran kekuatan udara secara masif. Diantaranya konflik Libya, Afganistan, Israel hingga Suriah.


Menarik juga diperhatikan adalah data armada aktif di seluruh dunia. Tercatat kawasan asia pasifik merupakan wilayah paling banyak armada udara militer. Tak heran sesungguhnya. Di kawasan ini bercokol China dengan armada udara ribuan unit, serta banyaknya potensi konflik membuat banyak negara mempersenjatai diri.

Disisi lain, Amerika Serikat mengukuhkan diri sebagai penjual alutsista udara paling laris. Ini setidaknya ditunjukan dalam tabel pesawat paling aktif di seluruh dunia. F-16 masih menguasai udara dunia dengan lebih dari 2000 unit aktif, sementara di kelas pesawat angkut dan helikopter dirajai oleh Hercules serta Blackhawk.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?. Sayangnya data dari Flight Global boleh dibilang kurang update dan akurat. Dalam inventori TNI-AU misalnya, masih dicantumkan OV-10 Bronco. Padahal pesawat jenis ini sudah pensiun sejak 2007 lalu. Demikian pula dengan Fokker-27 serta Twinpack. Namun demikian, beberapa data pesanan atau pun sekedar "tertarik" sudah tercantum. Diantaranya pesanan pesawat latih T-50, Grob G-120TP hingga heli Apache. Meski tidak tepat benar, tapi lumayanlah untuk menambah referensi. Publikasi ini juga bisa anda dapatkan secara gratis di situs Fligh Global. Dan untuk lengkapnya simak data berikut ini.






Tuesday, December 04, 2012

Ancaman Keamanan Udara Indonesia Oleh Asing


Seringkali kita selalu berbicara tentang ancaman keamanan nasional, maka mainstream pembicaraan mengarah kepada jenis-jenis ancaman yang bersifat politik, ideologi, ekonomi dan hankam, sementara di sisi yang lain kita kurang menyadari bahkan mungkin beberapa petinggi di negara ini atau pengambil kebijakan di negara ini juga kurang mengerti sebenarnya ada ancaman sangat besar yang bisa menerkam Indonesia ke depan yaitu ancaman “pengkaplingan udara” Indonesia oleh asing.


Dalam konsep ATFM (Air Traffic Flow Management), wilayah udara dunia akan dibagi menjadi 4 pusat pengendalian penerbangan (ATFM Centre) : Eurocontrol, mengendalikan seluruh penerbangan di Eropa. Berpusat di Brussels dan mulai dibuka tahun 1996. ATCCC, mengendalikan seluruh penerbangan di Amerika. Berpusat di Warrenton, VA. Dibuka mulai 2002 sebagai pemgembangan TRACON. ATNS, menjadi pusat pengendalian penerbangan di seluruh wilayah udara Afrika. Dibuka sejak 2010 dan berpusat di Johannesburg. Sedangkan untuk Asia Pasifik, saat ini ada 3 negara sedang bersaing untuk memperebutkan sebagai ATFM Centre, yaitu : Indonesia, Thailand dan Australia, seperti yang tergambar dalam ATC world map dibawah ini :        
 
Ancaman Serius
 
Persoalan keamanan udara Indonesia ini tidak dapat dipandang sebelah mata, karena dapat menimbulkan ancaman serius. Salah satu bentuk ancaman tersebut adalah apabila asing (Thailand atau Australia) berhasil menjadi ATFM Centre di Asia Pasifik, maka seluruh penerbangan di wilayah ini akan dikendalikan dari sana, termasuk Indonesia. Dengan kata lain, apabila pesawat Garuda akan terbang dari Jakarta ke Makassar, maka dia harus ijin dulu ke Thailand atau Australia. Begitu pula apabila pesawat TNI-AU akan berpatroli, maka harus ijin kepada Thailand atau Australia.
 
Dalam pembuatan skenario dan foresight terkait dengan ancaman ini menggunakan metode pendekatan Lockwood Analytical Method for Prediction (LAMP) dengan 12 langkah, maka dapat ditarik kesimpulan yang besar bahwa kekalahan Indonesia dalam memperebutkan dominasi ATFM akan membuat wilayah udara Indonesia “diambil-alih” oleh negara lain. Situasi ini serupa dengan diambilnya wilayah udara Batam oleh Singapura, namun dalam skala yang jauh lebih luas karena menyangkut seluruh wilayah udara Nusantara.
 
