Showing posts with label defencepower. Show all posts
Showing posts with label defencepower. Show all posts

Sunday, August 05, 2012

Amerika Serikat kritik pembangunan garnisun militer China



Washington (ANTARA News) - Amerika Serikat menuduh China meningkatkan tensi kawasan setelah membangun garnisun militer baru di Laut China Selatan.

China mengumumkan pekan lalu bahwa negara itu sedang membangun kota kecil Sansha dan satu garnisun di pulau dalam rangkaian Kepulauan Paracel yang disengketakan itu, menyebabkan kemarahan Vietnam dan Filipina yang menuduh Beijing melakukan intimidasi.

"Kami prihatin dengan peningkatan tensi di Laut China Selatan dan sedang memantau situasi dengan cermat," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Patrick Ventrell, dalam pernyataannya.

"Secara khusus, peningkatan tingkat administrasi kota Sansha oleh China dan pembangunan garnisun militer baru di sana meliputi wilayah sengketa Laut China Selatan bertentangan dengan upaya diplomatik bersama untuk menyelesaikan kembali perbedaan dan resiko ketegangan meningkat lebih jauh di kawasan tersebut," katanya.

Ventrell juga menunjuk kepada "retorika konfontratif" dan insiden di laut tersebut dengan mengatakan, " Amerika Serikat mendesak semua pihak mengambil langkah untuk meredakan ketegangan."

China secara terang-terangan mengatakan negaranya menguasai sebagian besar Laut China Selatan. Namun Brunei, Malaysia, Taiwan, Filipina, dan Vietnam semuanya mengklaim bagiannya. Vietnam dan Filipina menuduh China melakukan pelecehan di laut itu.

Amerika Serikat menggalang negara-negara Asia Tenggara dan memperluas hubungan militer dengan Filipina dan Vietnam. Presiden Barack Obama memutuskan mengirim Angkatan Laut ke Australia dalam rangka menunjukkan kedigdayaan AS lebih jauh di Asia.

Robert Manning, seorang rekan senior di Dewan Atlantik dan mantan ahli strategi pemerintahan AS, mengatakan China telah menetapkan garnisun sebagai cara melawan fokus militer AS di Asia akhir-akhir ini.

"Yang pasti, China sangat sadar bahwa pemaksaan itu tidak diterima dengan baik di Asia Timur, dan cenderung membawa negara-negara yang lebih kecil memihak kepada AS untuk menyeimbangkan diri dengan China." tulis Manning dalam essai yang dikeluarkan organisasi miliknya.

"Namun Beijing akan berhitung meskipun postur militer AS lebih kuat di wilayah itu," tulisnya.

Thursday, July 26, 2012

Akuisisi MBT Leopard Untuk Meningkatkan Deteren Power Indonesia



Saat ini, posisi kekuatan angkatan bersenjata atau kekuatan militer Indonesia berada di posisi 18 di dunia.
 
Menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Hartind Asrin peringkat ini mengalami penurunan.

"Sebelumnya di peringkat 16. Ini turun karena ada alutsista yang tidak efektif," ujar Brigjen TNI Hartind kepada wartawan usai acara Silaturahmi Kapuskom Publik TNI dengan Wartawan di Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Jakarta Pusat, Kamis (26/7/2012).

Menurut Brigjen TNI Hartind, yang menentukan naik-turunnya peringkat kekuatan militer suatu negara dilihat dari teknologi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimiliki negara tersebut.

Dengan adanya penurunan tersebut, maka menurut Brigjen TNI Hartind, perlu adanya penambahan teknologi alutsista dan memodernisasi teknologi alutsista yang telah lama. Penambahan tersebut salah satunya memperkuat alutsista di tubuh Angkatan Darat (AD).

"Alutsista bergerak itu memang menjadi prioritas. kalau di Angkatan Darat itu mulai dari MBT (Main Battle Tank) Leopard," ujar Brigjen TNI Hartind.

Dengan pembelian MBT dari Jerman ini, Brigjen TNI Hartind berharap dapat meningkatkan kekuatan TNI AD dalam menjaga persatuan dan kesatuan Republik Indonesia. Sebab, semakin kuatnya alutsista, maka semakin kuat pula deteren power atau kekuatan penangkal suatu negara.

"Nah kenapa malah sekarang banyak yang mempersoalkan MBT Leopard itu? Padahal ini bisa membuat deteren power yang membuat lawan urungkan niatnya," ujar Brigjen TNI Hartind.

Selain Pembelian MBT Leopard asal Jerman, Brigjen TNI Hartind juga mengungkapkan saat ini pihaknya tengah menguatkan kendaraan taktis seperti Anoa yang kini jumlahnya mencapai 165 unit. Ke depannya, Kemenhan akan terus memperkuat sampai dua brigade.

Penguatan teknologi alutsista tersebut tidak hanya di tubuh TNI AD saja, namun juga di TNI AL dan TNI AU. Menurut Brigjen TNI Hartind, penguatan tejnologi alutsista harus dilakukan secara seimbang.



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...