Saturday, June 30, 2012
Tuesday, June 26, 2012
KERJASAMA PRODUKSI RUDAL CHINA - INDONESIA SANGAT TEPAT
26 Juni 2012, Jakarta: Pengamat intelijen Wawan Purwanto dari Lembaga Pengembangan Kemandirian Nasional (LPKN) mengatakan kemitraan Indonesia dan Tiongkok dalam memproduksi peluru kendali, alias rudal, dinilai cukup strategis karena memperkuat kapal-kapal perang TNI Angkatan Laut dalam melindungi wilayah perbatasan Indonesia.
Menurut Wawan, di samping modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI Angkatan Laut, kerjasama produksi rudal tersebut oleh pihak pemerintah Indonesia dilakukan dengan menekankan mekanisme alih teknologi antar pakar kedua negara.
“Itu sangat konkrit, tampak ada kemajuan-kemajuan. Berbagai kepentingan terkait persenjataan, baik di darat, laut, udara dan Kepolisian didorong untuk 60 persen dipenuhi dari dalam negeri, tentu saja dengan persetujuan rakyat melalui DPR RI,” ujar Wawan di Jakarta pada Jumat (22/6).
Wawan menambahkan kemitraan Indonesia dan Tiongkok secara menyeluruh memiliki nilai strategis dalam mewujudkan stabilitas dan kerjasama pertahanan di kawasan Asia dan Pasifik.
“Di antara negara-negara tetangga, perlu ada suatu transparansi bahwa semua hubungan ini, yang terkait dengan kerjasama pesenjataan (alutsista), yang menyangkut alih teknologi maupun penggunaan sejata itu sendiri, tidak terkait dengan masalah-masalah ekspansi tetapi terkait dengan masalah ketahanan nasional Indonesia,” katanya.
Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan, kerjasama produksi rudal Indonesia dan Tiongkok merupakan salah satu butir kesepakatan kemitraan yang lebih menyeluruh dalam pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI.
”Ini penting, agar Indonesia bisa menjaga hubungan dengan banyak negara, dan Tiongkok merupakan mitra strategis di kawasan ini. Kementrian Pertahanan saat ini tengah menyusun mekanisme kemitraan kedua negara terkait kerja sama produksi rudal tersebut,” ujarnya.
Kementerian Luar Negeri melalui Atase Pertahanan Kedutaan Besar RI di Beijing baru-baru ini menyatakan, kerjasama Indonesia dengan Tiongkok berlandaskan mekanisme alih teknologi teknologi untuk produksi bersama peluru kendali (rudal) jenis C-705 yang akan digunakan TNI Angkatan Laut.
Dari kerjasama tersebut, diharapkan di masa depan Indonesia juga lebih mampu mengembangkan jenis rudal canggih untuk keperluan militer. Menurut kesepakatan kerja sama industri pertahanan antara kedua negara, pembelian senjata tertentu harus dilakukan antarpemerintah dan disertai alih teknologi peralatan militer yang antara lain mencakup cara perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, dan pelatihan.
Indonesia menetapkan anggaran sebesar 72 triliun rupiah untuk kebutuhan pertahanannya melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2012.
Sumber: VOA Indonesia
Thursday, June 21, 2012
FASHARKAN TNI AL
( Jombang) : FASHARKAN TNI AL adalah salah satuan dari TNI AL yang mempunyai fungsi sebagai fasilitas pemeliharan dan perbaikan kapal perang TNI AL. Dan saat ini telah mampu memproduksi kapal yang merupakan karya ANAK- ANAK INDONESIA yang tergabung dalam fasharkan.. Satuan miliK TNI AL ini diisi oleh SDM yang profesional dan berkualitas.