Bahaya lainnya jika wilayah Indonesia “dikapling asing” karena Indonesia gagal menjadi ATFM Center adalah akan banyak maskapai penerbangan swasta dan nasional milik Indonesia yang akan bangkrut, sebab maskapai penerbangan Indonesia diwajibkan untuk terbang dengan dibawah upper air space yang akan berdampak pesawat terbang tersebut akan boros dengan bahan bakar, sebab semakin rendah sebuah pesawat terbang maka memerlukan bahan bakar/avtur yang besar dibandingkan dengan pesawat yang mengudara diatas upper air space
 
Dengan begitu dapat dibayangkan multiplier effect yang dihasilkan yaitu maskapai penerbangan swasta dan nasional di Indonesia kurang kompetitif dibandingkan maskapai penerbangan asing, yang pada akhirnya mengakibatkan kebangkrutan dan PHK besar-besaran. Kondisi ekonomi dan sosial ini jelas rawan dipolitisasi oleh kekuatan asing ataupun komprador asing di dalam negeri untuk “mengais keuntungan di air yang keruh”
 
Bagaimana mencegahnya ?
 
Salah satu tugas utama dari badan intelijen di negara manapun juga adalah memberikan “warning” atau peringatan atas kemungkinan adanya ancaman dan pendadakan strategis yang datang dari pihak manapun juga. “Warning” itu sendiri dibagi dalam strategic warning atau peringatan strategis dan tactical warning atau peringatan taktis. Strategic warning itu sendiri dibagi dalam strategic warning sebelum dikeluarkannya keputusan/kebijakan dan strategic warning setelah dilakukan aksi atas kebijakan yang telah dikeluarkannya. “Warning” diperlukan oleh pembuatan kebijakan atau keputusan secepat dan seakurat mungkin. Sementara itu, “tactical warning” terkait erat dengan operasional intelijen, namun bukan merupakan bagian fungsi dari intelijen.  Terkait dengan waktu dikeluarkannya “warning”, maka warning dibagi dalam imminent (dekat), immediate future (masa langsung), near future (waktu dekat), soon (segera) dan foreseeable future (masa depan).
 
Agar badan intelijen tidak salah dalam memberikan “warning/peringatan”, maka Cynthia Grabo sebagai penulis buku “Handbook of Warning Intelligence (2010)” yang juga pernah direkrut Army Intelligence US tahun 1942 ini, menulis bahwa “warning” bukan merupakan komoditi (karena warning adalah tidak terukur, abstrak, sebuah teori, sebuah persepsi dan sebuah beliefs), warning juga bukan current intelligencewarning juga bukan kompilasi dari berbagai fakta, dan warning juga bukan konsensus mayoritas. Namun warning adalah sebuah upaya penelitian yang lengkap, warning adalah penilaian atas berbagai probabilitas, warning adalah penilaian dari pembuat kebijakan, dan warning adalah keyakinan yang menghasilkan tindakan. 
 
Untuk membuat sebuah “warning” yang baik, maka sumber-sumber informasi yang terkait dengan warning tersebut haruslah berasal dari sumber-sumber tertutup, memiliki nilai akses langsung atau hasil observasi, sangat detail dan spesifik, dan timeliness.
 
Persoalan ancaman keamanan udara diatas, adalah tugas yang harus diselesaikan oleh aparat intelijen dibantu dengan stake holder di bidang keamanan udara seperti Angkasa Pura, Kementerian Perhubungan, Kementerian Luar Negeri, TNI khususnya TNI Angkatan Udara untuk saling bantu membantu memenangkan posisi sebagai ATFM Center dapat dimenangkan oleh Indonesia, tentunya dengan upaya diplomatik yang benar, penggalangan yang benar serta pendekatan-pendekatan hukum lainnya.

Friday, November 02, 2012

Habibie dan Mimpi Kembalinya Kejayaan Pesawat RI


"Sudah seharusnya Indonesia unjuk gigi," kata BJ Habibie.

N-250 IPTN
Indonesia pernah menikmati kejayaan sebagai salah satu produsen pesawat terbang dengan lahirnya N-250 yang merupakan pesawat regional komuter turboprop rancangan asli IPTN.

Di tangan Bacharuddin Jusuf Habibie, Indonesia dapat dianggap telah sejajar dengan negara-negara pembuat pesawat terbang yang terlebih dahulu memproduksi pesawat terbang, baik untuk tujuan komersil maupun militer.

Mantan Presiden RI, Bacharuddin Jusuf Habibie ini pun mempunya ambisi untuk mengembalikan kejayaan Indonesia tersebut. Bahkan upayanya telah dimulai dengan mendirikan perusahaan dirgantara, PT Ragio Aviasi Industri (PT RAI). Perusahaan ini akan mengembangkan kembali rancangan pesawat N-250 yang pernah dikembangkan pada tahun 1995.

"Perusahaan Ragio Aviasi Industri dan semua data tentang pesawat N-250 juga masih kita punyai," kata Habibie di Yogyakarta, Kamis 1 November 2012.

