Tuesday, April 15, 2014

Tighter Budgets Limit Southeast Asian Plans


Vietnam shows its first Kilo-636 submarine on Jan. 3.
 

Vietnam shows its first Kilo-636 submarine on Jan. 3. (Agence France-Presse)

In much of Southeast Asia, budgets are smaller and ambitions more limited compared with neighbors to the north, and many countries are trying to rid themselves of much older equipment. But Singapore and Vietnam are generally better equipped and have more extensive plans.

Malaysia: Shifting Plans

Tight budgets are forcing Kuala Lumpur to alter some planned procurements.
“One casualty was a program to purchase a batch of up to 18 multirole combat aircraft,” said Carl Thayer, a specialist on Southeast Asian security issues at the Australian Defence Force Academy. “Malaysia is reportedly considering leasing options.”

In another example, the planned purchase of stealthy DCNS-designed Gowind corvettes is now classed as “a long-term procurement plan due to near-term budget constraints,” said Tony Beitinger, vice president of market intelligence for AMI International, a US-based naval analysis firm.
Still, the Malaysian Navy is procuring new frigates under its Second Generation Patrol Vessel program, and its leaders have recently asserted that they need at least three new submarines to augment the two Scorpene-class subs acquired in 2009, he said.

Malaysia force modernization programs have a larger focus than just dealing with the “China threat,” Thayer said. “But deterrent capabilities being acquired can certainly be deployed in contingencies involving China’s military.”
Meanwhile, Malaysia is repositioning naval and maritime air assets to protect its offshore oil-production platforms and islands in the South China Sea, and recently set up a marine unit, he said.

Sukhoi TNI AU: Siap Tempur!




  Berbagai persenjataan Sukhoi telah datang dan akan terus ditambah lagi. Jet tempur Su-27/30 kini menjadi alutsista paling berbahaya di barisan arsenal TNI AU.

 Kunjungan Angkasa ke Makassar bulan lalu untuk menghadiri upacara serah terima jabatan Panglima Komando Operasi Angkatan Udara II dari Marsda TNI Agus Supriatna kepada Marsma TNI Abdul Muis menjadi momen yang sangat berharga. Pasalnya, sehari sebelum pelaksanaan sertijab pada 25 Maret 2014 itu, Angkasa mendapatkan kesempatan eksklusif dari KSAU Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia untuk melihat langsung beragam persenjataan yang telah dibeli Pemerintah Indonesia untuk armada Su-27/30 Skadron Udara 11. Pesan KSAU sederhana, agar masyarakat Indonesia tahu bahwa Sukhoi TNI AU kini sudah bersenjata lengkap.

Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsma TNI Dody Trisunu mengungkapkan, beragam persenjataan yang telah datang saat inimenjadikan armada Su-27/30 siap tempur. Kelengkapan persenjataan ini kemudian disempurnakan dengan kemampuan para penerbang Skadron Udara 11 yang sudah diasah langsung oleh para instruktur senjata dan penerbang tempur AU Rusia. Setiap tahun TNI AU rutin mengirimkan para penerbangnya ke negeri Beruang Merah untuk memperdalam ilmu dan kemahiran bertempur. Tahun ini saja, ada empat gelombang pengiriman penerbang ke Rusia.

Komandan Skadron Udara 11 Letkol Pnb Dedy Ilham S. Salam menerangkan, di Rusia para penerbang Sukhoi TNI AU mendapat selama empat bulan dari para suhu senjata dan pertempuran udara yang sudah sangat mumpuni sehingga mereka dijuluki profesor. “Mereka adalah para penerbang tempur AU Rusia yang sudah mencoba segala macam persenjataan Sukhoi,” ujarnya. “Bahkan, ketika kami di sana, ada satu profesor yang ilmunya sangat tinggi didatangkan khusus dari Siberika ke Moskwa, hanya untuk melatih kami,” ujarnya.

Landing Platform Dock TNI AL



KRI Banda Aceh 593
KRI Banda Aceh 593
Bisa dikatakan, jenis kapal LPD (Landing Platform Dock) adalah klasifikasiarsenal laut baru di lingkungan TNI AL, khususnya di pada Satuan Kapal Amfibi (Satfib). Sebelum kapal jenis ini hadir, semua tugas dan kegiatan yang berhubungan dengan operasi laut ke darat dilakukan dengan bantuan kapal jenis LST (Landing Ship Tank), seperti LST Kelas Teluk Semangka yang buatan Korea Selatan dan LST kelas Frocsh buatan Jerman Timur. Pastinya bukan tanpa alasan TNI AL untuk mengadopsi LPD.
Dengan dimensi yang lebih besar dan teknologi lebih maju, LPD mampu melaksanakan tugas seperti layaknya LST, dengan deck yang besar, jumlah helikopter yang dibawa juga lebih banyak. Bahkan dengan embel-embel kata dock, menyiratkan bahwa kapal ini punya dock khusus untuk bersandarnya kapal pengangkut sekelas LCU dan rantis maupun ranpur amfibi. Bahkan dalam kondisi tertentu kapal bisa dialihfungsikan untuk melakukan tugas-tugas lain, seperti kapal rumah sakit atau kapal komando (kapal markas).

