Jombang, Setelah sekian lama peminat rafting atau olahraga arung jeram kota santri harus ke Kasembon Malang jika ingin menyalurkan hobinya, kini tak perlu jauh- juah lagi. Sungai Boro yang terletak di Dusun Mandiro Wonosalam Selasa (8/10/11) kemarin diresmikan.
Dalam kesempatan tersebut hadir Dirjen Rehabilitasi Lahan Perhutanan Sosial, Ir.Jajak Djatmiko, MM didampingi Wabup Widjono. Jajak menyabut positif pembukaan lokasi rafting yang pertama di Jombang ini, karena lokasinya yang terletak di hutan Wonosalam. “Semoga dengan adanya wisata ini, masyarakat makin cinta alam dan enggan merusaknya,” tegas Jajak.
Jalur yang ditempuh oleh penghobi olahraga ekstrim ini untuk sampai ke lokasi sungai Boro harus menyusuri hutan yang masih asri dan memakan waktu sekitar 30 menit jika berjalan santai. Pemandangan hutan yang terlihat masih alami dan jauh dari penebangan liar mewarnai kanan kiri jalan.
Wabup Widjono menyempatkan diri untuk menjajal langsung olahraga ini. Setelah menempuh perjalanan lumayan panjang, akhirnya tiba juga di start venue rafting. Sungai Boro merupakan sungai yang memiliki banyak batu kali, tentunya dengan ukuran yang super besar. Arus sungai yang lumayan deras cukup memacu adrenalin bagi yang mau menjajal.
“Wisata air ini lumayan mendebarkan tapi cukup seru, semoga bias menarik banyak wisatawan,” tegas Wabup. Setelah puas menjajal derasnya sungai Boro, rombongan langsung mencicipi aneka khas makanan Wonosalam.
Saturday, March 17, 2012
Thursday, March 15, 2012
KAPAL INDUK KRI SOEKARNO
![]() |
| Ilustrasi |
Senayan - Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PKS Safan Badri mengusulkan pada Panglima TNI, agar dalam pemberian nama kapal perang TNI AL dari produksi dalam negeri ke depannya dapat menggunakan nama mantan Presiden RI HM Soeharto dan KH Abdurahman Wahid (Gus Dur).
"Saya hanya sekadar menyampaikan aspirasi dari beberapa kelompok masyarakat, yang terinspirasi atas peresmian Kapal Selam di Surabaya dan dua Kapal Cepat Rudal (KCR) Clurit dan KRI Kujang 642 buatan dalam negeri, di Batam, masyarakat menanyakan apakah mungkin dalam KRI berikutnya,dapat diberi nama KRI HM Soeharto dan KRI Gus Dur," ujar Safan Badri dalam raker dengan Panglima TNI di Komisi I, Rabu (29/2).
Sementara itu, Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq juga mengusulkan nama KH Agus Salim pada KRI berikutnya.
Merespon atas dua usulan tersebut, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan, penggunaan nama HM Soeharto dan Gus Dur, TNI AL selalu melihat kebesaran nama denfan kondisi Kapal yang di beri nama.
"Artinya, kebesaran Gus Dur dan kebesaran Pak Harto harus sesuai dengan nama kapal yang diberi nama tersebut. Oleh karena itu, kami masih menunggu kapal yang sesui untuk diberi nama Gus Dur maupun Pak Harto," ujar Panglima TNI.
Bahkan, kata Panglima TNI, pihaknya masih menyimpan satu nama, yaitu KRI Sudirman. "Kami masih menunggu akan kehadiran KRI yang besar untuk diberi nama itu, agar kebesaran kapal itu sesuai dengan kebesaran nama Panglima Jendral Sudirman," ujarnya.
Sementara itu, anggota Komisi I DPR lainnya dari PDI-P Sudarto Danu Subroto kembali interupsi pada pimpinan rapat, untuk menayakan kapan pemberian KRI dengan menggunakan nama Soekarno. "Sudah ada bayangan, kapan ada KRI dengan Nama Soekarno?" ujarnya.
Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menimpali, nama KRI Soekarno akan diberikan setelah TNI AL punya kapal Induk. " Ya nanti, kita tunggu sampai kita punya kapal Induk sendiri," tegasnya.
Brasil Tawarkan Kerjasama Industri Alutsista
Pada pertemuan itu Dubes Brasil dan Wamenhan membahas peluang peningkatan kerjasama pertahanan khususnya di bidang industri Alutsista. Dubes Brasil mengatakan, maksud kunjungannya kali ini bukan hanya mengarah kepada penawaran produk alutsista terbaru kedirgantaraan ataupun juga kapal perang.
Pemerintah Brasil mengharapkan adanya peningkatan kerjasama industri melalui produksi bersama pembangunan pesawat terbang dan kapal perang antara industri pertahanan laut dan udara kedua negara.
Wamenhan sangat menyambut baik penawaran pemerintah Brasil dalam hal kerjasama industri pertahanan ini. Khusus terkait industri kedirgantaraan, Wamenhan menjelaskan saat ini Pemerintah Indonesia telah memesan pesawat Sebanyak 16 unit pesawat tempur Super Tucano A29 buatan Industri Embraer Defense System, Brasil.