Menurutnya dalam perusahaan itu, dirinya dipercaya menjabat Ketua Dewan Komisaris dan siap untuk terlibat aktif dalam pengembangan teknologi pesawat.

"Sudah seharusnya Indonesia unjuk gigi dan bersaing dengan negara lain. Karena menurutnya, sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki oleh PT Dirgantara Indonesia, dapat dimanfaatkan kembali untuk menciptakan kembali pesawat yang pernah dihasilkan IPTN," katanya.

Meski PT RAI telah terbentuk, namun diakui Habibie, proses pengembangan N-250 direncanakan baru akan dilaksanakan 5 tahun mendatang. ”Semoga dalam lima tahun kedepan saya masih sehat. Untuk itu saat ini saya sedang menuliskan pengembangan teknologinya,” ujarnya.

Tuesday, October 23, 2012

Warisan Habibie dan Peningkatan Kapabilitas Industri Pertahanan Nasional



N2130
Kisah bermula dari dipanggil pulangnya BJ Habibie(selanjutnya disingkat BJH) ke tanah air pertengahan dekade 70-an. Beliau yang saat itu sudah menjabat sebagai Vice President perusahaan pesawat terbang Jerman, MBB, mendapat misi dari pak Harto untuk membangun kemandirian Iptek.

Ide awal dari BJH adalah bagaimana  membangun Iptek bangsa tanpa harus memperlebar celah ketertinggalan Iptek dari negara maju, bahkan untuk semakin memperkecil celah tersebut. Karena jikalau dimulai dengan cara yang konvensional, memulai dengan R&D, maka  kita akan makin jauh tertinggal dengan negara-negara maju yang puluhan tahun lebih dulu R&D di berbagai bidang. Disamping itu, menurut istilah yang digunakan BJH, kemungkinan besar hasil yang kita dapat hanyalah "penemuan kembali roda" yang sudah ditemukan oleh negara-2 maju tersebut puluhan tahun sebelumnya. Disisi lain, beliau juga harus mempertimbangkan aspek kemampuan ekonomi bangsa.

Apapun jalan/cara yg akan dipilih sudah pasti memerlukan biaya ekonomi dan investasi yang besar. Singkatnya beliau mencoba mencari jalan tengah agar biaya dan investasi yang besar itu efektif memberikan penguasaan dan pendalaman Iptek yang dapat bersaing secara internasional dan terwujud dalam masa yang relatif singkat . Akhirnya beliau menimbang cara "radikal" (atau "progresif revolusioner" istilah PKI dulu) yang terbaik adalah dengan "4 tahapan transformasi industri".

Ini adalah jalan pintas paling tepat sesuai situasi dan kondisi bangsa. Jenis teknologi/industri yang dipilih pun harus sesuai dengan permasalahan pembangunan bangsa(problem oriented) dan mampu mengatasi problem-problem tersebut. Uraian berikut disadur dari makalah pidatonya di Bonn, Jerman, tahun 1983 berjudul : "Beberapa Pemikiran tentang Strategi Transformasi Industri Suatu Negara Sedang Berkembang".

Contoh identifikasi problem pembangunan oleh BJH adalah: Indonesia sebagai negara kepulauan. Karenanya industri transportasi darat, laut, udara adalah strategis untuk mengatasi problem mobilitas penduduk dan barang(karena itu PTDI,PT PAL, dan PT INKA termasuk dalam industri strategis).

Kemudian industri telekomunikasi dan elektronika (sekarang ditambah informasi/IT) juga mutlak ada sebagai pemersatu dan sarana komunikasi bangsa(karenanya didirikan PT LEN/INTI).

Kemudian setelah mengkaji problem-problem pembangunan yang lainnya, ditentukanlah jenis-jenis industri strategis yang dianggap sebagai solusi mengatasi problem-problem pembangunan tersebut. Jadi lengkapnya bidang-2 industri yang dianggap strategis saat itu adalah:

  • Industri transportasi laut, udara,dan darat
  • Industri energi
  • Industri enjinering/rekayasa dan desain
  • Industri mesin dan peralatan pertanian
  • Industri pertahanan
  • Industri pekerjaan umum/teknik sipil

Kesemuanya oleh pemerintah di wujudkan dalam beberapa BUMNIS. Dikemudian hari, industri-industri yang termasuk dalam BUMNIS ini digabung dalam satu holding company bernama PT Bahana Prakarya Industri Strategis (PT BPIS) sebagai upaya optimasi aspek bisnis. Tujuan lainnya agar jika masing-masing industri strategis ini sudah punya produk unggulan, maka dapat menjadi partner sejajar dengan konglomerasi-2 perusahaan multinasional (Semacam GE, Siemens, Mitsubishi, dll) yang mencari pasar di Indonesia. Diluar industri-industri strategis, juga dibentuk suatu kawasan otoritas khusus untuk industri manufaktur maju yang akan menyaingi Singapura, yaitu Batam.

