Saturday, March 17, 2012

Ilmuwan Kasmir Kloning Kambing Langka




INILAH.COM, Srinagar - Meski tindakan ini masih dikecam, namun para ilmuwan di Kashmir telah mengkloning seekor kambing jenis langka. Seperti apa?
Seperti dikutip dari ST, para ilmuwan di Kashmir telah mengkloning seekor kambing yang langka dari Himalaya, dengan harapan dapat menumbuhkan angka pertumbuhan hewan yang dikenal dengan bulu wolnya tersebut.
Pimpinan ilmuwan dari proyek ini, Riaz Ahmad Shah, mengatakan bahwa kelahiran anak kambing betina hasil kloning pada 9 Maret lalu diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan dariangka kehidupan kambing Himalaya beserta produksi wolnya.
Kambing Cashmere biasa ditemukan di Himalaya dan Tibet. Sementara di wilayah Kashmir, mereka terkonsentrasi di sejumlah wilayah pedalaman saja.
Tim dari Dr. Shah di Sher-i-Khasmir University, mengatakan bahwa mereka membutuhkan waktu hampir dua tahun untuk mengkloning kambing tersebut. [mor]

YUDHOYONO: PENAMBAHAN KEKUATAN MILITER INDONESIA BUKAN ANCAMAN




Sydney - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjamin bahwa penambahan kekuatan militer yang dilakukan Indonesia bukan merupakan ancaman bagi negara-negara lain termasuk negara tetangga.

"Saya kira dunia dan negara tetangga tidak perlu khawatir. Tidak perlu jadi kehebohan kawasan seolah-olah Indonesia membangun kekuatan yang besar, lantas dianggap ancaman bagi negara sahabat. Tidak!," tegas Yudhoyono menjawab pertanyaan wartawan dalam jumpa pers di Sydney, Senin.

Bangsa Indonesia, katanya, adalah bangsa yang cinta damai. Namun demikian, kedaulatan, kemerdekaan dan keutuhan wilayah juga merupakan kepentingan nasional yang sangat penting.

Terkait dengan penambahan kekuatan militer, Yudhoyono mengatakan, prioritas pembangunan masih mengutamakan penggunaan anggaran untuk pendidikan, kesehatan, pengurangan kemiskinan, dan kesejahteraan rakyat, sehingga anggaran untuk pertahanan tidak bisa dikeluarkan secara besar-besaran.

Akibatnya, lanjutnya, sistem persenjataan dan modernitas pertahanan kita relatif tertinggal dengan negara lain termasuk negara-negara tetangga.

"Saya tentu harus berupaya keras, paling tidak setara (dengan negara lain). Bukan untuk perlombaan persenjataan, bukan untuk mengancam negara tetangga dan negara lain, tetapi untuk mempertahankan keutuhan dan kedaulatan negara kita," katanya.

Selain itu, kata Presiden, peralatan militer sekarang masih dirasakan kurang baik di laut maupun udara, terutama dalam mengatasi bencana dan melakukan tugas kemanusiaan.

Pemerintah, katanya, juga mendorong digunakannya industri nasional dalam memperkuat peralatan militer, tetapi jika ada sistem persenjataan yang belum bisa diproduksi di dalam negeri, maka harus bekerjasama dengan negara lain.

"Dulu kita lebih banyak bekerjasama dengan negara Barat, tetapi kita mendapat embargo yang panjang dan keras. Karena itu kita putuskan bekerjasama dengan negara lain yang tidak mudah memberi embargo seperti Rusia dan Korea Selatan," katanya.


