Tangerang : Kini, Indonesia memiliki Pesawat Pengamat Wilayah. Lapan bekerja sama
dengan Universitas Berlin, Jerman, berhasil mengembangkan pesawat
pengamat yakni Lapan Surveillance Aircraft (PK-LSA01). Pesawat ini
menjadi bagian pemanfaatan untuk kepentingan memotret wilayah di
Indonesia. Selasa (28/1), Kepala Lapan, Bambang S. Tejasukmana
meresmikan Pesawat LSA di Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan
(BBKFP) Ditjen Perhubungan Udara, Curug, Tangerang.
Program pesawat LSA ini merupakan bagian dari program utama Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) Lapan. Selain LSA, Pustekbang juga memiliki program pengembangan pesawat tanpa awak (Lapan Surveillance UAV – LSU) dan program pengembangan pesawat transport nasional (N-219).
Pesawat LSA memiliki beberapa misi yakni akurasi citra satelit, verifikasi dan validasi citra satelit, monitoring produksi pertanian, aerial photogrammetry, pemantauan, pemetaan banjir, deteksi kebakaran, search and rescue (SAR), pemantauan perbatasan dan kehutanan, serta pemetaan tata kota.
Pilot melakukan uji terbang perdana pesawat LSA di lapangan terbang BBKFP Ditjen Perhubungan Udara.
Program pesawat LSA ini merupakan bagian dari program utama Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) Lapan. Selain LSA, Pustekbang juga memiliki program pengembangan pesawat tanpa awak (Lapan Surveillance UAV – LSU) dan program pengembangan pesawat transport nasional (N-219).
Pesawat LSA memiliki beberapa misi yakni akurasi citra satelit, verifikasi dan validasi citra satelit, monitoring produksi pertanian, aerial photogrammetry, pemantauan, pemetaan banjir, deteksi kebakaran, search and rescue (SAR), pemantauan perbatasan dan kehutanan, serta pemetaan tata kota.