Wamenhan menambahkan meski telah memesan pesawat-pesawat tersebut, pemerintah Indonesia masih tetap ingin mengembangkan, bukan hanya sebagai user. Namun bisa membuka peluang untuk menjadi distributor produk pesawat ini di wilayah Asia.
Sehubungan dengan itu, Wamenhan mengharapkan jika peluang kerjasama terlebih lagi dalam hal produksi bersama pembangunan alutsista kedirgantaraan antara industri pertahanan dalam negeri, PT. Dirgantara Indonesia, dengan Industri Embraer Defense System, Brasil dapat diwujudkan. Diharapkan akhir tahun 2012 kedua negara dapat mewujudkan peluang peningkatan kerjasama industri pertahanan udara.
Sumber : DMC
Wednesday, March 14, 2012
MANIK-MANIK GAMBANG
Belanja manik-manik ke Gambang
Anda menyukai aksesoris? Atau anda penggemar koleksi perhiasan dari manik-manik berbahan kaca? Jika ya, maka apabila anda berkunjung ke kota Jombang jangan lupa untuk
menyempatkan diri datang berkunjung ke desa Plumbon Gambangm kec Gudo. Di desa yang terletak sekitar 15 km arah barat daya dari pusat kota Jombang ini terkenal sebagai sentra kerajinan manik-manik. Berbagai model, corak dan motif manik-manik dihasilkan dari desa ini. Mulai dari motif Majapahit, Afrika, Kalimantan sampai motif klasik dan modern.
Presiden SBY sempat juga bekunjung ke desa ini pada tanggal 11 September 2008 lalu, untuk melihat secara langsung proses pembuatan manik-manik dan tentu saja memberi bantuan modal pada para pengrajin. Sebagai alternativ wisata belanja bersama keluarga, di sini anda bisa melihat secara langsung mulai proses pembuatan manik-manik, pengerjaan hingga finishing. Dan tentu saja anda juga bisa membelinya sebagai oleh-oleh yang khas dari kota Jombang. Harga yang di tawarkan juga jauh lebih murah daripada jika anda membelinya di tempat lain. Misalnya jika sudah dipajang di art galery di Kuta Bali atau tempat wisata terknal lain. Nah, anda tertarik ingin merasakan sensasi wisata belanja ini ? Jangan ragu untuk datang ke desa Plumbon Gambang. Untuk menuju desa ini bisa dari arah barat (Madiun), sesampai di wilayah Pasar Perak, anda bisa bertanya arah menuju desa ini. Atau bila anda dari arah timur (Surabaya), sesampai di pertigaan desa atau perlintasan kereta api Jatipelem, anda bisa bertanya kepada warga sekitar. Sedangkan jika anda dari arah selatan (Malang), bisa menempuh rute dari pertigaan desa Blimbing, mengarah ke barat.
Selamat mencoba ! (juna)
BUBRAH
Hancur itu yang akan terjadi,
Bila kita tak bersatu dan bergandengan tangan.
Fanatis daerah n bad attitude pemain. OPO KUWI,...... gak jaman bro......,
Ego elite......... opo maneh kuwi...... tambah parah,
Udah banyak yang mati sengsara di laga bukan perang..... INI SOCCER FRIENDS......
NO RASISC, NO ANARCIS, JUST 4 footbal INDONESIA
Mari bro semua qta saling berangkulan
Kita saudara sebangsa dan setanah air
Bersatu dan mempersolid barisan
Untuk membangun SEPAKBOLA INDONESIA LEBIH MAJU DAN BERKUALITAS
( SUARA SUPPORTER INDONESIA)
INDRA , Radar Pertama Buatan Indonesia
Radar INDRA-MX
ISRA (Indonesia Sea Radar)
Bandung - Ingin buktikan bahwa bangsa Indonesia tidak kalah dengan bangsa lainnya, Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPET LIPI) dan PT Solusi 247 divisi Radar and Communications System (RCS) membuat radar maritim.
"Kita ingin gugah semangat bangsa Indonesia dan tunjukkan bahwa Indonesia bisa membuat radar," ujar Kepala Bidang Telekomunikasi LIPI-PPET Dr Mashury usai Seminar Radar Nasional III 2009 di ruang Embassy, Hotel Savoy Homman, Jalan Asia Afrika, Kamis (30/4/2009) sore.
Sejak tahun 2006, PPET LIPI telah mengembangkan dua versi radar. Yakni radar pengawas pantai dan radar navigasi kapal. Dalam pengembangannya, radar maritim tersebut diberi nama sementara Indonesian Radar (Indra).
Untuk membedakannya, radar navigasi kapal yang dikembangkan oleh PT Solusi 247-RCS diberi nama Indra-1 dan radar pengawas pantai yang dikembangkan oleh PPET-LIPI diberi nama Indra-2.
