Thursday, October 31, 2013

Mengkaji Urgensi Rudal Permukaan-Udara Jarak Jauh untuk Pertahanan Udara Nasional Indonesia

by Lundy Orlando
“To have command of the air means to be able to cut an enemy’s army and navy off from their bases of operation and nullify their chances of winning the war.” — General Giulio Douhet

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terhimpit diantara dua samudra dan dua benua dengan luas total 1,904,569 km2 yang memiliki komposisi luas daratan 1,811,569 km2 dan luas perairan 93,000 km2[1]. Dengan daerah seluas itu dan kondisi geografis pulau yang terpisah-pisah dengan laut, tentunya kedaulatan Indonesia terutama kedaulatan atas ruang udara menjadi sangat rentan terhadap ancaman-ancaman dari luar. Banyak sekali pelanggaran terhadap kedaulatan kita atas ruang udara yang merupakan wilayah blank spot terjadi. Di sini penulis tertarik untuk membahas ancaman udara yang sangat mungkin mengganggu kedaulatan negara kita dan seperti yang sudah kita ketahui bersama kedaulatan penuh atas ruang udara tidak hanya berasal dari jumlah dan kualitas pesawat tempur, jumlah dan kualitas radar, tetapi juga Surface to Air Missile (Rudal Permukaan-Udara) sebagai pertahanan udara di permukaan. Dulu pada jaman Perang Dunia ke II, dimana ilmu pengetahuan tentang computer embedded, sensor, dan rudal belum benar-benar matang, ada istilah “The bomber will always get through” yang berarti pesawat pembom pada masa itu selalu berhasil menembus pertahanan kota dan melakukan pengeboman oleh sebab itu pertahanan terbaik pada masa itu adalah dengan menyerang pangkalan militer lawan sebelum pesawat pembom menyerang kota. Setelah Perang Dunia ke II ilmu pengetahuan akan radar, computer embedded, rudal dan sensor yang berkembang pesat menyebabkan lahirnya rudal pertahanan udara / meriam pertahanan udara yang berpemandu radar menyebabkan kecilnya kemungkinan pesawat pembom dapat mencapai target mereka. Inilah masa dimana rudal pertahanan udara mulai memegang peranan yang sangat penting dalam menjaga ruang udara dari ancaman seperti pesawat pengebom strategis. Taktik peperangan-pun berubah dimana pada saat perang dingin, pesawat pembom tidak lagi dijadikan sebagai andalan serangan melainkan rudal balistik dengan hulu ledak nuklir.

Dubes Diharapkan Turut Aktif Pasarkan Produk Industri Pertahanan Dalam Negeri

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro berharap kepada para Duta Besar sebagai kepala perwakilan Indonesia di negara – negara sahabat untuk dapat turut aktif berperan dalam mempromosikan produk - produk industri pertahanan dalam negeri.

“Bapak - bapak Dubes, mohon nanti untuk dapat menjadi marketer kita menggunakan prinsip Indonesia Incorporated”, harap Menhan saat memberikan pembekalan kepada para Calon Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh, Senin Sore (28/10) di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta.

Lebih lanjut Menhan menjelaskan bahwa disamping untuk mendukung pembangunan kekuatan pertahanan, pemerintah Indonesia juga mempunyai keinginan agar industri pertahanan dapat menjadi lokomotif pembangunan ekonomi. Untuk industri pertahanan, saat ini Indonesia termasuk dalam empat besar diantara negara-negara ASEAN disamping Singapura, Thailand dan Malaysia.

Wednesday, October 30, 2013

Menhan: Indonesia Butuh 34 Radar

Radar. Ilustrasi
Radar. 

REPUBLIKA.CO.ID,NATUNA :  Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan Indonesia membutuhkan 34 radar untuk membantu TNI Angkatan Udara dalam menjaga keutuhan NKRI melalui udara.

"Selama ini TNI AU bekerja sama dengan penerbangan komersil dan sudah berjalan dengan baik. Untuk kekurangannya, kita hitung 32-34 radar untuk seluruh Indonesia," kata Menhan saat meninjau persiapan Latihan Puncak Angkasa Yudha 2013 di Markas Komando Latihan, Lanud Ranai, Natuna, Kepulauan Riau, Rabu (30/10).

Menurut dia, untuk mengatasi kekurangan radar yang ada, khususnya untuk wilayah Indonesia Timur, pada rencana strategis pertama ini (2009-2014) akan ditambah empat unit radar dengan nilai 150 juta dolar Amerika Serikat.

Penampakan Prototype Medium Tank pindad


Bandung  : PT Pindad (Persero) siap meluncurkan tank asli buatan Indonesia yang pertama ke publik. Tank ini sekarang masuk ke fase pematangan model prototype atau purwarupa tank tipe medium di pusat pengembangan. 

Dari gambar yang diteroleh detikFinance, tampilan body terlihat mirip panser Anoa 6X6. Kepala Departemen Humas dan Hukum PT Pindad Tuning Rudiyanti menjelaskan medium tank karya Pindad ini memang masih perlu penyempurnaan.

"Nah, kalau tank itu kita mulai dari kelas medium. Sekarang untuk tank baru masuk di litbang. Secara fisik iya sudah jadi tapi kalau teknis baru setengahnya. Ini bisa dilihat di Pindad. Ini benar-benar karya Pindad," ucap Tuning , Rabu (30/10/2013).
 

November 2013 Vietnam Terima Kapal Selam “Black Hole”


Moscow  : Bulan November 2013, Vietnam akan menerima satu kapal selam Rusia yang dijuluki “Lubang Hitam di Lautan”, ujar sumber industri militer Rusia kepada RIA Novosti. Kapal Selam Kilo Rusia itu dijuluki “a black hole in the ocean” oleh Angkatan Laut AS, karena tidak terdeteksi saat sedang menyelam.
 
Vietnam memesan 6 kapal selam Varshavyanka class diesel-electric pada tahun 2009 sebagai upaya mengimbangi pengaruh maritim China yang terus berkembang. Kontrak tersebut termasuk pelatihan Kru Kapal Selam Vietnam di Rusia, dengan nilai 2 Miliar USD.
kilo-DNSN8704291

Malaysia Bangun 6 Kapal Perang Kelas Gowind


Kuala lumpur  : Boustead Heavy Industries Corporation BHD (BHIC) mengumumkan bahwa pada awal Oktober lalu perusahaan asosiasinya Boustead Naval Shipyard, Malaysia, telah menerima konfirmasi dari Kementerian Pertahanan Malaysia untuk kontrak 10 tahun senilai RM 9 miliar (sekitar Rp 31,8 triliun) untuk membangun enam Kapal Patroli Generasi Kedua (Second Generation Patrol Vessel /SGPV) sebagai bagian dari program Kapal Perang Litoral (Littoral Combat Ship/LCS) Malaysia. 

"Perusahaan ingin memberitahukan bahwa pada 1 Oktober 2013, Boustead Naval Shipyard Sdn Ghd (BN Shipyard) telah menerima pembaruan letter of acceptance (LOA) yang bertanggal 27 September 2013 dari Kementerian Pertahanan Malaysia untuk kontrak merancang, membangun, melengkapi, menguji dan mengirimkan enam unit kapal patroli generasi kedua dengan kemampuan kombatan untuk Tentera Laut Diraja Malaysia," kata BIHC dikutip Bursa Malaysia.
 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...