Fungsi fasharkan meliputi :
1.Pemeliharaan KRI/KAL :
- tingkai menengah
- tingkat hardepo
- repowering
2. Perbaiakn meliputi perbaikan KRI :
- class condor
-class attack
-class parchim
-class frosh
3. Pembuatan :
- FPB 36/40
-SEA HUNTER
- KAL 12
Fungsi fasharkan meliputi :
1.Pemeliharaan KRI/KAL :
- tingkai menengah
- tingkat hardepo
- repowering
2. Perbaiakn meliputi perbaikan KRI :
- class condor
-class attack
-class parchim
-class frosh
3. Pembuatan :
- FPB 36/40
-SEA HUNTER
- KAL 12
CIWS UNTUK KCR TRIMARAN
CIWS Type 730 Anti-Rudal
|
JKGR : Kapal
perang Indonesia segera naik kelas dengan dipasangnya senjata Close-in
Weapon System (CIWS) Type 730, 7 barel 30 mm, buatan China.
Setelah
meng-up grade sistem rudal, kini kapal- kapal perang itu mulai
meningkatkan kemampuan pertahanan anti-rudal. Yang membuat penasaran
adalah, kapal mana yang beruntung mendapatkan CIWS Type 730 ini ?.
Tiga
unit CIWS Type 730 telah dipesan ke China melalui budget Mabes TNI dan
disetujui DPR. Senjata gatling canon 30mm 7 laras ini, merupakan
senjata yang didisain untuk pertahanan kapal dari serangan rudal, di
saat rudal musuh berhasil menerobos pertahanan utama kapal. Close-in
Weapon System (CIWS) juga bisa digunakan untuk menembak pesawat, target
di pantai, kapal boat dan ranjau laut. Harganya sekitar 5,4 juta USD
per unit.
CIWS
Type 730 merupakan senapan otomatis dilengkapi fire-control system
yang bisa menembak dengan posisi full cover 360 derajat. Amunisinya
terdiri dari dua box 500 rounds. Satu box diisi peluru jenis sabot dan
satu lainnya jenis high explosives (HE).
CIWS
730 dengan panjang laras 110 inch ini, mampu menembakkan peluru 4,600
hingga 5,800 rounds/menit dengan jarak tembak laksimum 3 Km. Target
biasanya terkena dalam jarak 1 hingga 1,5 Km. Meski bisa menembakkan
peluru sebanyak itu, CIWS tidak direkomendasikan untuk menembak lebih
dari satu menit dalam satu aksi counter defense. Hal itu karena laras
CIWS ini bisa meleleh.
CIWS Type 730
|
CIWS ini dipandu oleh radar TR47C fire-control, serta electro-optic
director yang dipasang di atas turret. Electro-optic director terdiri
dari: TV tracking camera, infrared tracking camera dan laser
rangefinder. Alat ini mampu menjejak target sejauh 5 hingga 6 km.
Sementara Radar TR47C mampu mendeteksi target di udara berdiameter 10 cm
hingga jarak 8 Km.
Senjata
Gattling China ini mirip dengan General Electric GAU-8/A Avenger. Ada
juga yang menyebutkan CIWS China lebih mirip dengan Gryazev-Shipunov
GSh-6-30 Rusia. Kini China dengan mengembangkan CIWS Type 730, yang
sistemnya meliputi pemasangan rudal di sistem yang sama. Varian
daratnya disebut China LD-2000.
Spesifikasi CIWS Type 730:
Calibre: 30mm X 7
Rate of fire: 4,600 – 5,800 rounds/min
Range: 3,000m
Elevation: N/A
Traverse: 360 degree
Ammunitions: 1,000 rds (armour piercing discarding sabot and HE)
Fire-control: Electro-optical + rada
Rate of fire: 4,600 – 5,800 rounds/min
Range: 3,000m
Elevation: N/A
Traverse: 360 degree
Ammunitions: 1,000 rds (armour piercing discarding sabot and HE)
Fire-control: Electro-optical + rada
KRI Pengusung CIWS:
China
menggunakan CIWS Type 730 untuk kapal: Destroyer Luyang-I dan
Luyang-II class, Destroyer Luzhou class dan Frigate Jiangkai-II class.
Sementara untuk kapal induk Shi Lang (ex-Soviet Varyag), China
menggnakan CIWS AK 1030 / 10 barrel.
Jika
merujuk ke China, kemungkinan CIWS type 730 yang dipesan Indonesia,
akan dipasang di Korvet KRI Diponegoro Class. Korvet Sigma 9113
Indonesia masih menggunakan 2 unit Canon 20mm DENEL VEKTOR G12 yang
digerakkan secara manual oleh prajurit.