Tuesday, April 08, 2014

Hantu Laut Indonesia

Desain Midget / Kapal Selam Mini RI
 : Antara midget, seal carrier, human torpedo, sotong dan sea ghost, saling melengkapi atau saling meniadakan ?. Perbandingan midget, seal carrier, human torpedo, sotong dan sea ghost akan didasari pada misi yang bisa dan tidak bisa dilakukan.

Midget, sotong dan sea ghost memiliki kapabilitas yang sama dalam melaksanan misi: patroli bawah air di perairan dangkal, underwater litoral patrol.

Kelebihan Midget ketimbang Sotong dan Sea ghost.
 
Faktor wawasan fikir pengawak midget membuat wahana ini dapat langsung mengantisipasi tiap ancaman yang terjadi tanpa harus berkoordinasi dengan pusat komando, selama paremeter operasional telah ditetapkan terlebih dahulu. Dalam skenario pusat komando tidak dapat melakukan komunikasi dengan pengawak midget, maka pengawak midget dapat mengambil keputusan sendiri.

Sotong dan sea ghost sudah pasti akan dilengkapi dengan pendeteksi kawan atau lawan, IFF – identify friend of foe, parameter ini berlaku 0 atau 1, tidak ada parameter diantara kedua pilihan tadi. Ketika sotong atau sea ghost tidak dapat terkoneksi dengan pusat komando, maka secara otomatis sotong atau sea ghost akan mengeksekusi program yang telah dibenamkan dalam memorinya, yaitu 0 atau 1. Pilihan yang akan diambil sotong maupun sea ghost adalah kuntit, kemudian hancurkan atau lepaskan.

Eurofighter Typhoon Dan Sukhoi SU-35

eurofighter-typhoon (photo: baesystems)
Eurofighter-typhoon
 : Membeli Pesawat tempur yang produsennya bersedia berbagi teknologi memang layak untuk dibeli. tujuannya adalah untuk kemandirian di masa depan.

PT. DI memberikan opsi Typhoon, karena PT. DI melihat bahwa produsen Typhoon bersedia berbagi teknologi. Jika pemerintah Indonesia menuruti opsi dari PT. DI dan akhirnya memilih Typhoon, Pemerintah Indonesia harus meminta jaminan dari PT. DI bahwa ditahun 201*, PT. DI sudah bisa membuat pesawat tempur sendiri. tentunya dengan kualitas tidak jauh dari spesifikasi Typhoon.

Jika ternyata di tahun yang sudah ditentukan PT. DI gagal, tentunya harus ada yang bertanggung jawab atas kegagalan itu dan recomendasi dari PT. DI untuk pembelian Typhoon perlu di selidiki oleh BIN dan KPK.

Secara serampangan, pilihan para pilot TNI AU itu juga perlu diperhatikan, mereka cenderung memilih SU-35. Sebagai orang yang memang dilatih dan dididik menjadi pilot tempur dengan segala resikonya, para pilot TNI AU itu lebih mengerti dan lebih memahami medan pertempuran udara yang mungkin kelak mereka hadapi. Para pilot TNI AU tentunya ingin memenangkan setiap insiden pertempuran udara karena kalau mereka kalah berarti nyawa mereka sendiri sebagai taruhannya.

Analisis : Respon Cepat, Nilai Keunggulan Tentara

 Kecepatan respon tentara Rusia menganeksasi semenanjung Crimea kepunyaan Ukraina membuat AS “terpaku terpana” dan tak mampu berbuat banyak kecuali mengadu kepada PBB dan menjatuhkan sanksi kepada Papa Bear. Dengan belajar dari kasus kecepatan respon tadi AS lalu memperingatkan Tiongkok untuk tidak bermain api terhadap keinginan mencaplok Taiwan atau teritori lain yang diklaimnya. Soalnya bisa saja Tiongkok tersulut “birahi” militernya melihat kesuksesan jiran utaranya menduduki Crimea, lalu ingin pula “memeluk” Taiwan.

Kecepatan respon Indonesia ditunjukkan ketika sebuah pesawat asing melintas dari Malaysia menuju PNG tanggal 29 Nopember 2011 yang lalu.  Pesawat yang ternyata berisi PM Papua Nugini dan rombongan itu tertangkap radar militer di Banjarmasin lalu diintersep oleh 2 jet tempur Sukhoi dari Makassar untuk melakukan identifikasi visual.  Meski diprotes oleh PNG namun penyergapan itu membuktikan adanya kecepatan respon militer Indonesia terhadap adanya gangguan dan ancaman teritori.
Kesiapsiagaan Pasukan Marinir TNI AL
Ketidakcepatan respon militer ditunjukkan negara jiranMalaysia ketika pesawat MH370 rute KL-Beijingberbalik arah dan terpantau di radar militer Kota Bahru dan Butterworth. Dalam kondisi apa pun di setiap negara ada sejumlah jet tempur yang disiagakan untuk melakukan penyergapan terhadap pesawat tak beridentitas atau yang berperilaku nyeleneh di teritori udaranya.  Malaysia sebenarnya menyiagakan 3 F-18 Hornet di pangkalan Butterworth namun ketidakcepatan respon militernya mengakibatkan pesawat sipil dengan 239 penumpang dan awak hilang di telan laut dalam.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...