Kemudian semua industri-industri strategis tersebut di tetapkan sebagai wahana-wahana transformasi industri untuk penguasaan Iptek dalam 4 tahapan yang sistematis :
  1. Lisensi & progressive manufacturing, Sasarannya pengenalan dan penguasaan teknologi produksi/manufacturing yang maju untuk  satu produk unggulan yang sudah ada di pasaran,Contoh: C-212
  2. Technology integration, Dengan penguasaan teknik produksi yg maju, mencoba mengintegrasikan komponen-komponen teknologi yang sudah ada menjadi produk baru,Contoh: CN-235
  3. Desain& rancang bangun produk baru unggulan, setelah penguasaan integrasi teknologi, mencoba membangun produk yang sama sekali baru secara mandiri,Contoh:N-250.
  4. R&D, setelah mampu membuat satu produk baru, maka melalui litbang di harapkan dapat diciptakan penyempurnaan,inovasi, modifikasi,atau produk yg lebih maju utk meraih dan mempertahankan keunggulan produk di pasaran internasional,contoh N-2130(pada gambar bawah, masih masuk tahap-3 akhir)
4 Tahapan Transformasi PTDI

4 Tahapan Transformasi Industri PTDI
(Gambar: http://www.indonesian-aerospace.com/book/c2.htm )

Menyiapkan Infrastruktur R&D


Tidak cukup hanya mendesain strategi transformasi industri untuk percepatan penguasaan Iptek industri, BJH juga mempersiapkan infrastruktur Iptek yang lengkap dan kokoh untuk R&D  pengembangan sains dan teknologi yang lebih umum dan luas dari cakupan industri-industri strategis diatas. Uraian berikut saya sadur dari buku "Iptek Nasional Pasca Habibie" (DR. Nur Mahmudi Ismail, DR. Mulyanto, 2004).

Infrastruktur iptek  tersebut terdiri dari Humanware (SDM iptek),  Orgaware (lembaga-lembaga iptek), Technoware ( Laboratorium-2 dan peralatan iptek ) , Infoware ( Pusat dokumentasi dan jaringan informasi iptek), Cultureware ( Skema program penelitian RUK, RUT, RUSNAS,dll).

Garis besarnya sebagai berikut:
  • Humanware/SDM Iptek : Pemberian beasiswa besar-besaran ke luar negeri pada para pelajar dan mahasiswa berprestasi untuk kemudian    mengabdi pada LPND-LPND dan industri-2 strategis pemerintah. Juga tersedia beasiswa  S2 dan S3 luarnegeri ataupun studi paska doktoral.
  • Orgaware/Lembaga2 Iptek: LIPI bertugas merumuskan dan mengkoordinasikan pembangunan Sains, sedang BPPT dengan fungsi yang sama di bidang Teknologi. BATAN, LAPAN, Bakosurtanal,dll Lembaga Penelitian Non-Departemen (LPND) juga termasuk didalamnya.
  • Technoware : Pemerintah membangun PUSPITEK sebagai pusat laboratorium-2 R&D dari semua divisi-2 yang ada dalam LIPI,BPPT,BATAN,dll. direncanakan juga tadinya akan dibangun technopark didekat PUSPIPTEK-Serpong.
  • Infoware : Membangun pusat dokumentasi R&D Iptek, jaringan info Iptek dan peneliti. utk hal ini di PUSPIPTEK didirikan Pusdok LIPI.
  • Cultureware : Untuk membangun budaya riset yang unggul, maka di perlukan skema-2 kerjasama penelitian dari LPND,  Litbang Industri, Perguruan-2 Tinggi. Sebab itu didirikan Dewan Riset Nasional(DRN) yang melakukan lembaga kordinasi dan evaluasi riset berupa Kebijakan Satu Pintu(KSP) dalam rangka penajaman,efisiensi,koordinasi dan pencegahan duplikasi tema riset serta penggalangan kemitraan riset dari seluruh lembaga riset pemerintah, litbang industri, dan perguruan tinggi. Beberapa skema riset yang kita kenal seperti Riset Unggulan Terpadu(RUT),Riset Unggulan Terpadu Internasional(RUTI), Riset Unggulan Kemitraan(RUK),Riset Unggulan Nasional(RUSNAS),dll.