CIws 730 di Destroyer Luyang II China
|
Pertahanan lain dari KRI Sigma Indonesia adalah meriam Oto Melara 76 mm.
Dengan
kaliber yang besar (76mm), jumlah amunisi yang ditembakkan tidak cukup
banyak untunk menghadang rudal yang hendak menerjang kapal.
Meriam
OTO Melara maksimum hanya dapat memuntahkan 120 proyektil per menit.
Bandingkan dengan CIWS Type 730 yang bisa menembakkan amunisi 5800/
menit. Meriam OTO Melara mungkin handal untuk menghadang pesawat
tempur, tapi belum memadai untuk menahan serangan rudal.
Korvet
Sigma Indonesia cukup rentan terhadap serangan rudal, sehingga
seharusnya dipasang CIWS. Rusia saja memasang rata-rata 4 sampai 8 CIWS
di kapal perang mereka, untuk memastikan rudal yang datang, rontok
sebelum menyentuh kapal.
Pengamat
militer internasional menilai sistem CIWS Type 730 China mengadopsi
Goalkeeper CIWS Belanda. Dengan demikian seharusnya tidak ada kendala
jika CIWS Type 730 China diinstal ke Korvet KRI Diponegoro Class.
Satu light frigate Sigma10514 yang akan diterima Indonesia dari Belanda akhir tahun 2016, akan dilengkapi CIWS Goalkeeper.
Trimaran
Kemungkinan
lain, KRI Trimaran yang rampung akhir tahun 2012 bisa jadi dipasang
CIWS 730. Menurut konseptor Trimaran, John Lundin, kapal buatannya akan
mengusung 4 rudal C-802. Bahkan dalam sebuah wawancara dengan harian
Swedia, John Lundin mengatakan sudah menguji coba rudal tersebut. Jika
Trimaran dipasang rudal, berarti kapal itu ditargetkan untuk mampu
ofensif. Dengan demikian harus memiliki pertahan diri yang juga
memadai.
Rancang bangun Trimaran TNI AL
|
Negara-negara pemilik Trimaran untuk keperluan militer, umumnya memasang CIWS di kapal cepat mereka.
Sebut
saja Trimaran USS Independence yang dibangun galangan kapal
AUSTAL(Australia)- USA, mengusung 1 CIWS Raytheon SeaRAM, untuk
melindungi kapal dengan panjang 127 meter tersebut. Sementara Trimaran
Indonesia dibangun oleh PT Lundin Industry Invest, di Banyuwangi- Jawa
Timur berbasis Trimaran Earthrace Selandia Baru.
Demikian juga dengan China. Kapal trimaran mereka mengusung CIWS.
Trimaran China dengan CIWS
|
Bagaimana dengan KCR 40 dan KCR 60 ? Kedepannya TNI AL akan memasang
CIWS AK 630 di kapal ini. Namun untuk sementara waktu (saat ini), KCR
tersebut mengusung Canon 20mm DENEL VEKTOR G12 manual.
Indonesia
baru memiliki CIWS jenis AK 230 yang sudah melekat pada 16 korvet
kelas Parchim, saat beli bekas dari armada Jerman Timur. CIWS A 230
hanya bisa memuntahkan sekitar 1000 peluru/ menit, sehingga tidak cukup
ideal untuk pertahanan.
Pertimbangan paling utama untuk menentukan kapal mana yang akan
diinstal CIWS 730, adalah sejauh mana database komputer CIWS Type 730
bisa diintegrasikan dengan sistem elektronik yang ada di kapal. Juga
termasuk ruang untuk instalasi, karena berat CIWS 730 ini sekitar 8 ton.
Pemasangan tentunya lebih mudah di kapal yang baru, karena bisa
diperhitungkan dari awal dibandingkan merombak sistem kapal tua yang
sudah ada.