Sumber : Antara

still d'one

 kamu


bagaikan dian bagiku
setiap jengkal kan slalu terngiang


 dalam detik selalu kan menjaga hatimu
di setiap  langkah yang dijalani


ukthi
artimu begitu  mendalam
boeat jejakq penuh harapan

RI berniat latihan militer dengan AS dan Australia



CANBERRA. Pemerintah Indonesia tertarik bergabung dalam latihan militer yang akan digelar Amerika Serikat (AS) dan Australia di Utara Negeri Kanguru bulan November mendatang.
Ketertarikan Indonesia terungkap dalam kunjungan Menteri Luar Negeri Indonesia M`rty Natalegawa dan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro ke Australia, Kamis kemarin (16/3).
Dalam kunjungan itu, Australia menggelar forum empat menteri dengan Indonesia untuk membahas kebijakan luar negeri termasuk soal keamanan. Sebelumnya, Australia sudah melakukan pertemuan dengan sekutunya AS, Inggris dan Jepang.
Dalam pertemuan itu, Washington Post melaporkan, Indonesia menyatakan niatnya bergabung dalam latihan militer AS dan Australia itu. Indonesia berharap bisa melakukan latihan militer itu untuk mengantisipasi dampak bencana yang rawan terjadi di Indonesia.
Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan Indonesia mengatakan, Indonesia adalah negara kepulauan yang rawan bencana dan tsunami. Untuk itu, Purnomo ingin mendapatkan keuntungan optimal kehadiran marinir AS di Australia, terutama dalam hal latihan untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan menghadapi bencana.

"Kami tidak memiliki masalah sama sekali dengan penempatan Marinir AS di Darwin," tegas Yusgiantoro kepada wartawan setelah pertemuan di Gedung Parlemen di Canberra.

Perlu diketahui, kerjasama militer AS dengan sekutunya di Australia, dinilai sebagai reaksi terhadap meningkatnya kemampuan militer China di wilayah Asia. Namun, mengenai masalah ini, Menteri Luar Negeri Indonesia mengingatkan, agar latihan militer itu tidak menimbulkan Perang Dingin.

Meskipun ia tidak secara khusus menyebut China, tetapi Natalegawa bilang dalam sebuah forum universitas bahwa, jika manajemen pertahanan suatu negara meningkat, maka bisa dikatakan negara itu akan meningkatkan kekuasaan politiknya yang mengarah kepada Perang Dingin.
Natalegawa menambahkan, Australia telah menjawab pertanyaan Indonesia tentang kehadiran militer AS di utara Darwin itu. Dan ia menyarankan agar kehadiran militer AS tidak mengarah kepada Perang Dingin. "Ada keinginan dari kedua negara untuk memastikan bahwa wilayah Asia-Pasifik tetap damai,” jelas Natalegawa kepada wartawan.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Australia, Stephen Smith bilang, pertemuan kemarin membahas kemungkinan negara lain bergabung dalam latihan militer AS-Australia di Australia, termasuk rencana melibatkan Indonesia dan China.
Smith bilang, latihan militer itu kemungkinan akan fokus dalam bantuan kemanusiaan dan bantuan bencana.
 sumber : kontan.co.id

Indonesia Perlu Membangun MDA


Jurnas.com | PERUBAHAN situasi global
menempatkan informasi sebagai senjata penting.
Indonesia disarankan mengikuti kondisi ini untuk
pengamanan wilayah lautnya.
Situasi hari ini tidak lagi berpijak pada seberapa
besar senjata yang dimiliki sebuah kapal perang,
melainkan ditentukan oleh seberapa banyak
informasi yang dipunyai. Pengamat militer
Universitas Indonesia Andi Widjajanto
mengungkapkan, saat ini Indonesia perlu
membangun Kewaspadaan Lingkungan Maritim
atau Maritime Domain Awareness (MDA).
“Seberapa besar kita membangun informasi untuk
intelijen, surveillance (pengawasan), pengamatan
dan penginderaan,” kata Andi di Jakarta, Sabtu
(17/3). Singapura dan Malaysia sudah lebih dulu
membangun sistem MDA. Andi menjelaskan,
Singapura bahkan memiliki pusat-pusat
penginderaan di Changi.
”Agar tidak tertinggal dalam jejaring informasi
intelijen, Indonesia harus segera membangun
MDA secara serius,” katanya. Dengan MDA,
jaminan keselamatan maritim tidak lagi diukur
dalam skala nasional, tapi dalam ukuran global.
Salah satu bentuk pengumpulan informasi dari
sistem MDA adalah dengan menerapkan sistem
identifikasi pada kapal-kapal niaga. Sistem ini akan
melaporkan kondisi di sekitar kapal tersebut
kepada pusat kendali yang sekaligus menjadi bank
informasi dan menjadi modal dalam pengamanan
dan penegakan hukum di laut.