Disadari bahwa pembangunan SDM Iptek tidak hanya dihasilkan dengan mendidik SDM tersebut dari S1,S2, sampai S3. Tetapi juga melalui pelibatan SDM tersebut dalam proyek nyata (project oriented) atau penggodokan dalam industri. Maka para periset itupun selain melakukan riset di institusinya, juga terkadang dilibatkan dalam proyek-2 yang ada di industri-2 strategis. Jadi memulai tahapan R&D (dari 4 tahapan transformasi industri) tidak harus menunggu sampai tahap ke 3 selesai. Dapat berjalan paralel dari tahap pertama sekalipun,sehingga budaya riset yang unggul diharapkan sudah matang dan mapan saat tahap ke 4 dimulai. Keunggulan lainnya, menghemat waktu alih teknologi jika dibandingkan cara konvensional yang memulai dengan R&D dulu.

Untuk memayungi kegiatan Iptek secara hukum pun telah disahkan UU Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan,dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi(SISNASP3IPTEK). Bahkan sejak 1993 pengembangan Iptek berhasil masuk dalam bidang sendiri di GBHN(Sekarang ini kata-2 Iptek sudah dihapuskan lagi dari GBHN).

BJH juga mendorong terbentuknya Akedemi Ilmu Pengetahuan Indonesia(AIPI) yaitu academy of science-nya Indonesia. Anggotanya terdiri dari ilmuwan-2 pakar terkemuka Indonesia. Harapannya ikut membantu merumuskan dan memantau arah pengembangan ilmu pengetahuan Indonesia. Meskipun akhirnya lembaga ini kurang terdengar gaung dan perannya.

Metoda Lain Transformasi Industri: Studi Kasus Texmaco


Diluar itu, BJH juga merangkul industri swasta nasional yang juga melakukan pendalaman penguasaan Iptek dengan cara yang mereka terapkan sendiri. Contohnya adalah Grup Texmaco, milik pengusaha keturunan India, Marimutu Sinivasan. Texmaco dengan strategi pendalaman industri yang lebih dikenal dengan "pohon industri"  dengan penguasaan teknologi makin lama makin dalam dan bergerak dari hilir ke hulu.

Yang awalnya sebagai industri tekstil,Texmaco mulai membangun industri logam, untuk membuat spare part dari mesin-2 tekstil mereka yang rusak, dalam rangka substitusi impor. Sampai akhirnya Texmaco berani membuat mesin tekstil itu sendiri. Bahkan terus bergerak ke hulu dengan memproduksi mesin-2 yang digunakan dalam pembuatan mesin tekstil itu sendiri, semisal mesin CNC.

Keberhasilan Texmaco membuat mereka percaya diri untuk terjun ke dalam industri otomotif dan heavy machinery dengan mendirikan Texmaco Perkasa Engineering. Texmaco memboyong  peralatan pabrik dari satu negara Eropa Timur(saya lupa nama negaranya) untuk merintis produk otomotif seperti truk merk Perkasa, traktor untuk pertanian, dll. Tak lupa mereka mendirikan industri spare part dan pengecoran logam pula untuk mendukung industri otomotif dan alat beratnya itu, termasuk nantinya engine otomotif dan sistem transmisi/gearbox. Memang teknologi pabriknya teknologi lama, tapi tak membuat produknya ketinggalan jaman. Karena pada akhirnya Texmaco juga akan berniat merintis pembuatan peralatan pabrik otomotif tersebut untuk memodernisasi fasilitas produksinya. Seperti yang pernah di lakukannya pada industri textil Texmaco. Tidak lupa untuk mensuplai pekerja-2 berkeahlian industri,Texmaco mendirikan STT Texmaco. Atas dasar ini semua, BJH memasukkan Texmaco sebagai salah satu industri strategis dari kalangan swasta nasional.

Ini mirip seperti seorang rekan milis ARC yang menyebutkan, Cina memboyong perusahaan mobil Jerman Zundapp ke Cina. Dan lagi, strategi pendalaman industri model Texmaco ini adalah yang lazim diterapkan oleh perusahaan-perusahaan India di negara asalnya.

Hal-2 diatas semua di rintis bertahap dan jelas tapi pasti  oleh BJH selama rentang 30 tahun. Jadi masa itu kita bukan hanya punya program pengembangan Iptek yang jelas arahnya  dan sistematis target dan waktu yang ingin dicapai. Tapi juga telah terbentuk Infrastruktur Iptek yang lengkap dan kokoh. Tinggal dioptimalkan fungsi dan koordinasi yang ada dalam struktur Iptek nasional tersebut.