Sumber : JKGR
Tuesday, June 19, 2012
Lapangan Terbang Grati Mulai Dioperasikan
Sidoarjo, Jawa Barat (ANTARA News) - Khasanah kedirgantaraan nasional akan bertambah kaya dan lengkap. Sebentar lagi Lapangan Terbang Grati di Pasuruan, Jawa Timur, yang didedikasikan bagi pesawat latih kecil, siap dioperasikan TNI AL. Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Soeparno, di sela-sela peringatan HUT ke-56 Pusat Penerbangan TNI AL, di Juanda, Sidoarjo, Senin, mengatakan, saat ini pembangunan lapangan terbang di Grati tersebut sudah memasuki tahap dua. "Pada tahap empat pembangunan sudah bisa digunakan sebagai lapangan terbang latih TNI AL, lalu target kami pada 2014 sudah bisa digunakan meningkatkan kinerja para pasukan dalam menjalankan tugas menjaga keutuhan NKRI," katanya. Pusat Penerbangan TNI AL semula bernama Dinas Penerbangan TNI AL, terdiri dari enam skuadron udara pesawat terbang bersayap tetap dan bersayap putar. Mereka juga punya sekolah penerbangan sendiri. Angkatan Laut Amerika Serikat, sebagai ilustrasi, memiliki instansi sejenis, yaitu Naval Aviation. Selain membangun lapangan terbang di Grati, Pasuruan, pihaknya juga berencana membangun beberapa lapangan terbang lain di perbatasan negara untuk melakukan pemantauan di daerah terluar Indonesia. "Untuk lapangan udara di wilayah terluar tersebut, kami akan melakukan koordinasi dengan bandara yang sudah ada. Karena bagaimanapun pembangunan bandara tersebut sangat diperlukan untuk melindungi NKRI," kata Soeparno. Salah satu bandara operasional terjadual yang lokasinya paling dekat dengan garis perbatasan negara adalah Bandara Haliwen, di Kota Atambua, Kabupaten Belu, NTT. Jaraknya hanya sekitar 35 kilometer dari garis perbatasan dengan negara Timor Timur. (KR-MSW)
Monday, June 18, 2012
PERANCIS OBRAL ALUTSISTA DAN TOT KE INDONESIA
Perancis datang ke Indonesia di saat yang tepat, akan tetapi sekaligus memberikan pilihan yang sulit. Negara pembuat Frigate La Fayette ini tiba tiba saja menawarkan transfer teknologi, untuk berbagai jenis mesin perang. Perancis seolah-olah tahu, Indonesia sedang “mumet” dengan urusan Transfer of Technology (ToT) yang beberapa kali “dikerjai” oleh negara yang diajak bekerjasama.
Dua tawaran yang disorong oleh Perancis adalah transfer teknologi untuk meriam kelas berat Caesar 155mm, jika Indonesia membeli dalam jumlah besar. Tawaran berikutnya yang menggiurkan adalah penjualan mesin pesawat tempur untuk Indonesian fighter jets experiment (IFX), jika Indonesia bersedia membeli pesawat Rafale.
IFX tampaknya harga mati yang dipatok oleh pemerintah untuk membuat lompatan teknologi di tanah air yang sudah lama terhenti. Pemerintah sangat percaya diri dengan pembangunan IFX, karena Indonesia cukup maju di teknologi dirgantara.
Jika proyek IFX ingin berjalan mulus, TNI AU tampaknya harus berpaling dari rencana ke depan yang ingin membeli Sukhoi SU-35, ditukar dengan Rafale Perancis.
Jet Tempur Rafale Perancis
|
Hingga kini belum ada negara asing yang membeli jet tempur Rafale, sehingga Perancis harus menambahkan opsi ToT, agar jet tempurnya dibeli orang. Pola pembelian alutsista plus ToT sudah dilakukan Indonesia untuk Panser Anoa dan Ranpur Sherpa.
Persoalan lain bagi Indonesia sekaligus peluang bagi Perancis, adalah pembangunan 3 kapal selam Changbogo Indonesia, oleh Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan meminta uang 300 juta USD, jika Indonesia menginginkan transfer teknologi dari kapal selam tersebut.
Kalau klausal itu tidak dipenuhi, maka pengorbanan membeli tiga kapal selam kelas “anjing kampung” yang bergerak sangat lamban akan menjadi sia-sia. Untuk apa membeli kapal selam seperti itu, jika tidak disertai Transfer of Technologi.