"Kedua radar ini menggunakan teknologi frequency-modulated continous wave (FMCW) sehingga konsumsi daya dan ukuran radar jauh lebih kecil ketimbang radar-radar yang ada dipasaran," ujar pria berkacamata ini.
Pada 24 Oktober 2008, tambah Mashury, uji coba terhadap Indra-1 dilakukan di radar test site di Cilegon Timur.
"Indra-1 berhasil mendeteksi dan mengukur jarak sebuah kapal yang sedang berlayar dengan akurat. Kita bangga dengan hasil ini. Ini bukti kita bisa membuat radar yang dibangun dan berfungsi dengan baik," ungkapnya.
Setelah lolos sejumlah tahapan tes, dalam kesempatan yang sama nama Indra-1 diganti menjadi Indonesia Sea Radar (Isra). Sedangkan Indra-2 saat ini masih dalam tahapan uji coba.
"Hari ini kita juga sekaligus meresmikan nama Isra untuk mengantikan nama Indra-1. Sedangkan nama Indra-2 nantinya akan menjadi Indera saat prototipe tersebut sudah diuji coba," terangnya.
Isra saat ini dilengkapi dengan fitur-fitur tambahan hasil kreasi anak bangsa. Fitur tersebut antara lain peta vektor, data sistem informasi maritim AIS (automatic identification system), data GPS dan data kompas yang terintegrasi dengan display. Ukuran kedua radar juga jauh lebih kecil.
"Kedua radar ini juga menggunakan teknologi frequency-modulated continous wave (FMCW) sehingga konsumsi daya dan ukuran radar jauh lebih kecil ketimbang radar-radar yang ada dipasaran," ujar pria berkacamata ini.(ern/ern)
Indra, difungsikan sebagai radar maritim, menggunakan teknologi frequency-modulated continous wave (FMCW), dengan daya pancar yang sangat kecil, yakni 1 Watt.
Berikut Spesifikasi lengkapnya :
Applications
Ships radar
Marine radar
Naval navigation
Key Features
Very low transmit power (“silent radar”)
State-of-the-art antenna technology and signal processing
Superior target detection, discrimination and localization capabilities
Covert operations ready
Specifications
Transceiver
Transmit power : 1 Watt
Frequency : X-band
Range scales : 48, 24, 12, 6, 3, 1.5, 0.75 NM
Location : Upmast (integrated with antennas)
Weight : 22 kg (antenna unit + turning mechanism – TX-RX unit)
Dimensions : 35 (w) x 45 (l) x 25 (h) cm (turning mechanism – TX-RX unit)
Antennas
Configuration : Separate TR-RX antennas
Type : Patch arrays
Beamwidth : Horizontal: 2°, Vertical: 20°
Rotation speed : Variable (max. 48 rpm)
Weight : 22 kg (antenna unit + turning mechanism – TX-RX unit)
Length : 1.2 m (4 feet)
Wind load : Relative wind 100 kt for 24 rpm and 70 kt for 48 rpm
Temperature : -25° C to +70° C
Radar Processor Unit
System : PC-based
Location : Downmast
Video output : VGA, adaptable to ARPA systems
Weight : 8 kg
Dimensions : 25 (w) x 30 (l) x 20 (h) cm
Temperature : -15° C to +55° C
Software
OS : Linux
Control : MATA (MAritime Tracking Aid)
User interface : Output: audio-visual, selectable menus and windows; Input: keypad with tracker ball
Power supply
Input : 110 / 220 V ac from vessel’s mains
Output : 12 V dc
Optional Uninterrupted Power Supply (UPS) unit available
Display unit
Resolution : Color VGA, 640 x 480 pixels
Control unit
Input control : Keypad with tracker ball
Temperature : -15° C to +55° C
Casing
All parts are protected by rust- and waterproof casing
Dalam sambutannya, perwakilan dari pihak Solusi 247 sedikit bercerita tentang perjalanan panjang Indra hingga tiba saatnya inaugurasi ini. Diawali dari tahun 2006, dimana Solusi 247 — perusahaan IT yang finansialnya tidak mau menggantungkan diri kepada bank, mendapat tawaran untuk merancang dan memproduksi radar, dimana piranti ini bukan merupakan produk industri yang banyak dikembangkan di Indonesia. Namun, dengan melihat pihak-pihak yang ikut turun tangan dalam proyek ini, yaitu IRCTR TU-Delft Belanda, ITB, UI, LIPI, akhirnya Solusi 247 menerima tawaran yang diajukan.
Prof. Leo Litghart, perwakilan dari IRCTR, turut menyampaikan dalam sambutannya, bahwa ia sangat senang dan bangga bisa turut serta dalam proyek Indra ini.
Melalui Indra, kita bisa membuktikan bahwa Indonesia telah memantapkan langkahnya untuk menjadi bangsa yang mandiri di bidang Hankam, dimana saat ini hampir 100% radar yang dioperasikan di Indonesia, baik radar pertahanan maupun radar sipil, merupakan produk luar negeri.
• detik , worldpress
Subscribe to:
Posts (Atom)