Nasib Iptek Paska BJH


Setelah terjadinya krismon tahun 1997 dan lengsernya BJH dari dunia politik (dengan ditolaknya LPJ presiden Habibie oleh MPR), maka yang terjadi adalah de-habibienisasi besar-2 an oleh tangan-2 IMF maupun lawan-2 politiknya. Hingga hari ini kita tidak melihat program iptek nasional yang jelas dari pemerintah. Yang ada pelan-2 infrastruktur Iptek yang sudah terbangun kuat mulai melemah. SDM Iptek banyak yang cabut ke luar negeri(baca: brain drain untuk dimanfaatkan negara-2 luar), tak ada lagi program beasiswa pelajar dan mahasiswa untuk regenerasi SDM Iptek,Fasilitas riset dan PUSPIPTEK tidak di up-grade, industri-2 strategis di restrukturisasi IMF(termasuk Texmaco), Kawasan otoritas Batam dihilangkan, BPIS dibubarkan, bidang Iptek dihapus dari GBHN, Menristek suatu waktu pernah dijabat oleh "pengamat politik partisan" yang tak ada latar belakang Iptek sama sekali.

Diakui ada kelemahan-2 dalam 20 tahun lebih masa pengabdian BJH di bidang Iptek. Seperti IPTN yang jadi primadona industri strategis, sehingga industri-2 strategis lainnya tertinggal, bahkan ada yang seperti belum terbina. Seperti industri mesin dan peralatan pertanian. Padahal Indonesia adalah kaya akan komoditas, baik pangan, energi maupun bahan tambang. Kalau ini juga dibina dengan baik, maka Indonesia akan lebih makmur karena berhasil memberikan nilai tambah pada produk-2 ekspor komoditasnya. Kita akan mampu ekspor makanan olahan bukan hanya produk mentah pertanian. Kita juga akan mampu ekspor bermacam logam-jadi, tidak hanya ekspor bijih besi,bijih aluminium, bijih tembaga,dll.

Mungkin karena dana yang dianggarkan terbatas maka BJH memilih satu industri strategis untuk membuktikan pada pak Harto dan rakyat Indonesia bahwa strateginya berhasil. Padahal seharusnya semua industri strategis harus jadi pilot project pengembangan industri-2 swasta sejenis di dalam negeri.

Kekurangan lain yang terlihat adalah remunerasi yang diberikan pada SDM Iptek nasional dirasa masih kurang. Dana riset dan SDM Iptek pun masih sangat kecil dari dulu sampai sekarang. Apabila dibandingkan dengan negara-2 tetangga, mereka bisa menganggarkan riset 1-2 % dari GDP. sedang kita kira-2 0,3% saja dari GDP.

Namun seharusnya kekurangan-2 tersebut tidak menjadikan pemerintahan-2 paska BJH menyia-nyiakan atau malah membumi-hanguskan apa-2 yang telah beliau bangun dan rintis dalam 2 dekade. Karena konsep beliau bukanlah konsep yang gagal, malah terbukti berhasil mencapai level teknologi yang diinginkan dalam waktu relatif singkat. Tapi seharusnya memperbaiki dan menyempurnakan apa-2 yang kurang atau belum ada dalam masa 20 tahun lebih tersebut. Apa yang telah diinvestasikan negara dalam industri-2 strategis tidaklah akan sia-2 jika usaha pengembangan dilanjutkan lagi saat ini. Faktanya utang yang dipunyai PTDI masa restrukturisasi IMF dulu tak lebih dari 1% dari dana bail-out BLBI yang ratusan trilyun rupiah. Dana hutang yang harus ditanggung rakyat oleh pengusaha-2 hitam perbankan  untuk kepentingan pribadi.Apalagi jika dibanding dana-2 yang dikorup tikus-2 koruptor jika digabungkan.

Alih Teknologi dalam Pengadaan Alustsista


Warisan yang ditinggalkan BJH sungguh suatu aset yang sangat berharga sebagai modal pembangunan Iptek ke depannya. Jika negara-2 jiran ingin mengejar kita ,itu tak akan mudah dilakukan hanya dengan menyiapkan SDM-SDM iptek  dalam jumlah besar. Butuh infrastruktur Iptek yang lengkap dan kuat seperti yang sudah kita punya dan juga Strategi penguasaan Iptek yang jelas dan sistematis. Sedang kita sudah punya semua itu, tinggal melanjutkan saja dan akselerasi mengingat ekonomi makro kita makin baik dan stabilitas politik yang kian mapan.

N2130

N-2130
Dalam konteks Industri pertahanan, hal itu bisa dilanjutkan dengan cetak biru rencana pertahanan yang jelas secara jangka panjang, kemudian disinkronkan dengan kemampuan industri strategis nasional untuk menggapai level teknologi yang lebih tinggi. Salah satunya dengan cara Transfer of Technology (ToT)  dalam pembuatan alutsista berteknologi tinggi dan unggul. Hingga suatu saat kita bisa mandiri dengan mengandalkan industri pertahanan dalam negeri dan mempertahankan keunggulan teknologi yang kita kuasai untuk dapat bersaing dengan teknologi-2 alutsista luar negeri. Efek deteren yang didapat akan berlipat ganda ketimbang hanya sebagai pembeli dan pemakai alutsista teknologi canggih paling mutakhir sekalipun.