Tapi apakah Indonesia yang uangnya pas-pasan mau merogoh kocek tambahan 300 juta USD, demi mendapatkan ToT kapal selam Changbogo ?. Godaannya adalah, dari pada menambah uang 300 juta USD, lebih baik dibelikan kapal selam Kilo Class Rusia.
Kemampuan tempur kapal selam Kilo Class, tidak perlu diperdebatkan lagi. Negara Barat saja menyebutnya sebagai lubang hitam (Black-Hole), bagi sistem pertahanan mereka.
Namun untuk mendapatkan Kilo Class, bukan perkara gampang, karena pengadaan alutsista harus disertai ToT, seperti yang diamanatkan Presiden SBY. Sementara kita semua tahu untuk urusan ToT, Rusia sangat “pelit”, terutama bagi negara non-sekutu lama mereka.
Di sinilah posisi Perancis menjadi penting. Perancis menawarkan penjualan kapal Selam sekaligus dengan ToT-nya kepada Indonesia.
“Kalau ingin membeli kapal selam yang bagus, jangan ke Korea yang “KW2″, beli langsung ke pembuatnya, seperti kami”, ujar salah seorang pejabat Perancis.
Scorpene Class Perancis, Milik Malaysia
|
Di tengah krisis Eropa saat ini, Perancis tidak terlalu perduli untuk membatasi transfer teknologi militer konvensional.
Bahkan Perancis pun menawarkan penjualan rudal konvensional tercanggihnya Exocet MM40 Block III. Padahal sebelum krisis Eropa, untuk mendapatkan Exocet MM-40, Indonesia sangat kesulitan dan dihadapkan pada jalan yang berliku.
“Tuan….barang dagangan sudah digelar. Now…..make your Choice !”, mungkin begitulah yang disampaikan pejabat militer Perancis yang sudah tahu masalah yang dihadapi para Petinggi TNI dan Kemenhan.
Selain munculnya masalah dalam pembelian kapal selam Changbogo, pengadaan Light Frigate Sigma 10514 juga masih menyimpan persoalan.
Anggota Komisi 1 DPR, berniat menyoal pembelian Sigma 10514, karena tidak disertai dengan ToT yang diharapkan. Wakil Ketua Komisi 1 DPR, TB Hasanuddin, mempertanyakan mengapa Orrizonte Fincantieri Mosiaic Italia tidak jadi dibeli, padahal Italia bersedia melakukan ToT 25 %.
Di tengah persoalan itu, Perancis bisa menyambung ucapannya lagi. “Bagaimana tuan-tuan…?. Mau mencoba frigate La Fayette yang telah dilengkapi teknologi Stealth ?”, ujarnya sambil bersenandung lagu last tango in paris.
Tampaknya kecil kemungkinan bagi Indonesia membatalkan pembelian Sigma 10514 Belanda karena telah menandatangani kontrak. Kecuali mau membatalkan pembelian 3 korvet Nakhoda Ragam Class ex Brunei Darussalam, ditukar dengan Frigate La Fayette, berikut ToT-nya.
Frigate La Fayette Perancis
|
Pilihan yang sulit karena TNI AL harus mengejar kuantitas MEF (minimum essensial Force) 2014.
Tampaknya langkah Malaysia berpartner dengan Perancis untuk urusan kapal laut sudah tepat. Mereka memesan kapal Selam Scorpene Class ke Perancis.
Dan kini Malaysia juga memesan 6 Light Frigat Gowind Class ke Perancis dengan imbalan ToT. Bahkan Gowind Class kedepannya akan dibangun di Malaysia.
Langkah yang diambil oleh Angkatan Laut Malaysia, terukur dan tepat sasaran.
Berbicara tentang ToT, kini Angkatan Darat terus melaju dengan pembangunan Rudal Nasional yang diharapkan memiliki jangkauan tembak di atas 100 km pada tahun 2014. Targetnya adalah peluru kendali dengan jarak tembak 300 – 500 Km.
Begitu pula dengan TNI AU melaju dengan proyek IFX dan diharapkan 6 prototype IFX rampung pada tahun 2013.
Sumber : JKGR
Label:
alutsista,
indonesia,
perancis,
transfer teknologi
Subscribe to:
Posts (Atom)










.jpg)