SUMBER JURNAS

REVITALISASI Alutsista TNI AL Sudah Tua

JAKARTA (Suara Karya): Alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimiliki TNI Angkatan Laut sudah harus segera direvitalisasi. "Alutsista kami umumnya sudah berusia di atas 30 tahun dan fungsinya sudah jauh berkurang," kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Soeparno usai acara silaturahmi dengan pelaku sejarah perang laut Aru di Monumen KRI Harimau, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Jumat (16/3).

Tampak hadir, diantaranya mantan KSAL Laksamana (Purn) Sudomo, Laksamana (Purn) Tanto Koestanto, Laksamana (Purn) Widodo AS, Laksamana (Purn) Arief Kushariadi, Laksamana (Purn) Bernard Kent Sondakh dan Laksamana (Purn) Slamet Soebijanto. Sedangkan, pelaku sejarah yang hadir, diantaranya, Kolonel Laut (Purn)) Machfoed, Kolonel Laut (Purn) Retno Asmoro, Letkol Laut (Purn) Tjahjono dan Mayor Laut (Purn) Suherman.
Secara kuantitas, dijelaskan Soeparno, alutsista TNI AL sebenarnya sudah mencapai kekuatan pokok minimal (minimum essential forces/MEF). Namun, karena usianya yang sudah tua, fungsi alutsista itu masih jauh dari MEF. "Untuk saat ini kita sedang gencar mendatangkan alutsista baru," kata KSAL.
Kekuatan alutsista TNI AL saat ini, antara lain kapal perang sebanyak 151 unit, pesawat sebanyak 54 unit, dan kendaraan tempur sebanyak 339 unit. Adapun alutsista yang sedang dipesan, adalah 3 unit kapal selam diesel elektrik buatan Korea Selatan. Pengadaan kapal selam diperkirakan akan selesai pada 2015 dan 2016. Untuk pembuatan kapal selam ketiga, Indonesia akan membuat sendiri.
TNI AL juga akan membeli 4 kapal perusak kawal rudal yang dipesan dari PT PAL. Pesanan dari industri dalam negeri berikutnya adalah 16 unit kapal cepat rudal (KCR) dengan panjang 40 meter dan 4 unit kapal cepat rudal Trimaran. "KCR 40 meter diperkirakan akan selesai akhir 2014 ini," kata Soeparno
TNI AL pun sudah memesan 15 unit kapal cepat rudal dengan panjang 60 meter, 2 kapal survei, kapal latih pengganti KRI Dewa Ruci dan 12 kapal angkut tank. "Kapal latih pengganti KRI Dewa Ruci diharapkan tiba sebelum 5 Oktober 2014," ujarnya.
Revitalisasi Kekuatan

Selain kapal, TNI AL juga memesan 11 unit helikopter anti kapal selam, 6 helikopter anti kapal permukaan, helikopter angkut dan 54 tank amfibi. "Rencananya TNI AL juga akan mendapat hibah kapal angkut personil (Armor Personel Carrier/APC) 10 unit dari Korea Selatan. Kita berharap ada tambahan hibah sebanyak 25 unit," kata Soeparno.
Tak hanya itu, TNI AL juga akan mengajukan pengadaan 3 unit kapal multirole light frigates dari Inggris yang diproduksi Jerman.
Soeparno mengatakan, selain menambah alutsista baru, strategi TNI AL ke depan adalah memelihara semua alutsista yang ada, merevitalisasi kemampuan alutsista yang sudah lama, merelokasi alih fungsi sesuai kebutuhan alutsista dan menghapus alutsista yang sudah tua. "Dan prioritas pengadaan alutsista kami adalah produk dalam negeri," tegasnya. 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...