Itu sebabnya saya pribadi selalu mendukung bila ada pembelian alutsista dengan skema ToT, karena melihat keseriusan pemerintah mengembangkan teknologi sendiri belum terlihat seperti saat sebelum Krismon 1997. Jadi proyek ToT alutsista adalah satu jalan yang lebih realistis untuk sekarang ini.  Sedikit kurang canggih dari yang dipunyai negara tetangga tidak apa-2 (tapi tetap ada efek deteren), asalkan kita tak hanya  mampu membeli tapi mampu membuatnya lagi. Intinya level penguasaan teknologi selalu bertambah.

Namun sekali lagi juga diperlukan kesungguhan pemerintah membentuk postur pertahanan  yang disegani. Jika Presiden SBY sudah menyatakan anggaran pertahanan akan dinaikkan jadi 1,5 % dari GDP, seharusnya kita dapat memesan alusista yang belum bisa di buat di dalam negeri dalam jumlah yang signifikan. Karena seperti pernah seorang rekan milis ARC ungkapkan, ada semacam rule of thumb dalam pembelian alutsita. Kalau dibawah selusin ya beli di luar, tapi mungkin gak dikasih ToT. Kalau beli puluhan ya bisa lisensi. Kalau beli ratusan baru akan ekonomis untuk  buat sendiri atau kerjasama.

Civis Pacem Parabellum: Kemandirian Teknologi, Aspek Penting Ketahanan Nasional


Kesimpulannya sekarang tergantung pemerintahan yang berkuasa, apakah mau berpihak pada penguasaan Iptek dan inovasi? karena suatu penemuan teknologi,walaupun sederhana nampaknya, bisa jadi faktor yang menentukan kemenangan manakala satu negara berperang dengan negara lain.


Contoh sejarah, saat pasukan Normandy di abad pertengahan mengalahkan tentara Anglo-Saxon di pertempuran Hastings. Anglo-Saxon yang mengandalkan pasukan infantri berat( heavy armoured) tidak menyangka pasukan kavaleri  Normandy yang biasanya tak banyak berkutik menghadapi infantri berat kali ini justru  yang memporakporandakan barisan infantri berat tersebut. Kuncinya ada pada penemuan sanggurdi (pijakan kaki) yang dipasang pada pelana kuda. Sebelum ditemukannya sanggurdi, bertempur dari atas kuda adalah hal yang sulit karena tak ada kontrol keseimbangan. Jadi mudah dijatuhkan oleh pasukan infantri biasa sekalipun. Namun kali ini dengan sanggurdi, pasukan kavaleri Normandy dapat bermanuver dan bertempur dengan stabil dan prima. Sehingga dengan mudah menghancurkan barisan infantri lawan.

Contoh lain adalah datangnya bangsa Eropa menjajah Nusantara. Kerajaan Nusantara yang masih bertempur menggunakan senjata tajam, sangat mudah ditaklukan oleh tentara Eropa yang sudah familiar dengan mesiu dan artileri, sekalipun mereka berjumlah lebih sedikit.

Sekarang, bagaimana bisa kita merasa aman  beli alutsista mutakhir yang gelombang frekuensi operasinya sudah diketahui negara pembuat. Ataupun  teknologinya terkomputerisasi sedemikian canggih namun membuat kita bergantung pada pemeliharaannya. Dan mungkin juga ada"patch file" yang ditanam dalam softwarenya yang setiap saat bisa diaktifkan produsen senjata untuk melumpuhkan sistem tersebut. Ingat kasus Irak di perang teluk pertama, denah dan rancangan kompleks bunker-2 Irak dibongkar oleh sang desainer sendiri yang orang Jerman. Memungkinkan AS merintis pengembangan "bunker buster" dan melumpuhkan sistem pertahanan bawah tanah Irak.

Jadi jangan pernah meremehkan penguasaan teknologi, sekalipun negara kita nanti sudah kaya dan mampu beli banyak alutsista canggih macam manapun. Kalau bermimpi saja kita tidak berani bagaimana mau memulainya. So "Never give up the dreams" kata Honda.
A QUEST BEGINS WITH THE FIRST DREAM
A JOURNEY BEGINS WITH THE FIRST STEP

*Tulisan yang sama pernah dimuat dalam milis ARC, dengan beberapa penyesuaian seperlunya.
** Dari berbagai Sumber

Wednesday, August 22, 2012

Habibie Terjun Lagi ke Dunia Penerbangan (PT RAI)

Tuesday, July 10, 2012

Bandung Air Show 2012 Digelar September Mendatang



Danlanud Husein Sastranegara, Umar Sugeng Hariyono, memberikan keterangan pers tentang Bandung Air Show (BAS) 2012, di Bandung, Jabar, Senin (9/7). Bandung Air Show merupakan pameran dan atraksi kedirgantaraan nasional terbesar di Indonesia (Aerobic Pesawat Udara, Static Show, Dynamic Show, Fly Pass) guna mengangkat kembali sejarah dan potensi kedirgantaraan, dan akan digelar pada 27-30 September 2012. (Foto: ANTARA/Fahrul Jayadiputra/ss/ama/12)

10 Juli 2012, Bandung: Pameran penerbangan Bandung Air Show 2012 siap digelar pada 27–30 September di Lapangan Udara (Lanud) Husein Sastranegara, Kota Bandung.Panitia menjanjikan kemasan berbeda dari acara yang sama dua tahun lalu.

Salah satu hal baru di Bandung Air Show tahun ini adalah tampilnya Tim Pegasus dan Jupiter Aerobatic Team. Tim Pegasus akan melakukan demo udara menggunakan pesawat helikopter jenis EC-120B Colibri buatan Prancis. Sementara Jupiter Aerobatic Team siap membentuk formasi di langit Kota Bandung dengan pesawat KT-1B Wong Bee. Pesawat tersebut merupakan produk Korea Selatan yang digunakan sebagai pesawat latih dasar.

”Di Bandung Air Show 2012, kami menyuguhkan berbagai hal baru. Antara lain hadirnya Jupiter Aerobatic Team yang berpangkal di Yogyakarta, mereka sudah terkenal di Asia Tenggara. Ada juga Tim Pegasus yang akan melakukan demo terbang helikopter, mereka berasal dari Skadron 7 Pangkalan TNI AU Suryadarma,Kalijati, Subang,” kata Komandan Lanud Husein Sastranegara Kolonel (Pnb) Umar Sugeng Haryono yang juga ketua penyelenggara acara tersebut, di Wisma Muladi, Lanud Husein Sastranegara, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, kemarin.

Selain kedua tim tersebut, puluhan pesawat lainnya juga siap menggelar demo terbang. Sementara sekitar 40 unit pesawat akan dipajang untuk dipamerkan pada pengunjung. Bandung Air Show pun menyediakan 300 stan berisi produk penerbangan, baik dari BUMN maupun BUMD. ”Ada 21 pesawat static show (dipamerkan), dan 30 hingga 40 pesawat dynamic show (demo terbang). Tentu ada pula suguhan kuliner dan hiburan yang menunjukkan identitas kedaerahan Bandung Air Show,” tutur Umar.

Suguhan dirgantara luar negeri juga dihadirkan. Antara lain klub aero sport dari Filipina, Thailand, Malaysia, dan beberapa negara lain. Konsep acara yang lebih meriah, Umar yakin pengunjung Bandung Air Show tahun ini meningkat dari gelaran dua tahun lalu. Bandung Air Show 2010 dikunjungi sekitar 40.000 orang. Kali ini pihaknya menargetkan lebih dari 50.000 pengunjung.

”Konsep pameran dirgantara kali ini lebih matang, kami siapkan sejak Oktober (2011) lalu. Dan tentunya lebih meriah, kami berdayakan klub aero sport dalam dan luar negeri. Termasuk potensi-potensi penerbangan yang ada di kalangan pelajar dan mahasiswa. Beberapa SMK dan perguruan tinggi di Bandung siap unjuk kemampuan di pameran ini,” kata Umar.

Meski berbagai acara ditampilkan, dia menjamin aktivitas penerbangan komersial di Bandar Udara (Bandara) Husein Sastranegara tidak terganggu. Umar mengatakan, Bandung Air Show bisa memberi tambahan semangat untuk kemajuan dunia penerbangan Indonesia. Terlebih, visi yang diusung adalah bangkitnya Kota Bandung sebagai kota dirgantara, baik secara nasional maupun internasional.

Karena itu, dia pun berharap pameran ini bisa lebih sering digelar. ”Pemkot Bandung mengagendakan acara ini setiap dua tahun dan ini akan rutin digelar. Kami harap nantinya bisa meningkat jadi satu tahun sekali,”kata Umar. Sementara sebagai event organizer mengatakan, pihaknya menjamin kenyamanan pengunjung pameran.

Menghindari penumpukan pembeli di lokasi acara, tiket Bandung Air Show 2012 ditargetkan habis dua pekan sebelum pameran. Selain itu,kantung-kantung parkir juga ditata secara sistematis. Sehingga meski terjadi,kemacetan tidak akan terlalu parah.

Sumber: SINDO

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...